Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 184 - Wasit Baru! Senjata Kuno Tipe Langka : Jenis Unik Pena Merak/Kujaku


__ADS_3

Satra menatap sosok perempuan paruh baya yang akan menjadi wasit. Dia merasa tidak bisa ikut campur lagi mengingat sosok perempuan paruh baya itu bukan orang sembarang.


Dengan suara yang lantang, Satra mengumumkan nama wasit baru dan memperkenalkan identitas perempuan paruh baya tersebut.


"Dengan mundurnya Mujin. Saya akan memperkenalkan wasit baru yang namanya tidak asing. Kalian semua pasti pernah mendengarnya." Satra tersenyum seramah mungkin menatap ribuan lautan manusia.


"Nona Sachie akan memimpin babak penyisihan dan menjadi wasit yang baru menggantikan saudara Mujin. Maaf atas ketidaknyamanannya. Sekarang mari kita lanjutkan pertandingan Turnamen Harimau Kai yang sempat terhenti ini!" Satra duduk kembali sambil berbisik pada seorang pria yang merupakan anggota Akuyaku.


"Bunuh Mujin! Dia tahu bagaimana aku bertindak! Bungkam mulutnya, seperti biasa, tuduh pengkhianat yang bernama Hayabusa!" Mujin berbisik pada pria yang menggunakan Senjata Kuno dan merupakan anggota Akuyaku.


Perempuan paruh baya yang sedang berjalan menuju tengah lapangan menjadi pusat perhatian ribuan manusia yang ada di Arena Lingkaran Harimau.


"Istri dari Panglima Goro sangat cocok untuk menjadi wasit. Beliau pastinya bisa mengambil keputusan yang tepat." Seorang pria paruh baya menatap Sachie yang sedang berdiri di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau.


"Keluarga Akaramizarawa merupakan keluarga yang mengatur militer Kekaisaran Kai selama ribuan tahun. Mereka adalah keluarga yang bergerak sendiri dan tidak bisa diganggu urusannya oleh Sepuluh Tetua Kai bahkan keluarga Kaisar Kai sekalipun!" Penonton pria paruh baya yang merokok menanggapi perkataan orang yang duduk disampingnya.


"Akaramizarawa adalah keluarga yang mengatur militer Kekaisaran Kai. Sepertinya pertandingan selanjutnya akan berjalan lancar." Salah satu penonton yang merupakan pasukan militer dari Kekaisaran Rakuza menatap Sachie yang sedang membaca nama-nama peserta di kertas.


Sachie dari Keluarga Akaramizarawa adalah pilihan yang tepat menjadi seorang wasit. Selain pihak netral sama seperti Klan Iwata, Keluarga Akaramizarawa merupakan keluarga militer Kekaisaran Kai. Keluarga Akaramizarawa mengurus segala urusan militer di Kekaisaran Kai bahkan kediaman Keluarga Akaramizarawa sangat besar setara dengan klan-klan besar di Kekaisaran Kai.


Di suatu tempat di Ibukota Daifuzen adalah tempat kediaman Keluarga Akaramizarawa. Di sana para petinggi militer dan prajurit kekaisaran tinggal.


Sachie mengeluarkan Senjata Kuno miliknya yang merupakan termasuk dalam jenis langka. Sebuah pena dari bulu merak dia keluarkan, Senjata Kuno Tipe Langka : Jenis Unik Pena Merak. Senjata Kuno milik Sachie cukup unik atau sering disebut dengan Pena Kujaku, sebuah pena bulu burung merak yang indah itu dia gunakan untuk menulis nama di udara.


Pena Kujaku atau pena bulu merak membuat penonton berdecak kagum, tulisan dua nama peserta terlihat jelas di udara.


Tulisan itu terbang ke atas berwarna hijau bercampur biru. Semua mata yang ada di Arena Lingkaran Harimau bisa melihatnya. Tidak berapa lama kedua nama yang namanya tercantum di udara segera menuju lapangan Arena Lingkaran Harimau.


"Namaku ternyata indah jika seperti itu. Senjata Kuno milik Nenek Sachie sangat indah." Chiaki tersenyum melihat namanya terlihat jelas di udara.


"Chiaki berangkat. Mohon dukungannya!" Gadis kembar yang enerjik itu melambaikan tangan pada pendekar-pendekar dari Klan Kitakaze.


"Berjuanglah ... kakak." Chaika membalas lambaian tangan Chiaki.


"Selendang milik Chiaki konon sama seperti milik Nenek Hana dari Klan Misuzawa. Selendang yang terbuat dari kain sutra yang dipakai para dewa-dewi ribuan tahun lalu." Yuri menanggapi ucapan Chaika yang memberi semangat pada Chiaki.


"Jadi selendang punya kakak Chiaki itu Senjata Kuno ya, Kak Yuri?" Chaika menatap Yuri dengan wajahnya yang terlihat menggemaskan.


"Guru Owara. Selendang milik Chiaki itu sama seperti milik Nenek Hana dari Klan Misuzawa, kan? Apa selendang milik Chiaki termasuk Senjata Kuno?" Yuri bertanya pada Owara karena dia sendiri tidak tahu. Kemudian dia tersenyum manis pada Chaika.


"Dasar Kak Yuri." Chaika mengembungkan pipinya merasa kesal.


"Ya, punya Ketua Hana adalah Selendang Bunga. Tetapi Ketua Hana dapat menggunakan selendangnya menjadi kekuatan yang dapat menghancurkan tubuh lawan. Semua tergantung penggunanya." Owara mengelus dagunya ketika melihat Renji, Kenji, Takao, Yuri dan Chaika melihat dirinya.

__ADS_1


"Selendang hijau muda milik Chiaki tidak pernah digunakan sebelumnya, kalian pasti masih ingat ketika beberapa pendekar dari klan menyentuh selendang atau menggunakan selendang itu untuk bertarung, selendang hijau muda tidak lebih seperti kain biasa, tetapi setelah Chiaki memegang selendang tersebut dan menggunakannya untuk bertarung, tiba-tiba selendang itu dapat mengeras melindungi penggunanya. Nama dari selendang Chiaki tak lain adalah Senjata Kuno Tipe Pusaka : Selendang Angin." Owara menambahkan berbagi cerita dengan pendekar muda dari Klan Kitakaze.


"Aku baru mengetahuinya," sahut Renji sambil menatap Chiaki yang sedang berdiri di depan Sachie.


"Tuan Putri Chiaki sangat hebat." Takao tersenyum sendiri.


"Terpilih menjadi pengguna Senjata Kuno ... aku juga ingin!" Kenji menanggapi cerita Owara sambil sedikit melirik Yuri.


"Bagaimana Chaika? Begitulah ceritanya hehe." Yuri melihat Chaika yang terdiam.


"Kakak Chiaki terpilih menjadi pengguna Senjata Kuno..." Chaika hanya merespon cerita Owara dengan tidak antusias.


"Apa aku bukan orang terpilih..." Chaika bergumam pelan.


"Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain, Chaika. Cukup jadi dirimu sendiri, aku menyukai sisi dirimu ketika kamu berusaha untuk mengurangi rasa malumu." Renji terlihat peduli dengan Chaika.


Yuri, Takao dan Kenji langsung menatap Renji. Mereka bertiga menganggap Renji menyukai Chaika.


"Ehem. Apa ini? Apa ini ungkapan perasaan secara tidak langsung." Yuri tertawa kecil menutup mulutnya dengan tangan sambil melihat Renji.


Chaika memerah wajahnya dan mengalihkan pandangannya menatap Chiaki yang ada di bawah lapangan. Perkataan Renji membuatnya malu.


"Renji tadi kamu bilang Tuan Putri Chaika dengan sebutan apa, hah? Kamu, katamu? Dasar laki-laki membosankan!" Takao menatap tajam Renji.


"Renji kamu menyukai Tuan Putri Chaika, bukan? Kau ini malu-malu tapi agresif sekali haha." Kenji merangkul leher Renji dan tertawa pelan.


"Dalam babak penyisihan dilarang membunuh atau melukai lawan kalian sampai berakibat fatal. Ingat perkataanku ini, lawan hanya menjadi musuh saat bertanding saja, tetapi jika kalian berdua telah selesai bertanding, maka kalian adalah teman." Sachie terlihat sangat ramah pada Chiaki dan Roka.


"Nenek Sachie..." Chiaki dan Roka bergumam terkagum dengan senyuman ramah Sachie selama beberapa detik.


"Ambil jarak!" Sachie menyuruh Chiaki dan Roka mengambil jarak sedang tangannya yang memegang pena terlihat seperti menggambar dibandingkan menulis di udara.


Tepat setelah tangan Sachie berhenti menulis, sebuah tulisan yang menandakan pertandingan akan dimulai muncul di melayang di udara.


"Pertandingan antara Kitakaze Chiaki melawan Roka?" Terlihat Chiaki dan Roka menggumam pelan melihat tulisan yang ada di udara, sedetik kemudian tulisan tersebut meledak membentuk tulisan dimulai.


Penonton bergemuruh karena mereka seperti melihat sebuah festival. Roka bergerak maju tepat setelah tulisan di udara meledak. Roka sangat cekatan, gadis itu mengambil sesuatu dibalik jubahnya.


Puluhan jarum yang telah dilapisi cairan penidur dilempar ke arah Chiaki. Serangan puluhan jarum hanya sebuah awal, sekarang Roka mempersiapkan serangan keduanya. Puluhan jarum yang telah dilapisi cairan penidur dia lemparkan kembali.


Chiaki menghindari sebagian serangan puluhan Roka. Sedangkan puluhan jarum yang lainnya dia hempaskan dengan hembusan angin yang keluar dari mulutnya.


Walau berhasil menghalau puluhan serangan yang mengarah padanya, entah kenapa Chiaki hanya fokus bertahan. Kini dia kembali diserang oleh Roka yang terus melempar puluhan jarum dari jubahnya.

__ADS_1


Serangan agresif Roka pada Chiaki membuat penonton bisa menebak jika Chiaki akan kalah, tetapi tebakan mereka salah besar.


Chiaki dengan alasannya yang konyol tidak ingin menggunakan selendangnya.


"Cairan dari jarum itu akan membuat selendangku terkena racun. Aku harus mencari celah." Chiaki membatin sambil terus menerus menghindari serangan Roka.


Serangan Roka yang cukup agresif membuatnya bertanding tidak seperti pertandingan sebelumnya, lawannya kali ini hanya menghindar dan sesekali membalas serangannya, tetapi tetap saja Roka lebih mendominasi serangan pertarungan daripada Chiaki.


Tidak terasa keduanya telah bertukar serangan selama puluhan menit, Chiaki mengatur napasnya ketika melihat ada celah yang terlihat.


Chiaki mengolah pernapasan, dia mengincar serangan balik yang tepat dan cepat. Gadis kembar yang enerjik itu mencari arah angin berhembus, kemudian dia tersenyum tipis ketika melihat tangan Roka kembali melempar jarum dari jubahnya.


Chiaki menghembuskan angin dari mulutnya, namun hembusan angin kali ini terlihat seperti pilar panjang yang melesat ke satu arah. Jarum-jarum yang dilesatkan Roka justru berbalik ke arah pelemparnya.


"Dia mengincar ini! Aku menang dengan cara yang seperti ini sebelumnya, jangan bilang aku kalah dengan cara seperti ini! Ah, sial!" Mata Roka melebar ketika salah satu dari puluhan jarum yang dia lempar ke arah Chiaki justru berbalik ke arahnya.


Sachie langsung menahan tubuh Roka yang hampir terjatuh, gadis itu sekarang telah tertidur terkena jarum penidur miliknya sendiri.


Pertandingan kali ini berakhir dengan kemenangan Chiaki. Penonton ada yang tertawa mengingat Roka juga menang dengan cara yang sama seperti sebelumnya, tetapi gadis itu juga harus kalah dengan cara yang sama.


"Aku menang! Babak 32 besar!" Chiaki memeluk Chaika yang sedang diam.


"Kamu kenapa Chaika? Kok kamu diam aja, ucapin selamat dong sama kembaranmu ini." Chiaki seperti biasa terlihat sangat bersemangat.


"Selamat ya kak, kita jenguk Hika." Chaika menatap Chiaki. "Chaika khawatir sama Hika." Chaika berdiri dan menarik tangan Chiaki. Tidak berapa lama kedua gadis kembar itu pergi bersama Shugo dan Haru.


"Setidaknya aku masih ada yang melihat. Yuri kamu-" Takao tertawa melihat ekspresi Kenji yang terkejut melihat Yuri sudah pergi bersama Hika dan Tika.


"Dia sama sekali tidak peduli denganku," keluh Kenji kemudian dia melirik tajam Takao yang menertawakan dirinya.


"Apa kamu ketawa-ketawa? Nasib kita sama, sama-sama dicuekin orang yang kita suka! Dasar tukang pingsan sana jenguk Ninjin!" Kenji menatap sengit Takao yang menggertakkan giginya.


"Sialan kau Kenji! Aku tidak akan memberi semangat padamu, lebih baik aku mencari makanan dan tidur di ruang perawatan!" Takao juga beranjak pergi untuk menjaga Ninjin.


"Oi, Renji." Kenji menatap Renji yang hanya fokus menonton pertandingan.


"Hah." Renji terlihat tidak peduli dengan Kenji.


"Apa menurumu Ninjin dan Nagato itu berteman. Aku sempat melihat Nagato hampir melakukan hal yang sama dengan yang dia lakukan untuk Hika ketika Ninjin babak belur oleh serangan si pemuda sadis itu." Renji melirik Kenji. Dia sedikit tertarik membahas Nagato.


"Entahlah, tapi aku melihat Ninjin menyapa Nagato saat memakai topeng rubah putih. Sudah pasti mereka saling mengenal, lagipula Ninjin belajar bela diri agar seperti pemuda bernama Nagato yang melindungi penduduk Kota Yasai," ujar Renji sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Benar juga, dia menjadi pendekar karena termotivasi oleh Nagato. Selain tampan dan kuat, dia juga dikelilingi banyak perempuan. Sepertinya Yuri ku jatuh hati pada Nagato," keluh Kenji sambil menutup matanya dengan telapak tangannya.

__ADS_1


"Cih, bodoh sekali." Pikir Renji melihat temannya terlalu fokus mengejar orang yang mereka sukai.


"Aku hanya ingin kuat dan membalaskan kematian kedua orang tuaku. Hanya itu." Kenji diam ketika Renji berbicara seperti itu. Dia bisa mengetahui Renji yang selalu ingin membalas kematian orang tuanya, sehingga dia lebih memilih diam dan tidak mengajak Renji berbincang lagi.


__ADS_2