
Lorong gelap yang terlihat seperti tak berujung membuat Nagato dan Litha kembali bernostalgia.
"Seperti biasa lorong gelap ini membuatku kesal!" umpat Nagato dalam hati sambil terus berjalan melangkahkan kakinya menuju kediaman tempat tinggal Nenek Beo.
Demet dan Devon juga baru pertama kali masuk ke dalam lorong gelap seperti ini. Mereka berdua menjadi waspada karena tempat ini terlihat begitu mencurigakan.
"Tempat apa sebenarnya ini?" tanya Demet pada Kakek Hyogoro tetapi tidak ada jawaban dari Kakek Hyogoro, karena Kakek Hyogoro hanya diam dan sambil terus berjalan memasuki lorong tersebut.
"Air yang terus menetes ini membuatku merinding..." sahut Devon yang dari tadi terus mengamati sekelilingnya.
"Tempat ini terlalu pengap bagiku..." gumam Demet yang berjalan mendekati Kakek Hyogoro.
"Maaf... jika tempat ini terlalu pengap." suara kicauan Burung Beo 1 dan Burung Beo 2 terdengar, kemudian kedua burung tersebut hinggap di pundak Demet dan Devon.
Nagato dan Litha tertawa kecil karena mereka berdua sudah pernah melihat dan merasakan hal seperti ini sebelumnya.
"Ada apa dengan burung beo ini?" Demet bertanya - tanya memandang Burung Beo 1 yang hinggap di pundaknya.
"Sepertinya dia memang bisa berbicara..." sahut Devon mencoba memegang Burung Beo 2 tetapi burung tersebut terbang.
Kakek Hyogoro menghela nafas panjang, karena dia akan mendengar hinaan dari Burung Beo pada dirinya.
"Tua Bangka, apa kau membawa itu khak?" Burung Beo 2 hinggap di kepala Kakek Hyogoro.
"Wajahmu tetap terlihat jelek khak..." Burung Beo 1 terbang mengelilingi Kakek Hyogoro.
Demet dan Devon tertawa mendengar suara kicauan Burung Beo yang mengejek Kakek Hyogoro. Sedangkan Nagato dan Litha hanya diam.
"Makan ini!" Kakek Hyogoro melempar bungkusan yang berisi biji - bijian ke atas.
"Terimakasih..." Burung Beo 1 terbang mencengkeram bungkusan yang berisi biji - bijian tersebut.
__ADS_1
"Jangan melempar makanan, Tua Bangka!" Burung Beo 2 terbang di depan wajah Kakek Hyogoro.
"Cepat antar aku, sebelum kalian kujadikan burung bakar!" ancam Kakek Hyogoro dengan kesal. Mendengar hal itu Nagato dan Litha tertawa cekikikan.
"Sepertinya enak, aku ingin mencoba memasak burung beo ini." ujar Litha melihat Burung Beo 1 dan Burung Beo 2 yang sedang terbang di atas.
Nagato melirik Litha yang tertawa cekikikan, "Hmm... aku sudah satu hari tidak melihatmu tertawa..." Nagato memandang wajah Litha, "Maaf... karena aku, kamu jadi seperti itu."
Nagato menatap bekas gigitan di leher Litha, kemudian dia menghela nafas panjang karena selalu merasa bersalah kepada Litha.
"Nagato, jangan membicarakan hal itu didepan orang..." bisik Litha lirih karena menganggap Nagato membicarakan kejadian dimana Nagato terkena efek halusinasi dan hampir merebut ciuman pertamanya.
"Maaf... tetapi aku selalu kepikiran." balas Nagato menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu sambil menatap Litha tajam.
Wajah Litha merah merona menganggap Nagato mengingat kejadian itu, kemudian Litha memalingkan wajahnya ke samping.
"Sudah kuduga, Litha marah padaku." batin Nagato karena melihat Litha tidak mau menatap dirinya.
Sesampainya di sebuah ruangan yang cukup besar, dimana ruangan itu dipenuhi barang - barang dan senjata. Sedangkan di setiap sisi ruangan ada ratusan burung beo yang terbang bebas di ruangan besar tersebut.
"Hyogoro, ini detail misi dari Bangsawan Minami..." sapa Nenek Beo yang menyodorkan sepucuk surat berwarna emas.
"Ini dua muridku sudah tumbuh besar, Nenek Tua Bangka..." ejek Kakek Hyogoro memegang pundak Nagato dan menyentuh rambut halus Litha.
"Nagato, kau sangat tampan sekarang dan pacarmu juga sudah terlihat begitu cantik..." balas Nenek Beo memandang Nagato dan Litha.
"Hah? Pacar?" sahut Nagato dan Litha secara bersamaan, kemudian mereka berdua menatap satu sama lain sebelum saling membuang wajah mereka ke samping.
Kakek Hyogoro tertawa kecil melihat reaksi Nagato dan Litha.
"Ini dua orang yang ingin bekerja di tempatmu..." kata Kakek Hyogoro kepada Nenek Beo, tangannya menunjuk Demet dan Devon yang sedang di kelilingi Burung Beo.
__ADS_1
"Mereka cukup ahli sebagai pembunuh, tetapi manusia juga sama seperti sebuah pisau. Jika kalian tidak pernah berlatih dan mengasah kemampuan kalian, maka kemampuan itu sendiri akan tumpul." jawab Nenek Beo memperhatikan Demet dan Devon.
Nenek Beo cukup jeli matanya dia bisa melihat keahlian orang tersebut hanya dengan mengamatinya.
"Ketika menjadi seorang pendekar jangan merasa puas terlebih dahulu, karena ilmu itu tidak ada batasnya. Di atas langit masih ada langit, kebanyakan orang yang menjadi pendekar sudah merasa puas dan tidak mengingat bagaimana perjuangan mereka ketika menjadi siswa." tambah Nenek Beo memejamkan matanya dan memberi wejangan kepada mereka yang berada didepannya.
Nagato terkejut mendengar perkataan Nenek Beo, dia merasa bersyukur bisa bertemu macam - macam orang di dunia ini.
Demet dan Devon terdiam mendapat wejangan dari Nenek Beo.
"Aku harus berlatih kembali, pertarungan dengan Nagato membuatku sadar. Agar tidak cepat merasa puas terlebih dahulu, kemampuan membunuhku yang dulu tajam bahkan bisa tumpul karena dikalahkan anak berumur 10 tahun." batin Demit memandang lantai ruangan dan merenungi kehidupannya.
"Kita akan berpisah disini, sampai jumpa..." ucap Kakek Hyogoro menepuk pundak Demet dan Devon sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Sampai jumpa paman... datang lagi padaku ketika kalian berdua sudah cukup kuat." kata Nagato sambil tersenyum tipis.
"Seharusnya aku yang berkata seperti itu," balas Demet dan Devon secara bersamaan.
"Saat itu tiba aku sudah semakin kuat." ujar Nagato sambil melangkahkan kakinya mengikuti Kakek Hyogoro dari belakang.
Litha membungkuk pelan sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Nagato, tunggu aku..." teriak Litha mengejar Nagato.
Nagato hanya diam dan terus melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Di luar Kota Reruntuhan Kuno, Kakek Hyogoro menyuruh Nagato dan Litha memakai topeng rubah putih sampai pekerjaan yang diberikan Bangsawan Minami selesai.
"Topeng ini cocok untukmu Litha..." puji Nagato memandang wajah Litha yang ditutupi topeng rubah putih.
"Kamu juga cocok Nagato," balas Litha tersenyum dari balik topengnya.
__ADS_1
Perjalanan menuju ke kediaman Bangsawan Minami yang berada di Provinsi Selatan dimulai.