
Setelah Nagato melihat bekas luka diperut Litha dia menjadi lebih giat berlatih agar menjadi lebih kuat dan tidak akan membiarkan Litha terluka lagi.
Beberapa bulan setelah hari itu, hari dimana Nagato dan Litha tidak menyadari perasaan saling menyukai satu sama lain dan kini mereka memulai latihan seperti biasa bersama Kakek Hyogoro mereka berdua telah berumur 8 tahun.
Hari demi hari mereka berdua melakukan latihan pernafasan agar tubuh mereka menyatu dengan alam karena udara itu tidak terbatas hanya tinggal bagaimana cara kita mengolahnya, belajar ilmu berpedang untuk menjaga diri dan melakukan misi bersama Kakek Hyogoro untuk mendapatkan uang.
Malam hari ketika Nagato dan Litha telah selesai pulang berlatih pernafasan dari Bukit Angin mereka berdua sedang duduk bersandar dipunggung satu sama lain disamping api unggun yang dibuat Kakek Hyogoro.
Nagato akhir - akhir ini merasa kesal karena ketika dia dan Litha ikut melakukan pekerjaan yang diberikan Kakek Hyogoro dari Nenek Beo. Mereka bertiga pergi ke beberapa provinsi di Kekaisaran Kai disana ada ratusan penduduk biasa membicarakan ayahnya bahkan beberapa dari mereka mencaci ayahnya sebagai pengkhianat sehingga Nagato selalu mendapatkan masalah dan dimarahi Kakek Hyogoro karena dia memukul setiap orang yang menghina ayahnya mengingat semua itu merupakan pengalaman pahit Nagato sehingga dia menjadi begitu sensitif ketika mendengar orang yang membicarakan ayahnya.
Kakek Hyogoro menatap Nagato kemudian dia mengelus dagunya sambil memejamkan matanya.
"Nagato, Pandu adalah orang yang hebat! Kau tidak perlu mendengar omongan orang lain," kata Kakek Hyogoro melirik Nagato yang sedang bersandar dipunggung Litha.
"Kakek Hyo, aku tahu kau hanya ingin menghiburku, kan?" balas Nagato sambil menatap tajam Kakek Hyogoro lurus.
"Menghiburmu?" Kakek Hyogoro menaikan alisnya menatap Nagato. Tetapi Nagato hanya diam berdecak kesal karena melihat tingkah Kakek Hyogoro yang mulai membicarakan ayahnya.
"Dengar Nagato, Pandu adalah orang yang hebat bukan hanya dia saja tetapi seluruh pengikutnya juga hebat," ujar Kakek Hyogoro ingin mendinginkan emosi Nagato yang akhir - akhir ini meledak - ledak karena selalu dibayangi dengan sosok kebesaran nama ayahnya.
Kakek Hyogoro mencoba terus menceritakann tentang Pandu kepada Nagato agar muridnya itu tidak terbebani dengan kebesaran nama ayahnya.
"Dan yang paling penting Pandu bersama 5 pengikutnya dapat bekerja sama dengan baik pasukan ayahmu itu disegani diseluruh Ezzo." tambah Kakek Hyogoro sambil meminum kopi.
Nagato hanya diam tidak peduli sedangkan Litha berdecak kagum mendengar cerita Kakek Hyogoro.
"Nagato, apa kau tahu anakku?" tanya Kakek Hyogoro tersenyum pahit kemudian dia meminum kopinya kembali sebelum menatap Nagato.
"Paman Tatsugoro!" jawab Nagato singkat sambil melirik Kakek Hyogoro yang sedang menatap api unggun.
"Bukan hanya Tatsugoro tetapi keempat pengikutnya adalah orang - orang yang hebat seperti Satsuma, Chosu, Tosa dan Takatsugu, mereka berlima begitu menghormati dan mengagumi sosok ayahmu," jelas Kakek Hyogoro menatap langit malam yang berbintang dan disinari rembulan diatas Hutan Cakrawyuha.
"Sungguh suatu kehormatan aku bisa menjadi gurunya walau hanya sebentar saja ..." tambah Kakek Hyogoro bergumam lirih ketika melihat ada sebuah bintang yang bersinar paling terang yang sedang ditatapnya.
"Tidak peduli apa yang dikatakan orang lain, bagiku Pandu adalah sosok orang yang hebat!" Kakek Hyogoro meminum kopinya kembali disisi lain Nagato berdiri dan menatap dingin Kakek Hyogoro.
"Jangan membohongiku! Banyak orang diluar sana yang membenci ayahku!" bentak Nagato meledak emosinya karena setiap mendengar nama ayahnya pikirannya terasa kacau mengingat tatapan dingin yang mengarah padanya ketika dia menghajar orang - orang yang menghina nama baik ayahnya.
"Nagato, kau tidak boleh membentak Kakek!" Litha mencoba menenangkan Nagato tetapi pemuda itu justru semakin marah dan menantang Kakek Hyogoro untuk bertarung dengannya.
"Kakek Hyo, aku akan membalas dendam kematian orang tuaku dan tidak akan menjadi jendral ataupun prajurit kekaisaran!" jelas Nagato tersenyum sinis menatap Kakek Hyogoro.
"Nagato, aku ingin kau menjadi panglima yang hebat bukan menjadi seorang pendendam, yang kau lakukan itu hanya merusak nama baik ayahmu!" balas Kakek Hyogoro berdiri karena terpancing perkataan Nagato.
__ADS_1
Litha berusaha menenangkan Nagato dan Kakek Hyogoro yang sudah memegang pedang yang tersarung rapi dipinggang mereka satu sama lain.
"Merusak nama baik ayahku?! Berhentilah bicara omong kosong! Kakek tidak tahu apapun tentang perasaanku!" teriak Nagato dengan mata yang mendelik sambil menarik pedangnya dan menatap dingin Kakek Hyogoro.
"Aku akan membungkam mulutmu itu, kakek pemabuk!" tambah Nagato kemudian dia menghilang dari hadapan Litha dalam sekejap dia sudah berada dihadapan Kakek Hyogoro yang sedang menangkis tebasan pedangnya.
Litha menghela nafas panjang karena akhir - akhir ini Nagato juga sering bertarung dengan Kakek Hyogoro ketika Kakek Hyogoro membahas tentang Pandu tetapi Nagato tidak pernah menang sekalipun dari Kakek Hyogoro dan malam ini Litha melihat puncak kemarahan Nagato.
Suara pedang yang saling berbenturan satu sama lain menggema ditengah Hutan Cakrawyuha.
Kakek Hyogoro hanya menghindar dan sesekali dia menangkis tebasan pedang Nagato yang mematikan.
"Sudah kukatakan padamu berkali - kali, jika kau kalah dari seorang penjahat maka kau akan mati saat itu juga!" ancam Kakek Hyogoro menatap dingin Nagato sambil menangkis tebasan pedang Nagato.
Nagato mengerutkan dahinya dan mencari celah pertahanan Kakek Hyogoro yang mudah diserang tetapi setiap tebasannya dapat ditangkis Kakek Hyogoro dengan mudah.
"Sirih!" hati Nagato menarik nafas panjang dalam satu tarikan nafasnya kemudian dia mencoba mengeluarkan semua kekuatannya hingga pedangnya menjadi kobaran api padat yang menyala.
Kakek Hyogoro menaikan alisnya melihat teknik yang digunakan Nagato.
"Pernapasan Pelangi Surgawi : Bentuk Kuning." hati Kakek Hyogoro mengolah pernafasan dan menatap dingin Nagato.
"Mengalir Seperti Air!" gumam Kakek Hyogoro berusaha menyerang terlebih dahulu tetapi Nagato dapat mengikuti langkah bahkan membuat dirinya terdesak karena meremehkan Nagato.
Litha kagum melihat Nagato yang menangkis teknik yang digunakan Kakek Hyogoro untuk membunuh dalam sekali tebasan karena langkah yang cepat mengalir seperti aliran sungai itu sangat sulit untuk diikuti tetapi Nagato dapat mengikuti pola langlah Kakek Hyogoro bahkan dia memejamkan matanya ketika menangkis setiap tebasan pedang Kakek Hyogoro dan Nagato terlihat sedang berkonsentrasi secara penuh.
Kakek Hyogoro bergemetar hebat melihat jurusnya ditangkis Nagato bahkan muridnya itu menangkis serangannya dengan menutup matanya.
"Aku pernah melihat 13 tahun yang lalu orang yang bertarung dengan serius sambil memejamkan matanya bukan karena meremehkan lawannya tetapi dia berkonsentrasi secara penuh karena tidak meremahkan lawannya sedikitpun ... apa Nagato mempunyai salah satu dari 3 kekuatan mutlak itu?" gumam Kakek Hyogoro tersenyum bangga melihat Nagato yang bergerak secara alami mengayunkan pedangnya bahkan pemuda itu benar - benar tumbuh dengan bakat yang mengerikan hanya saja yang menjadi penyebab perkembangan Nagato adalah perasaan kebencian dan dendam yang membuatnya terus berkembang.
"Putaran Jarum Air!" Kakek Hyogoro menggunakan teknik pedangnya ketika melihat Nagato melompat keatas.
"Hujan Api!" Nagato membalas serangan teknik pedang Kakek Hyogoro sambil membuka matanya kemudian dia mengayunkan pedangnya dari atas kebawah hingga menciptakan hujan api padat yang menyambar Kakek Hyogoro.
Kedua teknik yang saling berlawanan berbenturan satu sama lain. Litha yang melihat pertarungan tersebut berdecak kagum menatap raut wajah Nagato yang begitu serius dengan tatapan matanya yang begitu dingin.
Kakek Hyogoro menenangkan dirinya sambil menghela nafas panjang dia berkata dalam hatinya.
"Perubahan kecepatan langkah kakinya itu adalah salah satu kemampuan yang dimiliki Nagato. Walau bisa memprediksi pergerakan pola langkah selanjutnya, mustahil untuk mengikuti pergerkannya." batin Kakek Hyogoro yang melihat Nagato terus melancarkan serangan padanya.
Kakek Hyogoro yang sejak tadi hanya bertahan dan mengamati perkembangan Nagato kini menjadi lebih serius dan tidak menahan diri sedikitpun karena memanjakan seorang murid baginya itu sama saja membunuh muridnya didalam pertarungan yang sesunggahnya.
"Pernafasan Pelangi Surgawi : Bentuk Hijau." hati Kakek Hyogoro menarik nafas panjang sambil menangkis ayunan pedang Nagato.
__ADS_1
"Kilatan Hitam!" Kakek Hyogoro mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaganya hingga pedang Nagato terlempar keatar dan jatuh ditengah - tengah mereka berdua.
Kakek Hyogoro tersenyum ketika menodongkan pedangnya dileher Nagato.
"Nagato, aku yang menang," tutur Kakek Hyogoro pelan menatap raut wajah Nagato yang dingin.
Nagato berdecak kesal kemudian dia mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
"Sial! Katakan saja apa yang ingin kakek katakan padaku!" kesal Nagato karena malam ini dirinya kembali kalah bertarung dengan Kakek Hyogoro.
Kakek Hyogoro menyarungkan pedangnya kemudian dia berjalan menepuk pundak Nagato.
"Baik, kakek ingin kau berlatih bermeditasi di Gua Hati." kata Kakek Hyogoro sambil melangkahkan kakinya menuju lapisan hutan ke kelima yang ada di Hutan Cakrawyuha.
Nagato dan Litha mengikuti Kakek Hyogoro dari belakang dan mereka berdua sudah terbiasa dengan cuaca dan iklim yang berbeda disetiap lapisan Hutan Cakrawyuha.
Litha memandang gua yang tersembunyi di dalam lapisan hutan kelima dan gadis kecil itu melihat disana ada pohon pisang ambon yang tumbuh dengan suburnya disekitar Gua Hati.
"Aku tidak menyangka ada gua yang lubangnya berbentuk hati." ucap Litha yang sedang melihat lubang gua tersebut.
Kakek Hyogoro berhenti didepan Gua Hati dan menatap kedua muridnya itu.
"Aku akan menghukum kalian berdua untuk bermeditasi didalam gua selama 14 hari." ujar Kakek Hyogoro melihat Nagato dan Litha yang sedang mengamati lubang gua yang gelap.
Litha merinding melihat gua yang gelap.
"T-Tunggu dulu, aku juga harus dihukum bersama Nagato?" protes Litha ketika telah selesai mengamati lubang gua yang gelap.
"Ya, lagipula ini juga termasuk latihan untuk meningkatkan mental kalian." jawab Kakek Hyogoro sambil mengelus dagunya.
Litha bersembunyi dibalik punggung Nagato ketika melihat lorong gua yang gelap dihadapannya tersebut.
"Kakek Hyo, aku mau tanya satu hal. Apa aku bisa menjadi lebih kuat jika melatih mentalku?" tanya Nagato menatap Kakek Hyogoro lurus.
Kakek Hyogoro menghela nafas panjang sebelum menjelaskan kepada Nagato.
"Tentu saja, kau bisa menjadi lebih kuat karena seorang pendekar bukan hanya berlatih fisik saja, mental juga perlu karena bersangkutan dengan kebatinan." jelas Kakek Hyogoro melihat Nagato yang menatap tajam dirinya.
Nagato berbalik setelah mendengar penjelasan Kakek Hyogoro.
Nagato menyentuh rambut halus Litha kemudian dia beranjak untuk kembali.
"Kalah tetap kalah, tetapi selanjutnya aku akan menang." ungkap Nagato menoleh melihat Kakek Hyogoro dibelakang.
__ADS_1
"Apa itu?" gumam Litha pelan melihat Nagato yang berjalan didepannya.
Litha menggelengkan kepalanya melihat Nagato yang kekanak - kanakan sedangkan Kakek Hyogoro tertawa mendengar tingkah Nagato yang tidak pernah berhenti membuatnya kagum dan bosan.