Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 234 — Takdir Benang Merah Kagutsuchi


__ADS_3

Litha dan Iris berdiri bersamaan, kemudian mereka berdua berjalan berdampingan menuju tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau.


Nagato melirik Hanabi yang juga sedang meliriknya. Tidak ada senyum yang ditunjukkan Nagato maupun Hanabi. Keduanya saling menatap sengit, terutama Hanabi yang terlihat begitu terobsesi bertarung melawan Nagato.


“Ada apa dengan tatapan matamu itu?” Nagato membatin ketika melihat mata Hanabi menyipit.


Sementara itu penonton yang sedang duduk tenang dan menyaksikan dari atas tribun saling membicarakan Litha dan Iris yang menjadi perhatian utama mereka.


“Dua Bidadari Fuyumi... Aku bertaruh Fuyumi Litha yang akan memenangkan pertandingan ini...”


“Aku mendukung Fuyumi Iris. Sejak awal aku sudah mengangumi pertarungannya...”


“Tetapi, tahun ini empat peserta yang lolos ke final semuanya pemula. Dan yang paling menarik perhatian adalah Fuyumi Nagato yang menjadi peserta laki-laki yang lolos selain Dua Bidadari Fuyumi dan Misuzawa Hanabi...”


“Kita lihat saja pertarungan mereka...”


Penonton terdiam ketika Litha dan Iris sampai di tengah lapangan Arena Lingkaran, terlihat Gyuki sedang memberikan arahan pada kedua gadis cantik itu.


“Ambil jarak dan tunggu aba-aba pertandingan dariku...” Gyuki memberi tanda pada Iris dan Litha agar menjaga jarak, “Apa kalian berdua telah siap?”


Litha dan Iris menganggukkan kepalanya, melihat itu Gyuki tersenyum tipis dan menarik napas dalam-dalam sebelum dia bersuara lantang.


“Dengan ini pertandingan antara Fuyumi Iris melawan Fuyumi Litha dimulai!” Gyuki memulai aba-aba pertandingan sambil melihat Litha dan Iris bergerak hampir bersamaan ketika dirinya memulai aba-aba pertandingan.


“Aku tidak akan mengalah, Litha...” Iris membentuk pedang es dengan tenaga dalamnya, matanya menatap tajam Litha yang sedang menangkis tebasan pedangnya.


“Aku juga tidak akan mengalah, Iris!” Litha tersenyum tipis dan memainkan pedangnya dengan lincah.


“Seni Napas Sirih : Bentuk Halus...” Litha menarik napas dalam-dalam dan menyalurkannya ke seluruh tubuhnya, “Putaran Jarum Air!”


Iris tersenyum tipis melihat teknik pedang Litha, kemudian dia menjaga jarak dari Litha. Sementara itu telapak tangannya membuka, “Kakak dan adik sama saja...”


Iris memanipulasi aura tubuhnya menjadi es dan membentuk ratusan jarum untuk menahan serangan Litha.


“Sudah kuduga tidak akan mudah...” Litha kembali bergerak dengan cepat dan memainkan pedangnya menyerang Iris.


Benturan pedang terus menggema di seluruh sudut Arena Lingkaran Harimau, permainan pedang Litha dan Iris berhasil memukau seluruh penonton.


Tebasan Litha dan Iris meningkat tajam, hasil dari serangan mereka membuat hembusan angin menyebar membuat debu berterbangan, diiringi percikan air dan salju yang di udara.


“Tarian Peri Salju!”


“Tarian Peri Air!”


Penonton kembali dibuat berdecak kagum dengan permainan pedang Litha dan Iris yang tak henti-hentinya terus bertukar teknik pedang mereka.


Ketajaman dan aura yang keluar dari setiap tebasan pedang Litha dan Iris membuat keduanya bertarung sangat serius untuk saling mengalahkan.


Litha terus menyerang Iris dari berbagai arah, begitu Iris yang melakukan hal yang sama dengan Litha.


“Mengalir Seperti Air!”


Litha menggunakan teknik yang sama dengan Kakek Hyogoro, serangannya membentuk aliran air yang mengalir di udara. Namun ketika pedang Litha berbenturan dengan pedang Iris, aliran air yang mengalir di udara itu membeku dengan cepat.


“Pedang Bunga Salju...” Iris menahan tebasan pedang Litha dan mengeluarkan aura tubuhnya dalam jumlah besar, “Salju Layu...”


Ketika dua teknik pedang saling bergesekan, Litha dan Iris terpental ke tanah bersamaan.


Litha dan Iris menggunakan kekuatan penuh mereka sejak awal, dan tak lama untuk pertama kalinya Litha memanipulasi aura tubuhnya menjadi air.


Ketika tubuh Litha hampir membentur tanah, pelindung air membuat tubuh Litha tertahan di udara, begitu juga dengan Iris yang tubuhnya ditahan pelindung es.


“Seni Napas Sirih : Bentuk Kasar!”


Litha dapat dibekukan oleh Iris mengingat gadis cantik yang merupakan adik sepupu Nagato itu membungkus tubuhnya dengan aura tipis tak kasat mata.


Litha mengolah pernapasan dan mengamati pergerakan Iris yang sedang memanipulasi aura.


“Pernapasan Pelangi Surgawi : Bentuk Biru...”

__ADS_1


Ketika Litha sudah berada di depan Iris, serangan dari teknik barunya membuat Iris terkejut, “Putaran Ombak Air!”


Ombak air yang mengalir di udara dan membentuk pusaran air ketika pedang Iris menahannya membuat penonton berdecak kagum.


Iris menyalurkan aura tubuhnya pada bilah pedangnya, perlahan ombak air membeku di udara. Namun dalam sekejap Litha memotong tekniknya yang dibekukan Iris dan bertukar serangan dengan teman yang kini menjadi lawannya itu.


Iris mempunyai banyak teknik pedang, hanya saja dia tidak pandai memberi nama teknik pada jurusnya sendiri sehingga Iris tidak membatin menyebut nama teknik jurus pedangnya.


“Lintasan Biru Muda!”


Litha menggunakan teknik yang sama seperti Nagato terus-menerus, namun setiap kali dia menyerang sekuat tenaganya, serangannya juga dibekukan Iris dengan sekuat tenaga.


“Ombak Air!”


Lagi-lagi serangan Litha dibekukan, melihat itu Litha berdecak kesal. Wajahnya dipenuhi keringat, begitu juga dengan Iris.


Iris menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan-lahan, “Aku seperti melawan Nagato... bahkan seingatku, Litha baru belajar bela diri saat dia telah sampai di kediaman kakeknya. Aku yang lebih dahulu belajar bela diri bersama ibu saja sampai dibuat seperti ini. Adik Nagato memang beda...”


Iris kembali melesat ke depan bersamaan dengan Litha. Keduanya bertukar serangan dan terus berusaha saling menjatuhkan.


“Mawar Salju Rembulan!” Iris membatin menyebut nama jurusnya dan mengarahkannya pada Litha.


“Terusan Biru...” Litha juga melakukan hal yang sama dengan Iris.


Tepat setelah kedua teknik berbenturan, serangan Litha membeku dan serangan Iris menghancurkan teknik serangan Litha.


Keduanya terlihat sudah mencapai batas karena terus-menerus memanipulasi aura tubuhnya. Litha berusaha berdiri dan menatap Iris yang sedang mengatur napasnya.


“Sirih...”


Litha menarik napas dalam-dalam dan melesat cepat mengincar Iris. Banyak yang penasaran dengan serangan Litha.


“Weapon Aura...”


Iris melebar matanya, tidak dengan Litha yang sekarang menggunakan kekuatan sihirnya. Pedangnya kini bercahaya biru muda dan terang.


“Blue Aura...” Litha memanipulasi mana yang ada di sekitar tubuhnya untuk membuat sebuah aura berwarna biru yang mengelilingi pedangnya, “Siren!”


Gyuki memberi tanda pada Litha agar tidak melukai Iris. Sementara itu penonton terdiam lama karena melihat permainan pedang Litha yang berubah.


“Pemenangnya Fuyumi Litha!” Tepat setelah Gyuki mengumumkan Litha sebagai pemenangnya, Iris terlihat kecewa karena dirinya lengah, namun ketika tangan Litha menarik tangannya, Iris berdiri, menyambutnya dan memberi ucapan selamat kepada Litha.


“Selamat Litha...” Iris dengan suara yang bergetar memberi ucapan selamat kepada sahabatnya, “Aku tidak tahu harus mengucapkan apa padamu...”


Litha tertawa lirih dan menghela napas panjang, “Bagaimanapun aku dan Nagato mempunyai seorang ibu penyihir. Beda dengan Nagato yang ahli berpedang dan memanipulasi aura. Aku lebih menyukai belajar memanipulasi mana dan ingin menggunakan kekuatan sihirku sebagai pendukung untuk Nagato dan tentunya kamu, Iris...”


Litha tersenyum dan berjalan kembali ke bangku penonton, Iris mengikuti Litha dari belakang dan merasa kagum dengan adik sepupu Nagato itu.


Gyuki yang mendengar sedikit pembicaraan Litha sempat menangis sesenggukan. Bagaimana tidak, dia adalah salah satu orang yang mengetahui istri dari Pandu adalah seorang penyihir. Dan itu membuktikan jika Nagato adalah anak Pandu, sedangkan Litha adalah adik sepupu Nagato.


“Selanjutnya kita sambut satu-satunya peserta laki-laki yang lolos ke babak final. Fuyumi Nagato...” Gyuki menatap Nagato yang berjalan berdampingan bersama Hanabi, “Dan kita sambut satu-satunya peserta perempuan yang lolos keb babak final dan berasal dari Klan Misuzawa. Misuzawa Hanabi....”


Penonton bergemuruh ketika mendengar perkataan Gyuki. Terlihat Nagato dan Hanabi yang berpapasan dengan Litha dan Iris.


Tidak ada yang menyapa karena Hanabi menatap Nagato sengit bahkan gadis itu terus menempel di dekat Nagato.


“Jangan menahan diri, Nagato.” Hanabi angkat bicara dan memegang tangan Nagato, “Jika kamu mempermainkanku. Aku akan membencimu seumur hidupku!”


Nagato menaikan alisnya, “Aku sulit melukai seorang perempuan.”


Perkataan Nagato membuat Hanabi melepaskan aura tubuhnya untuk mengintimidasi Nagato, “Aku pikir kamu adalah seorang laki-laki sejati, jangan permainkan perasaan seorang perempuan, Nagato!”


Beberapa pendekar yang mendengar pembicaraan Nagato dan Hanabi hanya bisa diam dan merasa canggung, karena di mata mereka Nagato dan Hanabi seperti seorang kekasih yang bertengkar.


Nagato berjalan dan menghiraukan perkataan Hanabi. Baik Nagato maupun Hanabi tidak ada yang berbicara lagi, kini mereka berdua fokus berhadapan satu sama lain, namun Nagato terlihat memiliki keraguan di hatinya.


Nagato selalu diajari Sarah, mendiang ibunya. Agar jangan melukai seorang perempuan, apalagi membuat seorang perempuan menangis. Walau memiliki sifat yang arogan dan dingin, Nagato selalu menyeka air mata yang menetes seperti Litha, Iris dan Shirayuki.


Mungkin itu adalah berkat ajaran Sarah yang mengajari Nagato tentang cinta dan kasih sayang. Bahkan Nagato sekarang berpikir keras mencari cara untuk mengalahkan Hanabi tanpa melukai gadis berambut hitam kemerah-mudaan itu.

__ADS_1


“Apa kalian masih ingat peraturannya?” Hanabi dan Nagato mengangguk pelan, Gyuki merasakan ketegangan dari kedua peserta. Entah takdir seperti apa yang sedang mereka tanggung, tetapi Hanabi dan Nagato terlihat memiliki banyak kesamaan. Ambisi.


“Baiklah, dengan ini, pertandingan antara Fuyumi Nagato melawan Misuzawa Hanabi...” Gyuki melihat Nagato dan Hanabi sambil melompat ke belakang, “Dimulai!”


Hanabi langsung bergerak dengan cepat ke arah Nagato yang baru saja memegang sarung pedangnya, “Pedang Sakura...”


“Lawan aku, Nagato!” Hanabi memainkan pedangnya dengan lincah dan memberikan luka tusukan di sekujur tubuh Nagato, “Sakura Yang Mengalir!”


Nagato melebar matanya dan terpental ke belakang melihat permainan pedang Hanabi yang cukup brutal, “Pernapasan Pelangi Surgawi : Bentuk Merah!”


Nagato mengolah pernapasan dan menahan tebasan pedang Hanabi. Sekuat tenaga dia tidak ingin melukai Hanabi, namun melihat tatapan Hanabi yang sebegitu serius melawan dirinya. Nagato tersenyum tipis dan mulai menggunakan teknik pedangnya.


“Lintasan Jingga!”


Hanabi menahan tebasan Nagato dengan baik, namun gadis berambut hitam kemerah-mudaan itu menyadari Nagato tidak berniat melukainya, dan tidak menggunakan kekuatan penuhnya.


“Aku kecewa padamu, Kagutsuchi Nagato...” Hanabi menendang perut Nagato ketika pemuda itu terdiam karena mendengar perkataannya.


Nagato mengernyitkan dahinya, “Hanabi, tolong rahasiakan ini...”


“Kalau begitu lawan aku dengan segenap kekuatanmu, Nagato!” Hanabi memotong perkataan Nagato dan menyerang pemuda itu.


“Ombak Api...”


“Lintasan Daun Sakura!”


Ketika teknik Nagato dan Hanabi berbenturan, Hanabi kembali menyadari Nagato tidak menggunakan kekuatan penuhnya.


Terasa dari tebasan pedang Nagato yang tidak dalam dan berisi, walau berisi tenaga dalam, tebasan pedang Nagato membuat kerusakan pada tanah, bukan Hanabi.


Hanabi terus menyerang Nagato dan bertukar serangan selama dua puluh menit. Semakin lama mereka bertarung, Hanabi menyadari Nagato berniat mengulur waktu untuk membuat aura tubuh Hanabi terkuras habis terlebih dahulu.


Nagato menyadari Hanabi mulai membencinya, tetapi dia sendiri tidak bisa melukai Hanabi. Hatinya berkecamuk karena merasakan sakit saat Hanabi menatapnya penuh kebencian.


“Sakura...”


Hanabi berniat mengalahkan Nagato dengan serangannya yang bahkan mengalahkan sepuluh pendekar muda jenius.


“Tapak Sembilan Pohon Sakura Berguguran!”


Nagato memanipulasi aura tubuhnya dan menyalurkannya pada pedangnya sebelum membakar daun-daun sakura yang menyerangnya.


“Kehalusan Sakura Bersemi!”


Hanabi merapatkan giginya melihat Nagato dengan mudah membakar serangannya, hatinya merasa kecewa pada pemuda yang dia kira dapat membuatnya termotivasi untuk menjadi lebih baik, namun sekarang Hanabi sudah membuang kekagumannya pada Nagato yang menjadi tujuannya untuk mengalahkan pemuda tersebut.


Hanabi melancarkan serangan ke sembarang arah dan itu membuat Nagato merasa bersalah. Benturan pedang mereka berdua menyuarakan suara nyaring isi hati Nagato yang dilema dan suara nyaring isi hati Hanabi yang kecewa.


“Maaf, Hanabi...” Nagato melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar, begitu juga dengan tenaga dalamnya, “Ruang Hampa...”


Nagato mengambil pedang sakura yang dipegang Hanabi. Semua penonton terkejut melihat Hanabi yang terdiam.


Hanabi melirik Nagato yang membuatnya terkejut, namun keterkejutannya kalah dengan kekecewaannya pada Nagato.


“Nagato, aku membencimu...” Hanabi menggertakkan giginya ketika aura tubuhnya terkuras habis, ketika tubuhnya terjatuh, Nagato menahan tubuh Hanabi, namun gadis berambut hitam kemerah-mudaan itu menepis tangan Nagato.


“Jangan sentuh aku!” Hanabi menatap Nagato sengit, “Aku kecewa padamu...”


Gyuki mengakhiri pertandingan dan menyadari Hanabi telah sampai pada batasnya.


“Pemenangnya Fuyumi Nagato!” Gyuki mengakhiri pertandingan dan menutup babak 8 besar Turnamen Harimau Kai dan babak semi final yang digelar di hari yang sama.


“Dengan ini besok kita akan mengadakan babak final Turnamen Harimau Kai yang akan digelar di sore hari...” Gyuki bersuara lantang dan melirik Nagato yang masih berdiri di tengah lapangan cukup lama sebelum menyusul Hanabi.


“Besok kita juga akan menggelar perebutan juara satu dan juara dua antara Fuyumi Nagato melawan Fuyumi Litha...” Gyuki menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan-lahan, “Dan kita akan menggelar perebutan juara tiga antara Fuyumi Iris melawan Misuzawa Hanabi...”


“Terimakasih pada hadirin sekalian yang telah menyempatkan waktu untuk menonton pertandingan Turnamen Harimau Kai. Saya Gyuki, selaku wasit pertandingan, undur diri...” Gyuki berjalan memasuki lorong Arena Lingkaran Harimau.


Dengan begitu besok akan menjadi perebutan juara Turnamen Harimau Kai yang mempertemukan antara Nagato melawan Litha.

__ADS_1


Sementara itu Hanabi akan melawan Iris untuk memperebutkan juara ketiga.


__ADS_2