
Keesokan harinya, mentari belum sepenuhnya bersinar. Embun masih mendekap dedaunan, udara terasa dingin di kulit. Dan burung-burung terdengar jelas berkicauan di luar.
Nagato. Apa kau bahagia ketika aku menganggapmu sebagai cucuku?
Air mata membasahi wajah Nagato tanpa alasan. Tiba-tiba dirinya mengeluarkan air mata tanpa sebab, matanya berlinang. Nagato kebingungan menatap dinding kamarnya. Pandangannya kosong tak berwarna.
"Kenapa aku menangis?" Nagato bergumam pelan.
Kata-kata dari Kakek Hyogoro menggema di telinganya, sedangkan suara parau Kakek Hyogoro menyeruak masuk ke dalam tubuhnya menembus sela-sela tulangnya bercampur dengan darahnya.
"Naga..." Iris terbangun dan mendapati Nagato yang sedang menangis di samping dirinya. Perlahan Iris mengubah posisi tidurnya menjadi duduk sambil memegang pundak Nagato.
"Kamu sudah bangun?" Nagato tersenyum tipis pada Iris sambil menyeka air matanya.
"Kamu kenapa Naga?" Iris terlihat khawatir.
"Aku sendiri juga tidak mengetahuinya, aku juga tidak tahu kenapa air mataku keluar." Nagato berusaha berhenti menangis tetapi kesedihan yang entah datang dari mana terus menghampiri dan merayapi sekujur tubuhnya.
Iris membenamkan wajah Nagato ke dadanya sambil mengelus rambut hitam Nagato dengan lembut.
Nagato sendiri semakin bingung setelah Iris memeluknya justru air matanya semakin deras. Kesedihannya tumpah, kedua tangan Nagato yang sedari tadi diam, kini menutup wajahnya sendiri agar Iris tidak melihat tangisannya.
"Cih, kenapa aku seperti ini," batin Nagato yang masih merasa kebingungan.
Iris melihat jendela kamar dan memejamkan matanya ketika kumpulan cahaya mulai masuk lewat jendela dan menerpa tubuhnya.
"Terimakasih." Nagato melepas pelukan Iris dan menyeka air matanya. Wajahnya merah padam karena Iris melihat sisi lemahnya.
"Ayo keluar, atau akan terjadi hal yang merepotkan," ucap Nagato melirik Iris yang masih duduk di ranjang.
"Maksudmu?" Iris memiringkan kepalanya menatap Nagato.
Nagato membuka pakaiannya dan mengenakan handuk. Kemudian dia melihat wajah Iris yang merah seperti tomat.
"Sudah kubilang cepat keluar. Dasar perempuan merepotkan," keluh Nagato sambil membuka pintu kamarnya.
"Ngomong-ngomong tadi malam kamu tidur berdua denganku. Apa kamu tidak penasaran dengan yang terjadi semalam?" Nagato melirik Iris sesaat, kemudian dia mengalihkan pandangannya.
"Apa Iris mendengar perkataanku dengan Nenek Emi. Sepertinya dia sudah mengetahui identistasku," batin Nagato menambahkan.
Iris memegang wajahnya kemudian seluruh tubuhnya dia periksa satu persatu. Setelah itu pandangan matanya tertuju lurus ke arah Nagato.
"Tadi malam aku mimpi buruk..." Iris menelan ludah. Suaranya tertahan.
__ADS_1
"Na-Naga ... kamu pasti melakaukan sesuatu pada tubuhku, kan?" Iris mengalihkan pandangannya menatap lantai kamar penginapan sambil sesekali dia melirik Nagato.
Nagato terdiam mendengar perkataan Iris. Dia pikir Iris akan menjauhinya setelah mengetahui identitasnya, tapi sekarang gadis cantik itu bersikap seperti biasa.
Baik Nagato dan Iris sama-sama salah paham, percakapan mereka terjadi kesalahpahaman.
"Aku mandi dulu, tadi malam aku hanya-" Wajah Nagato kembali merah padam. Dia mengingat dirinya yang mencium rambut Iris, memegang dan dipeluk gadis cantik tersebut.
"Lupakan saja, aku pergi dulu ya," ucap Nagato mengakhiri pembicaraan sambil mempercepat langkah kakinya menuju kolam air panas.
"Tunggu!" Dengan wajah yang memerah, Iris penasaran dengan apa yang dilakukan Nagato pada dirinya semalaman.
"Naga!" Iris berlari mengejar Nagato.
"Kenapa kamu mengejarku?" Nagato kebingungan melihat Iris. Sekarang dia juga berlari menjauh dari Iris.
Ketika terus melewati lorong penginapan, Nagato tidak menyadari Shirayuki yang baru keluar dari kamarnya dan menguap sambil menutupi mulutnya. Kepala Nagato terus menoleh ke belakang, tidak berapa lama dia melihat Iris yang berhenti berlari.
"Kenapa dia ber-" Nagato menabrak Shirayuki dan tubuhnya terjatuh ke lantai penginapan.
"Duh, pagi-pagi udah main kejar-kejaran." Shirayuki memegang perutnya yang tertabrak kepala Nagato.
"Aku bukan anak kecil!" Nagato membantah perkataan Shirayuki.
"Siapa juga yang main kejar-kejaran. Iris yang mengejarku Bibi Shirayuki." Nagato memerah wajahnya menahan rasa malu yang luar biasa.
"Aku tidak melakukan apapun ... hanya..." Nagato menelan ludah. Kini dia mengepalkan tangannya.
"Hanya? Hayo hanya apa?" Shirayuki tersenyum mengeledek Nagato.
"Sudah lupakan." Nagato berdiri dan meninggalkan Shirayuki.
"Dasar Naga. Beraninya dia mencari kesempat denganku ketika aku tertidur," batin Iris berdecak kesal. Kemudian dia langsung masuk ke dalam kamarnya untuk bergegas mengambil handuk.
***
Setelah semua sudah bersiap, seluruh pendekar dari Klan Fuyumi berkumpul di ruang tengah guna membahas babak penyisihan terakhir.
Ketika Emi sedang menjelaskan, Iris sama sekali tidak berani menatap Emi. Sementara itu Nagato seperti biasa memakai topeng rubah putihnya.
"Naga. Lebih baik topengmu itu kamu lepas. Hmph!" Iris terlihat sinis pada Nagato.
"Apa katamu?" Nagato menatap Iris sengit dari balik topeng rubah putihnya.
__ADS_1
"Dasar mesum," bisik Iris pada Nagato dan beranjak pergi.
Raut wajah Nagato sedikit mengkerut, terlihat dia menyipitkan matanya dari balik topeng rubah putihnya. Namun tidak berapa lama Nagato hanya tersenyum.
Litha sekarang sudah terbiasa melihat kedekatan Nagato dan Iris. Diam-diam gadis itu menyiapkan sebuah teknik kekuatannya untuk menolong Nagato. Dalam hatinya dia berharap akan menjadi bagian hidup Nagato walau sekecil apapun itu.
Seluruh pendekar dari Klan Fuyumi kini sedang dalam perjalanan menuju Arena Lingkaran Harimau. Dalam perjalanan Nagato hanya berjalan di samping Litha. Pandangan matanya terarah pada Iris yang terlihat dingin padanya. Namun sisi Iris yang seperti ini justru membuat Nagato begitu menyukainya.
Pada saat pertama kali bertemu, Nagato merasa jika dia berhasil menaklukkan hati Iris maka itu akan menjadi kemenangan yang luar biasa.
Sekarang Iris telah menjadi bagian dari hidup Nagato. Di antara gadis-gadis yang lain, Iris menempati hati Nagato yang terindah dan paling terindah.
Namun di balik semua kebahagiaan yang dirasakannya, Nagato merasa sangat merindukan sosok Kakek Hyogoro. Ingin sekali dia melihat kakek sekaligus guru dalam hidupnya itu melihat dirinya bertarung di Turnamen Harimau Kai.
Nagato hanya bisa mengikuti keputusan Kakek Hyogoro dan menantinya kembali.
"Aku harus menjadi juara. Hadiah uangnya akan aku berikan pada Kakek Hyo. Aku yakin Kakek Hyo akan membeli minuman keras." Nagato membatin sambil tersenyum tipis dari balik topeng rubah putihnya.
***
Di sebuah tebing yang dekat Tanjung Missique, Kerajaan Sihir Azbec. Hujan deras diiringi gemuruh petir membuat gadis yang sedang terluka berada di ujung tebing menangis tidak percaya.
Gadis yang baru kehilangan teman seperguruannya itu harus menerima kenyataan pahit. Sosok pengkhianat yang seperti mayat hidup terlihat tersiksa karena telah menghancurkan hidup guru, teman, sahabat, orang terdekat bahkan adik angkat yang mereka berempat anggap sebagai adik kandung sendiri.
Kuina berdiri lemas. Tubuhnya kaku seakan tidak percaya dengan kenyataan yang sangat memilukan. Dalam perjalanan menuju wilayah Me untuk menguburkan mayat Kakek Hyogoro dan Panglima Goro. Pasukan yang dipimpin Hawk dan Matsuri harus melewati perbatasan Kerajaan Sihir Azbec yang sangat dekat dengan Tanjung Missique. Namun sesuatu terjadi. Regu Hawk dan Matsuri terpisah karena cuaca yang sangat buruk. Sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba itu membuat Kuina ingin berteriak mengingat betapa kejamnya takdir kehidupan.
Kuina takut Nagato akan merasa sendirian. Kuina takut kehilangan anak dari gurunya. Sosok pemuda yang selalu tertawa riang dan berbuat ulah akan berubah menjadi seorang pendendam, namun di masa lalu keempat murid Pandu menganggap Nagato sebagai adik angkat mereka layaknya seorang adik kandung sendiri.
Melihat anak dari gurunya menjadi seorang pendendam tentu bukan hal yang patut dibanggakan. Namun sosok Nagato yang mereka kenal sebelum kehilangan orang tuanya kini telah tiada.
Membayangkan perasaan hancur Nagato membuat Kuina memejamkan mata pasrah ketika sebuah angin berbentuk sabit mengenai tubuhnya bersama dengan bola-bola api. Pandangan matanya melihat ke arah sahabatnya. Dia menyesali perbuatannya yang tidak mampu membebaskan dan membunuh tubuh yang terlihat kehilangan roh aslinya. Dia tidak bisa membebaskan jiwa sahabatnya, bagaimanapun Kuina tidak tega menghunuskan pedangnya pada sahabatnya sendiri.
"Maaf Nagato. Aku tidak bisa melihatmu tumbuh dewasa. Maaf." Kuina menangis bersamaan dengan tubuhnya yang terus jatuh ke arah lautan yang berombak.
"Nagato tolong bebaskan kakakmu. Tolong bebaskan. Mungkin ini akan sulit bagimu. Tapi kamu harus tetap hidup Nagato. Maafkan aku yang telah gagal menepati janjiku." Kuina menangis. Air mata mengalir deras di pipinya. Tidak lama dia melihat wajah Pandu, Sarah, Tatsugoro, Uzui, Azai dan Kakek Hyogoro di dalam bayangannya.
"Guru Pandu, Nona Sarah, Paman Tatsugoro, Uzui, Azai dan juga Kakek Hyogoro. Maafkan Kuina yang telah gagal melindungi orang yang ingin kalian jaga." Tubuh Kuina menabrak air lautan. Terlihat ombak menabrak bebatuan di bawah sana, lautan menelan habis gadis yang tenggelam jatuh di dasar lautan bersama dengan penyesalannya.
Lautan melahap tubuh Kuina layaknya sebuah makanan, gadis itu menatap cahaya kilatan petir di balik air laut. Tubuhnya terhempas ke dasar laut bersamaan dengan rasa sakitnya akan kehidupan.
Di atas tebing terlihat gadis yang menangis berharap jiwanya segera terbebaskan. Dalam malam yang hujan, dalam suasana yang memilukan, sekali lagi gadis itu hanya bisa menangis tanpa bisa berbuat apa-apa. Tubuh, keinginan, impian, kehendak dan segala-galanya telah dikendalikan oleh seseorang. Seorang manusia kejam dan bengis yang menganggap sesamanya hanya sebagai mainannya. Sosok manusia berhati iblis itu kelak akan mendapatkan ganjarannya akan perbuatannya.
Gadis itu berharap ada seseorang yang dapat menghancurkan dan membebaskan jiwanya. Satu-satunya pengharapan terakhirnya adalah Nagato. Walau sulit melihat adik angkatnya menderita, tetapi semua telah terjadi. Tidak ada yang menyadarinya, tidak ada yang mengetahuinya.
__ADS_1
Petir menggelegar menghantam lautan. Ombak-ombak terus menabrak tebing diiringi tangisan sang hujan bersama dengan gadis yang terkekang jiwa dan kebebasannya.
***