
Arena Lingkaran Harimau sedikit tenang karena mereka menunggu pertandingan selanjutnya digelar. Mujin melihat catatan nama-nama peserta yang dia tulis di kertas, tidak berapa lama dia menatap para peserta yang duduk di bangku penonton.
"Ehem ... kita beralih ke pertandingan selanjutnya. Fuyumi Hika dari Klan Fuyumi dan Okiru dari Perguruan Api Abadi." Mujin batuk pelan dan tidak menyelesaikan perkataannya, setelah tenang baru lah dia melanjutkan perkataannya. "Dua nama yang kupanggil barusan, silahkan maju ke depan!" Sorak penonton bergembira mendengar dua nama yang akan bertanding.
Di bangku penonton tempat Klan Fuyumi duduk, Hika berusaha menenangkan dirinya dengan menampar pipinya sendiri.
"Hika ... Hika, kau harus menang. Kita tunjukkan kehebatan dari Klan Fuyumi." Tika menepuk pundak saudari kembarnya itu. "Lawanmu dari Perguruan Api Abadi. Jangan lengah, Hika." Tika menambahkan sebelum dirinya mengambil sebuah busur yang akan di pakai adiknya.
"Hika sayang, sarung tangan dan busur ini adalah senjata utamamu. Ingat, biarkan musuhku merasa lebih diuntungkan, setelah itu baru lah kamu harus mencari cara untuk melakukan serangan kejutan." Ichiba memberi nasihat anaknya yang akan bertanding.
Hika mengangguk pelan sambil memakai sarung tangannya, kemudian dia menggenggam busur panahnya yang berwarna putih keperakan. Perlu diingat, Hika sama sekali tidak membawa anak panah.
"Hika, berjuanglah. Kamu pasti bisa, ingat kerja keras kita selama ini." Iris mengelus rambut sahabat kecilnya itu.
"Semangat Hika." Litha juga memberi semangat kepada Hika.
Tidak berapa lama keempat gadis muda yang saling memberi semangat melirik Nagato tajam.
"Cih." Nagato memalingkan wajahnya ke samping melihat keempat gadis muda yang menatap dirinya, melihat hal itu reflek Iris menghampiri Nagato dan hendak melepas topeng rubah putihnya secara paksa.
"Naga. Tadi aku mendengarnya!" Iris memaksa Nagato untuk melepas topengnya. Beberapa pendekar muda melirik Iris yang terlihat sangat dekat dengan sosok pendekar yang memakai topeng rubah putih. Melihat itu tentu mereka semakin iri kepada Nagato.
"Aku mengerti. Aku mengerti. Lepaskan tanganmu terlebih dahulu..." Nagato menghindari Iris dan menatap Hika.
"Hika, kau harus bisa memberi kejutan padanya dengan memaksa lawanmu itu ke pertarungan tangan jarak dekat." Nagato menatap Hika sesaat sebelum matanya menatap perwakilan dari Perguruan Api Abadi yang bernama Okiru. "Kita telah berlatih bersama Nenek Emi. Gunakan saja teknik kuncian dan bantingan, jika perlu kamu hanya tinggal menunggu lawanmu itu lengah, baru lah kamu keluarkan kekuatan elemenmu," tambahnya.
Iris, Litha, Hika dan Tika tersenyum mendengar perkataan Nagato.
"Terimakasih kalian semua. Hika akan berjuang sekuat tenaga yang Hika miliki," ungkap Hika sambil melompat-lompat kecil seperti seorang anak yang kegirangan.
"Guru Shirayuki tidak ingin mengatakan sesuatu?" Hika menatap Shirayuki dengan mata yang berkaca-kaca seperti menunggu perkataan dari gurunya itu.
"Kamu harus mengingat semua yang guru ajarkan padamu Hika. Jika Hika mengingatnya, maka kemenangan bukanlah hal yang mustahil." Shirayuki tersenyum lembut kepada salah satu dari tiga muridnya itu.
"Baik. Guru." Hika tersenyum bahagia mendengar perkataan Shirayuki. Setelah kegelisahan dan kegugupannya menghilang, Hika melangkahkan kakinya menuju tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau.
Penonton bersemangat melihat pertarungan antar pendekar muda yang akan bertanding, kedua gadis muda yang akan bertanding mulai memasuki lapangan.
Penonton mulai memberikan dukungan pada pilihan hati masing-masing. Di antara mereka ada yang mendukung Hika yang merupakan perwakilan dari Klan Fuyumi. Dan di antara mereka juga ada yang mendukung Okiru perwakilan dari Perguruan Api Abadi.
"Lihat perwakilan dari Klan Fuyumi benar-benar cantik tahun ini!" Salah satu penonton menunjuk-nunjuk Hika dari atas tribun.
"Sepertinya dia juga murid dari Putri Salju... kyah manisnya..." Salah satu penonton perempuan histeris melihat Hika yang tentunya merupakan murid dari Shirayuki.
"Aku akan memberikan dukungan pada Fuyumi Hika!" Salah satu penonton laki-laki berteriak memberi dukungan pada Hika.
"Aku juga, aku juga," sahut penonton yang lainnya.
Penonton mulai bersorak mendukung Hika yang merupakan perwakilan dari Klan Fuyumi. Tidak berapa lama penonton lain yang mendukung Okiru mulai bersorak.
"Okiru dari Perguruan Api Abadi pasti yang akan menang!" Penonton yang mendukung Okiru mulai memberikan pendapat.
"Ya, Perguruan Api Abadi memiliki murid yang sangat banyak dari kalangan atas. Sangat tidak kubayangkan jika mereka kalah..." Penonton yang lain menanggapi perkataannya.
"Menarik Turnamen Harimau Kai tahun ini. Padahal masih ada ratusan peserta," ucap penonton pria paruh baya sambil mengelus jenggotnya menatap tajam Hika dan Okiru yang sedang mendengar penjelasan dari Mujin.
"Menurut kalian siapa yang menang?" Salah satu penonton bertanya pada penonton yang lainnya.
"Menurutku Okiru dari Perguruan Api Abadi." Salah satu pria menanggapi perkataan penonton yang bertanya.
"Tidak. Aku tebak Fuyumi Hika yang akan menang. Aku penasaran dengan busur yang dia pegang." Salah satu penonton memberi tanggapan yang sengit.
Tidak berapa lama penonton menatap Hika yang tidak membawa anak panah. Sarung tangan putih dan busur panah putih keperakan menjadi perhatian mereka. Melihat hal itu tentu mereka bertanya-tanya tentang kekuatan Hika.
"Apa dia akan memanah? Tapi di mana anak panahnya?" Salah satu penonton mengelus dagunya sambil menatap tajam Hika dari atas tribun.
"Benar juga, gadis manis itu sama sekali tidak membawa anak panah," sahut penonton yang lainnya.
Penonton mulai penasaran dengan kekuatan Hika. Beberapa dari mereka melihat Okiru yang tersenyum lebar menatap Hika.
Di lapangan Arena Lingkaran Harimau Okiru dengan sengaja memprovokasi Hika.
"Akhirnya giliranku tiba..." Okiru tersenyum lebar menatap Hika.
"Sepertinya Fuyumi terlalu menarik perhatian, tetapi kalian tidak akan berkutik jika melawan pendekar dari Perguruan Api Abadi." Okiru menambahkan perkataannya dengan sangat sinis.
Hika tidak menanggapi perkataan Okiru. Pandangan matanya hanya menatap pohon yang ada di lapangan Arena Lingkaran Harimau. Melihat Hika yang terlihat tidak peduli dengan perkataannya, Okiru mulai berdecak kesal dengan lawannya itu.
"Hei, apa kau tidak mendengar perkataanku?!" Okiru mengerutkan dahinya menatap tajam Hika.
"Hika mendengarnya kok," jawab Jika dengan santai sambil memasang wajahnya yang polos sehingga terlihat sangat imut.
Okiru memerah wajahnya melihat gadis yang lebih muda darinya terlihat imut itu. Okiru sendiri telah mengikuti Turnamen Harimau Kai selama dua kali, kini yang ketiga kalinya dia mengikuti Turnamen Harimau Kai.
"Imutnya," gumam Okiru melihat wajah polos Hika. Gadis muda berumur lima belas tahun itu sedikit gemas dengan Hika.
"Sial! Sepertinya dia sengaja memasang wajah polos seperti itu!" Okiru membatin sambil menggelengkan kepalanya.
"Uhuk ... uhuk ..." Suara batuk dari Mujin membuat Hika dan Okiru menatap pria yang menjadi wasit tersebut.
"Apa kalian berdua masih ingat dengan peraturannya?" Mujin bertanya dengan lembut kepada Hika dan Okiru.
"Ya, aku masih mengingatnya," jawab Okiru dengan sedikit malas karena tidak sabar untuk bertarung. Sedangkan Hika hanya mengangguk pelan.
__ADS_1
"Kalau begitu pertandingan antara Fuyumi Hika melawan Okiru! Di mulai!" Tepat setelah aba-aba dari Mujin mengumumkan pertandingan. Kedua peserta yang sedang bertanding saling menjaga jarak.
Okiru tersenyum tipis sambil merogoh sesuatu di dalam jubahnya, melihat hal itu Hika dengan waspada memperkirakan senjata yang digunakan Okiru.
"Apa dia menggunakan pisau kecil?" Hika bergumam pelan sambil memegang busurnya.
Perlahan Hika mengalirkan auranya yang berwarna merah muda pada busurnya, ketika busur panahnya bercahaya, semua penonton mengalihkan perhatiannya menatap Hika.
"Merah Muda Kobaran Api Cinta."
Hika menarik tali busurnya dan melepaskannya ke arah Okiru. Semua orang berdecak kagum melihat puluhan panah melesat cepat ke arah Okiru.
Hika memutari lapangan dan tidak berdiam di satu tempat, dia mencari celah untuk membidik anak panah auranya agar tepat sasaran.
"Panah aura? Hebat juga kau, gadis kecil yang imut!" Okiru melempar pisau kecil yang telah dilapisi api olehnya. Puluhan pisau kecil miliknya berhasil menangkis serangan anak panah aura dari Hika.
"Panah auramu-" belum selesai berbicara, Okiru mengerutkan dahinya melihat anak panah aura yang ditangkis olehnya membelah menjadi anak panah aura dalam jumlah banyak, sekarang anak panah aura yang melesat ke arahnya berjumlah ratusan.
"Jadi dia telah merencanakan semua ini? Kau sangat menarik menarik perhatianku, gadis kecil yang imut!" Okiru berlari mengikuti Hika yang memutari lapangan Arena Lingkaran Harimau.
Ketika kedua mata gadis muda itu bertemu, dengan cepat keduanya melempar pisau kecil dan melepaskan panah aura ke tubuh lawannya. Hika dan Okiru tidak henti-hentinya membuat penonton berdecak kagum.
Pertarungan jarak jauh lebih didominasi oleh Hika yang menggunakan busur panah. Berselang tiga menit kemudian, aura berwarna merah melapisi seluruh tubuh Okiru. Sementara itu busur panah yang dipegang Hika berwarna merah muda.
"Satu Dalam Merah Muda."
Hika memusatkan aura tubuhnya pada tangannya, setelah itu dia salurkan auranya pada busur panahnya. Hanya satu anak panah aura yang keluar dari busurnya dan melesat cepat ke arah Okiru.
Untuk membalas serangan Hika yang memaksa pertarungan ini menjadi pertarungan jarak jauh, Okiru mengaliri pisau-pisau kecil yang menjadi senjatanya dengan aura dan tenaga dalamnya. Setelah terisi, perlahan aura berwarna merah yang mengelilingi tubuhnya menghilang.
"Pisau Api Berdarah."
Okiru menyelipkan sepuluh tujuh pisau kecil di jari-jarinya, setelah itu dia lemparkan ke arah Hika dengan sekuat tenaga. Tidak ingin kehilangan momentum jalannya pertandingan, Okiru berniat mendekati Hika dan memaksa gadis muda itu untuk bertarung jarak dekat melawannya.
Okiru mengikuti ketujuh pisau kecil yang barusan dia lempar dari belakang, senyuman lebar terlihat di wajahnya karena dirinya menganggap Hika tidak pandai dalam pertarungan jarak dekat.
"Hika!" Okiru berteriak sambil melompat ke atas berniat menyerang Hika.
Satu anak panah aura berwarna merah muda kembali memecah menjadi ratusan anak panah yang menghempaskan ketujuh pisau kecil. Dengan tenaga dalamnya yang dia salurkan di kedua tangannya, Hika tersenyum ketika melihat Okiru berniat memaksa jalannya pertandingan menjadi pertarungan jarak dekat melawan dirinya.
Ratusan anak panah aura yang masih melayang di udara, Hika kendalikan dengan mudahnya. Semua penonton bersorak melihat Hika yang terlihat manis ketika bertarung, raut wajahnya yang polos membuat penonton perempuan berteriak histeris.
Dada Okiru mengembung, tidak berapa lama api keluar dari mulutnya membakar ratusan anak panah aura yang dilancarkan Hika.
Napas Hika tersengal-sengal karena dirinya terus-menerus berlari keliling lapangan Arena Lingkaran Harimau mencari titik lemah Okiru. Pandangan mata Hika terus menatap tajam Okiru yang mendekati dirinya.
"Sepertinya Hika harus membiarkan busur kesayangan Hika istirahat, Hika tidak boleh mengeluarkan semua kartu as yang Hika punya." Hika membatin mengingat masih banyaknya peserta yang belum bertanding. Babak 32 besar masih panjang, bahkan pertandingan di babak penyisihan mungkin akan memakan waktu dua sampai tiga hari.
Busurnya dia simpan di belakang punggungnya yang terdapat sebuah pengikat busur. Semua penonton yang melihat tindakan Hika terlihat kebingungan.
Pukulan dan tendangan yang dilancarkan Okiru membuat Hika kewalahan. Tidak berapa lama pukulan dan tendangan yang dilancarkan Okiru semakin kuat, api yang berkobar di tangan dan kakinya membuat Hika terlempar beberapa langkah ke belakang.
Mujin menatap Hika dan Okiru yang terlihat begitu serius bertarung, tatapan mata Hika yang serius terlihat menggemaskan membuat wajah Mujin merah merona.
"Uhuk ... sepertinya gadis muda ini memiliki tekad yang sama seperti Kitakaze Chaika," batin Mujin mengamati Hika yang berusaha bangkit kembali setelah dijatuhkan Okiru.
"Hika sepertinya harus mengeluarkan jurus itu..." Hika bergumam pelan menatap tajam Okiru yang mendekati dirinya.
"Pukulan Depan Pertama : Api Menggelegar."
Okiru melesatkan pukulan yang dapat mengejar Hika dengan api berbentuk sebuah tangan yang mengepal. Hika berlari menghindari serangan Okiru sambil mengamati Okiru secara terus-menerus.
Dalam sekejap penonton mulai bersorak mendukung Okiru yang terlihat lebih unggul dari Hika. Mendengar teriakan penonton yang memanggil namanya, Okiru tidak menyadari Hika yang sedang mengamati dirinya.
Hika berlari memutar dan secara perlahan dia semakin mendekat dengan Okiru. Puluhan pukulan tangan yang dilesatkan Okiru masih mengejarnya, setelah dekat dengan Okiru dengan cepat Hika melompati tubuh Okiru dan membentuk sebuah pelindung air dari aura tubuhnya.
"Teknik Pelindung Pertama : Pelindung Bulan Purnama."
Sebuah pelindung air yang mengelilingi tubuh Hika membuat semua orang terkejut, Okiru merapatakan giginya karena telah meremehkan lawannya. Puluhan tangan api miliknya justru menjadi senjata makan tuan bagi dirinya sendiri.
Okiru terkena pukulan tangan apinya sendiri dan terkapar di tanah. Semua penonton terdiam melihat apa yang barusan terjadi, tidak berapa lama mereka semua memberikan tepuk tangan untuk kecerdikan Hika dalam mengalahkan Okiru.
"Hika menang..." Hika bergumam pelan melihat Okiru yang terkapar di rerumputan.
"Paman, apa dia, bukan maksudku Okiru baik-baik saja?" Hika menatap Mujin dengan wajah polosnya.
Melihat itu Mujin pura-pura mengusap matanya. "Sungguh baik sekali gadis bernama Hika ini. Dia mengkhawatirkan lawannya yang telah meremehkannya, apa dia malaikat?" Mujin membatin sambil melirik sedikit wajah polos Hika yang terus menatap dirinya penuh keheranan.
"Ehem ... Okiru baik-baik saja, kau, tidak maksudku Hika tidak perlu khawatir." Mujin menenangkan Hika yang terlihat begitu mengkhawatirkan kondisi lawannya tersebut.
"Syukurlah," balas Hika sambil tersenyum lembut pada Mujin.
"Sungguh baik sekali." Lagi-lagi Mujin membatin melihat senyuman lembut yang terlihat menggemaskan ditunjukkan Hika.
Setelah melihat Hika kembali menuju bangku penonton tempat Klan Fuyumi menonton, Hika tersenyum bahagia sambil duduk di samping Shirayuki dan Ichiba.
"Selamat Hika," ucap Shirayuki pada Hika.
"Terimakasih Guru Shirayuki," jawab Hika sambil tersenyum manis ke arah Shirayuki.
"Hika tidak menyapa ibumu ini," potong Ichiba ketika melihat anaknya sedang terlihat bersenang-senang dengan Shirayuki.
"Ibu tidak menyapa Hika," jawab Hika sambil membenamkan kepalanya di dada ibunya.
__ADS_1
"Hika akan berusaha membuat ibu bahagia," tambah Hika sambil memeluk tubuh Ichiba.
"Hmmm ... ini baru anakku. Oichi kamu harus cepat punya anak, hehehe." Ichiba membalas pelukan Hika setelah itu dia melirik Oichi dan mengeledeknya.
"Baiklah, perkenankan aku mengumumkan pertandingan selanjutnya!" Suara lantang dari Mujin yang terdengar keras membuat penonton terdiam.
Keluarga Kaisar Hizen menunggu giliran anak mereka yang bertanding, tetapi mereka harus menunggu kembali. Pertandingan selanjutnya lagi-lagi merupakan sebuah pertandingan perwakilan dari Klan Fuyumi.
Semua pendekar muda menatap tajam Mujin menunggu giliran mereka bertanding.
"Fuyumi Tika dari Klan Fuyumi dan Matsu dari Air Terjun Kebenaran! Kedua nama ini silahkan maju ke depan!" Semua orang kembali menanti pertarungan antara Tika melawan Matsu.
Di bangku penonton dari Air Terjun Kebenaran terlihat Matsu duduk bersama empat pendekar muda perwakilan Air Terjun Kebenaran yang menunggu giliran.
"Matsu, hati-hati dengan pendekar muda dari Fuyumi. Mereka lawan yang cukup merepotkan, sudah tiga murid dari perguruan besar dikalahkan mereka." Pemimpin dari Air Terjun Kebenaran yang bernama Mio memberi nasihat pada muridnya.
"Baik, guru." Matsu memberi hormat kepada Mio sebelum turun dari tribun dan bergerak menuju lapangan Arena Lingkaran Harimau.
Raut wajah pendekar muda tak bermahkota dan sepuluh pendekar muda jenius terlihat tidak sabar ingin bertanding.
Di tengah lapangan Hika sedang menunggu kedatangan Matsu.
"Kalau begitu pertandingan antara Fuyumi Tika melawan Matsu." Mujin terdiam sejenak sebelum dia memulai pertandingan selanjutnya dari Turnamen Harimau Kai. "Di mulai!"
Tika dan Matsu tidak bergerak dari tempatnya, mereka berdua saling menatap tajam satu sama lain. Kipas kecil yang di pegang Tika menarik perhatian Matsu.
"Sepertinya gadis muda bernama Tika mempunyai senjata yang merepotkan, walau aku juga gadis muda hehehe," batin Matsu mengamati tatapan mata Tika yang terlihat begitu tenang. Tidak berapa lama Matsu melemparkan sebuah pertanyaan kepada Tika.
"Apa kipasmu itu termasuk senjata pusaka klanmu?" Matsu menatap tajam Tika yang tersenyum tipis.
"Pusaka klan? Bukan, senjata milik Tika adalah sebuah senjata yang lebih dari itu,"jawab Tika sambil mengeluarkan kipasnya yang berwarna biru muda. "Kipas ini adalah Senjata Kuno Tipe Pusaka : Kipas Air." Perkataan Tika membuat Mujin dan Matsu terdiam.
"Menarik, aku tidak menyangka akan melihat langsung sebuah Senjata Kuno..." Matsu tersenyum lebar sebelum memanipulasi auranya yang berwarna biru menjadi air.
Seluruh tubuhnya bercahaya berwarna biru, Matsu hanya diam tidak bergerak dari tempatnya. Tidak berapa lama dia berkata. "Aku akan menunggu, hanya menunggu," katanya sambil tersenyum tipis kepada Tika.
Tika tidak peduli dengan perkataan Matsu. Tangannya memainkan kipasnya sambil bergerak mendekati Matsu. Air yang terlihat seperti sebuah pisau ujungnya keluar dari kipas Tika.
Melihat itu Matsu kembali mengendalikan air yang terserap ke tanah menjadi sebuah pertahanan tembok pelindung air bercampur tanah.
Penonton kebingungan melihat teknik yang digunakan Tika. Berbagai serangan yang dilancarkan Tika selalu dihalangi sebuah penghalang berupa air yang bercampur dengan tanah membentuk sebuah pelindung dari Matsu.
"Teknik Kipas Air Pertama : Hembusan Air Terjun Mengalir."
Sebuah air yang mengalir dengan deras keluar dari kipas Tika. Semua penonton bersorak melihat teknik yang digunakan Tika. Mereka tidak henti-hentinya dibuat kagum oleh gadis kembar perwakilan dari Klan Fuyumi.
"Aura Air Penyerapan."
Matsu dengan santai memanipulasi air yang keluar dari kipas Tika dan membuatnya terserap ke dalam tanah. Semua orang kembali di buat berdecak kagum oleh gadis muda yang bertarung sengit di bawah sana.
"Tidak mudah rupanya..." Tika bergumam pelan melihat tekniknya berhasil digagalkan Matsu dengan mudah.
"Teknik Kipas Air Kedua : Aliran Air Musim Dingin."
Tika kembali memainkan kipasnya membuat sebuah air padat yang berbentuk sebuah tebasan melesat cepat ke arah Matsu.
"Tembok Air Bercampur Tanah."
Sebuah tembok penghalang melindungi Matsu dari serangan Tika. Namun tembok yang melindungi dirinya tidak bertahan lama, air milik teknik kipas Tika terasa begitu dingin hingga membuat seluruh tembok pelindung Matsu membeku.
Matsu yang sedari tadi tidak bergerak dari tempatnya mulai mencari jalan keluar dengan berbagai kemungkinan.
"Apa dia berniat menyerangku dari dekat? Aku selalu bertarung tanpa bergerak ... tetapi kali ini ada anak yang memaksaku bergerak!" Matsu mengerutkan dahinya, hingga wajahnya yang manis terlihat sedikit mengkerut.
Ketika Matsu memikirkan segala berbagai kemungkinan, Tika sudah menghancurkan tembok pelindung yang membeku dan bersiap melakukan serangan.
"Rasakan pukulan dari Klan Fuyumi!" Tika berteriak sambil memukul tangannya pada dada Matsu.
"Tembok Pelindung."
Matsu yang malas bergerak kembali membuat tembok pelindung, tetapi Tika dengan mudah menghancurkannya. Mata Matsu melebar melihat tangan Tika yang mengepal sudah begitu dekat dengan dadanya.
Dalam satu kali hentakkan langkah kakinya, Tika memukul Matsu dengan cukup telak. Tubuh Matsu terpental ke belakang.
Di bangku penonton, Mio tampak hanya menggelengkan kepalanya sambil menghela napas panjang melihat sikap muridnya yang malas bergerak.
"Rasa malasnya membuat Matsu kehilangan sebuah kesempatan..." Mio bergumam pelan melihat kebiasaan buruk Matsu.
Tidak berapa lama Mujin mengumumkan Tika sebagai pemenangnya.
"Pemenangnya adalah Fuyumi Tika dari Klan Fuyumi." Mujin menunjuk Tika sebagai pemenangnya diiringi suara gemuruh penonton yang bersorak.
Tika kembali ke tempat pendekar Klan Fuyumi menonton.
"Tahun ini Klan Fuyumi sangat baik. Aku bangga pada kalian semua," ujar Emi ketika Tika sudah duduk bersama Nagato dan yang lainnya.
"Semua berkat bimbingan Ketua Emi." Tika menanggapi perkataan Emi.
"Tika ... Tika ... selamat kamu menang," ucap Hika kegirangan memeluk saudari kembarnya itu.
"Hika ... Hika ... selamat kamu juga ya," jawab Tika sambil membalas pelukan Hika.
Litha dan Iris sedang bercerita berdua, entah apa yang mereka bicarakan. Sementara itu Nagato hanya terus mengamati jalannya pertandingan.
__ADS_1
"Selanjutnya tuan putri Hisui dan Mariko dari Kuil Matahari Baru. Kedua nama yang kupanggil silahkan maju ke depan!" Tepat setelah Mujin mengumumkan pertandingan selanjutnya, beberapa pendekar muda yang datang terlambat dari Klan Kurozawa, Klan Muromachi, Klan Agata, Klan Akatsuki dan Klan Kuromachi duduk di bangku penonton yang dekat dengan sepuluh pendekar muda jenius.