
Kakek Hyogoro dan Litha berdecak kagum melihat Nagato yang dengan mudahnya menyalin dan mengubah jurus yang digunakan Kakek Hyogoro.
"Aku seperti melihat Pandu muda, hanya saja diumurnya yang masih enam tahun, Nagato sudah seperti Pandu yang saat itu berusia dua belas tahun!" Kakek Hyogoro berdecak kagum dan takjub melihat Nagato yang sedang melawan kelinci petinju.
Kakek Hyogoro kemudian hanya mengamati Litha dan Nagato agar mereka berdua cepat berkembang seiring pertarungan melawan Hewan Buas.
Tidak mau ketinggalan Litha juga maju menyerang kelinci petarung, dengan tebasan pedangnya Litha bertukar tebasan dan pukulan selama beberapa menit.
"Sirih." Litha mengolah pernapasan ketika melihat beberapa kelinci petinju mengelilinginya.
"Pusaran Air."
Litha memutarkan tubuhnya mencoba mengikuti gerakan jurus Kakek Hyogoro, gadis kecil itu berhasil membuat pusaran air yang kecil, beberapa dari kelinci petinju terseret arus air yang melesat keatas.
"Aku harus giat berlatih!" gumam Litha ketika melihat jurus pusaran airnya masig jauh dari kata berhasil dan memuaskan dirinya.
"Tarian Peri Air."
Litha melanjutkan menggunakan jurus tarian peri air setelah pusaran air kecil tekniknya habis. Percikan air yang mengalir membentuk jalur melengkung dan bergelombang mengikuti setiap langkah kaki dan tebasan Litha.
Nagato menghabisi kelinci petinju yang tersisa, dengan pedang yang telah dirinya lapisi api menggunakan tenaga dalamnya.
__ADS_1
Kakek Hyogoro mengajak mereka kembali ke tengah hutan menuju kediamannya, Kakek Hyogoro juga mengingatkan agar mereka berdua tidak tertinggal jauh dibelakang ketika berlari mengejarnya.
Litha dan Nagato terus mengikuti Kakek Hyogoro dari belakang dan menyusuri lapisan demi lapisan hingga mereka kini berada di lapisan hutan ke dua puluh dua.
Kakek Hyogoro mengajak Litha dan Nagato untuk membersihkan pedang kemudian meminun air jernih dari air terjun yang mengalir dengan deras setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan.
"Langkah kaki kakek tidak bisa kukejar!"
"Tidak terdengar suara tetapi kenapa kakek selalu berlari dengan cepat walau dirinya terlihat seperti berjalan?!"
Litha mengerutkan dahinya yang melihat Kakek Hyogoro didepannya dan tak bisa dirinya kejar, dengan napas yang terengah - rengah Litha mencoba mengatur aliran pernapasannya agar bisa mengikuti ritme langkah kaki Kakek Hyogoro dan Nagato.
"Dan seperti biasa, aku tidak bisa mendengar langkah kakinya sama sekali, sial!" batin Nagato merasa kesal karena tidak bisa mengikuti gerakan langkah Kakek Hyogoro. Langkah Angin milik Klan Kitakaze bagi Nagato belum seberapa dibanding dengan langkah kaki yang digunakan oleh Kakek Hyogoro.
Terus menyusuri dan melewati beberapa lapisan hutan akhirnya mereka bertiga sampai di tengah hutan. Setelah sampai Kakek Hyogoro berniat untuk mandi dan pergi ke sungai sedangkan Litha dan Nagato disuruh olehnya untuk membersihkan tubuh mereka di rumah.
Setelah selesai membersihkan tubuh atau mandi, mereka bertiga istirahat dan terlelap tidur melewati malam purnama.
Cahaya sang surya mulai mengelilingi Hutan Cakrawyuha mengganti hutan yang berkabut dan gelap menjadi tempat yang terang dipenuhi tumbuhan dan binatang.
Kakek Hyogoro sedang membasuh wajahnya dan tak lama burung elang emas miliknya yang bernama Kin terbang rendah hinggap di pundaknya.
__ADS_1
"Kin ... kau tampak sehat dan baik - baik saja?!" gumam Kakek Hyogoro yang sedang melihat Kin yang hinggap dipundaknya.
"Sepertinya kau datang membawakan surat pekerjaan untukku ya?" Kakek Hyogoro melihat di tas kaki yang terpasang di kaki Kin terdapat sepucuk surat.
"Coba aku lihat terlebih dahulu." Kakek Hyogoro mengambil sepucuk surat tersebut dan membacanya.
"Misi membasmi bandit gunung yang meneror warga di sekitar Kota Helai!" gumam Kakek Hyogoro ketika membaca isi surat tersebut.
"Bahkan permintaan ini langsung dari salah satu Bangsawan Kochi?!" Kakek Hyogoro mengerutkan dahinya dan berharap tidak ada kejadian yang tidak diinginkan.
"Jika bayaran kali ini setimpal dengan kekuatan para bandit aku akan menerimanya tetapi disini tidak tertulis ciri - ciri fisik dari kelompok bandit gunung yang dimaksud!" Kakek Hyogoro melangkahkan kakinya untuk duduk diteras rumahnya.
Kakek Hyogoro menulis balasan surat tersebut dan memasukkan sepucuk surat yang dirinya tulis kedalam tas kaki elang emas peliharaannya.
"Kin, antarkan ini kepada nenek tua itu!" perintah Kakek Hyogoro dan tak lama Kin terbang ke angkasa dengan sayap lebarnya.
"Sepertinya aku juga harus cepat memberi pengalaman kepada mereka berdua." Kakek Hyogoro menatap langit yang membentang luas diatas Hutan Cakrawyuha.
"Nenek tua itu sengaja memberiku pekerjaan yang merepotkan, pasti ada hal yang merepotkan terjadi di kediaman bangsawan itu?!" gumam Kakek Hyogoro sambil menikmati udara pagi yang sejuk.
Kemudian dirinya membangunkan Litha dan Nagato yang masih tertidur untuk mandi dan bergegas menyiapkan bekal untuk melakukan perjalanan menuju Kota Helai.
__ADS_1