
Mata penonton melebar melihat Kenji yang terhimpit dua dinding tanah berbentuk persegi. Ledakan di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau terjadi ketika Kenji berteriak sembari mengeluarkan teknik pedangnya.
"Pusaran Angin Utara!"
Tubuh Kenji terhuyung setelah menghancurkan dua dinding tanah yang menghimpit tubuhnya, matanya menatap tajam Ashiya yang masih tetap berdiri tegak di tempatnya.
Setelah Kenji berdiri tegak sepenuhnya, serangan pedang tanah dilancarkan Ashiya ke arah Kenji. Tidak ada ampun untuk Kenji yang baru saja terbebas dari dua dinding tanah yang menghimpit tubuhnya.
Kenji memainkan pedangnya sambil mengolah pernapasan dan memotong pedang tanah yang dilesatkan oleh Ashiya yang mengarah padanya.
"Aku sudah berbeda dari tahun lalu," ucap Kenji di tengah-tengah pertarungan.
"Kau memang berkembang, tetapi aku tidak boleh kalah disini." Ashiya menanggapi ucapan Kenji dan melepaskan aura tubuhnya yang berwarna coklat ke arah Kenji.
Ashiya menekan aura tubuhnya yang berwarna coklat untuk mengintimidasi Kenji. Aura miliknya jauh lebih besar dari Kenji sehingga dia dapat dengan mudah membuat Kenji gemetar karena aura intimidasinya.
"Hujan Seribu Jarum Tanah."
Ashiya menggerakkan tangannya dan melepaskan serangan seribu jarum yang terbentuk dari tanah yang melesat cepat ke arah Kenji. Kecepatan dari serangan yang dilancarkan Ashiya membuat Kenji berulang kali memutarkan tubuhnya sambil menebasakan pedangnya menciptakan pusaran angin.
Berulang kali Ashiya melancarkan serangan yang sama, begitu juga dengan Kenji yang menahannya dengan pusaran angin dari tebasan pedangnya. Pertarungan jarak jauh berlangsung sekitar lima menit, tidak berapa lama Ashiya menarik pedangnya dan bergerak dengan cepat menyerang Kenji.
Benturan pedang terjadi ketika Kenji menangkis tebasan pedang yang diayunkan Ashiya. Keduanya bertukar serangan selama beberapa menit, serangan tebasan pedang Ashiya sangat agresif dan membuat Kenji cukup kesulitan ketika menangkis serangan tebasan beruntun yang dilesatkan Ashiya.
"Hembusan Angin Tak Kasat Mata!"
Kenji diam-diam sudah siap melakukan serangan mendadak pada Ashiya. Dadanya tidak terlalu mengembung, dan itu berhasil mengecoh Ashiya. Mulut Kenji menghembuskan angin yang sangat tajam melesat cepat ke arah dada Ashiya.
"Sepertinya dia tidak ingin pertandingan ini cepat berakhir! Baiklah, akan aku perlihatkan permainan pedangku!" Ashiya membatin dalam hatinya sembari berlari ke arah angin yang mengarah padanya.
Ashiya mencoba menangkis angin tajam yang dilesatkan Kenji tetapi lengan kanan dan pipinya terkena luka goresan sayatan angin dan berdarah. Tebasan pedang Ashiya tidak berhasil menangkis seluruh serangan angin yang dilesatkan Kenji.
Setelah melihat dirinya tidak berhasil menangkis serangan yang dilancarkan Kenji sepenuhnya, kini Ashiya mendekati Kenji dan bertukar serangan dengan lawannya tersebut. Ashiya mengaliri bilah pedanganya dengan aura tubuhnya yang berwarna coklat sedangkan tangan kanannya dia aliri tenaga dalam.
Tangan kanan Kenji merasakan tebasan pedang Ashiya sangat berbeda dari sebelumnya, sekarang setiap tebasannya sangat kuat dan berisi, bahkan jika Kenji tidak melapisi bilah pedangnya dengan aura tubuhnya mungkin pedang yang menjadi senjata utamanya akan terpental jauh karena menangkis serangan beruntun tebasan pedang Ashiya.
"Kenapa kau tidak belajar dari kekalahan?" Ashiya menaikan alisnya menatap tajam Kenji. Mulutnya terlihat terbuka sedikit, sedangkan giginya menggertak. "Bukankah kau sudah tahu jika kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku?!" Kenji terpental ke belakang, dadanya terkena tusukan pedang Ashiya.
"Ugh! Sial!" Kenji menyeka darah yang ada di dadanya dan meringis menahan sakit.
"Ada kalanya seorang lelaki harus berusaha sekuat tenaga walau sudah mengetahui hasilnya. Aku hanya ingin berjuang semampuku agar dia bisa menerimaku, setidaknya jika aku ditolak ..., aku bisa tersenyum puas karena telah berjuang sebisanya untuk mendapatkan hatinya." Kenji tersenyum menatap tajam Ashiya yang mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti sama sekali!" Ashiya mengayunkan pedanganya dan langsung melancarkan serangan teknik pedanganya pada Kenji.
"Hamparan Tanah Berguguran!"
Suara benturan pedang yang saling dilapisi aura terlihat jelas di udara, gesekan aura dan pedang membuat angin berhembus di tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau. Kenji mampu menangkis tebasan pedang Ashiya dan sudah bersiap melancarkan serangan balik.
"Hembusan Angin Dalam Sayatan!"
Benturan aura berwarna coklat dan hijau muda terlihat di sekitar pedang Ashiya dan Kenji yang saling bergesekan, mata keduanya saling menatap tajam.
Tidak berapa lama keduanya melakukan gerakan yang sama, Ashiya memutar ke samping dan mengayunkan pedangnya, begitu juga dengan Kenji, pemuda yang berasal dari Klan Kitakaze itu melakukan hal yang sama dengan Ashiya. Kini Ashiya dan Kenji bertukar serangan dan berpindah-pindah tempat ketika saling menebasakan pedang mereka.
Kenji bergerak lebih cepat mendekati Ashiya sambil menebasakan pedangnya, gerakan langkah kakinya berulang kali melakukan tipuan lembut yang membuat Ashiya menjadi fokus bertahan.
Dengan lihainya Kenji menebasakan pedangnya pada Ashiya. Kini dia berhasil membuat lawannya itu terdesak, kesempatan ini membuat Kenji berhasil membalas luka yang dia dapatkan dengan melakukan serangan tusukan pada dada Ashiya.
"Kau telah berkembang..." Ashiya meringis menahan sakit, tetapi dia mencoba tetap tersenyum. Pemuda berambut perak itu mengaliri pedangnya dengan tenaga dalamnya dan menebasakan pedangnya dari jauh.
Kenji dapat menangkis serangan Ashiya dengan mudah, dia merasa telah berubah dari dirinya satu tahun yang lalu, tetapi lawannya belum mengeluarkan seluruh kekuatannya, Kenji sangat mengetahui hal itu sehingga dia berniat bertarung habis-habisan melawan Ashiya sejak awal pertandingan.
Kini Kenji kembali mendekati Ashiya dan memaksa lawannya itu untuk beradu tebasan dari jarak dekat, benturan pedang kembali menggema ketika Kenji mendominasi serangan, sedangkan Ashiya bertahan.
Dalam suatu kesempatan, Kenji melihat celah ketika Ashiya terlihat mundur dan kakinya tidak sengaja menginjak batu. Keseimbangan tubuh Ashiya sedikit goyah, tebasan pedang Kenji mendarat tepat di dadanya dan membuat Ashiya terkena sayatan di dada kirinya.
"Jurus Angin : Hembusan Pedang Tak Kasat Mata."
Ashiya terkejut melihat dada kirinya terkena tebasan Kenji. Pemuda berambut perak itu menggertakkan giginya dan melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah yang besar.
Ashiya memusatkan aura tubuhnya pada bilah pedangnya, melihat Kenji yang mengeluarkan teknik pedangnya, Ashiya juga melakukan hal yang sama dengan lawannya tersebut.
Pedang Ashiya bercahaya berwarna coklat, tidak berapa lama dia juga melakukan hal yang sama dengan Kenji. Gerakan langkah kakinya hanya mengikuti arah ayunan pedang Kenji sembari tangannya yang memegang pedang menangkis setiap tebasan yang dilesatkan oleh Kenji.
"Ledakan Tanah Dalam Sayatan."
Ashiya dan Kenji saling menebasakan pedangnya, keduanya menahan benturan pedang mereka. Kaki mereka berdua sekarang menjadi pijakan agar mereka tetap berdiri, sedangkan tangan mereka menahan benturan teknik yang sangat menguras tenaga tersebut.
"Seranganmu memang lebih mematikan dari seranganku dan kau berhasil melukai dadaku." Ashiya tersenyum menatap tajam mata Kenji. "Tetapi ketika kita saling membenturkan teknik yang memakai aura tubuh, maka pemenangnya adalah orang yang mempunyai aura tubuh lebih kuat dan besar!"
Kenji merapatkan giginya, dia sudah mengetahui hal tersebut. Namun tetap saja jika Ashiya mengatakan hal tersebut padanya, rasanya seolah-olah perjuangan Kenji sejak awal adalah hal yang sia-sia.
"Aku tidak peduli dengan hal itu!" Kenji berteriak sengit menatap balik tatapan tajam Ashiya.
__ADS_1
"Apa?!" Ashiya terkejut melihat Kenji yang mengerahkan seluruh kekuatannya.
"Apapun yang terjadi aku harus memenangkan pertandingan ini!" Hembusan angin terlibat lebih kencang dari sebelumnya.
Ashiya menebaskan pedangnya lebih kuat dari sebelumnya kepada Kenji. Tebasan beruntun dan serangan yang tidak ada henti masih bisa ditangkis Kenji.
"Terbelah Dalam Kehampaan Yang Tak Berujung!"
Benturan pedang terjadi lagi, aura tubuh yang berwarna coklat dan hijau muda saling bergesekan. Kenji juga menebaskan pedangnya untuk melakukan serangan terakhirnya.
"Angin Kesepian Dalam Kesendirian!"
Tebasan pedang Ashiya dan Kenji yang dilapisi aura pecah di udara membuat keduanya mengalami luka, serangan Ashiya mampu membuat Kenji melepas pedangnya, sedangkan Ashiya sendiri mengalami luka di dada kanannya karena terkena tebasan pedang Kenji.
Kenji merapatkan giginya dan berdecak kesal, matanya tersirat kesedihan karena dirinya akan merasakan pahitnya kekalahan.
"Sial! Apa yang aku lakukan belakang ini? Padahal menyerah membuat semuanya berakhir lebih cepat daripada terus berjuang dan berakhir sia-sia..." Kenji membatin kesal dalam hatinya. Matanya menatap Ashiya yang sedang berlari ke arahnya.
"Tetapi tetap saja ..., apapun yang terjadi aku tidak ingin menyerah!" Kenji juga berlari tanpa memegang pedangnya, semua penonton terkejut melihat tindakan Kenji.
"Hei, hei, apa kau serius?" Ashiya menebaskan pedangnya dari jauh menciptakan tebasan berbentuk sabit berwarna coklat. Kenji berniat menghindarinya, tetapi aura tubuhnya telah terkuras habis, bahkan sekarang dia memaksakan tubuhnya.
Tebasan pedang Ashiya mengenai dada Kenji. Melihat lawannya masih tetap berusaha melawannya, Ashiya mendekati Kenji dan menendang perut lawannya tersebut hingga tersungkur ke tanah.
Tendangan kembali mendarat ke perut Kenji ketika Ashiya terus menyerang Kenji tanpa henti. Darah segar keluar dari mulut Kenji ketika Ashiya berhasil mendaratkan tendangan ke dalam ulu hatinya.
Kenji kesulitan bernapas dan tidak berapa lama dia mengerang, tubuhnya ambruk ke tanah dalam keadaan yang menyedihkan.
Ashiya menggertakkan giginya melihat Kenji yang telah kalah telak melawannya itu.
"Lebih baik menyerah! Kau telah memaksaku memainkan peran sebagai orang jahat dalam pertandingan ini!" Ashiya berniat menghunuskan pedangnya pada ulu hati Kenji tetapi tubuh lawannya itu telah berhenti bergerak.
"Apa dia telah mati?" Ashiya mengibaskan pedangnya dan menyarungkannya kembali ke dalam sarung pedanganya yang terikat dengan rapi di pinggangnya.
"Cukup! Pemenangnya Ashiya Giyumaru!" Gyuki dalam kecepatan yang tidak dirasakan Ashiya sudah berada di sampingnya.
Dengan sigap, Gyuki memberi isyarat pada tim medis agar segera memberi perawatan pada Kenji.
"Baiklah, kita beralih ke pertandingan selanjutnya..." Gyuki langsung mengakhiri pertandingan dan menatap tajam Ashiya.
"Dia sangat cepat ... aku tidak merasakan apapun selain hawa mencekam dari arahnya." Ashiya membatin dalam hatinya. Matanya melebar menatap tajam Gyuki. Selang beberapa menit kemudian, Ashiya kembali ke bangku penonton tempat pendekar muda tak bermahkota duduk menonton.
__ADS_1
Gyuki menghela napas panjang setelah melihat pertarungan antara Ashiya Giyumaru melawan Kitakaze Kenji.
"Dua peserta tadi bukanlah pemuda yang aku cari. Sepertinya pemuda yang kucari selama tujuh tahun ini adalah memang Fuyumi Nagato." Gyuki membatin dalam hatinya.