Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 227 — Teknik Pedang Api Milik Nagato!


__ADS_3

Gyuki menyebutkan dua nama peserta yang akan bertanding selanjutnya, “Himuro Kirigiri dan Kitakaze Renji. Dua nama yang kupanggil silahkan maju ke depan!”


Bersamaan dengan Himuro dan Renji yang sedang berjalan ke tengah lapangan, di bangku khusus peserta yang lolos babak 16 besar terlihat Nagato sedang berbincang dengan Iris dan Litha.


“Iris, teknik pedangmu itu mirip teknikku.” Litha mendengus kesal sambil mencubit pipi Iris, “Selamat kamu lolos ke babak 8 besar, kembaranku...”


Iris membalas cubitan Litha, “Kamu juga harus lolos babak 8 besar, Litha...”


“Aku juga akan mencoba teknik pedangmu, Litha. Aku akan memainkannya dengan permainan pedangku.” Nagato tersenyum tipis sambil memegang sarung pedangnya.


“Aku juga bisa meniru gerakanmu Nagato. Hanya saja kekuatanku untuk mencoba gerakan teknik berpedangmu cukup melelahkan...” Litha menanggapi perkataan Nagato.


“Litha, apa kamu terkadang mengingat gerakan teknik pedang orang lain yang membuatmu tertarik? Lalu kamu mencoba membuatnya menjadi gerakanmu sendiri?” Nagato terlihat antusias sekali dengan perkataan Litha.


”Nagato, kita berdua itu bagaikan saudara kandung. Nanti saat Kakek Hyogoro pulang, aku akan mengatakan padamu tentang identitasku yang sebenarnya...” Litha mendorong tubuh Nagato dan menatap pemuda itu dengan wajah yang memanyun.


Lalu Litha dan Iris mengobrol berdua, Nagato tidak memuji permainan pedang Iris ataupun memberi saran pada gadis cantik tersebut.


Pandangan matanya menatap ke arah pertandingan yang menarik perhatiannya. Terlihat di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau Gyuki akan memulai aba-aba pertandingan.


“Baiklah, pertandingan ketiga babak 16 besar Turnamen Harimau Kai antara Himuro Kirigiri melawan Kitakaze Renji dimulai!” Gyuki melompat ke belakang dan mengamati pertandingan yang baru saja dimulai.


Baru saja Gyuki memulai aba-aba pertandingan, Renji langsung menebasakan pedangnya memulai serangan pembuka.


“Hembusan Angin Dalam Sayatan!”


Tebasan pedang Renji membentuk sebuah tebasan angin padat itu dapat ditangkis Himuro dengan santai.


Renji menggertakkan giginya dan berlari mendekati Himuro yang tetap berdiri dengan tenang dan tidak bergeming sedikitpun dari tempatnya.


Benturan pedang Renji dan Kapak Api milik Himuro terjadi. Setelah kedua bertukar serangan selama sepuluh menit, Himuro mengaliri Kapak Api dengan tenaga dalamnya, lalu mengayunkan lebih cepat.


Walau berhasil membaca gerakan Himuro, namun kekuatan dari Kapak Api melebihi perkiraan Renji sehingga tubuhnya terpental jauh ke belakang.


Penonton terkejut melihat Renji yang terlihat kewalahan melawan Himuro. Bahkan Nagato yang sedang menonton dari atas tribun sedikit penasaran dengan kekuatan Himuro.


Tak lama Renji kembali menebaskan pedangnya dengan permainan pedangnya yang cepat, “Pembelah Angin Besar!” Tebasan pedangnya berbenturan dengan Kapak Api Himuro.


Keduanya saling menatap selama dua detik, tak lama Himuro mengepalkan tangannya dan mengarahkan pukulan tangannya pada Renji.


Tubuh Renji terbakar dan kembali terpental karena sulit bereaksi melawan Himuro. Matanya melebar dan tubuhnya menggiling di tanah.


“Orang ini!” Renji menatap wajah Himuro yang tidak menunjukkan ekspresi apapun selain wajahnya yang datar itu.


Terlihat tangan kiri Himuro menunjuk Renji yang tersungkur di tanah dan melepaskan bola-bola api kecil dari jari telunjuknya.


Tak lama Renji mencoba melakukan serangan dari berbagai arah namun tidak ada satupun serangannya yang melukai tubuh Himuro.


Himuro mengayunkan Kapak Api yang dia genggam di tangannya lebih cepat. Walau dapat menahannya, Renji menyadari perbedaan besar antara dirinya dengan Himuro, sehingga Renji di paksa ke posisi bertahan dan terdesak.


Tak lama tangan Renji yang menangkis ayunan Kapak Api Himuro merasa nyeri. Pertahanannya mulai melemah dan permainan pedangnya tidak lagi cepat seperti sebelumnya.


Dalam satu kali ayunan Kapak Api yang dia aliri tenaga dalamnya, Himuro mendaratkan serangannya yang telak pada dada Renji.

__ADS_1


Pedang Renji tepat menahan di dadanya, namun karena tidak mampu menahan ayunan Kapak Api Himuro, tubuh Renji terpental jauh ke belakang dan tersungkur di tanah.


Terlihat Renji sudah terkapar di tanah dengan tubuh yang lebam tepat di dadanya. Tak lama bola-bola api kecil kembali mengenai tubuh Renji saat Himuro menyerangnya dari jauh.


“Cukup!” Gyuki mengangkat tangannya agar Himuro tidak bertindak lebih jauh lagi untuk melukai Renji.


Setelah Gyuki mengangkat tangannya, Himuro berjalan kembali ke bangku penonton. Sementara itu Gyuki mengakhiri pertandingan dan memberi isyarat pada tenaga medis untuk segera merawat luka Renji.


“Pemenangnya Himuro Kirigiri!” Gyuki mengakhiri pertandingan dan menggelengkan kepalanya menatap Himuro yang sudah kembali sebelum dirinya mengakhiri pertandingan.


Setelah tubuh Renji diangkat dengan tandu menuju ruang perawatan yang ada di Arena Lingkaran Harimau, Gyuki langsung memanggil dua nama peserta selanjutnya.


“Baiklah, kita beralih ke pertandingan selanjutnya. Fuyumi Nagato dan Ashiya Giyumaru silahkan maju ke depan!” Gyuki masih menatap Himuro yang sudah duduk di atas tribun dengan tajam.


Nagato yang sedang duduk di bangku penonton tersenyum tipis, “Tidak kusangka akan secepat ini...” Litha dan Iris menatap Nagato yang sudah berjasa ke tengah lapangan tanpa keraguan sedikitpun.


“Apa Naga akan baik-baik saja, Litha?” Iris terlihat khawatir karena baru pertama kali dia melihat Nagato terlihat tidak sabaran untuk bertarung.


Litha tersenyum tipis melihat kekhawatiran yang tersirat di wajah Iris, “Tenang saja, Nagato pasti akan baik-baik saja. Justru saat ini dia sedang dalam kondisi terbaiknya...”


Iris melihat Litha yang tetap bersikap tenang, sehingga dia merasa Litha lebih mengenal Nagato dibandingkan dengan dirinya.


Di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau, Gyuki menatap Nagato dan Ashiya yang sudah saling menatap tajam satu sama lain.


Sedangkan di bangku penonton tempat Masayu dan yang lainnya duduk, mereka membicarakan Nagato yang akan bertarung melawan Ashiya.


“Fuyumi Nagato terlihat percaya diri sekali dia,” ucap Yuri sambil menatap tajam Nagato yang sedang berdiri di tengah lapangan.


“Nagato, awas saja kalau kamu kalah sebelum bertarung melawanku!” Hanabi justru membatin menyemangati Nagato agar tidak kalah. Entah kenapa Hanabi sangat terobsesi bertarung melawan Nagato.


“Berjuanglah Nagato...” Masayu berkata dengan sangat pelan sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


“Masayu ternyata pemalu...” Tika justru tertawa cekikikan karena mendengar perkataan lirih Masayu.


“Hehe...” Masayu tersenyum canggung sambil menatap wajah Tika.


Tak lama suara aba-aba dari Gyuki terdengar sangat nyaring dan menggema di Arena Lingkaran Harimau.


“Baiklah, pertandingan keempat babak 16 besar Turnamen Harimau Kai antara Fuyumi Nagato melawan Ashiya Giyumaru dimulai!” Gyuki langsung melompat ke belakang setelah memulai aba-aba pertandingan.


Semua penonton bergemuruh melihat pertandingan antara Nagato melawan Ashiya di babak 16 besar Turnamen Harimau Kai.


Tidak ada yang melakukan pergerakan, Nagato dan Ashiya saling mengamati selama sepuluh detik. Dan setelah itu Ashiya memainkan pedangnya sambil bergerak cepat mendekati Nagato.


“Hei, Fuyumi Nagato! Akan kuperlihatkan betapa kerasnya kompetisi busuk ini!” Ashiya menebasakan pedangnya dengan sangat cepat. Semua penonton terdiam sesaat ketika melihat tebasan pedang Ashiya.


Namun penonton kembali bergemuruh ketika Nagato dapat menangkis tebasan pedang Ashiya dengan mudah.


“Pernapasan Sirih.”


Nagato menarik napas panjang dan menyalurkannya ke tubuhnya. Dalam satu tarikan napasnya, Nagato melakukan puluhan gerakan dan serangan beruntun pada Ashiya.


Nagato dan Ashiya bertukar serangan selama sepuluh menit. Pergerakan Nagato lebih cepat dari Ashiya sehingga Nagato lebih mendominasi serangan.

__ADS_1


“Anak ini!” Ashiya menatap tajam Nagato yang terus mengayunkan pedangnya. Permainan pedang Nagato juga sulit dicerna oleh Ashiya karena variasi gerakan dari langkah kakinya yang tak terbatas.


Bahkan Nagato seperti menganggap Ashiya sebagai kayu tempat dia berlatih menebaskan pedangnya untuk memotong kayu tersebut.


Tangan kiri Ashiya meremas dengan cepat dan hendak melakukan sesuatu, “Jepitan Tanah Dua Penjuru!” Tiba-tiba tanah disekitar Nagato bergoyang. Terlihat dua tanah di samping kiri dan kanan Nagato hendak menghimpit tubuhnya.


Nagato tersenyum tipis dan memotong dua tanah yang hendak menghimpit tubuhnya dengan tebasan pedangnya yang dilapisi api.


“Hujan Seribu Jarum Tanah!”


Ashiya kembali melancarkan serangan pada Nagato sambil mundur dua langkah ke belakang untuk mengontrol aura tubuhnya.


Nagato menatap tajam serpihan tanah yang berbentuk jarum itu, “Putaran Jarum Api!” Lalu Nagato menebasakan pedangnya membalas serangan Ashiya.


Penonton memberi tepuk tangan meriah karena Nagato dan Ashiya terus berbalas serangan. Tak lama terlihat wajah Ashiya yang tidak terlalu baik karena Nagato dapat menghancurkan setiap serangannya dengan mudah.


Tak lama Ashiya maju menyerang Nagato dan bertukar serangan selama dua puluh menitan. Permainan pedang Ashiya mulai dapat mengimbangi permainan pedang Nagato, namun setelah Nagato lebih serius dari sebelumnya, permainan pedang Ashiya jauh di bawah Nagato.


“Tarian Peri Air!”


Nagato langsung melancarkan serangan tebasan pedangnya yang membentuk lintasan api yang membara di udara dan memberikan luka sayatan pada dada Ashiya.


“Argh!” Ashiya sendiri terkejut melihat kemampuan berpedang Nagato jauh di atasnya.


Serangannya Nagato belum berhenti sampai disitu, tebasan pedangnya yang dilapisi api itu masih membara terus mengincar tubuh Ashiya.


“Terbelah Dalam Kehampaan Tak Berujung!”


Kemudian Ashiya mencoba mengimbangi permainan pedang Nagato namun tebasan pedangnya yang dilapisi aura berwarna coklat itu dapat dihindari Nagato dengan mudah.


“Lintasan Jingga!” Nagato menebaskan pedangnya yang membentuk lintasan api ke arah Ashiya.


“Ledakan Tanah Dalam Sayatan!” Ashiya menangkis tebasan pedang Nagato dengan teknik pedangnya, namun Nagato sudah bergerak selangkah demi selangkah lebih cepat dari dirinya.


“Ombak Api!”


Mata semua orang yang berada di dalam Arena Lingkaran Harimau terkesima melihat permainan pedang Nagato. Bahkan Ashiya tidak dapat mengikuti pergerakan Nagato.


Sebuah gelombang api yang membentuk sebuah ombak membakar tubuh Ashiya. Walau berhasil melesatkan serangannya, Nagato kembali melakukan sapuan atas mengincar tangan Ashiya yang memegang pedang.


Nagato menghela napas panjang sambil menghunuskan pedangnya yang dilapisi aura tubuhnya di samping leher Ashiya.


“Bara Api...” Nagato memanipulasi auranya menjadi api, sehingga tubuh Ashiya yang terkapar di tanah dikelilingi api yanh berkobar.


Gyuki tak habis pikir melihat pertarungan Nagato yang menurutnya masih belum seberapa. Mengingat Nagato belum menggunakan kekuatan penuhnya, Gyuki mengangkat tangannya memberi tanda pada Nagato dan Ashiya bahwa pertandingan telah berakhir.


“Pemenangnya Fuyumi Nagato!” Gyuki menunjuk Nagato sebagai pemenangnya. Sebelum Nagato kembali ke bangku penonton, Ashiya melempar punggung Nagato dengan batu, sehingga Nagato kembali menoleh ke belakang.


“Fuyumi Nagato.... Tolong kalahkan Himuro!” Terlihat air mata berlinang membasahi wajah Ashiya.


Nagato hanya mengangguk pelan dan tidak mengerti maksud tersembunyi dari Ashiya, setelah itu Nagato mengulurkan tangannya pada Ashiya untuk membantu pemuda itu kembali berdiri.


Semua penonton memberi tepuk tangan pada Nagato yang sedang kembali berjalan ke bangku penonton setelah membantu Ashiya berdiri.

__ADS_1


__ADS_2