
Nagato terus mengayunkan pedangnya dengan cepat. Permainan pedangnya begitu brutal, karena prajurit militer Kekaisaran Rakuza yang berada di dekat Nagato terkena imbas serangannya.
Kousuke membalas serangan Nagato. Benturan demi benturan terus terjadi. Tubuh Kousuke menopang ke depan dan menatap tajam mata Nagato.
“Kau keras kepala sekali!” Kousuke memutar tubuhnya dan mengincar perut Nagato. Namun tebasan pedangnya masih dapat ditahan.
Nagato meningkatkan kecepatan tebasannya. Dia sekarang tidak memanipulasi auranya menjadi api, melainkan menjadikan auranya sebagai zirah pedang yang tak kasat mata.
Tebasan pedangnya sekarang mampu membuat Kousuke berwajah buruk. Hanya dalam dua kali pertukaran jurus, Nagato dengan tebasan pedangnya yang cepat memotong tangan kanan Kousuke yang memegang pedang peninggalan Kakek Hyogoro.
“Matilah!” Nagato menebaskan pedangnya lebih cepat lagi. Namun kali ini Gunter menahannya.
“Jangan terlalu beringas, kawan...” Gunter memegang Pedang Api, milik Ryuno. Tidak dia sangka dirinya memiliki kecocokan dengan Senjata Kuno tersebut.
“Bagaimana dengan ini?!” Gunter mengayunkan pedangnya. Nagato menahan lintasan api dengan mengibaskan pedangnya.
“Dua senjata kuno. Aku akan memainkan Seruling Ilusi...” Gunter mulai meniup serulingnya. Permainan seruling Gunter berbeda dengan Fu saat di Gunung Menangis. Gunter menggunakan Seruling Ilusi milik Fu, yang telah mati.
Nagato mengernyitkan dahinya ketika bangunan seluas Turnamen Harimau Kai membentuk labirin. Tempat yang Nagato dan Litha kenal. Walau lebih kecil, tetapi Hutan Cakrawyuha terasa begitu nyata.
Gunter memaksa masuk pendekar muda dan beberapa orang penting yang ada di pihak Kekaisaran Kai. Hutan Cakrawyuha yang hanya memiliki sepuluh lapisan itu membuat Nagato dan Litha menggertakkan giginya.
Tempat yang seharusnya tersembunyi. Jika dikaitkan, maka sudah pasti ada seorang pengkhianat atau sejak awal orang yang memberikan lokasi Hutan Cakrawyuha sudah berkhianat, dari dua pilihan itu, Nagato tidak ingin mempercayai keduanya.
“Siapa?” Nagato berpikir keras. Murid dari mendiang ayahnya dan Kakek Hyogoro yang mengetahui keberadaan Hutan Cakrawyuha. Tidak mungkin ada yang berkhianat, tetapi permainan seruling Gunter membuat Nagato ingin menebak-nebak.
“Ini adalah ilusi...” Nagato menyakinkan dirinya sendiri. Dalam tanah tandus yang luas. Nagato dikepung tiga ratus prajurit militer Kekaisaran Rakuza dan seratus prajurit militer Kekaisaran Kinai yang menyerang pasukan dari Kekaisaran Rakuza.
Gunter dapat memaksa siapa saja yang mendengarnya untuk masuk ke dalam ilusi ciptaannya. Satu cara untuk keluar dari dunia ilusi ini adalah membunuhnya.
Seratus prajurit militer Kekaisaran Rakuza mendekati Nagato. Saat ini emosi Nagato meluap, amarahnya sudah berada di ujung kepalanya. Ketika matanya membuka sepenuhnya, pedangnya langsung menebas orang yang menyerangnya.
Tebasan pedangnya terus membunuh prajurit militer Kekaisaran Rakuza. Darah membasahi wajahnya, entah mengapa saat ini, dirinya mulai goyah. Sudah berapa nyawa yang mati ditangannya. Nagato tidak menghitungnya, hanya saja pertempuran ini membuatnya tersiksa.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama bagi Nagato untuk menghabisi lautan musuh yang mengepung dan mengeroyoknya. Suara tawa dari Kousuke terdengar. Tidak Nagato sangka, Kousuke mengubah wujudnya menjadi Hewan Buas Gorila Gunung.
“Rasakan pembalasanku! Aku akan membunuhmu dengan kekuatan yang diberikan Tuan Gore!” Kousuke berteriak. Kedua tangannya memukul dadanya. Empat anggota Akuyaku mendapatkan jarum suntik yang dapat mengubah wujud mereka menjadi Manusia Hewan Buas.
Nagato mengolah pernapasan dan bergerak lebih cepat. Pedangnya dia ayunkan mengincar kedua kaki Kousuke. Suara pedangnya yang tidak dapat menebas kedua kaki Kousuke terdengar.
“Cih!” Nagato menghindari serangan dari kedua kaki Kousuke yang besar. Tenaga dan kekutan dari Gorila Gunung membuat Nagato terpental ke belakang.
Nagato membalikkan badannya dan mulai menyerang kembali. Api membara setiap Nagato mengayunkan pedangnya, beruntung saat Gunter memainkan serulingnya, Nagato melempar Pedang Air peninggalan Kakek Hyogoro ke arah bongkahan bangunan rumah bata.
Nagato dan Kousuke bertukar serangan. Tebasan pedang beradu dengan ratusan pukulan yang bertenaga itu. Semakin lama bertarung, Nagato semakin mengingat pola gerakan Kousuke.
Dengan tubuh besarnya, Kousuke mendapatkan kekuatan yang besar juga. Hanya saja soal kecepatan, Nagato masih lebih cepat dari Kousuke yang mengubah wujudnya menjadi Hewan Buas Gorila Gunung.
“Ruang Hampa!” Nagato melepaskan auranya dan menekan Kousuke. Dalam sekali tebasannya yang membentuk ombak api, Nagato memotong kepala Kousuke yang setengahnya berubah menjadi Gorila Gunung.
Gunter terus memainkan serulingnya dan memaksa masuk lebih banyak prajurit militer Kekaisaran Rakuza beserta prajurit militer Kekaisaran Kinai.
Gunter mengirim dua anggota Spider untuk mengurus Nagato. Kedua anggota Spider terlihat penuh percaya diri menghadapi Nagato. Walau mereka adalah bawahan, dan bukanlah petinggi.
Setelah terlihat percaya diri, kedua orang itu berkeringat dingin setelah melihat tubuh bagian kiri Nagato yang dipenuhi aura hitam pekat. Mereka tidak bisa lari karena berada di dalam jangkauan serangan Nagato.
Dalam satu kali tebasan, Nagato membunuh kedua anggota Spider tersebut. Kali ini Gunter kehabisan akal, sehingga dia langsung memaksa salah satu anggota Phyton yang sedang terlibat pertarungan dengan kelompok Hayabusa dan memaksanya memasuki ilusi Hutan Cakrawyuha.
Pria bernama Inusuke terkejut ketika dirinya berada di dalam sebuah hutan. Matanya mencoba mengamati keadaan disekitarnya.
“Kau...” Inusuke melihat Nagato yang berdiri di tumpukan mayat yang bergelimpangan, “Fuyumi Nagato. Tepat sekali, kami sedang mencarimu!”
Nagato menggertakkan giginya dan langsung menyerang Inusuke dengan cepat. Kedua tangan Inusuke membentuk cakaran tangan menahan tebasan pedang Nagato.
“Menakutkan! Apa-apaan dengan wajahmu itu?” Inusuke menatap wajah Nagato yang terlihat begitu emosi. Amarah menjadi gambaran dari perasaannya.
Nagato tidak menggubris perkataan Inusuke dan mulai memainkan pedangnya dengan lincah. Setiap tebasannya begitu berisi dan dalam, ayunan pedangnya dipenuh emosi. Emosi perasaannya saat ini.
__ADS_1
Nagato berkali-kali menebaskan pedangnya mengincar bagian vital Inusuke. Namun berulang kali Inusuke mampu menahan dan menangkisnya.
Inusuke mulai menyerang Nagato dengan segenap kekuatannya. Namun tidak dia sangka, kekuatan Nagato lebih dari yang dia perkirakan. Aura tubuh Nagato berbeda dari yang biasa dia rasakan.
Pertahanannya mulai goyah. Sekarang serangan tebasan pedang beruntun dari Nagato menggores tubuhnya dan memberi luka sayatan di sekujur tubuhnya.
Nagato tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Aura tubuhnya dia pusatkan pada bilah pedangnya. Dengan gerakan yang memutar, Nagato memainkan pedangnya, gerakan langkah kakinya mengikuti gerakan Litha.
“Tarian Peri Api!”
Nagato menebas dada Inusuke dalam. Tubuh Inusuke bersimbah darah dan ambruk ke tanah setelah Nagato melepaskan serangan yang membuatnya tidak mampu bertahan.
“Sekarang dimana dia...” Nagato mengatur napasnya. Dia sudah melewati batas kemampuannya. Bahkan sekarang dia sudah tidak merasakan lapar yang menyerangnya, sekarang yang dipikirannya adalah menghentikan dan menyelesaikan pertempuran ini.
___
Di salah satu tempat ilusi Hutan Cakrawyuha. Tempat yang dipenuhi dengan padang rumput terlihat Hanabi, Litha dan Iris bertarung melawan Ren dan Hyuga.
Serangan kombinasi dari Hanabi, Litha dan Iris membuat kedua pria tersebut berpikir dua kali untuk meremehkan kekuatan ketiga gadis muda itu.
“Kita terpisah dari Kakak Yuri dan Kakak Masayu...” Litha melepaskan aura tubuhnya dan memainkan pedangnya menahan serangan jarak jauh yang dilepaskan Ren.
“Yuri dan Masayu dikepung pasukan dari Kekaisaran Rakuza. Kita tidak bisa membantu mereka karena kedua orang ini...” Hanabi menanggapi perkataan Litha dan terus menaikan kewaspadaannya.
“Jadi ini Hutan Cakrawyuha, tempat tinggal kalian berdua...” Iris mengamati daerah sekitarnya. Walau ilusi, tetapi semuanya terasa begitu nyata.
“Ya, tetapi ini adalah bagian luarnya.” Litha menangkis serangan jarak jauh yang dilesatkan oleh Ren kembali.
Gunter terus memainkan serulingnya. Ketika ada bala bantuan pasukan militer Kekaisaran Kinai, dia paksa masuk ke dalam ilusi Hutan Cakrawyuha.
Serangan dari berbagai arah membuat Hanabi, Iris dan Litha saling melindungi. Prajurit militer Kekaisaran Kinai bukan hanya menyerang ketiga gadis muda itu saja, tetapi Ren dan Hyuga juga menjadi korban serangan pasukan militer Kekaisaran Kinai.
“Hanabi, Litha, jangan saling menjauh. Kita bertiga harus saling melindungi!” Iris berkata pada Litha dan Hanabi sebelum membekukan tanah yang dipijak prajurit militer Kekaisaran Kinai.
__ADS_1