
Embun pagi mulai menyelimuti pinggiran Kakato bagian dari wilayah Me. Matahari masih bersembunyi di balik awan, udara yang dingin menyeruak masuk ke sela - sela tulang.
"Saatnya kembali..." gumam Bisma yang sedang memberi makan singa terbang yang menjadi kendaraannya.
Nagato tidak tidur semalaman dan dia sedang melihat Bisma yang memberi makan singa terbang dengan daging.
"Kakak Bisma terimakasih telah melatihku... walau sebentar tetapi aku akan menggunakan kekuatan ini untuk melindungi apa yang harus kulindungi." ucap Nagato tulus kepada Bisma.
Bisma tersenyum dan menguap sebelum meremas rambut Nagato.
"Nagato, jalanmu masih panjang. Ingat perkataanku, berhati - hatilah dengan yang namanya Bahamut." ujar Bisma memberi tahu Nagato sebelum dia menyalakan api unggun untuk membakar daging.
"Bahamut? Apa maksud kakek tua ini?" batin Nagato mengikuti Bisma dari belakang.
Bisma meminjam pedang Nagato dan memotong daging rusa menjadi beberapa bagian, melihat pedang kesayangannya menjadi alat potong daging perlahan emosi Nagato meluap.
Setelah selesai memotong daging rusa, Bisma mengembalikan pedang Nagato.
"Sini duduk. Aku ingin sarapan sebelum pergi." ujar Bisma dengan santainya melihat raut wajah Nagato yang terlihat kesal.
Nagato duduk di samping Bisma dan membakar potongan daging rusa. Litha dan Asha ikut duduk untuk menghangatkan tubuh mereka yang kedinginan di dekat api unggun.
Selesai sarapan pagi, Bisma sudah terlihat bersiap - siap untuk pergi dari Benua Ezzo. Nagato sedikit sedih karena dia merasa dirinya sudah akrab dengan Bisma.
"Kak Nagato ternyata orangnya cengeng." ejek Asha tertawa melihat mata Nagato yang berkaca - kaca.
Litha menghela napas panjang karena merasa akan ada perkelahian antara Nagato dan Asha.
Nagato diam dan menghiraukan ejekan Asha. Mata Nagato hanya fokus pada Bisma yang sedang menaiki seekor singa terbang yang besar.
"Nagato, kau adalah pemuda yang jenius tetapi ambisimu membuatmu tidak dapat menikmati hidup yang cuma sekali ini. Kau harus mencontoh Litha dan mencari impianmu sendiri." ujar Bisma pada Nagato.
Nagato merapatkan giginya dan menahan tangisan karena dia tidak menyangka akan sesedih ini melihat kepergian Bisma.
"Litha, kau memiliki impian yang hebat. Ketika dewasa temui aku di Pulau Aksara, Brahmastra akan menyambutmu. Jangan menyerah mengejar orang yang kau suka walau dia tidak peka." ujar Bisma pada Litha.
Litha tertawa cekikian mendengar perkataan Bisma kemudian dia mengusap matanya yang berkaca - kaca.
"Litha menyukai orang? Siapa?" batin Nagato melirik Litha yang sedang tertawa pelan di sampingnya.
Litha melirik Nagato kemudian dia menghela napas panjang sebelum memalingkan wajahnya ke samping.
"Litha..." gumam Nagato dengan sangat pelan ketika melihat Litha memalingkan wajahnya.
"Asha, kau memiliki cita - cita yang luar biasa. Dunia yang tempat kita tinggali ini sangat keras, jika kau telah menjadi pahlawan di bawah naungan ABB, tangkaplah aku, itupun jika kau bisa." ujar Bisma pada Asha.
"Aku akan menunggu kalian di Pulau Aksara." tambah Bisma.
Setelah mengucapkan kata - kata yang ingin dia sampaikan pada Nagato, Litha dan Asha, secara perlahan singa terbang mulai terbang menjauh dari pandangan Nagato, Litha dan Asha.
Asha menangis histeris melihat Bisma yang telah pergi, Nagato berdecak kesal mendengar tangisan Asha.
"Jangan menangis, cengeng!" teriak Nagato pada Asha.
__ADS_1
Asha berhenti menangis kemudian dia menatap tajam Nagato.
"Aku tidak akan menangis lagi." jawab Asha sambil menggigit bibirnya.
Nagato menghirup udara dalam satu tarikan napasnya kemudian dia menghembuskannya secara perlahan.
"Ayo kita pulang ke rumah Dorobo. Aku yakin dia sedang kesal karena kita tidak pulang selama dua bulan ini." ajak Nagato pada Litha dan Asha.
"Nagato, menurutmu kakek sedang apa sekarang?" tanya Litha pada Nagato, bagaimanapun Litha khawatir pada Kakek Hyogoro.
"Sedang minum arak, mungkin." jawab Nagato singkat.
Litha tersenyum tipis mendengar jawaban Nagato kemudian dia mempercepat langkahnya. Asha mengikuti Litha dari belakang, melihat Litha yang terlihat dingin Nagato bertanya - tanya dalam hatinya.
Nagato ikut mempercepat langkahnya, dalam perjalanan kembali ke Markas Pencuri Ashikubi, mereka bertiga tidak berbicara sepatah kata sama sekali.
Sesampainya di Markas Pencuri Ashkubi, terlihat di sana Dorobo menunggu kedatangan Nagato, Litha dan Asha sambil meminum arak.
"Andai dia tidak pemabuk, wajah manisnya akan kelihatan." batin Nagato menatap tajam Dorobo.
Dorobo menyipitkan matanya ketika melihat tiga bayangan anak yang tidak asing di matanya.
"Bocah tengik! Beraninya kau membuatku khawatir!" teriak Dorobo melempar botol arak ke arah Nagato, Litha dan Asha.
"Bos, kau terlalu banyak minum." ujar anak buah Dorobo.
"Dorobo! Botol yang kau lempar hampir saja mengenaiku!" teriak Nagato menatap tajam Dorobo.
"Kupikir kau telah mati Nagato." jawab Dorobo sambil menatap sinis Nagato.
"Sudah, sudah. Lebih baik kalian bertiga mandi dan istirahat dahulu, lalu ceritakan apa yang terjadi selama dua bulan ini. Bos sangat khawatir kepada kalian." ucap salah satu anggota Dorobo yang bernama Kuas.
"Berisik, pria rambut sapu!" potong Nagato menatap sinis Kuas.
"Bocah tengik! Beraninya kau menghinaku!" bentak Kuas mengepalkan tangannya dan hendak memukul Nagato.
"Kak Nagato, pria berambut sapu itu sangat lucu sekali." sahut Asha tertawa terbahak - bahak melihat rambut yang dimiliki Kuas.
"Bos, aku akan mencincang mereka berdua!" Kuas menatap tajam Nagato dan Asha.
"Sudah Kuas, kalian bertiga masuklah. Kami sudah menyiapkan makanan." ujar salah satu pria anggota dari Dorobo yang bernama Usup.
Nagato, Litha dan Asha mengikuti perkataan Usup. Mereka bertiga masuk ke dalam rumah Dorobo.
Setelah mandi dan beristirahat, Nagato, Litha dan Asha pergi ke ruang tengah Markas Pencuri Ashikubi. Dorobo sudah menyiapkan makanan yang sangat banyak, matanya terarah pada Nagato dan menyuruh Nagato menjelaskan padanya apa yang mereka bertiga lakukan selama dua bulan belakangan ini.
Nagato menjelaskan pada Dorobo jika dia bersama Litha dan Asha berlatih bersama Bisma, mendengar penjelasan Nagato para pencuri tersedak karena terkejut setelah mendengar nama Bisma.
"Bisma? Salah satu penjahat yang sering disebut Lima Penguasa itu? tanya Dorobo pada Nagato.
"Iya, dia adalah kakek yang baik dan sama sekali tidak terlihat seperti penjahat." sahut Asha menatap sinis Dorobo.
"Bocah tengik ini." umpat Dorobo berdecak kesal karena Asha menatap dirinya.
__ADS_1
"Daripada bercerita tentang Bisma, ada satu hal yang menggangguku selama ini..." potong Nagato ketika melihat Asha dan Dorobo saling menatap sinis satu sama lain.
"Asha ceritakan pada mereka tentang identitasmu. Aku yakin, Kakek Hyo telah memberi tahu pada Dorobo jika aku adalah anak Pandu." ucap Nagato menatap Dorobo.
"Pandu?" sahut seluruh pencuri secara serentak selain Dorobo, Kuas dan Usup.
Dorobo menghela napas panjang karena dia hanya memberitahu identitas Nagato pada Kuas dan Usup.
Asha yang sedang meminum air putih menjatuhkan gelasnya setelah mendengar perkataan Nagato.
"K-Kak Nagato..." ucap Asha dengan bibir yang bergemetar hebat.
Asha menangis kemudian dia pergi dari Markas Pencuri Ashikubi, melihat reaksi Asha yang mencurigakan membuat Dorobo menyuruh Nagato dan Litha untuk tetap berada di dalam rumah.
"Biar aku yang mengejarnya, kalian berdua tetap disini." perintah Dorobo pada Nagato dan Litha.
Nagato mengikuti perintah Dorobo karena dia bisa melihat jika Asha terlihat merasa bersalah pada dirinya.
"Membeberkan identitasku pada kalian adalah bentuk kepercayaanku." ujar Nagato menatap tajam Kuas dan Usup bersama pencuri yang lainnya.
"Aku akan menjaga rahasia ini." jawab pencuri secara serentak, mereka sangat mengetahui jika yang melindungi Nagato adalah Kakek Hyogoro yang memiliki julukan Monster Pembunuh Kai.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Asha terlihat bersalah setelah mendengar nama Ayah Nagato?" batin Litha melirik Nagato yang sedang berbicara dengan Kuas dan Usup.
Di luar Markas Pencuri Ashikubi, Dorobo mengejar Asha dan menangkap anak muda tersebut.
"Kemana kau akan pergi, bocah tengik!" Dorobo mengunci badan Asha dan menarik tangannya.
"Lepaskan aku!" teriak Asha pada Dorobo.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kau bisa bercerita padaku?" Dorobo mencoba menenangkan Asha yang sedang menangis.
"Aku tidak pantas berteman dengan Kak Nagato." jerit tangis Asha terdengar histeris.
Dorobo menaikkan alisnya karena Asha terlihat menyembunyikan sesuatu yang di luar dugaannya.
Asha mencoba untuk tetap tenang dan dia menatap Dorobo penuh kepercayaan.
"Aku adalah anak Bangsawan Fang. Darah bangsawan yang membantu Black Madia mengalir di darahku..." ucap Asha dengan jujur kemudian dia memberi tahu identitasnya pada Dorobo.
Asha bercerita jika kakaknya yang bernama Black Fang adalah salah satu dari tujuh penyihir yang bekerja di bawah perintah Black Madia. Di sisi lain kedua orang tuanya adalah sepasang suami istri yang senang menyiksa seorang budak dan rakyat jelata, Asha menangis sambil memegang erat lengannya.
"Aku malu terlahir di dalam keluarga seperti itu..." ungkap Asha menatap tajam Dorobo dengan tetesan air matanya yang terus mengalir membasahi wajahnya.
"Kakakku yang telah membunuh pengikut Ayah Kak Nagato yang bernama Uzui..." ucap Asha sebelum dia menundukkan kepalanya di tanah.
"Kakakku bersama Kazan membunuh pendekar yang bernama Uzui dengan begitu keji!" jerit Asha memegang rumput hingga tangannya berdarah.
Dorobo terdiam dan raut wajahnya sangat marah kemudian dia memukul pohon hingga pohon yang dia pukul tumbang.
"Kau adalah teman Nagato dan Litha. Aku akan menjagamu, tenang saja selama kau berada di pengawasanku." ucap Dorobo menenangkan Asha.
Asha mengangguk sambil mencoba untuk tidak mengeluarkan air mata, tidak berapa lama dia ingin menyendiri terlebih dahulu.
__ADS_1
Dorobo mengikuti Asha dan melihat anak muda tersebut menangis di atas batu sambil menatap langit malam.