
Selepas Karakurt kembali menemui Black Rhino. Kemarahan Ignist semakin menjadi. Dia merasa telah diremehkan karena ini adalah kedua kalinya sosok Ophys mengganggu rencananya.
“Apakah kalian memiliki suatu hubungan khusus dengan salah satu Lima Penguasa bernama Ophys?” Ignist bertanya pada Takatsugu yang berdiri dengan terhuyung.
Tidak ada jawaban dari Takatsugu maupun Emi dan yang lainnya. Ignist melepaskan pukulan pada Takatsugu namun kedatangan Ichiba dan Shirayuki membuat Ignist terkejut karena melihat orang-orang yang telah di ambang batas justru mati-matian melawan dirinya.
“Ichiba! Pergi dari sini! Kalian hanya mengantarkan nyawa jika melawan orang itu!” Takatsugu berteriak ketika melihat Ichiba melindunginya. Dengan segenap kekuatannya, akhirnya Takatsugu memilih untuk bertarung bersama Ichiba.
“Shirayuki! Jangan melakukan tindakan yang bodoh!” Emi menggertakkan giginya tidak percaya melihat anaknya datang bersama Nagato, Iris, Litha, Hika dan Tika.
Nagato bersama Iris menusuk perut Ignist, namun sesuatu yang mengejutkan terjadi. Pedang Nagato patah, begitu juga dengan pedang es milik Iris. Kulit Ignist begitu keras karena dia memiliki kekuatan dari raja hewan buas.
‘Patah?’ Nagato setengah tidak percaya karena pedang yang telah dia aliri dengan aura terakhirnya beserta aura milik sihir Litha justru patah ketika dirinya menusuk perut Ignist.
“Bodoh! Kalian terlalu lemah!” Ignist hendak memukul Nagato dan Iris namun Shirayuki dengan kecepatan tinggi menepis pukulan tangan tersebut.
Tubuh Shirayuki terhuyung, hanya dalam satu kali pukulan Shirayuki terpental ke belakang. Mulutnya memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak.
“Ibu!” Iris berteriak histeris. Mereka tidak mengira Ignist memiliki kekuatan di luar nalar.
Shirayuki bersama yang lainnya hendak mengulur waktu untuk menyelamatkan Emi dan yang lainnya, tetapi kekuatan Ignist jauh dari yang mereka bayangkan.
Litha menggigit bibir bawahnya ketika melihat Ignist hendak memukul Iris. Gadis manis itu bergerak dengan sendirinya ketika melihat Iris dalam bahaya. Tangannya mendorong tubuh Iris. Sementara pukulan tangan Ignist mengenai dirinya.
Wajah Iris memucat ketika tubuh Litha menabrak dinding bangunan yang telah hancur, begitu juga dengan Nagato yang tidak percaya melihat Litha terluka.
Mereka sudah tidak bisa berpikir jernih. Nagato bergerak berdasarkan amarah. Walau amarahnya meluap tetapi tubuhnya tidak dapat mengikuti amarah dan keinginannya.
__ADS_1
“Bocah, kau pikir aku akan terluka dengan pukulan aura yang lemah seperti itu!” Ignist memukul perut Nagato dengan pukulan tangan yang berisi.
Nagato yang sudah melemah langsung terpental jauh ke belakang. Ketika dalam keputusasaan, Ignist mengeraskan kulitnya menjadi kulit Naga Merah.
“Tenkai!” Ignist melepaskan aura intimidasi dalam jumlah besar. Aura mencekam itu membuat semua orang yang berada di dalam jangkauannya kesulitan untuk bergerak.
“Raido! Bantu aku menyiksa mereka!” Suara teriakan Ignist terdengar begitu keras layaknya Auman Naga.
“Aku akan memulai dari perempuan dan anak kembar ini...” Ignist melepaskan aura tubuhnya. Kedua tangannya dilapisi api selama beberapa detik sebelum lava berjatuhan di kedua kepalan tangannya.
Ignist tersenyum menyeringai mengarahkan pukulan beruntun pada Ichiba, Hika dan Tika. Semua orang yang tidak dapat bergerak terkejut karena Ignist berniat membunuh kedua pendekar muda kembar itu.
Takatsugu bergerak dengan cepat dan melindungi ketiga orang yang paling berharga dalam hidupnya.
“Tidak akan kubiarkan kau menyentuh mereka bertiga satu jaripun!” Takatsugu tersenyum lebar.
Tetapi tidak ada yang ingin melarikan diri. Bahkan Chiaki dan Chaika yang merupakan keturunan Bangsawan Kitakaze memilih bertarung melindungi Hanabi. Sebagai hasil dari tekad mereka kedua, kini Chiaki dan Chaika sudah di ambang batas. Tubuh kedua gadis kembar itu bersimbah darah karena ditusuk oleh pedang.
Black Rhino tidak akan segan menyiksa orang. Puluhan pendekar muda sudah banyak yang mati karena pendarahan. Bukan hanya pendekar yang berasal dari Kekaisaran Kai saja, tetapi pasukan militer dari Kekaisaran Rakuza dan Kekaisaran Kinai juga tidak dapat berbuat banyak.
Lautan darah. Darah bak sungai yang mengalir di jalanan Ibukota Daifuzen dihiasi dengan bau amis yang sangat menyengat. Bulan merah seperti berduka menandakan kesedihan akan perbuatan manusia yang tak pernah henti-hentinya untuk berperang. Tubuh bergelimpangan di tanah bersamaan dengan jeritan keputusasaan.
Harapan. Semua orang masih memiliki harapan, namun keputusasaan lebih besar dari harapan sehingga yang ada hanyalah keputusasaan yang tak berujung.
Tangisan Hika dan Tika pecah melihat ayah yang selalu mereka dambakan mati karena melindunginya.
Ignist menarik tangannya dari perut Takatsugu. Dia sendiri baru mengetahui jika Takatsugu yang memiliki kekuatan Ushi Oni adalah suami dari Ichiba dan ayah dari Hika dan Tika.
__ADS_1
“Hika... Tika... Maafkan ayahmu ini, aku tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk kalian berdua...” Takatsugu tersenyum pada kedua anaknya itu. Setelah menanti selama tujuh belas tahun untuk membunuh Ignist, justru dirinya yang dibunuh oleh Ignist.
Setelah terkena semburan aura dari teknik penyegelan gabungan. Ignist masih dapat bergerak bahkan pria berbadan kekar dan besar itu masih memiliki kekuatan untuk mengubah wujudnya menjadi Naga Merah.
Bukannya mati, Ignist justru terlihat lebih mengintimidasi dibandingkan dengan sebelumnya.
Ichiba menatap tajam Ignist, namun tangannya dipegang oleh Takatsugu.
“Pergi dan bawa anak kita berdua. Ichiba, kamu harus tetap hidup. Kamu adalah ibu dari kedua anakku yang manis ini. Biarkan aku melindungi kalian bertiga, setidaknya aku ingin menjadi suami dan seorang ayah yang keren.” Takatsugu tersenyum dan berdiri tegak. Perutnya berlubang, namun dengan sisa kekuatannya, Takatsugu tersenyum menyeringai menatap Ignist.
“Apa yang kau—” Ignist terkejut melihat senyuman Satsuma, Chosu, Emi, Kata, Yamashita, Owara, Takamasa dan semua orang yang telah mengorbankan nyawa hanya demi membunuh dirinya. Senyuman itu membuat Ignist merasakan firasat yang tidak asing sekaligus muak melihat senyuman dari orang-orang yang seharusnya putus asa.
“Matilah! Dan jangan pernah kembali menginjakkan kakimu di tanah Ezzo ini!” Semua berteriak. Seketika Ignist memegang bekas luka di dadanya dan berteriak kesakitan.
Mulutnya memuntahkan darah segar. Melihat itu, Vendom, Black Rhino, Karakurt bahkan Raido tidak percaya. Sosok Ignist yang terkenal dengan kekejamannya kini kembali mengerang kesakitan.
Takatsugu ambruk ke tanah dan menghembuskan napas terakhirnya.
“Iris! Oichi! Ichiba! Hika! Tika! Pergi dari sini!” Emi dengan sisa tenaganya berteriak.
Semua mengikuti Emi yang mencoba berdiri untuk menusuk tubuh Ignist yang sedang kesakitan itu.
Oichi menarik tangan Iris, sementara Ichiba membawa kedua anaknya menuju tempat Shirayuki tergeletak.
“Sial! Akan kuhabisi kalian semua!” Ignist meringis kesakitan dan menatap tajam semua pendekar yang hendak menyerang dirinya.
Perutnya tertusuk pedang milik Emi. Kemudian disusul pedang milik Takamasa, Owara, Kata, Yamashita dan semua yang terlibat. Tubuh yang sekeras Naga itu tertusuk puluhan pedang.
__ADS_1
“Matilah! Makhluk penuh kebencian!” Teriak semuanya. Pendekar dari Kekaisaran Kai yang menusuk tubuh Ignist tersenyum. Tidak ada penyesalan yang terukir di wajah mereka, setidaknya ini yang bisa mereka lakukan untuk membuka masa depan yang baru dari Kekaisaran Kai.