
Nagato berjalan ke arah bukit, dimana dia bisa menikmati pemandangan pesisir pantai dan laut dari atas bukit tersebut. Kesedihannya yang telah menumpuk kini tak terbendung lagi, masih ingat dengan jelas Nagato bagaimana sikap Asha yang terus mencari perhatian sehingga selalu bertengkar dengannya.
Sama sekali tidak terbayangkan olehnya akan kehilangan seseorang lagi, Nagato masih mencoba menahan air matanya.
Perkataan Asha masih menggema di telinga Nagato saat pertama kali pertemuannya dengan Asha. Jujur perasaan Nagato menganggap Asha sebagai adiknya sendiri. Walaupun selama ini Nagato tidak pernah mengakuinya, tapi setelah Asha menghilang, akhirnya Nagato sadar jika dirinya telah menganggap Asha sebagai bagian dari hidupnya, lebih dari yang ia kira.
Hei, Kak Nagato, apa Kak Litha itu pacarmu? Dia sangat baik dan cantik...
Air mata membasahi wajah Nagato ketika seluruh kesedihannya tumpah, tidak pernah dia sangka setelah mendengar perjodohan Iris dan Hiragi yang membuatnya sakit hati, kini kematian Asha membuatnya lebih sakit lagi karena Asha telah menghilang untuk selamanya.
Sudah kubilang aku bukanlah kakakmu.
Nagato terjatuh memeluk badannya sendiri, seluruh rasa sakit dan kesedihannya tumpah. Kesepian yang mendalam karena tidak bisa melihat Asha lagi membuatnya menangis.
"Aku bukanlah kakak yang baik!" jerit tangis Nagato memukul tanah dan dari kedua matanya terus meneteskan air mata.
"Asha! Bukankah kau ingin menjadi seorang pahlawan dan menangkapku suatu saat nanti!" Nagato kembali menangis dan terus memukul tanah, surat dari Asha yang dia pegang terjatuh.
"Aku sudah gagal sebagai seorang kakak ... aku tidak bisa melindungi adikku sendiri!" Nagato menjerit sekeras - kerasnya, tempat yang sepi dan hanya ditemani angin yang terus berhembus membuat air matanya terbang. Angin yang menerpa tubuhnya seperti sedang berbisik, membisikkan kesedihannya dan suara Asha saat - saat terakhirnya.
"Asha, aku bersumpah akan membebaskan Azbec. Bagaimanapun itu adalah tempat kelahiran ibuku dan aku!" batin Nagato ketika tangannya memegang surat yang di tulis Asha.
Kedua tangannya membuka surat, huruf - huruf yang dipenuhi makna kesedihan. Kata - kata yang menyayat hatinya, semua semakin terasa ketika Nagato mulai membacanya.
__ADS_1
Nagato menggertakan giginya, menguatkan hatinya dan membaca surat yang ditulis Asha untuk dirinya.
Kak Nagato. Apa kau baik - baik saja?
Maaf sebelummya aku sempat berbohong padamu. Jujur, aku bersyukur bisa mengenal Kak Nagato dan Kak Litha. Tetapi, aku tidak bisa bersama kalian lebih lama. Aku memiliki darah yang sama dengan orang yang mengkhianati dan membunuh orang tua Kak Nagato. Mungkin jika saat itu aku menjelaskannya, Kak Nagato akan membenci Asha.
Nagato menggertakkan giginya kembali, agar tidak menangis untuk saat ini. Perlahan dia kembali membaca surat yang ditulis Asha untuk dirinya, kakinya melangkah pergi ke tempat dia berdua bersama Iris. Sebuah tempat yang indah dan di sana ada danau kecil yang ingin Nagato lihat kembali untuk meredakan kesedihannya. Kesedihan yang mulai merayapi dirinya.
Orang yang telah membunuh pendekar bernama Uzui adalah kakakku yang bernama Black Fang. Asha ingin menjelaskannya pada Kak Nagato, tetapi Asha takut Kak Nagato akan membenci dan menjauhi Asha. Setelah Kak Nagato membaca surat ini, Asha ikhlas jika Kak Nagato membenci Asha. Karena sujujurnya Asha juga sangat membenci diri Asha sendiri.
Nagato terkejut setelah membaca surat yang di tulis Asha. Bagaimanapun kematian Uzui tidak ada hubungannya dengan Asha. Nagato juga sudah mengetahui itu, dan sampai kapanpun Nagato tidak akan pernah membenci Asha.
"Bodoh, aku sudah mengetahui itu..." Nagato tersenyum membaca surat Asha sedangkan matanya meneteskan air mata.
Nagato telah sampai di danau kecil, perlahan dia menyandarkan tubuhnya untuk bersandar pada pohon yang ada di belakangnya. Matanya menatap perairan danau kecil sebelum membaca surat yang ditulis oleh Asha kembali.
Nagato memegang erat kertas yang sedang dia baca, perasaan Asha yang dituliskan melalui kata - kata tersampaikan pada Nagato.
Kak Nagato adalah keturunan Keluarga Von. Keturunan pewaris sah dari Kerajaan Azbec. Asha yakin Kak Nagato akan bisa membebaskan Azebc suatu saat nanti.
Nagato mencoba tetap tersenyum walau air matanya terus menetes membasahi wajahnya.
Kak Nagato. Sejujurnya, Asha sangat iri dengan Kak Nagato. Selain wajah Kak Nagato yang tampan, tetapi Kak Nagato selalu giat berlatih lebih dari siapapun. Dan yang paling membuat Asha iri adalah perhatian Kak Litha yang selalu terarah pada Kak Nagato.
__ADS_1
Nagato membuka lembaran kertas selanjutnya, setiap tulisan Asha di kertas tersebut sangat menyayat hatinya.
Kak Nagato. Ada satu permintaan terakhir seumur hidupku, jika aku telah tiada tolong jagalah Kak Litha. Mungkin permintaanku aneh, tetapi kalian berdua adalah sebuah ikatan yang sangat berharga dalam hidupku. Kak Litha sangat menyukai Kak Nagato. Kak Litha adalah perempuan yang baik, dia selalu tertawa dan tidak menunjukkan kesedihan maupun kebenciannya. Selalu berbicara tentang impiannya, mungkin tidak ada tempat untukku dihatinya. Tapi bagaimanapun juga aku sangat mencintai Kak Litha. Oleh karena itu dengarkan permohonan terakhirku ini, Kak Nagato. Tolong jagalah dia untukku.
Nagato termenung sesaat sebelum menangis sekeras - kerasnya, kematian Asha membuatnya sangat terpukul. Semua kesedihan yang selama ini dia tahan keluar dari tubuhnya dengan wujud air mata.
Tangan kanan Nagato terus mengusap air matanya yang menetes, tangisannya pecah mengingat perkataan Asha yang masih terus terbayang - bayang di dalam ingatannya, perkataan Asha juga masih menggema dengan jelas di telinganya.
Tangisan Nagato terdengar begitu sedih, tubuhnya terlihat begitu rapuh ketika tubuhnya terjatun pelan - pelan ke tanah. Dalam kesedihannya, sosok perempuan yang hendak pergi ke tempat kesukaannya menahan tubuh Nagato dan memeluknya.
Nagato bisa merasakan jika Iris yang memeluk tubuhnya, kepalanya mencoba mendongak dan dia bisa melihat Iris yang juga meneteskan air mata.
"Iris..." gumam Nagato lirih sambil mencoba mengusap air matanya.
Iris tersenyum selembut - lembutnya pada Nagato. Pada pemuda yang dia cintai, sosok Nagato yang begitu rapuh merupakan sesuatu yang baru baginya. Tangannya mengelus rambut Nagato dengan lembut.
"Aku tidak mampu melindungi adikku sendiri ... aku bukanlah seorang kakak yang baik!" Nagato menangis di dalam pelukan Iris.
Tangan Iris dengan lembut mengelus rambut Nagato. Sesekali dia mengecup kening Nagato dan membenamkan wajah Nagato di dadanya, mendengar tangisan Nagato yang terdengar sedih dan sendu membuat Iris menangis.
"Naga. Aku tidak tahu siapa itu adikmu. Tapi untuk saat ini, keluarkan seluruh air mata kesedihanmu," ujar Iris memeluk Nagato dan membiarkan pemuda itu menangis di dalam pelukan hangatnya.
Nagato menangis selama beberapa saat, tidak berapa lama dia tertidur dipelukan Iris. Wajah Nagato ketika tertidur terlihat begitu pucat, matanya bengkak karena tangisannya.
__ADS_1
"Naga, tidurlah. Aku akan tetap mencintaimu. Aku akan menolak perjodohan dengan lelaki yang tidak kukenal itu, aku tidak akan membiarkanmu menangis sendirian seperti ini lagi." ungkap Iris menaruh kepala Nagato dipangkuannya, hembusan angin yang sejuk membuat kertas yang dipegang Nagato mengenai badan Iris.
"Surat ini?" batin Iris saat tangannya mengambil surat yang ditulis Asha dan membacanya.