Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 262 — Aura Dewa Kematian II ~ Gunakan Sepenuhnya


__ADS_3

Promosi :


Malming ini Crazy Up, Novel Dragon Warrior Pair. Habis baca ini jangan lupa mampir ya. Klik aja profilku. Terus follow sekalian hehe. Kalau bisa masuk grup biar rame dikit grupku. Soalnya bikin note di chapter agak ngeganggu sebenarnya. Tapi kalo kalian masuk kan enak kalau mau sampeinnya.


Habis ini baca ya Dragon Warrior Pair. Di tunggu loh.


“Maksa amat sih. Promo Dragon Warrior Pair terus, ganggu aja,” benak pembaca. Wkwkwk.


___


“Kenapa dia bisa berada disini?!" Wajah B-Town pucat pasi melihat kecepatan Nagato. Belum sempat bergerak. Nagato kembali mengincarnya.


“Aura ini membuat seluruh inderaku meningkat tajam...” Nagato tersenyum sinis sebelum menebas B-Town dalam satu kali tebasan yang begitu cepat.


“Kalian berdua membuatku muak! Tidak ada masa muda! Tidak ada gairah muda!” Nagato mengernyitkan dahinya melihat bilah pedangnya yang di pegang oleh pria bernama Bravo.


“Bravo...” B-Town menelan ludah dan merasa lega karena selamat. Mengingat dirinya hampir terbunuh oleh tebasan pedang Nagato. Kemudian tangan kanannya merogoh sesuatu di sakunya.


Pil berwarna merah darah dia telan. Pil itu membuat auranya bertambah besar. Mata B-Town menatap Nagato penuh kebencian sebelum melesat ke depan menyerang Nagato.


“Kupecahkan kepalamu, bocah!” Tangan kanan B-Town membentuk cakaran. Tak lama cakar aura itu semakin membesar. Aura berwarna biru yang membentuk cakar Hewan Buas itu menyerang Nagato dengan cepat.


Suara ayunan pedang terdengar begitu cepat. Nagato menahan serangan yang dilesatkan oleh B-Town kepada dirinya. Sambil bertukar serangan dengan B-Town yang tidak memberikan ruang pada dirinya untuk melemahkan pertahanannya, Nagato memainkan pedangnya dengan lincah.


“Berapa harga yang kau bayar dengan aura itu?” Nagato berkata dengan tenang. Mendengar itu, B-Town mengerutkan dahinya dan melepaskan puluhan pukulan kepada dirinya.


“Bocah sepertimu jangan menceramahiku!” B-Town berteriak. Lengan kanannya membesar. Puluhan pukulan berubah menjadi ratusan. Nagato memainkan pedangnya dengan cepat. Serangan B-Town bisa dia lihat dengan jelas arah ayunan pukulan tangan tersebut.


“Putaran Matahari!” Nagato melepaskan aura tubuhnya dan membuat serangan yang berbeda dari biasanya. Sebuah putaran api membentuk matahari kecil terlihat dipunggungnya.

__ADS_1


“Ini adalah teknik yang kulatih dan kuciptakan sendiri.” Nagato berkata sambil mengintimidasi B-Town yang masih terlihat trauma setelah kehilangan tangan kirinya.


Nagato menebaskan pedangnya dengan begitu cepat. Kali ini Bravo tidak dapat menolong B-Town dan hanya tersenyum menyeringai melihat api membakar dan menebas tubuh B-Town, temannya di Organisasi Laba-Laba Malam itu.


A-Town melihat adiknya ambruk ke tanah dan menghembuskan napas terakhirnya. Tanpa pikir panjang dia melesat ke depan dan menyerang Nagato.


“Bocah! Kau harus membayarnya dengan nyawamu!” A-Town berteriak. Pukulan tangannya membuat ledakan yang cukup besar. Benturan pukulan tangan dan tangkisan pedang menggema.


Nagato mengikuti arah serangan A-Town dan mengamati Bravo yang membunyikan lehernya. Tindakan Bravo membuat Nagato waspada.


“Jangan alihkan pandanganmu!” A-Town geram melihat serangannya dapat ditahan Nagato dengan baik.


“Aku hanya memperkirakan teman-temanmu yang akan menyerangku. Saat ini aku tidak bisa hanya fokus terhadapmu, seorang anak berumur dua belas tahun melawan kalian orang dewasa. Bukankah kalian semua terlihat seperti seorang ksatria berjiwa pecundang...” Nagato mengibaskan pedangnya dan mengatakan perkataan yang sinis kepada A-Town dan teman-temannya dari Organisasi Laba-Laba Malam.


“Itu baru masa muda! A-Town jika kau mati, aku akan merekomendasikan anak ini menggantikan kalian berdua!” Bravo menyilangkan kedua tangannya dan melepaskan nafsu membunuh yang membuat A-Town berkeringat dingin.


“Kalian sepertinya tidak ada rasa setia kawan sama sekali. Teman kalian baru saja mati ditanganku. Tetapi kalian semua bersikap seolah tidak terjadi apa-apa...” Nagato membuat pelindung dengan aura tubuhnya untuk menahan hawa nafsu membunuh dari Bravo.


Jantung Nagato berdetak kencang. Dia bisa melihat anggota Organisasi Laba-Laba Malam kurang lebih telah mengalami masa lalu pahit sama seperti dirinya.


“Agar teman-temanmu mengerti dirimu, dan tidak mengatakan hal yang tidak pernah mereka rasakan. Bukankah kita harus membunuh orang tua mereka. Agar manusia saling mengerti. Rasa sakit, penderitaan dan kebencian. Semua orang bisa saling mengerti jika merasakan langsung dengan pengalaman yang nyata, bukan kata-kata!” Bravo berteriak di perkataan terakhirnya. Angin berhembus mengenai aura tubuh Nagato yang membentuk pelindung.


“Saat aku melihat kalian, aku bisa mengerti. Kalian sama seperti diriku saat tujuh tahun lalu. Mungkin itu alasanku rela menahan kalian dan membiarkan teman-temanku pergi. Hanya itu saja. Aku tidak akan membuat alasan yang tidak pasti, dan tidak lebih dari ini.” Nagato tidak tersenyum dan mulai melakukan pertahanan dengan pedangnya ketika A-Town melepaskan aura tubuhnya.


“Aku semakin tertarik padamu, anak muda,” ucap Bravo pelan dan melihat A-Town yang melancarkan serangan kepada Nagato.


“Kau bicara seolah-olah pernah merasakan kehilangan seseorang. Kau telah membunuh adikku! Rasakan ini!” A-Town terlihat menggila. Pertarungan ini membuat Nagato merasakan dilema, namun dia membuang perasaan itu jauh-jauh. Semenjak kebahagiaan kecilnya direnggut, dia bingung harus bertindak dan harus berekspresi seperti apa.


Demi melindungi kebahagiaan kecilnya yang lain. Nagato tidak ingin kehilangan seseorang lagi. Dia ingin melindungi apa yang menjadi kebahagiaan dan kebanggaannya.

__ADS_1


“Umur kita berbeda, namun aku sudah melihat neraka dunia yang berbeda denganmu...” Nagato bergerak begitu cepat. Seketika dirinya berada di belakang A-Town sambil menyarungkan pedangnya.


Ketika pedang Nagato masuk ke dalam sarung pedang sepenuhnya. Tubuh A-Town tertebas dan ambruk ke tanah. Teriakannya menggema dan menyeruak masuk ke dalam telinga Nagato.


“Membunuh. Menjadi pembunuh membuatku kehilangan akal sehat sedikit demi sedikit...” Nagato menggumam sendiri dan menatap A-Town beserta B-Town yang tergeletak di tanah.


“Mereka berdua adalah anak orang kaya yang orang tuanya telah mati dibunuh oleh tangan mereka sendiri. Semenjak Kerajaan Ellesmere berada di bawah pasukan Orochi. Mereka berdua datang pada kami. Mungkin inilah balasan dari perbuatan mereka. Tangan yang telah ternoda oleh darah akan mendapatkan balasannya. Baik itu aku, maupun kau, anak muda...” Bravo mendekati Nagato dan melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar sebelum kepalan tangannya membentuk pusaran angin di udara.


“Bergabung dengan kami. Maka kau akan dapat berteman dengan orang-orang yang sama sepertimu. Kami telah membunuh ribuan orang agar mereka saling mengerti. Tidak ada dunia yang lebih indah dari itu bukan?” Bravo memejamkan matanya selama tiga detik sebelum membuka matanya sambil melepaskan hawa nafsu membunuh yang begitu besar.


“Aku memberimu dua pilihan...” Bravo berjalan pelan mendekati Nagato dan melepaskan aura tubuhnya yang menyebar ke arah Nagato dengan cepat, “Pilihan kesatu, bergabunglah bersama Organisasi Laba-Laba Malam. Pilihan kedua, mati disini jika kau menolaknya!”


Nagato menghela napas panjang dan memegang pedangnya lebih erat. Rasa sakit bekas tusukan dari pedang Yami masih sangat terasa di telapak tangannya. Namun sekarang dia telah terbiasa. Sensasi rasa sakit membuat darahnya serasa mendidih dan membuat Nagato lebih berhati-hati sekarang.


“Aku tidak memilih keduanya. Aku tidak akan bergabung dengan laba-laba dan aku tidak akan mati disini!” Tepat setelah Nagato menjawab perkataan Bravo dengan teriakan. Keduanya langsung bertukar serangan.


“Bagus! Itulah masa muda! Penuh gairah!” Pukulan Bravo membuat Nagato terpental ke belakang menabrak reruntuhan bangunan. Sekujur tubuh Bravo membesar. Serangannya benar-benar telah membuat Nagato terkapar.


“Sial! Fisiknya benar-benar mengerikan...” Nagato berdiri dengan cepat sambil mengamati Bravo yang tersenyum menyeringai berjalan ke arahnya.


“Sudah kukatakan. Kau hanya mempunyai dua pilihan. Tapi kau menolak semuanya! Anak muda!” Bravo kembali melesat ke arah Nagato.


“Sepertinya tidak ada pilihan lagi. Kali ini aku harus menggunakannya dengan benar...” Nagato menancapkan pedangnya ke tanah. Seketika aura hitam pekat menyatu dengan aura tubuhnya yang berwarna emas. Kedua aura itu memutar disekitar tubuh Nagato.


Bravo berhenti ketika melihat aura hitam pekat sesaat. Aura hitam pekat yang berbeda. Aura itu adalah aura hitam pekat yang sesungguhnya.


“Anak muda, sekarang kau mulai serius, ya.” Bravo tersenyum lebar melihat aura hitam pekat yang menempel di tubuh kiri Nagato.


Yami, White, Saw dan Key dari Organisasi Laba-Laba Malam hanya diam melihat perubahan Nagato. Mereka tidak ada niat membantu Bravo saat ini, entah selanjutnya mereka akan membantu Bravo atau hanya duduk berdiam diri. Tetapi kesempatan ini akan digunakan Nagato sebaik-baiknya untuk membunuh Bravo.

__ADS_1


Nagato tersenyum tipis dan mengibaskan pedangnya.


__ADS_2