Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 84 - Curiga


__ADS_3

Kakek Hyogoro mengelus dagunya setelah melihat luka diperut Litha terpikir olehnya jika yang menyerang mereka berdua adalah Raja Hewan Buas.


"Nagato, bukankah aku selalu mengajarkan kalian harus melawan hewan buas bersama - sama!" Kakek Hyogoro menatap Nagato dan memberinya saran.


"Bertarung sendirian tidak selamanya membuat seseorang menjadi lebih kuat karena itu kakek selalu berkata kepada kalian bekerja sama!" Kakek Hyogoro menepuk pundah Nagato untuk menenangkan pemuda yang masih menangis dihadapannya.


Nagato mengusap air matanya kemudian menatap Kakek Hyogoro.


"Mereka yang menusuk Litha ..., aku melihat puluhan orang ada di lapisan hutan kedua puluh dua!" Nagato kemudain menjelaskan tentang puluhan pria yang menyerang Litha.


Mendengar perkataan Nagato membuat Kakek Hyogoro terdiam selama beberapa menit karena dirinya tidak menyangkan akan ada orang yang menyusup ke Hutan Cakrawyuha.


"Aku tidak boleh menuduh orang sembarangan!" Kakek Hyogoro bergumam pelan karena mengingat hanya beberapa orang saja yang tahu tentang lokasi Hutan Cakrawyuha.


"Tenkai!" Kakek Hyogoro mencoba mendeteksi hawa keberadaan manusia yang berada didekat tengah hutan dengan menggunakan Tenkai dia bisa memperluas jangkauan pendeteksinya hingga 200 meter.


"Nagato ..., jaga Litha kali ini kau harus melindunginya!" Kakek Hyogoro mengambil pedangnya kemudian dia keluar rumah dan langsung mendatangi beberapa orang yang mendekat kerumahnya.


Kakek Hyogoro mengerutkan dahinya ketika memikirkan beberapa wajah yang dirinya curigai tetapi Kakek Hyogoro tidak mau percaya karena semua orang yang diberitahu lokasi Hutan Cakrawyuha adalah semua murid Pandu dan Mantan Panglima.


Setelah memasuki lapisan hutan ke lima disana terlihat puluhan pria berjubah hitam sedang bertarung melawan Serigala Hijau.


Kakek Hyogoro mengeluarkan aura intimidasi kemudian dengan cepat dia menebas tangan beberapa pria berjubah hitam yang memegang pedang.


"Siapa itu?" salah satu pria berjubah hitam terkejut melihat bayangan manusia yang menghilang dengan cepat memotong tangannya.


Kakek Hyogoro memotong semua tangan puluhan pria berjubah hitam dihadapannya kemudian dia melompat keatas pohon dan menatap mereka dari atas.

__ADS_1


Puluhan Serigala Hijau memakan puluhan orang yang sudah tidak bersenjata.


"Sudah kuduga, ini adalah perbuatan Sekte Pemuja Iblis ..." Kakek Hyogoro melompat kebawah dan menarik satu orang yang masih hidup dan membawanya ke Air Terjun Tujuh Mata Air Berbeda.


"Siapa yang menyuruhmu?!" Kakek Hyogoro berteriak dan menendang pria tersebut hingga tubuhnya menabrak bebatuan.


Pria tersebut diam dan tidak menjawab perkataan Kakek Hyogoro kemudian dia menggigit lidahnya sendiri hingga putus untuk mencegah Kakek Hyogoro mendapatkan informasi darinya.


Kakek Hyogoro geram melihat tindakan bawahan Sekte Pemuja Iblis.


"Sial!" Kakek Hyogoro melempar tubuh pria itu kearah kantong semar yang ada didekatnya.


Mayat pria tersebut dimakan kantong semar secara perlahan. Kakek Hyogoro melanjutkan pencariannya untuk menemukan anggota Sekte Pemuja Iblis yang tersisa.


Menurut Kakek Hyogoro ada beberapa anggota Sekte Pemuja Iblis yang bersembunyi di Hutan Cakrawyuha. Ketika Kakek Hyogoro sampai di Air Terjun Tujuh Mata Air Berbeda dirinya menemukan ratusan pria disana yang sedang mengambil air yang mengalir dari air terjun tersebut.


Kakek Hyogoro menangkis setiap tebasan mereka dengan mudah tetapi setiap dirinya ingin menggali informasi dari mereka tidak ada satupun jawaban yang memuaskan bahkan beberapa dari mereka memlilih bungkam dan mengakhiri hidupnya dengan mengigit lidah sendiri.


"Sebaiknya aku kembali dulu dan memastikan jika tidak ada penyusup yang menyusup ketengah hutan." Kakek Hyogoro kembali ketengah hutan.


Disisi lain Nagato yang sedang menjaga Litha merasakan ada beberapa orang yang sedang mengawasi rumah Kakek Hyogoro.


"Litha, tunggu aku akan membalas orang yang sudah menusukmu!" Nagato mengambil pedang hitam yang dibelikan Kakek Hyogoro untuknya dan berjalan keluar rumah.


"Sirih." Nagato menarik nafas panjang dalam satu tarikan nafasnya kemudian dia menatap tajam 10 orang yang sedang mengawasinya.


Nagato menangkis setiap serangan tebasan pedang 10 pria berjubah hitam bahkan dia beberapa kali memberikan luka sayatan pada musuhnya tersebut.

__ADS_1


"Lintasan Jingga!" Nagato menebas tubuh musuhnya tetapi beberapa dari mereka dapat menghindari serangan Nagato.


Nagato menatap pria yang telah menusuk Litha kemudian amarah kembali memenuhi tubuhnya.


Nagato mengayunkan pedangnya secara acak dan serangannya hanya tertuju pada pria yang menusuk Litha hingga pertahanannya Nagato terbuka lebar.


Melihat ada celah untuk menangkap Nagato mereka bersiap hendak melumpuhkan Nagato tetapi kedatangan Kakek Hyogoro yang menyelamatkan Nagato membuat mereka mundur mengambil jarak dari Nagato.


Nagato berdiri disamping Kakek Hyogoro untuk menenangkan dirinya sambil menghela nafas panjang dia menatap pria yang menusuk Litha.


"Kakek, biar aku yang melawan orang itu! Aku akan membuat perhitungan dengannya karena telah berani membuat Litha terluka!" Nagato menatap dingin pria tersebut kemudian dia mengayunkan pedangnya menyerang pria yang menjadi incarannya.


Kakek Hyogoro menghela nafas panjang melihat Nagato kemudian dia mengolah pernafasan.


"Sirih." Kakek Hyogoro mengambil nafas panjang dalam satu tarikan nafasnya kemudian dia memejamkan matanya dan membayangkan sebuah aliran air yang mengalir disungai.


"Mengalir Seperti Air!" Tebasan pedang Kakek Hyogoro dengan gerakan langkah kaki yang cukup sulit membentuk aliran air yang menebas tubuh pria didalam jangkauan serangannya dalam sekejap kemudian Kakek Hyogoro juga menebas tubuh pria yang sedang bertarung dengan Nagato.


Mereka mati dalam sekejap ketika Kakek Hyogoro mengayunkan pedang airnya bahkan setiap ayunannya membentuk air yang sedikit berwarna merah karena telah bercampur dengan darah.


Nagato kesal melihat orang yang menjadi incarannya telah mati dihadapannya karena dibunuh oleh Kakek Hyogoro.


Nagato menyarungkan pedangnya sambil menghela nafas panjang dia kembali kerumah karena khawatir dengan kondisi Litha.


Sedangkan Kakek Hyogoro bersiul memanggil harimau belang dan beruang madu untuk membersihkan mayat penyusup yang datang ke Hutan Cakrawyuha.


"Kin!" teriak Kakek Hyogoro memanggil elang emasnya dan tak lama Kin hinggap dipundak Kakek Hyogoro.

__ADS_1


"Pergi, antarkan pesan ini pada Nenek Beo!" Kakek Hyogoro menulis sebuah pesan dikertas putih kemudian menyuruh Kin untuk mengantarkan surat tersebut pada Nenek Beo yang tinggal di Kota Reruntuhan Kuno.


__ADS_2