Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 248 — Kehabisan Aura


__ADS_3

Hanabi mengayunkan pedangnya dan membalas serangan yang dilancarkan oleh Ren. Permainan pedang Hanabi dari awal sudah agresif. Setiap tebasan pedangnya dalam dan membuat raut wajah Ren berubah menjadi serius.


“Daun sakura yang berguguran? Sungguh indah. Aku mulai menyukaimu...” Ren memang memiliki wajah yang bisa dibilang memancarkan aura kewibawaan. Namun Hanabi bisa mengetahui sifat Ren yang tidak dia suka.


“Maaf, aku tidak pernah menyukai seseorang. Tidak akan pernah!” Bilah pedang Hanabi berwarna merah muda dan berbenturan dengan bilah pedang Ren. Keduanya saling mendorong sebelum daun-daun sakura yang berjatuhan mulai terbang seperti terkena hembusan angin.


“Inilah pedangku. Senjata Kuno Tipe Pusaka : Pedang Angin...” Ren tersenyum menyeringai dan menatap raut wajah Hanabi yang tidak menunjukkan ketertarikan.


“Lautan Sakura Musim Semi!”


Hanabi memainkan pedangnya dengan lincah. Gerakannya yang bervariasi membuat Ren mengernyitkan keningnya. Dengan satu ayunan yang pasti. Hanabi membuat Ren menahan tebasan pedangnya namun pria itu tersungkur ke tanah karena tidak memperkirakan kekuatan teknik pedang Hanabi.


”Kucincang dan ku potong setiap anggota tubuhmu itu!” Ren berteriak sambil kembali berdiri, ”Tetapi, Tuan Brusca dan Tuan Gore akan membunuhku jika aku melukaimu.... Hah, ini keadaan yang membuatku muak...”


Hanabi tidak menggubris perkataan Ren. Tak lama dia melirik Tatara dan Yuri yang sedang bertarung melawan Manusia Hewan Buas. Kedua pendekar muda itu menghampiri Hanabi ketika Renji, Kenji, Takao dan Ninjin menghadang Manusia Hewan Buas dan menyuruh Tatara dan Yuri membantu Hanabi.


Sementara itu, Kirisaki, Azuki, Chiaki, Chaika, Roka, Isaka, Sasae, Reina dan Myoko melawan Manusia Hewan Buas yang tidak dapat memancarkan aura tubuhnya.


“Misuzawa Hanabi, aku akan membantumu...” Yuri menebaskan pedangnya dari jauh dan melepaskan aura tubuhnya agar dia dapat mengintimidasi Ren walau tidak terlalu berpengaruh.


“Kita harus ke luar Ibukota Daifuzen. Ketua Hana, maksudku, ibumu, dia dan tenaga medis telah menyiapkan pil pemulih aura.... Setidaknya kita dapat terus bertempur sampai titik darah penghabisan...” Yuri mengatur napasnya dan melirik wajah Hanabi yang tetap tenang.


“Aura miliknya benar-benar mengerikan. Aku rasa dia belum menggunakan Tenkai namun aura intimidasi milik orang itu membuatku berkeringat dingin...” Tatara mmebatin dan mengatur napasnya sebelum memulai serangan terlebih dahulu untuk memperkirakan serangan jarak jauh dari Ren.


“Hiu Air Haus Darah!”


Tatara memanipulasi aura tubuhnya dan mengolah pernapasan sembari bergerak ke depan secara perlahan.


“Aku dan Hanabi akan mendesaknya. Kau buat dia kesulitan bergerak, Tatara. Setelah itu kita bertiga habisi dia...” Yuri menatap Ren yang sedang menatap mereka bertiga bahkan menghiraukan hiu air yang diciptakan Tatara dengan tenaga dalam.


“Habisi. Boleh juga perkataanmu, Kitakaze Yuri...” Tatara tersenyum sesaat sebelum memulai serangan jarak jauh.


“Aliran Air.” Tatara melakukan gerakan sebelum menebaskan pedangnya dari kejauhan.


“Teknik Pedang Air : Air Terjun Mencekam...”

__ADS_1


“Teknik Pedang Air : Hiu Menerkam.”


“Tebasan Air Deras!”


“Teknik Pedang Air : Hujan Membasahi Jiwa Ketenangan!”


Tatara menyerang dari jarak jauh. Puluhan tebasan pedang yang bervariasi serangannya membuat Ren berlari ke arah tebasan tersebut tanpa keraguan sedikitpun.


“Melawan tiga bocah yang baru tumbuh dewasa! Ini mudah!” Pedang Ren berwarna hitam pekat sebelum mengayunkannya memotong hiu air.


“Ini!” Yuri dan Tatara terkejut ketika merasakan kemampuan Ren jauh di atas mereka berdua. Namun Hanabi yang menyadari hal itu justru memainkan pedangnya dan melancarkan serangan beruntun dari jarak jauh.


“Pedang Sakura Bersemi...” Bilah pedang Hanabi bercahaya berwarna merah muda, “Ledakan Gairah Yang Bersemi!”


Yuri dan Tatara langsung kembali fokus ketika melihat Hanabi melancarkan serangan jarak jauh.


“Sial! Aku terpaku pada perbedaan!” Yuri mengumpat kesal dalam hatinya sebelum menebaskan pedangnya, “Hembuskan Angin Dalam Sayatan!”


Ren tersenyum menyeringai melihat puluhan teknik pedang mengarah padanya. Dengan perlahan dia memejamkan matanya sambil melepaskan Tenkai.


Aura intimidasi Ren terasa mencekam bagi Hanabi, Tatara dan Yuri. Hitam pekat dari aura intimidasi menyebar ke arah mereka bertiga.


“Datanglah! Akan kuperlihatkan sebuah perbedaan!” Ren melakukan pose sebelum melancarkan tebasan pedangnya.


“Jurus Pedang Singa Angin!”


Tebasan pedang Ren membuat serangan Hanabi, Tatara dan Yuri kembali ke arah mereka bertiga. Ledakan terjadi ketika serangan Ren mengenai jalanan.


Hanabi menhindari tebasan yang membalikkan serangan mereka bertiga dan tersungkur di tanah. Luka yang dialami Hanabi termasuk parah, begitu juga dengan Tatara dan Yuri.


“Musuh terlalu banyak. Penyerangan ini sangat terencana. Aku merasa desa-desa yang dekat dengan Ibukota Daifuzen dalam bahaya...” Yuri terbaring di atas jalanan dan menatap langit yang bercampur dengan kepulan asap.


“Sekarang bukan wakutnya untuk memikirkan itu. Kita juga tidak tahu. Apakah kita akan selamat atau mati di pertempuran ini...” Tatara menabrak salah satu dinding bangunan yang hancur.


Hanabi menatap Ren yang sedang menaruh pedanganya di pundak dan tersenyum menyeringai.

__ADS_1


“Ada apa? Kalian bertiga terlalu lemah untukku!” Ren hendak menarik tangan Hanabi namun kedatangan pendekar dari Kuil Matahari Baru membuat Ren mundur ke belakang.


“Kalian yang telah membunuh Ketua bukan?!” Yatsura penuh dengan darah dan terlihat sekilas air mata menetes di pelupuk matanya.


Ren menghela napas panjang, “Bukan aku yang membunuh kalian. Tetapi Tuan Brusca dan Tuan Gore yang menangkap ratusan pendekar dari Kuil Matahari Baru untuk dijadikan percobaan. Bahkan teman-teman kalian juga ada yang menjadi percobaan Tuan Gore. Hehe, aku bicara terlalu banyak...”


Ren sengaja mengejek Yatsura dan pendekar dari Kuil Matahari Baru. Tidak butuh waktu lama untuk pendekar dari Kuil Matahari Baru bergerak dan menyerbu Ren.


“Menarik. Aku akan menunjukkan perbedaan!” Ren tersenyum menyeringai.


Di sisi lain, Nagato terkuras habis aura tubuhnya. Dengan napas yang teratur. Nagato terus melancarkan serangannya pada Kousuke.


“Lintasan Jingga!”


Tebasan Nagato tidak dalam seperti biasanya, “Cih, aku tidak bisa membiarkan keadaan ini terus berlanjut...”


“Ikut denganku. Kau tidak akan dibunuh Tuan Brusca. Dia akan mengajarimu dan mendidikmu menjadi pembunuh yang hebat. Beliau tertarik padamu...” Kousuke menaruh pedanganya di pundak dan menatap Nagato yang sedang menekan aura tubuhnya.


“Bagaimana jika aku menolaknya?” Nagato sengaja memperpanjang pertarungan karena akan lebih menguntungkannya.


“Jika kau menolaknya. Maka tidak ada cara lain. Aku akan membunuh Fuyumi Litha, Fuyumi Hika dan saudara kembarnya. Jika perlu aku akan membunuh dua kembar dari Klan Kitakaze itu...” Kousuke menatap Chiaki dan Chaika sambil menjulurkan lidahnya.


Nagato berusaha untuk tenang dan tidak terprovokasi. Emosinya tidak stabil dan mudah marah. Kali ini Nagato menahan kemarahannya karena jika dia bergerak secara emosi, maka itu akan menjadi kekalahannya.


Terlintas di pikiran Nagato untuk melakukan konsentrasi secara penuh dan memasuki alam bawah sadarnya.


Namun sebelum dia melakukan hal itu, suara dari makhluk yang dia benci terdengar. Suaranya sangat menakutkan dan sadis ketika menggema di telinganya. Tidak ada yang mendengarnya selain Nagato. Manusia yang terkena kutukan dari Roh Dewa Kematian.


“Tekad, ambisi dan kekuatanmu sangat lemah. Tujuanmu tidak pasti karena terlalu menikmati kehidupan indahmu. Dibandingkan dirimu, orang yang menjadi wadahku sebelumnya lebih hebat darimu. Dia membiarkanku mengambil alih tubuhnya untuk membunuh manusia sebanyak-banyaknya! Terutama orang yang menutupi rahasia Eden!”


Nagato mengernyitkan dahinya dan tersenyum menyeringai ketika merasa berada di alam bawah sadarnya.


“Berikan aku sedikit auramu. Kau telah membuat hidupku berantakan. Bahkan kutukanmu ini membuat penyakit jantungku bertambah parah. Jika bukan karena pernapasan yang diajarkan Kakek Hyo. Mungkin aku sudah terbaring lemah sejak lama...”


Nagato dan Shinigami berhadapan.

__ADS_1


__ADS_2