
Gyuki tersenyum tipis melihat Litha yang sudah berada di atas tribun. "Teknik Pernapasan Sirih dan Teknik Pernapasan Pelangi Surgawi. Gadis kecil itu bisa menggunakannya. Jadi dia murid dari Bos Hyogoro," batin Gyuki.
Angin berhembus dan menghilangkan debu-debu yang terlihat di tengah lapangan, Gyuki menatap langit yang semakin terang dan sinar matahari perlahan semakin terik.
Gyuki menatap Satra yang memberi isyarat agar mempercepat proses jalannya pertandingan.
"Sehari ada 16 pertandingan yang cukup lama. Sepertinya aku harus berdiri seperti ini sampai sore nanti." Gyuki mengeluh sambil menghela napas panjang.
"Baiklah..." Gyuki bergumam pelan sebelum dia mengumumkan kedua peserta selanjutnya yang akan bertanding.
"Shinjitakatta Yatsura dari Kuil Matahari Baru dan Seibu Azuki dari Perguruan Api Abadi. Kedua nama yang kupanggil silahkan maju ke depan!" Gyuki kembali memasang wajah santainya yang terkesan malas. Tidak berapa lama dua peserta datang ke tengah lapangan.
Pemuda dengan rambut berwarna biru muda datang dari sebelah kiri. Gyuki menatapnya dan berkata, "Namamu?"
"Shinjitakatta Yatsura dari Kuil Matahari Baru." Jawab pemuda berambut biru muda yang membawa sebuah tongkat berwarna biru itu.
"Yatsura." Gyuki berkata pelan sambil menatap pemuda berambut biru muda yang bernama Yatsura. Kemudian pandangannya beralih ke gadis berambut merah. "Dan kamu Seibu Azuki?"
Gadis berambut merah itu hanya mengangguk pelan sambil memejamkan matanya.
"Baiklah, kalian berdua ambil jarak." Gyuki mundur tiga langkah ke belakang. Pandangan matanya menatap kedua peserta yang sedang bergerak mundur ke belakang.
"Pertandingan kesepuluh babak 32 besar Turnamen Harimau Kai antara Shinjitakatta Yatsura melawan Seibu Azuki dimulai!" Gyuki memulai aba-aba pertandingan. Kemudian dia melompat ke belakang sambil melihat Yatsura yang memulai serangan pembuka.
Yatsura memutarkan tongkatnya yang berwarna biru dan menyerang Azuki dengan lintasan air yang terlihat di udara. Puluhan air yang berbentuk sabit kecil melesat cepat ke arah Azuki.
Gadis berambut merah itu menangkis serangan yang mengarah padanya dengan tangkisan pedanganya. Azuki berjalan pelan sambil terus menangkis setiap serangan yang dilesatkan oleh Yatsura.
Serangan Yatsura tidak mempan terhadap Azuki. Berulang kali, Yatsura mencoba menyerang Azuki dengan serangan yang lainnya tetapi gadis berambut merah itu dapat menangkisnya.
Yatsura menatap tajam Azuki ketika jarak di antara keduanya semakin dekat, aura intimidasi yang dikeluarkan Azuki sangat terasa di badannya.
Yatsura juga melepaskan aura tubuhnya yang berwarna biru ke arah Azuki. Perlahan pemuda berambut biru itu mengubah auranya menjadi aura intimidasi, sehingga di udara terlihat jelas benturan aura intimidasi.
Benturan aura intimidasi berwarna merah dan biru terlihat di udara, Azuki memusatkan aura tubuhnya pada bilah pedanganya dan melepaskan tebasan pedang dari jarak jauh.
Sementara itu Yatsura memainkan tongkatnya yang berwarna biru untuk menahan tebasan pedang Azuki yang berwarna merah. Permainan tongkat Yatsura lebih mahir dari temannya yang bernama Mietara.
"Putaran Kilauan Biru."
Yatsura memutarkan tongkat birunya, setiap tebasan pedang Azuki dapat ditahan oleh putaran tongkat Yatsura dengan baik. Tidak berapa lama Yatsura mulai mengolah pernapasan dan memainkan tongkat birunya dengan agresif.
Azuki mundur dua langkah ke belakang ketika Yatsura sudah berada di depannya, kaki kirinya menendang kepala Yatsura hingga pemuda berambut biru itu menjaga jarak darinya.
Azuki membalas serangan Yatsura dengan tebasan pedanganya, permainan pedang Azuki sangat santai namun gadis berambut merah itu berhasil mendaratkan puluhan luka tusukan di sekujur tubuh Yatsura.
Permainan tongkat Yatsura juga mampu mengimbangi tebasan pedang Azuki. Kini keduanya telah bertukar serangan jarak dekat selama sepuluh menit. Tidak ada yang mau mengalah, baik Yatsura maupun Azuki, keduanya sekarang memusatkan perhatian mereka sepenuhnya pada jalannya pertandingan yang sedang terjadi.
__ADS_1
Pertarungan jarak dekat berlangsung sengit, Yatsura juga mampu mendaratkan puluhan sodokan tongkat birunya pada perut Azuki.
Wajah Azuki sedikit memerah, mulutnya yang terkunci rapat-rapat itu merekah. "Geli..." Sontak Yatsura buyar konsentrasinya. Sapuan bawah tongkat birunya mengenai kaki Azuki. Gadis berambut merah itu tersungkur ke tanah, setelah itu dia langsung berdiri.
"Lawanku adalah seorang perempuan yang sudah berumur 16 tahun. Aku tidak boleh sembarangan mendaratkan seranganku di bagian tubuhnya." Wajah Yatsura sedikit memerah.
Yatsura menggelengkan kepalanya berkali-kali, setelah itu dia fokus kembali pada pertandingan. Pandangan matanya tidak berani menatap wajah Azuki. Pemuda berambut biru itu hanya melihat tubuh Azuki dari leher hingga ujung kakinya, tetapi itu justru membuatnya semakin tidak fokus dalam pertandingan.
Azuki mengatur napasnya secara perlahan dan kembali melancarkan serangannya, tebasan beruntun pedangnya berhasil mendarat di tubuh Yatsura.
Gadis berambut merah itu menaikan alisnya karena pertahanan Yatsura terlihat semakin melemah, kini serangan tebasannya dapat dengan mudah memberi luka sayatan di tubuh Yatsura.
"Hmm ... kenapa anak ini?" Azuki membatin lirih dalam hatinya.
"Tusukan Aliran Api Abadi!"
Azuki tidak terganggu dengan pertahanan Yatsura yang semakin melemah, tusukan pedangnya yang dilapisi api berkobar di udara dan mengarah ke arah dada Yatsura terus mengenai tubuh lawannya tersebut.
"Pertahanan Lima Putaran!"
Yatsura menahan tusukan pedang Azuki hingga tubuhnya termundur ke belakang tiga langkah, matanya sekarang menatap tajam wajah Azuki. Pemuda berambut biru itu memutarkan tongkatnya sebanyak lima kali, hembusan angin yang keluar dari putaran tongkatnya membuat api yang ada di bilah Azuki mengarah kembali ke arah gadis berambut merah tersebut.
"Senjata makan tuan..." Azuki membatin lirih dalam hatinya dan melompat ke belakang.
Gadis berambut merah itu memperhatikan putaran tongkat Yatsura dengan seksama. "Dia memutarkan tongkatnya untuk menciptakan hembusan angin yang membuat tusukan pedangku yang dilapisi api justru berbalik ke arahku..." Azuki berkata lirih.
"Tebasan Api Membara!
Azuki melepaskan serangannya ke arah Yatsura. Tebasan pedangnya itu membentuk sebuah paruh burung yang lancip dengan api yang menjadi bentuk keseluruhannya.
Yatsura melakukan hal yang sama dengan Azuki, sekarang tongkat biru miliknya telah dilapisi air padat dan aura tubuhnya yang berwarna biru. Pemuda berambut biru itu berlari ke arah tebasan pedang Azuki sambil memainkan tongkat birunya.
Putaran dan ayunan tongkat biru Yatsura mengarah pada tebasan pedang Azuki. Kemudian dia mulai membalas serangan lawannya tersebut.
"Tusukan Kesejukan Percikan Air."
Yatsura mengarahkan serangannya pada Azuki. Tubuh Azuki lagi-lagi terkena sodokan tongkat Yatsura dari bagian perutnya sampai ke atas dadanya. Gadis berambut merah itu sedikit mendesah di tengah pertarungan.
"Ah..." Wajah Azuki memerah. Tangannya yang memegang pedangnya langsung berayun dari atas ke bawah. Azuki menahan serangan tongkat biru Yatsura.
"Putaran Paruh Api!"
Azuki membalas serangan Yatsura dengan sangat cepat, gadis berambut merah itu memusatkan tenaga dalamnya pada telapak kakinya dan bergerak dengan cepat mendekati Yatsura. Ayunan tebasan Auzki menciptakan tebasan pedang yang berbentuk paruh burung dengan api yang berkobar.
Yatsura mengerutkan dahinya. "Gadis yang lebih tua dariku ini sangat menakutkan." Yatsura memainkan tongkat birunya sembari mencoba melancarkan serangannya. Kali ini Yatsura kembali mengeluarkan teknik jurus tongkatnya.
"Amukan Air!"
__ADS_1
Benturan terjadi, pedang Azuki dan tongkat Yatsura saling menyentuh. Api yang melapisi bilah pedang Azuki padam, namun gadis berambut merah itu bergerak ke samping kiri sambil mengayunkan pedangnya.
Serangan bertubi-tubi dari Azuki membuat Yatsura terdesak, perlahan serangan lebih dominan dilakukan oleh Azuki. Tebasan Azuki dari waktu ke waktu semakin cepat dan dalam.
Yatsura hanya bisa menangkis dan menahannya. Setelah bertukar serangan lebih dari dua puluh menit dan bertukar jurus lebih dari lima jurus yang mereka punya, pertahanan Yatsura semakin melemah.
Tebasan pedang Azuki membuat Yatsura terpental ke belakang, gadis berambut merah itu tidak ingin memberikan kesempatan pada Yatsura untuk mengatur napas apalagi memulihkan tenaganya.
Azuki memindahkan aura tubuhnya yang dipusatkan pada bilah pedangnya ke pisau kaki kirinya. Setelah pisau kakinya dilapisi api, Azuki mengambil ancang-ancang dan menendang kepala Yatsura.
Pemuda berambut biru itu tidak menghindari tendangan Azuki. W
Sekarang wajahnya terkena tendangan api gadis bermabut merah tersebut. Tidak berapa lama serangan susulan dari Azuki melesat kembali.
Azuki melihat Yatsura yang belum menyerah sepenuhnya sehingga setelah menendang kepala lawannya itu, Azuki kembali melesatkan sapuan atas dan mengincar wajah Yatsura kembali.
"Sialan ... tidak ada ampun." Yatsura membatin dalam hatinya ketika melihat tumit kaki Azuki berada di samping pipinya. Tidak butuh sedetik bagi Yatsura untuk terjatuh tersungkur di tanah.
Pemuda berambut biru itu meringis kesakitan. "Gigiku!" Yatsura meludah dan mengeluarkan darah. Tidak berapa lama tubuhnya terbaring di atas tanah.
Azuki mengibaskan pedangnya sambil mendekati Yatsura untuk memastikan pemuda berambut itu telah kalah sepenuhnya. Setelah melihat Yatsura yang terlihat sedang dalam kondisi yang tidak memungkinkan, Azuki menyarungkan pedangnya kembali ke dalam sarung pedanganya.
Gyuki memberi isyarat pada tenaga medis untuk membawa tubuh Yatsura menuju ruang perawatan. Pria itu mendekati Yatsura yang sedang terbaring di atas tanah. "Apa gigimu patah?" Tanya Gyuki pada Yatsura.
Mulut Yatsura membuka memperlihatkan salah satu giginya yang patah. "Tidak ada ampun. Gadis dewasa memang mengerikan." Gyuki tertawa mendengar ucapan Yatsura. Sedangkan Azuki masih berdiri dan tidak bergeming dari tempatnya menatap Yatsura.
"Baiklah, karena Shinjitakatta Yatsura sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan pertandingan, maka pemenangnya adalah Seibu Azuki!" Gyuki mengakhiri pertandingan bersamaan dengan tenaga medis yang membawa tubuh Yatsura dengan tandu menuju ruang perawatan.
Tidak berapa lama setelah Yatsura mulai memasuki lorong, Azuki kembali ke bangku penonton tanpa tersenyum sedikitpun. Suara riuh penonton menggema. Kemudian Gyuki membaca nama peserta yang akan bertanding di pertandingan selanjutnya.
"Fuyumi Iris..." Gyuki berkata lirih.
___
*Sapuan atas/Serkel atas udah gitu aja wkwkwk. Tahu lah ya sapuan atas kan. Gaje ya, yg penting kalo serkel atas kena kepala itu maknyus pokoknya.
Note : 22~06~2020 – 26~06~2020
22 komentar : Bonus 1 chapter.(3/5)
122 Like : Bonus 1 chapter.(4/5)
1000 Vote Poin : Bonus 1 Chapter(0/10)
Bonus Chapter Malming : 7/25.
Besok ya CU. Oh, iya. Kalau ada kata typo tolong kasih tahu aku, kadang" suka lupa walau udah dikoreksi sampai dua kali. Nanti aku langsung perbaiki.
__ADS_1
Sekian