
"Aku adalah seorang anak dari Kagutsuchi Pandu. Aku tidak tahu kenapa tetapi nama mendiang ayahku selalu menjadi perbincangan orang-orang. Dari banyak orang yang kutemui, kebanyakan dari mereka membenci bukan memuji." Nagato menatap wajah Iris yang terkejut. Kedua bola mata yang indah dari gadis cantik itu tidak berkedip sedikitpun.
"Iris, apa kamu-"
"Naga, apa kamu serius dengan ucapanmu itu? Kamu adalah anak dari Kagutsuchi Pandu?" Nagato terkejut mendengar Iris yang memotong perkataannya, namun gadis cantik itu justru terlihat bahagia.
Nagato tidak mengetahui alasan yang pasti, tetapi wajah Iris tampak lebih cantik malam ini setelah dirinya memberitahu identitasnya yang sebenarnya.
"Aku serius. Nama asliku Kagutsuchi Nagato. Aku memiliki dua nama. Nama pertama mengikuti marga mendiang ayahku dan nama kedua mengikuti marga mendiang ibuku." Nagato mengelus rambut Iris karena gadis cantik tersebut terlihat menggemaskan di matanya, bahkan sesekali dia meremas rambut Iris dan hendak mengacaknya namun tangan Iris menepisnya.
"Naga, aku bisa tahu kenapa kamu ingin balas dendam..." Iris menatap wajah Nagato cukup lama. "Aku tidak menduga kamu masih bisa tersenyum dan bersikap baik-baik saja di depanku." Iris menambahkan perkataannya.
Nagato tersenyum tipis mendengar tanggapan Iris. "Aku sudah lelah menangis. Aku pernah menangis di depan Litha. Aku menceritakan semuanya tentangku pada dia termasuk perjodohan kita berdua. Dan entah kenapa aku selalu merasa Litha seperti adik kandungku yang harus kujaga." Raut wajah Nagato terlihat sedih.
"Maaf, pasti kamu tidak ingin membicarakan orang lain saat kita sedang berdua." Namun Iris tersenyum pada Nagato karena mendengar ucapan permintaan maaf dari pemuda tersebut.
"Sebenarnya aku cemburu tetapi aku menyadari perasaan Litha. Mungkin karena kami sama-sama seorang perempuan." Iris menatap Nagato dan tersenyum lembut padanya.
Kemudian Iris menatap mata Nagato yang tidak terlihat tajam dan dingin seperti biasanya. Jantungnya berdebar karena baru kali ini dia melihat Nagato terlihat seperti ini.
"Naga, aku selalu memperhatikanmu. Kamu selalu terlihat kuat tetapi tatapan matamu terkadang tersirat kesedihan yang mendalam. Saat melihatmu seperti ini aku merasa tidak bisa meninggalkanmu sendirian." Iris memegang tangan Nagato. Kemudian sentuhan tangannya dibalas dengan lembut oleh Nagato.
Iris sangat pengertian. Gadis cantik itu tidak bertanya lebih jauh menyangkut masa lalu Nagato. Pemuda yang sekarang duduk disampingnya itu memiliki ambisi untuk balas dendam, dan Iris sudah mendengar dari berbagai cerita tentang kisah sosok Kagutsuchi Pandu.
Walau saat itu Iris masih berumur 5 tahun tetapi pikirannya bisa mengetahui dan menebak jika ada sesuatu kebohongan besar yang ditutupi pada seluruh orang di Kekaisaran Kai.
"Naga, apa kamu tahu kalau aku adalah anak yang lahir tanpa seorang ayah?" Iris menatap Nagato dan menyandarkan kepalanya di bahu Nagato.
"Aku sepertinya tidak tahu ini sebelumnya?" Nagato memejamkan matanya dan mencoba mengingat untuk memastikannya.
"Ibuku menggunakan kekuatan Titisan, maksudku Jelmaan Dewi Salju untuk membuahi rahimnya sendiri. Itu adalah teknik pembangkitan yang terlarang. Aku mengetahui hal itu saat aku kecil, rasanya sakit sekali karena aku tidak pernah memiliki seorang ayah. Namun saat aku bertemu Hika dan Tika, perlahan aku bisa melupakan semua itu." Iris membaringkan kepalanya di pangkuan paha Nagato.
"Kamu tahu, saat aku bertemu denganmu di Kota Yasai saat itu. Aku sempat tidak tertarik denganmu, tetapi entah kenapa aku ingin mengenalmu lebih dekat lagi saat melihatmu bersikap sok kuat." Tangan Iris mengusap pipi Nagato, sedangkan tangan Nagato mengelus rambut halus Iris. Senyuman manis menghiasi wajah cantik Iris. Melihat itu, Nagato hanya bisa menatapnya dan mendengarkan dengan baik setiap kata-kata yang keluar dari mulut Iris.
"Saat itu aku kehilangan segalanya. Namun aku bertemu dengan Kakek Hyo, Litha kemudian pertemuan yang tidak pernah kuduga adalah bertemu denganmu, Iris." Nagato tersenyum lembut menatap wajah Iris. "Pertama kali bertemu dengan teman yang seumuran denganku membuatku bingung harus bersikap seperti apa. Kebanyakan mereka hanya tertarik dengan wajahku, namun kamu menampar pipiku dan memarahiku. Kamu tahu itu. Hal seperti itu yang membuatku menjadi tertarik padamu." Kemudian Nagato tertawa lirih sembari mencubit pelan pipi Iris.
Iris juga tertawa lirih. Nagato merasakan kebencian yang menganga di benaknya mulai terangkat dan menghilang. Sudah lama dia tidak tertawa seperti sekarang ini. Nagato hanya berharap di masa depan nanti dia bisa hidup bersama Iris dan menjaga senyuman yang menghiasi wajah gadis cantik tersebut.
__ADS_1
"Iris, aku juga memiliki kekuatan yang sama sepertimu. Namun di dalam tubuhku ada satu kutukan yang membuat hidupku tidak berumur panjang jika aku tidak menyerahkan jiwa dan ragaku pada makhluk sialan itu!" Nagato mengalihkan pandangannya menatap lampion yang berterbangan di udara.
Iris menatap dan memperhatikan raut wajah Nagato dengan seksama. "Apa tidak ada cara untuk menyembuhkannya? Bagaimana jika kita berdua pergi mencari cara untuk menyembuhkan penyakitmu setelah kompetisi ini berakhir?" Nagato terkejut mendengar perkataan Iris. Tangan Iris dengan lembut menyentuh perut Nagato.
"Ada cara untuk menyembuhkannya." Nagato menjawab tanpa sadar. Setelah itu dia mengingat perkataan Emi dan tentu saja dalam sekejap wajah Nagato sedikit memerah.
Iris yang melihat perubahan raut wajah Nagato menjadi penasaran. "Beritahu aku, Naga. Aku akan membantumu." Iris masih membaringkan kepalanya di pangkuan paha Nagato. Wajahnya melihat jelas bagian leher dan wajah Nagato.
"Ini memalukan..." Nagato menatap wajah Iris yang terlihat penasaran.
Iris yang mendengar jawaban Nagato tentu kurang merasa puas. "Katakan padaku. Aku akan membantumu. Aku memiliki ini dan aku tidak akan membiarkanmu sendirian. Bukankah kamu takut sendirian?" Iris memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
Nagato memerah wajahnya. "Tunggu sebentar!" Tangan Nagato menutup mata Iris. Jantung Nagato berdebar kencang mendengar perkataan Iris. Malam ini dia tidak percaya ada orang yang ingin menolongnya dan rasanya Iris seperti memberi sebuah mimpi padanya.
Iris memegang tangan Nagato dan menggenggamnya. "Katakan padaku!" Perintah Iris memaksa.
"Iris, lebih baik kamu bertanya pada Nenek Emi. Aku malu menjelaskannya..." Nagato menatap wajah Iris namun dia semakin grogi. Bahkan tangan yang mengelus rambut halus Iris bergemetar hebat dan tangan satunya yang berpegangan dengan tangan Iris juga ikutan gemetar.
Iris memegang tangan Nagato lebih erat dan tersenyum lembut pada pemuda itu. "Baiklah, aku akan menanyakannya pada Nenek Emi. Tetapi kamu sekarang terlihat sangat lucu, Naga." Iris tertawa lirih sambil mencubit pipi Nagato.
"Iris, apa kamu mempunyai impian?" Nagato dengan malu menatap wajah Iris dan mengalihkan pembicaraan.
"Aku ingin menikah dengan orang yang kucintai. Mungkin itu impianku." Iris menatap wajah Nagato malu-malu.
"Dan orang itu adalah kamu, Naga." Batin Iris menambahkan.
"Mungkin? Itu bukan impian." Nagato memencet hidung Iris dengan lembut. Sontak Iris langsung berdiri dan mencubit pipi Nagato karena kesulitan bernapas.
"Kalau begitu, apa impianmu?" Iris balik bertanya.
"Impianku..." Nagato bergumam pelan. Kemudian dia menatap rerumputan yang tumbuh dengan rapi di bawahnya. "Mungkin impianku menemani perjalanan Litha untuk pergi berpetualang, tentu aku akan mengajakmu, mungkin."
Iris mengembungkan pipinya. "Mungkin? Itu juga bukan impian!" Protes Iris. Kemudian kedua bola mata mereka berdua bertemu. Nagato dan Iris saling menatap dalam waktu yang lama sebelum tertawa lirih.
"Kita bertiga pergi berpetualang. Ide bagus. Asal aku bersama kalian, aku tidak keberatan." Iris tertawa lirih. Sedangkan Nagato menatap lampion dengan dalam.
"Sudah malam," ujar Nagato sambil mengelus rambut halus Iris. "Ayo pulang." Kemudian Nagato berdiri dari bangku taman.
__ADS_1
Iris tersenyum tipis dan membuang kotak makanan ke tempat sampah. Kemudian gadis cantik itu berdiri di samping Nagato.
"Besok aku ajak Litha, Hika, Tika sama Hisui ya. Hmmm ... sekalian sama Hanabi." Iris menatap Nagato sembari berjalan berdampingan dengan pemuda itu.
"Terserah. Aku juga sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama Litha." Nagato membalas dan menatap lampion yang masih berterbangan di atas langit Danau Sakura.
Lampu-lampu taman yang indah membuat Nagato dan Iris terlihat seperti pasangan muda-mudi yang sedang berkencan. Kedua anak muda itu berjalan di bawah sinar rembulan yang bersinar dengan lembut bersama dengan lampion yang berterbangan di udara.
Iris melirik Nagato. "Naga, coba kamu ajak Litha jalan-jalan. Kalian berdua dari kecil sudah bersama. Litha adalah perempuan yang sangat baik dan dia mengerti kamu." Nagato menatap Iris tidak percaya. Gadis cantik disampingnya itu tidak cemburu sama sekali, bahkan ketika dirinya berdua bersama Iris, mereka saling terbuka dan bersikap alami.
"Iris, apa kamu tidak cemburu?" Nagato bertanya untuk memastikan.
Iris tersenyum manis melihat Nagato yang menghargai perasaannya. "Tidak. Litha sudah kuanggap seperti saudara kandungku sendiri. Terkadang aku melihat kamu dan Litha seperti kakak dan adik, Naga. Begitu juga dengan Hisui yang terlihat seperti seorang adik yang ingin dipuji kakaknya." Iris memejamkan matanya dan memiringkan kepalanya.
Nagato tersenyum melihatnya. "Apa-apaan itu? Apa kamu asal menebak saja? Aku tidak menyangka perempuan sedingin kamu akan berkata seperti itu?" Nagato menatap mata Iris yang terbuka pelan-pelan.
"Aku tidak menebak. Tetapi ini adalah naluri seorang perempuan yang bisa menebak dan membuatnya menjadi kenyataan." Iris membalas dan berjalan dua langkah ke depan lebih cepat dari Nagato.
"Tukang ramal." Nagato tertawa melihat Iris yang terlihat begitu indah di matanya.
"Lebih baik tukang ramal daripada maniak pecinta makanan pedas." Iris membalas perkataan Nagato dengan sengit.
"Mulai lagi..." Nagato tersenyum tipis kemudian menghentikan langkahnya untuk menatap Iris dengan seksama yang berada dua langkah di depannya.
"Dia juga bisa tersenyum seperti ini." Nagato membatin penuh makna menatap senyuman manis yang menghiasi wajah cantik Iris.
Awalnya Nagato dan Iris tidak pernah menunjukkan tawa dan senyum lepas mereka di depan orang lain, namun setelah merea berdua berjalan bersama dan saling mengenal. Baik Nagato maupun Iris saling terbuka dan tersenyum lepas. Mereka berdua sangat bersikap alami.
Nagato sendiri tidak percaya dirinya merasa kembali ke masa lalu saat-saat dimana dia bisa tersenyum lepas seperti sekarang ini. Kehangatan yang dia rasakan malam ini juga menjadi perjalanan dalam hidupnya yang paling berarti dan berharga.
Sekarang mereka berdua sedang dalam perjalanan pulang menuju Penginapan Matahari Timur. Nagato dan Iris berjalan berdampingan dan menikmati malam yang indah di Ibu Kota Daifuzen.
Ketika Nagato dan Iris melewati jalanan yang sepi, mereka berdua terkejut melihat mayat seorang perempuan dengan perut yang ditusuk pisau dan pakaian yang terbuka dengan sekujur sobekan di tiap pakaian yang dikenakan gadis muda tersebut.
"Naga, bukankah dia?!" Wajah Iris pucat pasi. Dengan cepat Nagato memegang tangan Iris dan menariknya.
"Ya, aku juga melihatnya tadi sore di pertandingan terakhir Turnamen Harimau Kai." Nagato menatap tajam mayat gadis muda tersebut. Sedangkan Iris memegang baju putih Nagato. "Siapa yang membunuhnya?"
__ADS_1