Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 97 - Pangeran Menculik Tuan Putri


__ADS_3

Nagato kembali memejamkan matanya dan menghindari setiap pukulan Kera Hitam yang mengarah padanya. Puluhan Kera Hitam terlihat sangat kesal, karena Nagato tidak menyerang balik dan hanya menghindari serangan mereka.


"Yang lainnya berniat menyerangku dari sisi kiri... dan beberapa lainnya berniat menyerangku dari belakang." hati Nagato mencoba memprediksi serangan Kera Hitam dengan instingnya, serangan pukulan dari berbagai arah dapat dihindari dengan mudah oleh Nagato.


Litha hanya melihat pertarungan tersebut dari kejauhan dan mengamati wajah tenang Nagato yang terlihat tampan.


"Nagato, aku ingin hidup lebih lama bersamamu..." gumam Litha lirih, melihat Nagato yang menikmati pertarungan tersebut.


Nagato terus menghindari serangan pukulan Kera Hitam, walau suara bising dari Kera Hitam terdengar keras, tetapi konsentrasi penuh Nagato membuat suara - suara yang tidak perlu baginya, menghilang dari dalam pikirannya.


Kera Hitam mengamuk karena merasa diremehkan Nagato, melihat hal itu Litha tertawa. Karena pertarungan itu menurutnya terlihat sangat lucu. Di sana terlihat Kera Hitam yang terus melancarkan serangan kepada Nagato, tetapi di sisi lain Nagato hanya menganggap Kera Hitam sebagai teman latihannya, untuk meningkatkan konsentrasinya dan ketenangannya dalam pertarungan.


Nagato menghela nafas panjang, dan membalas serangan Kera Hitam dengan pukulan tangannya dan tendangan kakinya. Beberapa Kera Hitam meniru gerakan tendangan kaki Nagato.


Nagato sedikit kesal melihat Kera Hitam mengikuti gerakannya, walau dirinya menikmati pertarungan ini tetap saja dia kesal, karena tendangan kaki cepatnya yang sudah ia latih susah payah selama lima tahun dan Kera Hitam dapat menirunya dalam sekejap.


Beberapa Kera Hitam memukul dadanya dan mengelilingi Nagato. Pertarungan adu kekuatan dan kecepatan terjadi dengan sengit. Nagato tidak mau mengalah, dia telah membuat pingsan puluhan Kera Hitam.


"Bara Api : Lepas." hati Nagato mengeluarkan aura berwarna emasnya dan merubah aura miliknya itu menjadi api padat yang berkobar ditangannya.


Nagato memukul puluhan Kera Hitam dengan pukulan apinya, dia dengan mudah mengalahkan gerombolan Kera Hitam. Karena matahari sudah hampir terbenam dia ingin mengakhiri pertarungan ini dengan cepat.


"Kekuatan pukulannya benar - benar gila..." hati Nagato ketika dia menghindari pukulan Kera Hitam. Hembusan angin dari pukulan Kera Hitam begitu terasa diwajahnya.


Pertarungan dengan Hewan Buas dan Binatang Iblis selama lima tahun, membuat Nagato semakin terasah fisik dan mentalnya. Dia tidak hanya berlatih fisik dan bertarung saja ketika diajari oleh Kakek Hyogoro, tetapi Persaudaraan dan Kerohanian juga diajarkan Kakek Hyogoro pada Nagato dan Litha. Agar mereka berdua benar - benar menjadi manusia yang berbudi luhur.


Nagato membuat beberapa Kera Hitam terkapar di tanah, melihat kehebatan dan ketenangan Nagato, Kera Hitam yang tersisa meloncat - loncat kegirangan kemudian mereka menunduk pada Nagato, terlihat seluruh Kera Hitam meminta Nagato untuk menjadi guru dari mereka. Nagato yang selalu memasang wajah datar, dingin, dan tersenyum tipis itu. Kini dia tersenyum lebar karena melihat puluhan Kera Hitam yang belum pingsan patuh dan tunduk terhadap dirinya.

__ADS_1


"Apa mereka juga akan menuruti perkataanku seperti kalian?" tanya Nagato pada Kera Hitam yang tunduk padanya.


Kera Hitam mengangguk seolah - olah mereka mengerti perkataan Nagato, ketika Nagato tersenyum dan mengangguk pelan, seluruh Kera Hitam memukul dadanya dan terlihat begitu senang.


"Temanku kumpulan pejantan kera..." ucap Nagato sambil menghela nafas panjang, dirinya juga tidak paham tentang pertemanan, hanya saja jika ada orang yang berbuat baik padanya maka Nagato akan membalas kebaikannya.


Litha tertawa cekikikan, melihat Nagato yang berhasil membuat seluruh Hewan Buas Kera Hitam tunduk padanya.


"Nagato, kau mempunyai kharisma yang aneh..." ucap Litha menghampiri Nagato dan berdiri di samping pemuda itu.


"Besok dan seterusnya temani aku berlatih." perintah Nagato kepada Kera Hitam yang kini menjadi pengikutnya.


Nagato kemudian menyuruh Kera Hitam untuk mengawasi setiap sudut Hutan Cakrawyuha. Karena dibenaknya dia teringat penyusup yang masuk ke dalam Hutan Cakrawyuha.


Nagato dan Litha hendak kembali ke tengah hutan, tetapi langkah mereka berdua terhenti, ketika melihat Raja Binatang Iblis Ular Sanca Bertanduk Hitam dan Raja Hewan Buas Gorila Peniru.


"Sial!" Nagato berdecak kesal karena melihat dua Raja lapisan hutan kelima puluh sembilan keluar dari sarangnya.


Tetapi beberapa Kera Hitam mendekat pada Raja Hewan Buas Gorila Peniru dengan berani.


"Uuk - aak... uuk - aak..." Kera Hitam terlihat seperti sedang berkomunikasi dengan Raja Hewan Buas Gorila Peniru, bahkan sesekali Kera Hitam menunjuk - nunjuk Nagato dengan tangan besarnya.


Raja Hewan Buas Gorila Peniru terlihat menghiraukan perkataan Kera Hitam, dan dia lebih memilih untuk bersandar pada pohon besar di Hutan Gugur.


Kera Hitam kembali mendekati Nagato dan mereka terlihat seperti berbicara padanya.


"Apa kau tahu bahasa mereka?" tanya Litha menatap Nagato penasaran.

__ADS_1


"Mereka berkata... raja akan melihat bos bertarung dengan ular itu dan jika aku mengalahkan ular itu, maka gorila yang sedang berlagak seperti pemimpin itu akan menjadi pengikutku..." jawab Nagato dengan tenang, dia menjelaskan apa yang Kera Hitam katakan padanya kepada Litha. Walau Nagato sebenarnya tidak mengetahui apa maksud perkataan dari Kera Hitam itu sendiri.


"Heeh... jadi siapa rajanya?" tanya Litha kembali.


"Gorila," jawab Nagato singkat.


"Bosnya?" Litha kembali bertanya dan terus menatap Nagato.


"Aku," balas Nagato menatap Litha penuh makna.


Litha tersenyum manis pada Nagato dan memegang pedangnya.


"Jadi kita harus bereskan ular ini secepatnya, karena aku belum membuat makanan untuk malam ini." jelas Litha sambil tersenyum manja melihat Nagato.


Nagato mengerutkan dahinya, "Hentikan senyuman manjamu itu..." balas Nagato sambil memainkan pipi lesung Litha lembut dengan kedua tangannya.


"Jangan anggap aku seperti anak kecil." hati Litha ketika Nagato menyentuh pipinya.


Nagato tersenyum sinis ketika melihat Raja Binatang Iblis Ular Sanca Bertanduk Hitam merayap menyerangnya.


"Jangan melawan..." bisik Nagato pelan di telinga Nagato, kemudian dia menggendong Litha dalam pelukannya sambil berlari menjauh dari Raja Binatang Iblis Ular Sanca Bertanduk Hitam yang mengejarnya.


Wajah Litha merah merona, dengan malu dia memeluk tubuh Nagato dan menempelkan telinganya pada jantung Nagato.


"Detak jantung yang begitu tenang, dekapan tangannya... membuatku merasa nyaman berada didekatnya..." gumam Litha menatap wajah datar Nagato penuh makna.


Nagato melihat Litha, "Apa kau tadi mengatakan sesuatu..." ucap Nagato sambil terus melangkahkan kakinya lebih cepat.

__ADS_1


Litha terdiam dan tersenyum manis, dia memegang leher Nagato.


"Aku tidak mengatakan apapun..." balas Litha pura - pura bersikap seperti biasanya. Walau sebenarnya dia sangat bahagia karena Nagato membawa tubuhnya seperti dongeng yang mendiang ibunya ceritakan ketika dia berada di Kota Roshima, tentang seorang pangeran yang menculik putri kerajaan.


__ADS_2