
Tiga belas hari telah berlalu sejak pertempuaran melawan manusia buas, serangan yang didalangi oleh Sekte Pemuja Iblis itu membuat Kota Yasai mengalami kerusakan yang cukup parah.
Para penduduk Kota Yasai saling bergotong - royong untuk memperbaiki gerbang kota dan tembok di bagian selatan, mereka juga ikut membantu membangun kembali rumah dan bangunan milik beberapa penduduk yang tinggalnya didekat gerbang selatan.
Pertarungan Nagato yang mengalahkan manusia buas X 2 menjadi perbincangan hangat diantara para penduduk Kota Yasai.
"Anak muda itu benar - benar luar biasa, aku tidak menyangka dia terus bertarung walau tubuhnya telah terluka." ucap seorang anak muda yang sedang membantu memperbaiki gerbang kota.
"Aku tidak menyangka dia mengalahkan makhluk yang begitu besar dan mengerikan itu hanya dengan batu kerikil." sahut salah satu teman anak muda itu.
"Pemuda itu adalah anak yang cerdik, kalian nanti jangan lupa menjenguknya karena dia belum juga siuman!" perintah Moyashi, wali kota itu terlihat sedang berkeliling kota sambil sedikit membantu.
"Iya, pak wali kota."
"Siap, pak wali kota."
Jawab para anak muda yang sedang membicarakn Nagato secara serentak.
"Aku juga ingin belajar bela diri, agar aku bisa seperti pemuda itu." salah satu anak muda yang berumur tujuh tahun itu terlihat begitu kagum pada Nagato, setelah melihat pertarungannya melawan manusia buas X 2.
Namun mereka tidak sadar bahwa yang mengalahkan manusia buas X 2 bukanlah Nagato, melainkan Roh Dewa Kematian Shinigami yang mengambil alih tubuh Nagato.
Sementara itu di penginapan Kitakaze, Iris masih belum kembali ke kediaman Klan Fuyumi, gadis kecil itu terus mengawasi Nagato sepanjang siang dan malam, bahkan Shirayuki hanya bisa tersenyum dan merasa bangga, karena melihat putri semata wayangnya merasa bersalah pada Nagato.
"Sudah tiga belas hari .... tetapi kamu belum juga bangun Naga." gumam Iris pelan sambil menatap wajah Nagato dengan cemas.
"Iris, kamu makan dulu nak." Shirayuki menghampiri putrinya itu yang hanya duduk seharian menjaga Nagato.
"Tidak bu, aku tidak mau makan." Iris menggelengkan kepalanya.
Litha dan yang lainnya juga ada di ruangan itu, mereka selalu bersama Iris untuk menjaga Nagato.
Shirayuki kemudian menyuruh Oichi dan Ichiba untuk membawa beberapa makanan diberikan pada Iris dan yang lainnya agar para gadis kecil itu mau makan.
Sedangkan Kuina juga mengalami patah tulang pada tulang rusuknya namun tidak terlalu parah, hanya saja luka dalam yang dialaminya cukup parah, membuat gadis itu sulit untuk beraktivitas seperti biasa selama beberapa minggu kedepan, gadis itu telah bangun delapan hari yang lalu, namun dirinya masih berusaha untuk memulihkan diri.
Kuina belum mengetahui tentang kondisi Nagato karena Serlin dan Azai belum memberitahu padanya, jika Kuina mengetahuinya maka hanya akan membuatnya semakin cemas pada Nagato.
Oichi memasuki ruangan kamar Nagato dan menaruh makanan diatas teras kamar untuk para gadis kecil yang menunggunya bangun.
Sedangkan Ichiba sedang mengamati gadis - gadis kecil yang menjaga Nagato.
"Sepertinya anak muda yang namanya Nagato ini bukan dari keluarga biasa." batin Ichiba yang sedang melihat Nagato.
"Kalian harus makan ini, jika Nagato sudah bangun dan dia tahu kalian belum makan karena menjaganya maka yang kalian lakukan hanya membuatnya lebih khawatir pada kalian." Oichi menyuruh Iris dan yang lainnya untuk makan.
"Apa yang akan kalian lakukan? Jika Nagato telah bangun dan mengetahui kalian tidak makan, yang kalian lakukan hanya akan membuat Nagato merasa bersalah pada kalian." Oichi menambahkan.
"Huus, kamu cocok jadi seorang ibu." Ichiba mengelus rambut Oichi.
"Hmmm ... harusnya kakak Oichi yang memarahi mereka, benarkan Tika, Hika!" Oichi tersipu malu karena Ichiba menggodanya.
"Ibu tidak akan memarahi kami, lagi pula Tika juga akan makan, ya kan Hika?" Tika melihat ibunya sendiri yaitu Ichiba.
"Iya, Tika." Hika menjawab singkat.
"Lihat Oichi itu baru anakku, lucu, kan?" Ichiba tertawa melihat tingkah kedua anaknya.
"Heeeh ... iya iya Tika sama Hika memang lucu beda dengan ibunya." gumam Oichi pelan sambil memalingkan wajahnya kesamping.
"Apa katamu?" Ichiba meraba badan Oichi.
"Kalian harus makan, tidak boleh membuang - buang makanan, ingat!" Oichi menahan tangan Ichiba.
Iris dan yang lainnya mengikuti saran dari Oichi, ketika mereka mendengar bahwa hal yang mereka lakukan hanya akan menambah kekhawatiran Nagato bukannya membuat keadaan Nagato semakin membaik.
Oichi tersenyum tipis, kemudian gadis itu menggelengkan kepalanya karena menasihati gadis - gadis kecil itu.
"Yuk, makan." Chiaki mengajak mereka untuk makan.
"Ka-Kakak, tunggu ... " Chaika memegang tangan Chiaki karena malu pada Iris dan dua gadis kembar dari Klan Fuyumi.
Litha hanya diam karena gadis kecil itu juga khawatir pada keadaan Nagato.
"Iris, ayo makan, jangan diam saja." Tika membujuk sahabatnya itu, karena Iris hanya duduk di kursi yang ada disamping ranjang Nagato.
__ADS_1
"Iris ... " Hika menarik tangan Iris secara paksa.
"Tunggu, Hika tanganku ... " Iris berusaha melepaskan tangannya, namun Hika menggenggam tangannya dengan erat.
Setelah itu mereka memakan makanan yang dibawakan Oichi, Iris dan yang lainnya mulai memakan sayur asem setelah mereka berdoa, di mangkuk yang lumayan besar terlihat disitu ada sayur asem yang isinya terong, labu siam, jagung, nangka muda, kacang panjang dan kacang tanah yang dipotong - potong.
Sementara itu di ruangan kamar Kuina, Shirayuki sedang menceritakan apa yang terjadi pada Nagato karena pemuda itu telah melindungi putri semata wayangnya sehingga Nagato mengalami luka yang cukup parah bahkan bisa saja nyawa Nagato yang terancam karena luka dalam ditubuhnya itu.
Kuina yang mendengar perkataan Shirayuki terkejut, gadis itu berniat untuk berdiri namun masih sempoyongan sehingga Shirayuki menyuruhnya untuk kembali tidur di ranjang.
"Tenang ... Kuina." ucap Shirayuki dengan lembut.
"Nagato selalu bertindak gegabah, aku harus memberinya pelajaran." Kuina mengerutkan wajahnya.
"Kuina, ada yang ingin kubicarakan denganmu." raut wajah Shirayuki terlihat serius dan gelisah disaat bersamaan.
"Sepertinya ini hal penting." Kuina menjadi penasaran.
"Sejujurnya aku berniat menjodohkan anakku dengan Nagato, tetapi aku malu untuk mengatakannya padamu." Shirayuki juga malu untuk mengatakannya, mendengar itu Kuina tersedak dan terkejut karena tidak menyangka seorang Shirayuki yang berparas cantik dan terkadang terlihat angkuh itu ingin menjodohkan anaknya dengan Nagato.
"Hehehe ... " Kuina menjadi canggung dan memaksakan diri untuk tertawa.
Shirayuki maupun Kuina tidak mengetahui bahwa pembicaraan mereka didengar oleh Azai dan Serlin yang hendak melihat keadaan Kuina.
"Aku tahu bahwa Nagato adalah anak dari Tuan Pandu." Shirayuki mencoba melanjutkan pembicaraannya, mendengar hal itu Kuina terkejut.
"Aku akan merahasiakannya, aku melihat bahwa Nagato memiliki kutukan kuno didalam tubuhnya, di masa lalu baik diriku maupun Pandu juga memiliki kekuatan surgawi beberapa orang pernah berkata bahwa kekuatan surgawi juga mirip dengan kutukan kuno, tetapi aku mewariskan kekuatan itu pada anakku, karena-." ucapan Shirayuki tertahan karena dirinya seperti mencoba untuk melupakan masa lalu yang ingin dia lupakan.
"Tuan Putri Shirayuki, anu ... itu .. " Kuina bingung ingin berbicara apa, karena dirinya juga tidak terlalu mengerti tentang perjodohan.
"Panggil aku Shirayuki saja lagi pula aku ingin berteman baik dengan kalian." kini Shirayuki tersenyum dengan ramah, membuat wajah Kuina merah merona karena melihat perempuan berparas cantik itu tersenyum padanya.
"Aduh? Kenapa jantungku berdebar, aku ini normal kan, aku bukan Serlin, aku bukan Serlin." batin Kuina sambil menggelengkan kepalanya.
Serlin yang sedang menguping bersama Azai bersin pelan.
"Apa ada yang membicaranku?" gumam Serlin pelan.
"Hah?" Azai terlihat bingung melihat Serlin disampingnya.
"Aku juga tidak ingin memaksa, karena aku juga belum membicarakan hal ini pada Iris." Shirayuki merasa bersalah karena melihat Kuina menggelengkan kepalanya dan terlihat seperti kebingungan.
"Sebaiknya Shri-Shiy-Shira ... aduh!" Kuina menggigit lidahnya sendiri ketika hendak mengucapkan nama Shirayuki.
"Tidak kusangka, kamu itu orangnya pemalu." Shirayuki kembali tersenyum hangat pada Kuina.
"Eh ... " Kuina kini benar - benar malu untuk menatap wajah Shirayuki.
"Anu ... itu ... sebaiknya kita bicarakan ini pada mereka berdua, kita tunggu Nagato bangun." ucap Kuina pelan sambil memalingkan wajahnya kesamping.
Shirayuki tertawa pelan melihat reaksi Kuina yang baginya itu terlihat lucu.
"Baiklah." Shirayuki beranjak pergi meninggalkan ruangan Kuina, ketika dirinya sampai didepan pintu kamar, Shirayuki melihat Azai dan Serlin yang sedang berpura - berpura menghitung jumlah atap - atap penginapan.
"Aku duluan." Shirayuki menyapa mereka berdua dan tersenyum hangat setelah itu dirinya beranjak pergi.
"Huuh, Syukurlah dia tidak mengetahui kalau kita mendengar pembicaraan tadi, aku tidak ingin berurusan dengan perempuan itu lagi." gumam Azai sambil menghela nafas panjang.
"Sumpah, perempan itu sangat cantik huehehehe." Serlin terus menatap Shirayuki yang kian menjauh.
"Hah? Serlin, jangan bilang kamu ... " Azai menjaga jarak dari Serlin.
"Bodoh, aku juga normal, kau pikir aku cewek apaan!" Serlin marah dan masuk ke kamar Kuina.
"Sial! Perempuan memang aneh." gumam Azai pelan.
***
Seorang pemuda yang masih tertidur dirinya masih berada di alam mimpi, mimpi yang begitu panjang, seolah - olah dirinya terus diperlihatkan sebuah masa lalu dan masa depan yang suram.
"Bocah! Aku peringatkan padamu, agar kau menjauh dari perempuan yang bernama Iris itu." suara yang serasa tidak asing bagi Nagato terdengar ditelinganya.
Nagato membuka matanya secara perlahan dan dirinya melihat Shinigami yang sedang menunggu dirinya kembali bangun.
"Aku berada dimana?" Nagato memegang kepalanya yang terasa sakit.
__ADS_1
"Kau masih berada di alam bawah sadarmu, butuh waktu lama agar kau kembali bangun." Shinigami menjawab pertanyaan Nagato.
"Jadi, apa yang kau mau dariku?" Nagato menatap Shinigami didepannya.
"Aku peringatkan padamu agar kau menjauh dari perempuan yang bernama Iris dan Litha!" ucap Shinigami sambil mencoba untuk meyakinkan Nagato.
"Hah? Jangan bercanda, kau tidak berhak mengaturku, aku akan hidup sesuai keinginanku!" jawab Nagato dengan tegas pada Shinigami.
"Semua kembali pada dirimu sendiri, aku biarkan dirimu selama beberapa waktu untuk melupakan kebencian di dasar hatimu, sosok iblis di dasar hatimu adalah dirimu yang sesungguhnya!" Shinigami berbicara seolah - olah ingin memberikan peringatan pada Nagato.
"Dengar, suatu saat jika kau telah lelah dan tidak berdaya, maka kau akan kembali pada dirimu yang sesungguhnya." Shinigami tersenyum dan menghilang secara perlahan.
"Sepertinya dia selalu membicarakan hal itu padaku?" Nagato menggelengkan kepalanya pelan sambil mengingat perkataan Shinigami.
Nagato melihat dirinya yang lain dihadapannya, tatapan matanya terlihat begitu dingin dan sorotan matanya terlihat dipenuhi amarah dan kebencian.
"Aku?" gumam Nagato pelan.
"Kau adalah aku, dan aku adalah kau." jawab bagian diri Nagato yang lain.
"Suatu saat kau akan mengerti .... " bagian diri Nagato yang lain menghilang secara perlahan.
"Sial! Apa maksudnya? Aku yang sekarang juga memiliki dendam yang begitu besar pada Kazan!" Nagato mengerutkan wajahnya dan mengepalkan tangannya dengan erat.
"Apa kebencianku belum cukup? Tidak ... aku akan mencari kekuatan yang lebih, dan aku tidak akan membiarkan diriku dipenuhi kebencian." gumam Nagato setelah itu dirinya melihat cahaya terang dan ada sosok perempuan berparas cantik dengan senyuman yang manis dan memiliki rambut panjang berwarna hitam, dibelakang punggunnya terpampang sayap hitam, namun yang menjadi perhatian Nagato adalah telinga gadis itu yang panjang dan agak runcing.
Gadis itu memeluk Nagato, entah mengapa pelukannya terasa begitu hangat bagi dirinya, setelah beberapa saat gadis itu memeluk dirinya, perlahan api berwarna merah dan hitam keluar membungkus tubuh gadis itu maupun tubuh Nagato secara bersamaan.
"Api?" Nagato waspada terhadap gadis didepannya, namun gadis itu hanya tersenyum manis padanya setelah itu dia mencium kening Nagato.
"Hah?" Nagato terkejut dan wajahnya sedikit memerah.
Wajah Nagato memerah dan menutup matanya ketika cahaya terang yang melapisi tubuh gadis itu menghilang secara perlahan dirinya melihat tubuh gadis didepannya tidak memakai pakaian.
"Aku telah menantimu selama ribuan tahun, kau adalah salah satu dari sang pemegang takdir, dipundakmu tercatat sejarah selama ribuan tahun, dan di dalam hatimu terdapat sebuah api yang menyala dan berkobar untuk menyelesaikan tugasnya walau banyak manusia yang terus memutuskan ikatan darah dari pendahulumu maupun leluhurmu, ikatan itu tidak akan pernah putus dan memadamkan api yang terus menyala didalam diri pendahulumu maupun leluhurmu." gadis itu menyentuh pipi Nagato dengan kedua tangannya dan menatap Nagato dengan penuh makna.
"Cerita masa lalu yang turun - temurun tidak akan terputus sepanjang zaman, aku sangat yakin suatu saat di masa depan, tercatat ribuan tahun sejarah dipundak seorang manusia, dan akan muncul seorang manusia yang akan menantang dunia ini, setelah mengetahui kebenaran dari sejarah masa lalu yang kelam."
"Api tidak boleh padam digenerasimu, kau adalah keturunan terakhir dari para leluhurmu." gadis itu tersenyum hangat pada Nagato sambil menempelkan keningnya pada kening Nagato.
"Leluhurku? Klan Kagutsuchi maksudmu?" gumam Nagato dan memandang wajah gadis dihadapannya itu.
"Aku akan memberitahumu ketika sudah tiba waktunya." Gadis muda itu mengusap rambut Nagato dengan tangannya.
"Aku tidak akan membiarkan kutukan kuno itu mengambil alih tubuhmu." gumam gadis itu lirih.
Nagato masih bingung dengan situasi ini, entah mengapa aura gadis didepannya bukanlah hal yang asing baginya, karena ketika dirinya merasa lepas tanpa arah, Nagato merasa didalam tubuhnya ada suara yang terdengar tenang, lembut dan menyejukkan hatinya.
"Kelak ketika dirimu beranjak dewasa carilah keempat orang yang memegang takdir yang lain, kalian harus bersama - sama menuntaskan tugas yang tidak mampu kami selesaikan ribuan tahun yang lalu." gadis itu menghilang secara perlahan setelah mengucapkan sebuah pesan pada Nagato.
"Tunggu, aku tidak mengerti maksudmu?" teriak Nagato namun tubuh gadis itu telah menghilang dan senyuman manis menyungging di wajah gadis itu sebelum menghilang.
Dalam sekejap seluruh penglihatan Nagato gelap, dirinya tidak bisa melihat apapun, Nagato kembali sendiri, kesunyian perlahan menghampiri seluruh tubuhnya.
"Takdir? Empat orang? Apa maksudmu?!" teriak Nagato dan berharap ada orang yang mendengarnya, entah mengapa Nagato dalam sekejap merasa kesepian.
Setelah berteriak, tiba - tiba mata Nagato kembali melihat namun ketika dirinya mencoba melihat sekelilingnya betapa terkejutnya Nagato karena dirinya berada disebuah ruangan yang agak besar dan disana terlihat ada Iris bersama yang lainnya sedang menatap dirinya dengan cemas.
"Huuh, jadi kalian juga mati bersamaku ya?" Nagato kembali membaringkan tubuhnya diranjang setelah melihat raut wajah Iris dan yang lainnya.
"Kamu benar - benar ceroboh!" Litha menangis.
"Kamu belum mati Naga." Iris tersenyum sambil menghapus air matanya.
Litha langsung memeluk tubuh Nagato dengan pelan.
"Li ... tha, perutku." Nagato memejamkan matanya karena dirinya merasa tidak ada tenaga.
Suara perut Nagato terdengar, Litha tertawa sambil melepaskan pelukannya.
"Kamu belum makan selama tiga belas hari Nagato." Chiaki tertawa mendengar suara perut Nagato.
"Tiga belas hari? Aku masih hidup!" gumam Nagato pelan.
Iris dan yang lainnya tertawa pelan, Nagato hanya memejamkan matanya sambil berusaha agar suara perutnya yang keroncongan tidak terdengar.
__ADS_1
"Sial! Memalukan sekali!" batin Nagato sambil mengumpat pada dirinya sendiri.
Nagato telah bangun dari tidur panjangnya dan roda takdir mulai bergerak secara perlahan menuju masa depan.