Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 280 — Keputusasaan


__ADS_3

Raido bergerak dengan kecepatan tinggi namun Hound dan Hayabusa menghalanginya.


“Keras kepala! Kalian berdua sudah kuberi kesempatan untuk hidup tetapi kalian justru menghalangiku!” Raido melepaskan kekuatannya. Zirah petir melapisi tubuhnya.


“Aku tidak butuh rasa kasihan mu itu! Seorang pendekar pedang lebih memilih mati daripada hidup karena belas kasihan dari orang sepertimu!” Hayabusa terus melancarkan serangan pada Raido.


Hembusan angin memotong bangunan namun tidak dengan tubuh Raido. Pukulan dan tendangan api yang dilancarkan Hound membakar apa saja yang ada disekitarnya, namun tidak membakar tubuh Raido.


“Serangan kalian tidak akan mempan terhadapku!”


Setelah berkata demikian, Raido mulai melapisi kedua tangannya dengan petir sebelum melepas bola petir yang besar. Serangannya kali ini begitu cepat, bola petir tersebut meledak ketika tepat berada di depan Hound dan Hayabusa.


Tubuh Hayabusa terpental ke belakang dengan dada yang bersimbah darah. Belum sempat dia kembali bergerak, Raido sudah berada didepannya. Telapak tangan Raido menciptakan pedang petir dari kekuatannya. Pedang petir itu dia hunuskan pada perut Hayabusa.


Pedang itu menembus perut Hayabusa. Tidak berhenti sampai disitu, Raido kali ini menendang perut Hayabusa yang terkena tusukan pedang petir miliknya.


“Sial! Kekuatannya masih jauh di atasku!” Hayabusa menatap tajam Raido. Tubuhnya terhempas jauh dan tersungkur ke tanah.


Raido juga melakukan hal yang sama kepada Hound. Setelah itu dia bergerak dengan kecepatan tinggi menuju ke tempat Ignist.


Raido terkejut melihat tubuh Ignist ditusuk puluhan pedang. Dengan kecepatan tinggi menggunakan kekuatannya, Raido melepaskan serangan tombak petir yang menghempaskan orang-orang yang menusuk perut Ignist.


“Tuan Ignist!” Raido menghampiri Ignist.


“Biar aku yang membunuh mereka! Kau bunuh bocah-bocah yang ada di sana! Jangan biarkan mereka melarikan diri!” Ignist menunjuk Oichi yang sedang membawa Iris beserta Ichiba yang sedang membawa Hika dan Tika.


Raido tidak menjawab perkataan Ignist melainkan langsung bergerak mengejar Oichi.


Ignist melepaskan aura tubuhnya dan mengeluarkan hawa mencekam yang luar biasa. Tubuhnya membesar sebelum berubah menjadi Naga Merah sepenuhnya.


Auman dari mulutnya menggema. Ignist terbang ke atas. Tubuh Naga Merah-nya bersimbah darah. Luka-luka tusukan terlihat jelas. Kali ini Ignist melancarkan serangan membabi-buta. Semburan api yang keluar dari mulutnya memporak-porandakan malam yang berapi-api itu.

__ADS_1


Sebuah lingkaran api yang mengurung Emi dan yang lainnya membuat Ignist yang berada dalam wujud Naga Merah-nya tersenyum menyeringai karena kali dia akan memastikan semua orang yang menusuknya mati.


“Tidak ada yang mengganggu! Aku akan membunuh kalian semua!” Ignist mengubah wujudnya kembali menjadi manusia.


Kali ini dia akan menghabisi orang-orang yang telah menusuknya. Ignist mengambil dua pedang yang ada di jalanan. Pedang yang baru saja menembus perutnya itu dia genggam sebelum memotong kedua tangan Takatsugu yang telah mati itu.


Ignist menatap Satsuma dan Chosu yang terkapar di tanah. Kemudian seperti biasa, dia menanyakan pada kedua orang tersebut tentang keberadaan keturunan Kagutsuchi.


“Katakan padaku dimana mayat hidup itu berada?!” Ignist menanyakan keberadaan Kagutsuchi Sura pada Satsuma dan Chosu.


“Sampai matipun! Aku tidak akan memberitahu padamu, manusia berwujud iblis!” Satsuma berteriak membalas pertanyaan Ignist.


Pedang di tangan kanan Ignist menebas kepala Satsuma hingga terlepas dari tubuhnya. Dengan raut wajah dipenuhi amarah, Ignist menatap Chosu yang tersenyum menatapnya.


“Kau akan mendapatkan balasan dari perbuatanmu di suatu saat nanti. Aku yakin itu. Tusukan pedang dari kami akan terus kau rasakan hingga kau berada di akhirat nanti, iblis!” Chosu tersenyum lebar menatap wajah Ignist yang dipenuhi kemarahan.


Sama seperti Satsuma berakhir. Ignist juga mengakhiri nyawa Chosu dengan memenggal kepalanya.


“Kalian sepertinya juga akan mengatakan hal yang sama dengan dua orang bodoh ini!” Ignist melepaskan hawa membunuh pada Emi dan yang lainnya.


“Pedang milikku itu akan membunuhmu di masa depan nanti. Hawa dingin yang telah menusuk tubuhmu itu akan kau rasakan sampai kapanpun itu!”


Tepat setelah Emi menyelesaikan perkataannya, Ignist langsung menebas perut Emi. Saat itu juga Emi menghembuskan napas terakhirnya dengan senyuman.


Ignist menghabisi Ketua Klan yang lainnya. Kemudian dia mengubah wujudnya kembali menjadi Naga Merah dan terbang tinggi di angkasa.


Sementara itu Raido yang sedang mengejar Oichi mendapatkan halangan dari Mujin dan Shin. Keduanya menghadapi Raido walau sudah mengetahui kekuatan dari pengguna Air Suci Tipe Elemen: Petir tersebut.


Raido melewati keduanya dan langsung menjambak rambut Iris. Lalu melempar gadis cantik itu ke arah Litha. Kemudian dia menatap Oichi yang terlihat kesusahan untuk berlari.


Ichiba yang mengetahui Oichi sedang hamil langsung menyuruh Hika dan Tika menolong Litha sebelum dirinya bergerak dengan kecepatan tinggi menebaskan pedangnya mengincar Raido.

__ADS_1


Tubuh Raido tertebas, namun kumpulan petir yang menyatu di sekitar perutnya membuat Ichiba sadar jika kekuatan Raido berada jauh di atasnya.


Raido memukul perut Ichiba. Pukulan yang dilapisi petir itu membuat tubuh Ichiba serasa remuk. Tidak segan Raido hendak memukul perut Oichi, namun tiba-tiba Nagato memegang tangannya. Tubuh Nagato sudah bersimbah darah, tetapi tatapan Nagato justru semakin membara dan tidak memudar ataupun padam.


Tubuhnya dipenuhi kemarahan yang luar biasa. Dia mengetahui Emi dan yang lainnya telah mati. Tidak ada waktu untuk bersedih. Sekarang dia melihat ada orang yang hendak membunuh Oichi, yang merupakan istri dari Azai. Tentu saja Nagato harus melindungi Oichi. Jika dia tidak mampu melindungi Oichi, maka dia akan merasa malu untuk bertemu dengan Azai.


“Bocah. Tatapanmu itu sama sepertiku saat kecil.” Raido tersenyum lebar dan membiarkan Nagato memukul tubuhnya. Pukulan Nagato sama sekali tidak terasa baginya. Tindakan yang hanya dilandasi dengan kemarahan, sementara tubuh Nagato sudah tidak dapat bergerak dengan bebas.


Hanya dalam satu kali pukulan Raido. Mulut Nagato mengeluarkan darah ketika perutnya terkena pukulan telak yang dilapisi petir itu.


Raido merasakan hawa dingin yang mencekam. Dia menoleh melihat Iris yang terlihat begitu marah, menatapnya penuh kebencian. Dalam satu kali gerakan, Iris melayangkan serangan. Ratusan pedang es melayang di udara dan bergerak dengan kecepatan tinggi menembus perut Raido.


Nagato bersusah payah untuk menghentikan pergerakan Raido yang hendak memukul Iris.


“Menarik! Kalian berdua sepertinya memiliki hubungan khusus!” Raido menatap Nagato yang menghalangi jalannya.


“Tidak akan kubiarkan kau menyentuh anakku!” Shirayuki melepaskan hawa dingin. Tubuhnya dipenuhi sebuah tanda berwarna biru. Seketika jalanan membeku.


Shirayuki langsung membekukan Raido dengan kekuatannya. Namun tubuh Raido yang dilapisi petir dapat menghancurkan bongkahan es yang membekukan tubuhnya.


Iris menyadari ibunya memaksakan diri dan menggunakan kekuatan terlarang. Terlihat kulit putih yang kencang dari Shirayuki mulai mengkerut.


“Bibi Shirayuki! Biarkan aku membantumu! Kekuatanku sangat berguna untuk membantumu!” Litha berjalan dengan terhuyung mendekati Shirayuki.


“Jangan tinggalkan kami...” Litha dengan lirih berkata pada Shirayuki. Dia menyadari perubahan raut wajah Iris yang mengkhawatirkan Shirayuki.


“Litha...” Shirayuki sendiri merasa putus asa. Wajar dalam situasi seperti ini, sudah tidak ada celah untuk melarikan diri.


Litha menyentuh punggung Shirayuki dan mengaliri mana ke dalam tubuh perempuan cantik itu. Tubuh Shirayuki mulai bercahaya secara perlahan.


Tidak ada yang menyadari jika Litha menggunakan kekuatan ini dengan ganti dia akan kehilangan ingatannya. Hidungnya mengeluarkan darah, tak lama Litha meringis kesakitan.

__ADS_1


Shirayuki langsung bergerak dengan kecepatan tinggi ketika mendengar jeritan Litha. Kali ini dia akan berusaha sebisa mungkin untuk membunuh Raido. Setidaknya dia membunuh salah satu dari lima orang yang mendatangkan malapetaka.


Nagato dan Iris menolong Litha, sementara Hika dan Tika bersama Oichi sedang memeriksa keadaan Ichiba.


__ADS_2