
Ibu Kota Daifuzen terlihat begitu ramai, penginapan sudah penuh dipesan orang-orang yang hendak menonton Turnamen Harimau Kai. Pengunjung dari seluruh belahan Kekaisaran Kai datang ke Ibu Kota Daifuzen, bahkan beberapa di antara pengunjung juga orang-orang dari luar Kekaisaran Kai.
Di Penginapan Matahari Timur setiap klan memiliki kegiatan masing-masing. Klan Kitakaze mengadakan latihan ringan bersama pemimpin klan yang bernama Kitakaze Owara. Chiaki, Chaika dan Ninjin bergabung bersama empat jenius muda dari Klan Kitakaze. Sementara itu di sebuah halaman luas di belakang tempat penginapan yang disiapkan untuk Klan Fuyumi. Nagato, Iris, Litha, Hika dan Tika berlatih bersama Emi.
"Satu!" Emi berteriak dengan lantang, menyuruh lima pendekar muda dari Klan Fuyumi untuk melakukan push up. "Dua! Tiga! Empat! Lima! Enam! Tujuh! Delapan!"
Keringat membasahi wajah cantik Iris. Rambutnya terurai, dan terlihat basah.
Setelah melatih Nagato dan yang lainnya, Emi memberi waktu istirahat pada mereka berlima selama tiga puluh menit sebelum bertarung dengannya.
Orang pertama yang disuruh maju oleh Emi adalah Nagato. Latihan bertarung antara Emi dan Nagato cukup sengit, keduanya tidak memakai senjata dan hanya menggunakan tangan kosong.
Emi melatih pertarungan jarak dekat, dua hari ini dia fokus meningkatkan kemampuan pertarungan jarak dekat Nagato, Iris, Litha, Hika dan Tika.
Bakat Nagato cukup mengerikan di mata Emi. Aura tubuhnya yang berwarna emas dimanipulasi menjadi api yang membara di tubuhnya. Nagato juga memanipulasi auranya yang berwarna putih sebagai pertahanannya. Pukulan Nagato yang dilapisi api berkali-kali mencairkan pertahanan es milik Emi.
Ketika malam hari tiba, Nagato kembali melatih pernapasan. Dia tidak ingin menyia-nyiakan waktu untuk bersantai, Turnamen Harimau Kai adalah ajang pembuktian Nagato untuk membanggakan Kakek Hyogoro dan memberi kejutan pada Azai, Kuina dan Serlin.
Nagato duduk bersila sambil memusatkan perhatiannya penuh pada setiap tarikan napasnya. Tubuhnya terasa ringan, pikirannya tenang dan dia tidak mendengar suara-suara bising di luar kamarnya.
Perkataan Bisma tentang tiga kekuatan mutlak membuat Nagato berusaha untuk belajar menguasai tiga kekuatan mutlak tersebut. Gerbang hitam penuh dengan rantai dapat dia lihat kembali, hanya saja untuk dapat menyentuh gerbang tersebut Nagato harus berkonsentrasi secara penuh. Dia harus memusatkan seluruh pikirannya pada konsentrasi yang sedang dia dilakukan, pikiran tentang kehidupan duniawi dan segala beban harus dia buang jauh-jauh.
"Jangan pernah berharap untuk masuk ke dalam gerbang dengan pikiran agar menjadi lebih kuat," batin Nagato mengingat perkataan Bisma.
Nagato terus melatih pernapasan selama beberapa jam, setelah selesai dia istirahat sejenak sebelum berlatih pedang kayu sendirian di halaman depan Penginapan Matahari Timur.
Ketika Nagato sedang melatih kemampuan berpedangnya, aura membunuh membuyarkan konsentrasinya.
"Sirih." Nagato menarik napas panjang dalam satu tarikan napasnya, dia mencoba menemukan lokasi orang yang menyusup.
"Satu ... dua ... sepertinya mereka hanya dua orang." Nagato bergumam pelan setelah mengetahui lokasi penyusup, tetapi dirinya menjadi khawatir karena aura membunuh semakin dekat dengan ruangan kamar Iris. "Merepotkan, aku harap dia tidak tidur malam ini." Nagato bergegas menuju ruangan kamar milik Iris yang ada di Penginapan Matahari Timur.
__ADS_1
Suara langkah kaki Nagato di lantai kayu tidak terdengar, setelah dekat dengan kamar Iris dengan cepat Nagato melepaskan auranya yang berwarna emas ke arah dua orang penyusup.
Nagato membuka pintu kamar Iris. Gadis berparas cantik yang menjadi idaman setiap pemuda sedang tertidur lelap, tidak berapa lama kedatangan Shirayuki membuat Nagato terkejut.
"Dua penyusup itu telah Bibi Shirayuki bekukan, Nagato..." Shirayuki berbisik pelan di telinga Nagato.
Detak jantung Nagato terdengar, perlahan kekhawatirannya mereda. Nagato menoleh ke belakang dan melihat Shirayuki yang sedang memakai handuk. Bagian tubuh Shirayuki terpampang jelas di mata Nagato.
"Syukurlah, di mana mereka?" Nagato bertanya pada Shirayuki.
Senyuman manis Shirayuki membuat Nagato kebingungan, tidak berapa lama Shirayuki menunjuk ke arah lorong penginapan.
Setelah keluar kamar Iris dan melihat ke arah yang ditunjuk Shirayuki dalam sekejap Nagato mengerutkan dahinya, karena dua pria telah dibekukan Shirayuki. Perlahan Nagato mendekati dua pria yang membeku, matanya menatap lambang ular yang ada di baju dua pria yang menyusup.
"Bibi Shirayuki ... lambang ini aku pernah melihatnya," ucap Nagato sedikit gemetar, tangannya menyentuh es yang membekukan tubuh dua pria yang menyusup. "Bukankah lambang ini adalah lambang dari Kekaisaran Rakuza?"
Shirayuki menghampiri Nagato dan menarik tangan pemuda itu menuju luar penginapan, dengan tenaga dalamnya perlahan tubuh dua pria yang membeku melayang di udara mengikuti Shirayuki dari belakang.
"Mereka mengincar Iris." Shirayuki menatap tajam dua pria yang menyusup, tidak berapa lama dia menyuruh Nagato untuk menjaga dua pria yang telah dibekukan olehnya. "Nagato, jaga sebentar. Bibi Shirayuki mau pakai baju dulu," ujar Shirayuki sambil mengedipkan matanya pada Nagato.
"Bukankah Bibi Shirayuki selalu merendahkan laki-laki, kenapa dia sangat perhatian padaku?" Nagato bergumam pelan melihat tubuh Shirayuki yang hanya dililit handuk sedang menuju kamar.
Nagato mengalihkan perhatiannya pada dua orang penyusup yang berasal dari Kekaisaran Rakuza.
"Waktunya sangat tepat dengan Turnamen Harimau Kai." Nagato duduk di teras sambil menggigit jari jempolnya dengan lembut. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Muncul sebuah pertanyaan besar dalam benak Nagato.
Tidak berapa lama hawa dingin terasa di kulit Nagato. Sosok Shirayuki yang memakai piyama dan menghampirinya membuat Nagato terdiam sesaat sebelum bertanya pada Shirayuki.
"Bibi Shirayuki, apa yang mereka inginkan dari Iris." Nagato menatap dua penyusup, sedangkan pertanyaannya membuat Shirayuki tersenyum tipis karena melihat Nagato yang memahami keadaan.
"Tubuh dewi salju..." Shirayuki menjawab pertanyaan Nagato dengan pelan. Angin malam berhembus di sekitar mereka berdua.
__ADS_1
"Tubuh dewi salju?" Nagato bergumam pelan sambil menggigit bibir bawahnya, tentu Nagato marah karena ada orang yang hendak menyentuh Iris.
"Kenapa mereka dapat masuk ke ibu kota kekaisaran dengan bebas?" Nagato sedikit emosi, kemudian dia menatap Shirayuki. "Bibi Shirayuki, katakan satu hal padaku, apa kakak dari mendiang ayahku yang mengizinkan kedua orang ini?" Ketenangan malam membuat Shirayuki dan Nagato terdiam selama beberapa detik, mata mereka saling menatap tajam satu sama lain.
"Mungkin ini adalah ulah orang yang bernama Satra. Pamanmu, maksudku Kaisar Hizen tidak mengetahui hal ini." Shirayuki menatap Nagato dalam.
"Satra? Siapa dia?" Nagato menatap Shirayuki.
"Dia adalah orang terkuat yang menempati kursi Sepuluh Tetua Kai. Satra adalah teman ayahmu saat kecil, Nagato." Shirayuki menatap Nagato yang terkejut mendengar identitas Satra yang merupakan teman masa kecil Pandu. "Bibi Shirayuki sudah menjadi incaran lelaki itu selama beberapa tahun ini!" Shirayuki terlihat marah.
"Jadi alasan Satra mengirim penyusup untuk menculik Iris agar Bibi Shirayuki mau menjadi kekasihnya?" Nagato dengan polosnya bertanya pada Shirayuki.
"Menurutku tidak seperti itu. Kebanyakan laki-laki hanya nafsu dengan tubuhku, aku membenci semua laki-laki." Shirayuki menatap Nagato dan mengelus rambut pemuda itu dengan lembut. "Tapi Bibi Shirayuki tidak membenci laki-laki sepertimu Nagato." Shirayuki menambahkan.
"Dan aku tidak akan membenci laki-laki sepertimu dan ayahmu, Nagato," batin Shirayuki menatap Nagato yang tersenyum tipis.
"Aku juga benci dengan perempuan yang tertarik dengan diriku hanya melihat penampilanku..." Nagato bergumam pelan sambil menghela napas panjang setelah selesai bergumam.
Shirayuki tertawa pelan mendengar perkataan Nagato. Kemudian dia menciptakan sebuah rantai es dengan tenaga dalamnya. Rantai es yang diciptakan Shirayuki mengikat dua penyusup yang membeku.
"Tugas kubu timur adalah menguak kebenaran yang disembunyikan," ucap Shirayuki sambil berjalan kembali ke kamarnya. "Nagato, tidurlah. Sudah larut malam, jangan begadang," ujar Shirayuki pada Nagato.
"Ya." Nagato kembali masuk ke dalam kamarnya dan merenungkan kejadian malam ini. Dalam ketenangannya, Nagato mengingat perkataan Shirayuki yang ingin menguak kebenaran yang disembunyikan.
Setelah berpikir keras selama beberapa menit, muncul sebuah pertanyaan. "Sebenarnya apa yang disembunyikan para tetua kekaisaran itu?" Nagato menatap tembok penginapan sebelum tertidur.
***
Bayang-bayang gelap di sebuah penginapan yang dekat dengan kediaman Satra. Petinggi militer Kekaisaran Rakuza sedang mengadakan pertemuan.
Di sana terlihat Panglima Perang Nobu bersama Onigawara yang merupakan sebuah pasukan khusus yang dibentuk oleh Kaisar Orochi. Tidak berapa lama ruangan tersebut terbuka, sosok pria yang merupakan salah satu anggota Tujuh Dosa Besar Mematikan yang menyamar menjadi tangan kanan Panglima Perang Nobu menyapa mereka yang ada di dalam ruangan.
__ADS_1
"Mari kita mulai, pembahasan tentang menghancurkan Kekaisaran Kai dari dalam." Reptile tersenyum lebar sambil menjilat bibirnya sendiri dengan lidahnya yang panjang.