
“Kagutsuchi, itu nama margamu bukan?” Roh Dewa Kematian, Shinigami menatap Nagato dengan senyum menyeringai yang menakutkan.
“Ada apa? Apa leluhurku telah membuatmu sakit hati?” Nagato menatap wujud Roh Dewa Kematian, Shinigami, dengan tatapan yang tajam.
Walau sekarang berada di alam bawah sadarnya. Nagato merasa dirinya masih beradu tebasan pedang dengan Kousuke. Sensasi konsentrasi secara penuh yang hampir sama saat dirinya berada dan menyentuh gerbang hitam membuat Nagato merasa ada sesuatu yang harus dia ketahui dan bicarakan dengan Roh Dewa Kematian, Shinigami.
“Kagutsuchi. Salah satu dari lima keturunan manusia yang memegang janji leluhur. Bersamaan dengan lahirnya lima Kutukan Kuno. Kalian lima keturunan yang mempunyai kekuatan tersembunyi hanya akan dihabisi oleh manusia yang lainnya. Ketahuilah, darahmu, Kagutsuchi, tidak ada yang menerimamu. Dunia mengenalmu sebagai keturunan pembunuh!”
Roh Dewa Kematian, Shinigami, menatap raut wajah Nagato yang mengerut. Terlihat Nagato tidak terlalu menggubris perkataan Roh Dewa Kematian, Shinigami.
“Aku mengerti garis besarnya. Kau hanyalah makhluk yang kesepian. Aku tidak peduli jika seluruh dunia membenciku. Tetapi aku masih mempunyai orang yang mendukungku dan bersamaku. Mereka tidak banyak, namun mereka selalu ada untukku...”
Mulut Roh Dewa Kematian membuka. Lidahnya yang panjang menjulur. Tidak dia sangka kali ini Nagato akan mengatakan kata-kata yang membuatnya begitu emosi.
“Umurmu tidak akan bertahan lebih lama lagi. Aku tidak terlalu peduli. Aku harap orang yang terkena kutukanaku setelahmu, tidak sepertimu...” Roh Dewa Kematian, Shinigami, terlihat ingin mencengkeram Nagato. Namun di dalam tubuh Nagato terdapat Roh Sang Hitam. Salah satu dari pewaris kekuatan surgawi. Wujud perempuan berparas cantik yang pernah memperlihatkan wujudnya pada Nagato tidak akan pernah membiarkan Roh Dewa Kematian, Shinigami, bertindak seenaknya.
Nagato tersenyum tipis dan menatap raut wajah Roh Dewa Kematian, Shinigami. Tangannya menggenggam. Sedangkan dia memperhatikan wajah yang mengerikan itu.
“Tidak ada setelahku. Cukup aku yang terakhir. Karena aku adalah keturunan Kagutsuchi yang terakhir.” Dengan wajahnya yang tenang dan penuh percaya diri Nagato mengira dirinya telah mendesak Roh Dewa Kematian, Shinigami, namun perkataannya membuat makhluk didepannya itu hendak memenggal kepalanya.
“Jangan sombong! Keturunanmu akan menjadi wadahku!” Roh Dewa Kematian, Shinigami, tersenyum menyeringai dan mengeluarkan suara yang terdengar seperti tawa namun sangat mengerikan. Bahkan Nagato sampai keringat dingin mendengarnya.
Nagato menelan ludah dan berusaha untuk tetap tenang. Kali ini dia tidak mengalihkan pandangannya sedikitpun dan terus menatap tajam Roh Dewa Kematian, Shinigami.
“Jangan berbicara seolah kau bisa melihat masa depan. Kau hanyalah roh yang hidup di alam bawah sadarku ini. Jika aku mati, kau akan mati. Karena tidak ada keturunan Kagutsuchi selain diriku ini. Kau pikir aku akan punya anak. Kagutsuchi hanya tersisa diriku!”
Nagato masih menatap wajah Roh Dewa Kematian, Shinigami. Wajah yang seperti iblis, memiliki rambut putih yang panjang dengan dua tanduk berwarna putih. Ketika Roh Dewa Kematian, Shinigami, tersenyum menyeringai. Nagato memperhatikan bentuk mulutnya yang dipenuhi gigi yang tajam serta bergerigi itu.
“Katakan padaku. Apa kau bisa melihat masa depan?” Nagato terlihat seperti anak muda yang sedang mengintrogasi Roh Dewa Kematian, Shinigami.
“Tengik! Manusia sepertimu begitu sombong!” Pedang yang berbentuk sabit itu hampir memenggal leher Nagato kembali. Namun entah karena alasan apa. Roh Dewa Kematian, Shinigami, tidak memenggal kepala Nagato, dan hanya menggertaknya saja.
“Aku tidak bisa melihat masa depan. Hanya saja aku bisa memperkirakan. Manusia sampai kapanpun akan saling membunuh. Ras yang merasa dirinya paling tinggi dan sangat angkuh itulah manusia. Perbedaan suku bahkan pendapat menyebabkan perpecahan. Sepertinya aku bicara terlalu banyak. Tetapi dahulu saat kami semua membimbing manusia. Mereka justru berubah menjadi sosok yang lebih bengis dari iblis. Wujud luar hanyalah tipuan belaka. Namun kalian, para manusia, adalah iblis yang sesungguhnya!”
__ADS_1
Nagato memejamkan matanya karena mulut Roh Dewa Kematian, Shinigami, berbicara didepannya. Hembusan angin membuatnya mundur lima langkah ke belakang.
“Kau sangat membenci manusia. Saat aku bertemu denganmu. Kau selalu mengoceh dengan wajah iblismu itu. Apa kau tahu, aku sama sekali tidak peduli dengan ceritamu!”
Nagato melihat mata Roh Dewa Kematian, Shinigami, membulat sepenuhnya dan mendadak berubah menjadi sangat marah.
“Kubunuh kau!”
Nagato memberi tanda pada Roh Dewa Kematian, Shinigami, dengan tangannya agar tidak membunuhnya di alam bawah sadarnya.
“Saat ini aku sedang dalam pertempuran. Aku belum sarapan pagi dan saat ini aku memiliki aura tubuh yang telah terkuras. Aku butuh bantuanmu sekarang.”
Perkataan Nagato membuat pedang berbentuk sabit itu berhenti tepat di badannya. Kali ini Roh Dewa Kematian, Shinigami, mengulurkan tangannya.
Nagato menjabatnya dan mengayunkan. Senyuman tipis menghiasi wajah Nagato. Sekarang dia tidak takut seperti dahulu saat melihat wujud Roh Dewa Kematian, Shinigami.
“Apa? Apa kau ingin menjadi temanku?” Tak habis pikir. Tanpa berpikir panjang, kali ini Nagato berhasil membuat makhluk mengerikan didepannya langsung melepaskan aura hitam pekat sangat pekat, bahkan lebih hitam dari pekat malam.
Auranya sangat mencekam. Nagato menahan dengan salah satu tangannya yang dia tutup di matanya.
“Sepertinya kau memiliki kemampuan yang menarik. Aku ingin melihat sendiri akhir dari pertempuran ini. Ingat perkataanku ini, tubuhmu sekarang hanya mampu menahan kebencian dari Kutukan Kuno Dewa Kematian sampai tingkat tiga. Aku sendiri tidak menyangka akan hal ini. Sepertinya aku ingin melihat sendiri akhir dari pertempuran ini. Apakah kau akan kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupmu dan merengek padaku seperti sekarang ini.... Atau...”
Nagato mengernyitkan keningnya dan menatap tajam Roh Dewa Kematian, Shinigami, dengan tatapan yang teramat tajam.
“Atau?”
“Atau kau membunuh semua orang dengan kekuatanku!”
Tawa dari Roh Dewa Kematian, Shinigami, menggema. Nagato menutup kedua telinganya dan mendecakkan lidahnya.
“Tidak keduanya. Lebih baik aku mati daripada kehilangan seseorang lagi...”
Tawa Roh Dewa Kematian, Shinigami, terhenti. Matanya menatap ke bawah melihat raut wajah Nagato.
__ADS_1
“Mati dengan cara apa? Bunuh diri?”
Nagato tersenyum tipis dan menggigit bibir bawahnya, “Ya, aku akan menusuk pedang ke jantungku. Lebih baik mengakhiri segalanya daripada hidup di dalam neraka ini!”
Tanpa sadar Nagato berteriak. Roh Dewa Kematian, Shinigami, tertawa ketika aura wujud Nagato yang lainnya terserap pada tubuh Nagato yang sedang berbicara dengan Roh Dewa Kematian, Shinigami.
“Emosi ini?!” Nagato membatin dan memegang dadanya dengan sangat erat.
“Apa yang kau lakukan?!”
Mata Nagato menatap tajam Roh Dewa Kematian, Shinigami, dia pikir makhluk mengerikan yang sekarang ada dihadapannya itu sedang melakukan sesuatu padanya.
Nagato mengerang kesakitan dan bisa merasakan perasaan kehilangan saat orang tuanya telah tiada. Saat dirinya melihat senyuman serta tangisan terakhir ibunya.
Perasaan yang tidak asing ini membuat Nagato tenggelam dalam keputusasaan. Roh Dewa Kematian, Shinigami, menjentikkan jarinya dan membuat Nagato tenggelam dalam kubangan hitam keputusasaan yang dalam dan tenggelam ke dasar yang tak berujung.
“Sebelum penyakit jantungmu membuatmu mati. Setidaknya aku bisa membantumu membunuh manusia sebanyak mungkin! Ya, sebanyak mungkin!”
Aura hitam pekat mencekik leher Nagato bersamaan dengan wujud Roh Dewa Kematian, Shinigami, yang menghilang.
“Sungai? Danau? Sial! Aku seperti tenggelam dan tidak bisa bernafas!” Nagato menjerit dalam hatinya dan terus menggoyangkan tubuhnya.
Namun tak lama dia merasakan aura hitam pekat yang mencekiknya masuk ke dalam tubuhnya. Melewati pori-pori dan membuat Nagato tersenyum menyeringai.
“Terimakasih, aku masih bisa mengendalikan kebencian ini. Aku harap suatu saat nanti kita bisa bertarung berdua, Shinigami...”
Namun ketika Nagato membatin. Suara teriakan Roh Dewa Kematian, Shinigami, menggema di telinganya.
“Anak manusia! Mulutmu itu selalu mengoceh akhir-akhir ini!”
___
Jangan lupa baca ya Dragon Warrior Pair. Tinggalkan komen dan like nya.
__ADS_1
maaf klo banyak kata typo.