Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 158 - Calon Menantu?


__ADS_3

Pembahasan tentang rencana menghancurkan Kekaisaran Kai ternyata dihadiri salah satu petinggi Spider. Rencana Reptile untuk mendapatkan tubuh jelmaan dewa-dewi membuatnya berniat memanfaatkan kekuatan militer Kekaisaran Rakuza yang terkuat di Benua Ezzo. Incaran Reptile tentu saja mengincar tubuh dewi salju dan tubuh dewi kesuburan. Kedua incarannya yaitu Iris dan Hisui.


Turnamen Harimau Kai menjadi ajang tersendiri bagi ratusan penyusup dari Kekaisaran Rakuza dengan pasukan khususnya untuk menggulingkan tahta Kaisar Hizen. Banyak petarung dari tiga kerajaan yang dijajah Kekaisaran Rakuza yakni Kerajaan Ellesmere, Kerajaan Plasa dan Kerajaan Tifon. Pasukan khusus dari tiga kerajaan tersebut dibentuk Reptile atas izin Kaisar Orochi. Nama mereka dikenal dengan sebutan Phyton.


***


Sementara itu di Penginapan Matahari Timur terlihat begitu ramai, dua penyusup yang dibekukan Shirayuki menarik perhatian pendekar dari klan lain. Nagato hanya tidur selama dua jam, matanya menatap Iris yang sedang di samping Litha.


Dalam kerumunan pendekar muncul tiga orang menyapa Nagato. Mereka bertiga adalah Reto, Miake dan Ninjin.


"Tuan muda Nagato. Kau sudah tumbuh besar." Reto terlihat semakin tua, rambutnya memutih dan jalannya mulai membungkuk. Sementara itu Miake terlihat semakin kekar badannya, hanya saja dia masih sepertia biasa tidak mau berbicara dengan orang lain. Pemuda berumur empat belas tahun yang menjadi perhatian Nagato. Sosok Ninjin terlihat sangat berbeda, pemuda itu terlihat berwibawa sekarang.


"Aku bukan Nagato. Aku hanya pemuda yang kebetulan lewat saja." Nagato mencoba mengelak perkataan Reto. Tetapi Reto, Miake dan Ninjin sudah sangat mengetahui aura dan kewibawaan dari Nagato walau pemuda itu memakai topeng rubah putih untuk menutupi wajahnya.


"Tuan muda Nagato, jangan berkata seperti itu. Saya sudah mengenal anda, hahaha." Reto tertawa melihat Nagato yang terlihat ingin menyembunyikan wajahnya yang selalu menarik perhatian.


"Panggil aku Nagato saja. Aku tidak suka dipanggil tuan muda." Nagato memberi salam pada Reto dan Miake untuk menunjukkan kesopanan pendekar muda dari Klan Fuyumi. Selesai memberi salam, Nagato melirik Ninjin dan menyapa pemuda tersebut.


"Lama tidak berjumpa, Ninjin." Nagato menepuk pundak Ninjin dan tersenyum tipis dari balik topeng rubah putih yang dia kenakan. "Bagaimana proses latihanmu, kau bisa ceritakan semua itu padaku," ujar Nagato pada Ninjin.


"Tuan muda ... maksudku Nagato. Lama kita tidak bertemu." Ninjin sedikit gugup menyapa Nagato. Sosok pemuda yang dua tahun di bawah umurnya itu terlihat sangat berbeda. Ninjin merasa Nagato adalah orang yang paling berbeda dengan pendekar muda yang pernah dia temui.


"Tidak kusangka kita bertemu secara kebetulan tujuh tahun yang lalu ... takdir memang selalu mengalun ke arah yang tak terduga," ucap Nagato sambil kepalanya mendongak sedikit ke atas menatap langit.


Nagato melihat Shirayuki yang sedang menyindir salah satu dari Sepuluh Tetua Kai yang datang ke Penginapan Matahari Timur. Sepuluh Tetua Kai yang datang untuk melihat dua penyusup yang hendak menculik Iris adalah Ryuzaki. Pria bernama Ryuzaki itu memiliki luka di wajahnya. Matanya sangat tajam dan tatapannya begitu menusuk.

__ADS_1


Walau sedang berhadapan dengan salah satu dari Sepuluh Tetau Kai, Shirayuki sama sekali tidak menunjukkan rasa takut sedikitpun. Mata perempuan beranak satu itu membalas tatapan tajam Ryuzaki dengan tatapan dingin yang membekukan.


"Shirayuki, dinginkan kepalamu. Jangan seperti anak kecil." Emi menegur Shirayuki yang sedang berdebat dengan Ryuzaki.


"Dua orang ini berniat membunuh anakku, aku sebagai seorang ibu tidak akan melepaskannya, begitu saja." Shirayuki mengeluarkan auranya yang berwarna putih ke arah seluruh pendekar termasuk Ryuzaki. Setelah tersebar, hawa dingin mulai menyeruak karena Shirayuki memanipulasi auranya menjadi butiran salju.


"Shirayuki! Aku tidak berniat mengulangi perkataanmu, kau harus menyerahkan dua orang ini ke Parlemen Pengadilan Kai!" Ryuzaki mulai geram dengan sikap Shirayuki yang di luar batas. Sangat jarang ada pendekar yang berani menantang Sepuluh Tetau Kai kecuali orang-orang yang memiliki ikatan yang kuat dengan Klan Kagutsuchi di masa lalu.


"Sampah sepertimu Berani memerintahku! Bahkan kau tidak pantas sama sekali melihatku!" Shirayuki dengan sinisnya memainkan kipasnya dan memandang rendah semua pendekar laki-laki yang ada disekelilingnya termasuk Ryuzaki.


Sudah lama Nagato tidak melihat Shirayuki yang terlihat jijik pada seseorang, Nagato yang sedang melihat dari kejauhan hanya tersenyum lebar melihat raut wajah Ryuzaki yang terlihat sangat buruk. Wajah Ryuzaki memancarkan kemarahan pada Shirayuki.


"Beraninya kau merendahkanku, dasar ****** sialan!" Ryuzaki berteriak dan hendak memukul Shirayuki. Semua orang terkejut melihat tindakan Ryuzaki tetapi yang menjadi perhatian mereka adalah seorang pemuda yang memakai topeng rubah putih menahan pukulan tangan Ryuzaki dengan tangannya yang dilapisi api.


"Bibi Shirayuki tidak ingin melihatmu, lebih baik kau pergi dari sini!" Nagato juga dengan sinisnya menyuruh Ryuzaki untuk segera pergi dari Penginapan Matahari Timur.


"Bocah, kurang ajar! Ku pecahkan kepalamu itu!" Ryuzaki mengeraskan tubuhnya dengan auranya. Dengan cepat dia menyerang Nagato. Benturan pukulan beradu sengit di halaman depan Penginapan Matahari Timur.


Semua orang yang melihat Ryuzaki terpancing amarah karena seorang pemuda hanya diam dan yang lainnya tertawa, Nagato dapat menahan pukulan Ryuzaki. Tidak berapa lama Nagato terkena pukulan tepat di perutnya.


"Sial! Aku tidak akan kalah!" Nagato menatap tajam Ryuzaki dari balik topeng rubah putih yang dia kenakan.


Shirayuki dan Emi membiarkan Nagato bertarung dengan Ryuzaki untuk menunjukkan pada pendekar dari klan lain agar mereka jangan mudah tunduk pada Sepuluh Tetua Kai. Sebuah pertaruhan besar, tetapi Shirayuki dan Emi sangat mempercayai kekuatan Nagato.


Ryuzaki tersenyum sinis ketika melihat Nagato tersungkur di tanah, kemudian dia kembali melepaskan aura tubuhnya ke sembarang arah untuk mengintimidasi semua orang yang melihatnya bertarung dengan Nagato.

__ADS_1


"Kupecahkan topengmu itu, bocah tengik!" Ryuzaki hendak memukul wajah Nagato tetapi kecepatan Nagato di luar perkiraan Ryuzaki.


Tangan Nagato yang dilapisi api padat, tidak sampai dua detik tiba-tiba api berkobar di tangan kanannya. Nagato memanipulasi auranya yang berwarna emas menjadi api dan memukul Ryuzaki.


Api dari pukulan tangan Nagato memanjang dan terasa sangat panas, tetapi Ryuzaki yang merupakan seorang pendekar yang telah menduduki kursi Sepuluh Tetua Kai dapat dengan mudah menahan serangan Nagato.


"Paman, aku adalah seorang pendekar pedang. Seranganmu bahkan tidak dapat membuatku menarik pedangku ini." Nagato memegang pedang hitam pemberian Kakek Hyogoro dan tersenyum sinis ke arah Ryuzaki. Semua orang menelan ludah mendengar perkataan Nagato.


Ryuzaki mengerutkan dahinya, setelah mendengar perkataan Nagato yang sinis, kini emosinya semakin meluap-luap. Ryuzaki menggertakkan giginya hingga terdengar suara gesekan giginya.


Setelah dia melihat semua pendekar dari kubu timur hanya melihat pertarungannya melawan pemuda yang memakai topeng rubah putih, Ryuzaki tertawa dan melepaskan auranya yang berwarna merah ke arah Nagato.


Kulit Ryuzaki semakin keras ketika dirinya memusatkan auranya untuk melapisi seluruh bagian tubuhnya, dan jangkauan auranya terasa sangat mematikan. Nagato hampir rebah ketika merasakan aura mematikan milik Ryuzaki.


"Hal seperti ini belum mampu menjatuhkanku." Nagato masih bisa tersenyum walau dirinya sadar Ryuzaki sangat jauh tingkatannya dengan dirinya.


Shirayuki cemas melihat Nagato dan hendak menolong pemuda tersebut. Ketika Shirayuki hendak mengeluarkan auranya, tangan Emi menenangkan Shirayuki yang khawatir pada Nagato.


"Percayalah pada kekuatan calon menantumu itu, Shirayuki." Emi tersenyum pada Shirayuki. Kemudian dia menatap tajam Nagato yang terlihat begitu tenang bahkan pemuda itu kini memejamkan matanya sebelum melepaskan auranya kembali.


Shirayuki kembali tenang melihat tekad Nagato yang berusaha menjaga nama baiknya, pemuda itu membuat Shirayuki terharu. Mungkin jika dirinya berada di generasi yang sama dengan Nagato tentu Shirayuki sudah jatuh hati pada Nagato.


"Biar kutunjukkan padamu kekuatanku yang sebenarnya!" Tangan Ryuzaki berwarna merah darah, senyuman lebar terlihat jelas di wajah Ryuzaki ketika melihat pendekar yang hanya menonton terlihat khawatir pada Nagato.


Nagato memanipulasi auranya menjadi api yang membakar seluruh tubuhnya, dengan lantang dia berteriak pada Ryuzaki dan teriakannya itu membuat semua orang menjadi kagum dengan Nagato.

__ADS_1


"Keluarkan seluruh kekuatanmu, aku tidak akan kalah!"


__ADS_2