Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 74 - Nenek Beo


__ADS_3

Mereka bertiga terus memasuki lorong semakin dalam semakin merasa masuk kedalam lorong teresan air dari atas jatuh menyentuh kulit mereka.


"Tempat ini terlihat begitu menakutkan!" gumam Litha yang hanya bisa melihat lampu remang - remang yang menerangi jalan lorong bangunan.


"Lorong yang menjadi tempat pesembunyian ini adalah pengalaman pertama bagiku!" gumam Nagato dengan santainya dirinya tersenyum melihat sekelilingnya.


"Didepan sana ada seorang nenek tua yang hidup bersama burung beo disekelilingnya." Kakek Hyogoro terus memasuki lorong bangunan tersebut.


"Hah? Burung beo?" Nagato terkejut mendengar perkataan Kakek Hyogoro.


"Kupikir kakek ingin bicara apa? Ternyata hanya mengatakan hal yang tidak jelas." gumam Litha yang sedikit bergidik ketika tetesan air menyentuh kulit putihnya.


"Tempat ini semakin kita masuk aku merasa semakin pengap, ini mencekik napasku dan membuatku sulit untuk menghirup udara!" Nagato menyipitkan matanya karena melihat sesuatu yang terbang kearahnya.


"Maaf jika tempat ini terlalu pengap!" suara kicauan burung yang bisa menirukan suara manusia yang tak lain adalah burung beo tiba - tiba hinggap dipundaknya.


Nagato dan Litha waspada karena terkejut melihat burung beo yang hinggap dipundal mereka berdua.


"Aku tidak merasakan hawa keberadaan mereka." batin Litha yang melihat burung beo berwarna hitam hinggap dipundaknya.


"Aku tidak melihat dengan benar dan tiba - tiba ada burung beo yang hinggap dipundakku!" gumam Nagato yang sedang menatap dingin burung beo dipundaknya.


"Membuatku merasa kesal saja." Nagato meniup burung beo yang hinggap dipundaknya.


Kakek Hyogoro tersenyum tipis kemudian melirik kedua burung beo yang hinggap dipundak Litha dan Nagato.


"Haha, lama tidak berjumpa beo 1 dan beo 2." Kakek Hyogoro menatap kedua burung beo tersebut.

__ADS_1


"Beo 1? Beo 2? Kenapa tidak memikirkan nama yang lebih bagus lagi?" batin Litha yang mendengar Kakek Hyogoro memanggil kedua burung beo tersebut.


"Ternyata si tua bangka Hyogoro khak." Burung beo 1 berkicau dan melihat Kakek Hyogoro.


"Ada urusan apa kau kesini jelek khak." sahut burung beo 2 yang mendengar nama Hyogoro.


Kakek Hyogoro nengerutkan dahinya mendengar burung beo yang mengejeknya.


"Nenek tua sialan itu! Mengajari burung sialan ini dengan tidak benar!" Kakek Hyogoro berdecak kesal sambil menatap kedua burung beo tersebut.


"Aku kesini seperti biasa untuk mengambil bayaranku." Kakek Hyogoro menatap burung beo yang hinggap dipundak Nagato.


"Chibi ... keluar .... " bisik Litha pelan yang merasa Chibi sedang mengintip dari tas punggungnya.


"Meong - Meong."


"Kucing jelek ... kucing jelek."


Burung beo 2 yang terbang mengejek kucing manis Litha yang hendak mencakarnya. Chibi kembali masuk kedalam tas punggung Litha dan mengabaikan ejekan burung beo tersebut.


"Heeh ... burung beo yang bisa mengejek sepertinya menarik." Nagato hendak menyentuh burung beo 1 yang hinggap dipundaknya tetapi burung beo tersebut terbang menghindari dekapan tangan Nagato.


"Hati - hati mereka ini adalah burung beo yang termasuk Hewan Buas jenis langka karena sama seperti kucing manis yang sudah punah dan hanya ditemukan di Hutan Cakrawyuha. Burung beo ini bisa kalian temukan di tempat tinggal kita." Kakek Hyogoro melihat burung beo yang menghindari dekapan tangan Nagato.


"Jangan sembarang menyentuh mereka, karena mereka bisa mengejekmu habis - habisan dengan kicauannya." Kakek Hyogoro mengambil sesuatu dari bajunya.


"Seharusnya kakek bilang dari tadi ... eh tunggu mengejek? Burung beo ini?" Nagato menunjuk burung beo yang dirinya kira adalah Hewan Buas berbahaya tetapi hanyalah Hewan Buas yang menurutnya adalah hewan yang menyebalkan.

__ADS_1


"Apa kau membawa bijian - bijian dari hutan tua bangak?" burung beo 1 terbang mengelilingi Kakek Hyogoro.


"Ini ... sebungkus biji - bijian burung sialan!" Kakek Hyogoro meleparkan sebungkus yang berisi biji - bijian dan burung beo 1 menyambar bungkusan tersebut dengan kakinya.


"Terimakasih tua bangka." Burung beo 1 terbang memasuki lorong bangunan.


"Ikuti aku, jelek .... aku akan mengantarkan kalian ke nenek beo." Burung beo 2 terbang mengelilingi Kakek Hyogoro, Litha dan Nagato.


Setelah memasuki sebuah ruangan besar yang dipenuhi barang - barang dan senjata dengan ratusan burung beo yang terbang bebas diruangan besar tersebut.


"Itu nenek beo?" Nagato mengerutkan dahinya ketika melihat seorang perempuan yang berumur tujuh puluh tahun dikelilingi burung beo diseluruh tubuhnya.


"Lama tidak berjumpa, nenek beo!" Kakek Hyogoro duduk kemudian menyapa nenek beo dihadapannya.


"Ya ... mereka berdua siapa?" Nenek beo menatap Nagato dan Litha yang datang dengan Kakek Hyogoro.


"Oh ... mereka berdua adalah muridku." jawab Kakek Hyogoro singkat sambil mengambil beberapa pil obat dan melihat senjata tajam yang ada dihadapannya.


Nagato mendekati puluhan burung beo yang sedang hinggap di tongkat yang ada diruangan tersebut.


"Kaliam bukan seperti dua burung sialan itu, sini kemarilah."


Ketika Nagato mendekat mereka burng beo terbang menghindari Nagato. Litha tertawa melihat Nagato yang dihindari burung beo.


"Hyogoro, aku ada informasi yang sangat bagus untukmu." Nenek beo tersenyum menatap Kakek Hyogoro.


"Ikuti aku ... misi kali ini ada hubungannya dengan orang itu." Nenek berdiri kemudian diikuti Kakek Hyogoro. Mereka berdua berjalan memasuki sebuauh ruangan yang lain meninggalkan Nagato dan Litha.

__ADS_1


__ADS_2