
Hari keempat belas setelah pertarungan melawan manusia buas dan satu hari setelah Nagato terbangun dari tidur panjangnya.
"Nagato, kamu dari tadi makan yang ada sambalnya terus, makan yang lain juga biar kamu cepat sembuh!" Litha memarahi Nagato yang memakan makanan pedas.
"Justru aku akan lebih cepat sembuh jika memakan makanan yang seperti ini." jawab Nagato singkat setelah selesai makan sambil menunjuk pepes ikan mas yang pedas dan ayam goreng yang dilumuri sambal yang telah habis dimakan olehnya.
Litha memalingkan wajahnya karena Nagato tidak mau mendengarkan perkataannya.
"Nagato." ucap Iris lirih sambil mendekat pada pemuda itu.
"Ya." Nagato bisa menebak apa yang ingin gadis kecil itu bicarakan.
"Kenapa saat itu kamu menyelamatkanku?" Iris menatap tajam Nagato, sorotan matanya seperti menunggu sebuah jawaban yang pasti.
"Heeh? Kukira dia ingin berterimakasih padaku." batin Nagato sambil menyipitkan matanya melihat Iris.
"Itu ... karena tubuhku bergerak sendiri." Nagato menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu dengan tangan kanannya yang masih sehat.
"Lagipula itu juga kesalahanku, karena tidak membuat rencana yang matang, sehingga membuatmu berada dalam bahaya." Nagato mencoba memberikan jawaban yang dapat memuaskan Iris.
"Hanya karena itu?" Iris terlihat seperti marah, Litha dan yang lain hanya melihat mereka berdua yang terlihat seperti adu mulut walau Nagato terlihat tidak begitu peduli.
"Pada saat itu kamu bisa saja mati karena menyelamatkanku dan kenapa saat itu kamu tersenyum! Apa kamu tidak takut mati?" Iris menatap Nagato dengan cemas namun tatapannya tetap terlihat tajam bagi Nagato, mata gadis kecil itu berkaca - kaca karena dirinya merasa bersalah pada Nagato.
"Haaah? Kupikir kau ingin berterimkasih padaku." Nagato mengusap matanya pelan karena kemasukan biji cabai.
"Sial mataku perih!" gumam Nagato pelan dan berkali - kali dirinya mencoba mengedipkan matanya.
Melihat hal itu Iris tersenyum kecil karena melihat tingkah Nagato, Litha dan yang lainnya tertawa karena Nagato terlihat menggemaskan bagi mereka.
"Siapapun orang pasti takut dengan yang namanya kematian, tetapi pada saat itu aku merasa tidak menyesal sama sekali telah menyelamatkanmu, walaupun nyawaku yang menjadi taruhannya." Nagato menatap Iris sambil menutup mata kirinya dengan tangan kanannya.
"Bodoh, kamu begitu ceroboh Naga." batin Iris setelah mendengar jawaban Nagato, gadis kecil itu tersenyum hangat kepada Nagato.
Ketika mereka sedang asyik mengobrol tiba - tiba ada suara orang yang mengetuk pintu ruangan kamar Nagato.
"TOK ... TOK ... TOK."
Hika dan Tika melangkah menuju pintu kamar untuk membukanya, setelah itu terlihat Kuina sedang berdiri didepan pintu kamar Nagato.
Kemudian kedua gadis kecil kembar itu mempersilahkan Kuina untuk masuk ke dalam ruangan kamar nagato.
"Silahkan kak." ucap Hika dan Tika secara bersamaan.
"Kakak Kuina?" Litha bersama Chiaki dan Chaika mendekati Kuina, namun Kuina menghiraukan mereka dan langsung melangkah mendekati ranjang Nagato.
"Tidak ... Kuina marah, sial aku dalam bahaya!" batin Nagato sambil mencari alasan mengapa dirinya terluka cukup parah.
"Hmm ... anu ... itu, maafkan aku Kuina?!" Nagato tersenyum pada Kuina sambil mengucapkan permintaan maaf, namun Kuina terlihat tidak peduli dan terus mendekatinya.
"GEPREK."
Tamparan keras Kuina melayang di pipi Nagato, Kuina menampar pipi Nagato dengan keras, raut wajah Nagato berubah bahkan Iris dan yang lainnya hanya terdiam melihat hal itu, bibir mereka membeku melihat Nagato yang ditampar Kuina.
"Permintaan maaf tidak bisa membantu sama sekali! Apa yang kau pikirkan?! Bukankah kau sudah tahu kalau aku terluka parah melawan makhluk itu, setidaknya kau jangan bertindak gegebah!" emosi Kuina meledak setelah mengetahui Nagato terluka cukup parah, dirinya berusaha memulihkan diri agar bisa berjalan hingga akhirnya gadis itu bisa melihat kondisi Nagato matanya sendiri.
Nagato terlihat seperti ingin menangis, matanya berkaca - kaca.
"A-Aku ... " Nagato ingin mengucapkan sesuatu namun bibirnya gemetar.
"Dasar anak nakal ... syukurlah kau tidak terluka lebih parah dari ini." kuina memegang tangan kiri Nagato dengan lembut.
Setelah itu Kuina memeluk tubuh Nagato pelan, Iris dan yang lainnya sedikit tersentuh melihat Kuina yang memarahi Nagato.
Tangan Kuina mengelus tangan kiri Nagato dengan lembut, setelah itu Kuina melepaskan pelukannya.
"Kuina, aku sungguh minta maaf ... " Nagato melihat tangan Kuina yang mengelus tangan kirinya.
__ADS_1
"Hmmm ... apa katamu? Tidak ... tidak akan kumaafkan." Kuina menggelengkan kepalanya mendengar permintaan maaf Nagato, gadis itu melihat makanan yang habis dimakan Nagato setelah itu dirinya menghela nafas panjang sambil mengusap dahinya pelan.
"Mulai hari ini aku akan melarangmu untuk memakan makanan pedas selama tiga bulan?!" Kuina menatap tajam Nagato, kali ini Kuina terlihat begitu serius.
"Eh? Tunggu ... " Nagato bingung karena merasa tidak ada hubungannya luka yang dialaminya dengan makanan pedas yang disukainya, jika dirinya tidak memakan makanan pedas selama tiga bulan maka itu akan menjadi ujian yang sulit baginya, karena Nagato sangat menyukai makanan yang pedas - pedas.
"Nagato, aku tidak akan mengijinkanmu memakan makanan yang rasanya pedas dan apapun makanan yang rasanya pedas, apa kau dengar?" Kuina cukup serius dengan hal ini, karena semua ini demi kebaikan Nagato.
"I-iya ... " Nagato gugup karena Kuina terlihat menakutkan baginya.
"Kuina menakutkan." batin Nagato.
"Jika kau mengingkari janji ini, maka jangan pernah sebut namaku lagi." Kuina terlihat lebih serius, bahkan Iris dan yang lainnya juga terkejut mendengar perkataan itu.
Nagato menatap Kuina dan menghela nafas panjang, dirinya tidak menyangka melihat Kuina yang memarahi dirinya setelah sekian lama.
Nagato mengingat masa - masa ketika mereka hidup di hutan suci Azbec, Kuina selalu memarahi Nagato ketika dirinya berbuat ulah atau kejahilan.
"Sudah beberapa bulan setelah hari itu." batin Nagato sambil memejamkan matanya mengenang masa - masa itu.
"Baiklah, akan kutepati janjiku?!" Nagato menatap Kuina dan tersenyum penuh percaya diri bisa melewati semua ini selama tiga bulan.
"Mana tanganmu?" Kuina menyuruh Nagato untuk mengulurkan tangannya.
Setelah itu Kuina mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Nagato.
"Ini adalah sebuah janji diantara kita berdua." ucap Kuina lirih.
Kuina mengambil sesuatu dalam sakunya setelah itu dia mengeluarkan cincin yang tak lain itu adalah cincin milik ibu Nagato yang telah meninggal, cincin nikah yang diberikan oleh Pandu, namun setelah penyerangan yang dilakukan oleh Kazan, cincin milik Sarah diberikan kepada Serlin dan sekarang cincin nikah itu berada ditangan Kuina, setelah kemarin Serlin memberikannya kepada gadis itu karena Serlin mendengar perjodohan Nagato dengan Iris.
"Ini tanda bukti, ini akan menjadi bukti janjimu! Seorang lelaki sejati tidak akan pernah melanggar sebuah janji." Kuina memberikan cincin yang terlihat begitu indah dan elegan, cincin itu merupakan pemberian dari Sarah ibunya Nagato yang diberikan oleh Pandu.
Nagato merasakan kehangatan di jarinya ketika lubang cincin itu masuk secara perlahan ke dalam jarinya dan melingkar di jari manis tangan Nagato.
"Ya, pasti akan kutepati." Nagato tersenyum sambil memandang cincin milik ibunya.
Desain cincin yang melingkar di jari Nagato memiliki desain cincin yang menggabungkan pola lambang hati yang saling menyatu.
Nagato memegang cincin milik ayahnya dan mendekatkan cincin itu pada cincin milik ibunya yang melingkar dijari tangannya.
Setelah disatukan kedua cincin membentuh lambang hati yang saling menyatu.
"Dua hati yang saling menyatu, kah?" gumam Nagato sambil tersenyum.
Kuina tersenyum melihat Nagato, setelah itu Kuina memandang wajah Iris yang sedang berada disampingnya.
"Iris juga tidak kalah cantik dengan ibunya, lagipula di usianya yang masih belia Iris juga berbakat dalam ilmu bela diri." batin Kuina sambil memandang Iris dari atas rambutnya sampai ujung kakinya.
"Mereka berdua pasangan yang serasi." batin Kuina setelah memlerhatikan Iris.
Tidak lama setelah Nagato berjanji pada Kuina untuk tidak memakan makanan pedas selama tiga bulan, terdengar suara ketukan pintu kamarnya kembali.
"TOK ... TOK ... TOK."
"Permisi ... "
Terdengar suara beberapa orang dari luar pintu kamar Nagato.
Tika dan Hika kembali membuka pintu kamar Nagato, setelah dibuka disana terlihat anak muda sedang berdiri didepan pintu bersama Wali Kota Moyashi.
"Silahkan." ucap Tika dan Hika secara bersamaan untuk mempersilahkan masuk.
Moyashi melangkahkan kakinya masuk ke ruangan kamar Nagato, ditangannya terlihat beberapa bungkus makanan yang dia bawa.
"Tuan Muda, ini hadiah dariku kudengar Tuan Muda Nagato, menyukai makanan yang rasanya pedas." Moyashi tersenyum percaya diri karena membawakan makanan yang Nagato suka sebagai balas budinya karena anak muda itu telah menyelamatkan rakyatnya.
Nagato mencoba untuk tersenyum pada Moyashi tetapi mata Nagato melirik Kuina yang menatap tajam dirinya.
__ADS_1
"Terimakasih, sampai repot - repot membawakan makanan." Nagato mengambil makanan yang diberikan oleh Moyashi.
"Makanan ini membuatku ingin menyantapnya!" Nagato menelan ludah ketika melihat ayam goreng dan sambal terasi bahkan Moyashi juga membawakan rendang.
Iris dan yang lainnya tertawa kecil ketika melihat reaksi Nagato yang mencoba menahan nafsu makannya ketika melihat makanan didepannya itu.
"Aku mendengar dari pendekar muda Azai, katanya Tuan Muda Nagato menyukai makanan yang rasanya pedas." Moyashi tersenyum penuh percaya diri pada Nagato.
"Sialan! Orang itu!" batin Kuina yang sedang mengumpat Azai.
Litha tersenyum melihat Nagato, gadis kecil itu mengambil bungkusan makan yang sedang dipegang Nagato.
"Paman, Nagato dilarang memakan makanan pedas sampai dia sembuh, jadi makanan ini biar aku yang memakannya." Litha menjelaskan kepada Moyashi.
Moyashi jadi sedikit merasa bersalah karena membawa makanan pedas untuk diberikan kepada Nagato.
"Aku akan memakan ini." Nagato mengambil beberapa kue yang terselip dibungkus makanan yang dibawa Moyashi.
"Kue ini enak." batin Nagato karena dirinya tidak ingin mengecewakan Moyashi.
Setelah itu anak muda yang datang bersama Moyashi menyapa Nagato dan dirinya memperkenalkan diri.
"Perkenalkan namaku Ninjin, umurku tujuh tahun." anak muda itu memperkenalkan dirinya dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Nagato.
"Nagato, umur lima tahun." Nagato menjabat tangan Ninjin.
"Eh? Lima? ... dia lebih muda dariku dan diumurnya yang masih sangat muda dirinya penuh percaya diri melawan makhluk yang mengerikan dimalam itu." batin Ninjin sambil tersenyum ramah pada Nagato.
"Nagato, apakah orang biasa sepertiku juga bisa menjadi seorang pendekar juga?" ucap Ninjin karena dirinya ingin menjadi seorang pendekar yang mampu melindungi penduduk kota yang seperti Nagato lakukan tetapi Ninjin berasal dari keluarga petani kebanyakan perguruan bela diri besar di Kekaisaran Kai tidak menerima murid dari kasta bawah dan beberapa Klan juga cukup ketat dalam melakukan seleksi pencarian murid.
Sepuluh tahun lalu Klan Kagutsuchi adalah klan terkuat, terbesar dan terkenal kental dengan rasa persaudaraannya karena Klan Kagutsuchi tidak pernah memandang seseorang dari kasta, ajaran mereka adalah manusia semuanya sama rata tanpa membeda - bedakan suku, ras dan yang lainnya.
Nagato menatap Ninjin dan membalas senyuman pemuda itu.
"Bisa, ayahku pernah berkata padaku, jika ada seseorang mampu melakukan hal yang luar biasa, maka kau juga bisa melakukannya." tanpa sadar Nagato mengingat perkataan mendiang ayahnya dan semua seperti perkataan Shinigami bahwa sosok Nagato yang sekarang adalah Nagato yang mencoba untuk terlihat tegar.
"Aku ingin menjadi murid pendekar dari Klan Kitakaze." Ninjin terlihat bersemangat setelah mendengar perkataan Nagato.
"Tunggu, bukankah ini seolah - olah terlihat berjalan sesuai rencananya." benak Nagato memegang kepalanya dan mengingat perkataan Shinigami.
"Bahagia ... bahagia." batin Nagato, dirinya terlihat pucat dan entah mengapa perasaan didalam hatinya ingin memberontak.
"Nagato." Iris menegur Nagato yang terlihat pucat itu.
"Haah? Lagi - lagi aku tidak terima dengan kenyataan." Nagato memejamkan matanya sesaat karena dirinya mengingat kedua orang tuanya.
"Jadi aku harus menerima semuanya, ayah, ibu, kupikir dengan terus memikirkan kalian bisa membuatku bahagia, bahkan jika kematian kalian itu sebuah kebenaran, aku masih berharap." batin Nagato menjerit namun wajahnya terlihat tenang dan tersenyum pada Iris dan yang lainnya.
"Sepertinya ini benar - benar perpisahan, rasanya aku ingin menyerah, tapi aku masih berharap kalian masih hidup ayah, ibu." hati Nagato menjerit ketika muncul bayangan wajah kedua orang tuanya itu, seluruh tubuhnya gemetar, ingin mengatakan sesuatu namun jika dirinya bersuara maka itu hanya akan terdengar suara dirinya yang menahan tangisannya.
Nagato mengepalkan tangan kanannya kemudian Nagato memukul wajahnya cukup keras dengan pukulannya.
"Sakit!" Nagato mengeluh sambil mengelus pipinya kemudian tangan kanannya mengusap kedua matanya.
Nagato menghela nafas panjang, semua orang yang melihat Nagato kebingungan.
"Namamu Ninjin, bukan?" Nagato memandang Ninjin.
"Y-Ya." Ninjin menjadi gugup setelah melihat Nagato yang terdiam cukup lama bahkan Nagato memukul dirinya sendiri.
"Aku akan mengingat namamu, kita akan bertemu suatu saat nanti." Nagato tersenyum pada Ninjin sambil mengepalkan tangannya pada Ninjin.
Ninjin bangga melihat Nagato, dirinya menjadi cukup percaya diri karena Nagato terlihat seperti mengakui dirinya.
Setelah mengobrol cukup lama Moyashi dan Ninjin pamit untuk pulang.
"Ninjin, kah." gumam Nagato pelan yang memandang punggung Ninjin yang kian menjauh keluar ruangan kamarnya.
__ADS_1
Litha melihat Nagato yang baginya itu terlihat keren, gadis kecil itu juga ingin membantu Nagato jika pemuda itu dalam bahaya.
"Aku juga akan berlatih setelah sampai di tempat Kakek Hyogoro!" batin Litha, gadis kecil itu membulatkan tekad untuk belajar bela diri dan mengembang potensi dirinya.