
Nagato terus memukul bebatuan dan pepohonan. Mentalnya yang hancur membuat dirinya kehilangan arah. Napasnya terengah-rengah, matanya menatap ke atas langit dan mencoba menatap tajam matahari.
“Ini bukan Hutan Cakrawyuha... Sekarang aku berada dimana?” Nagato menggumam sendiri, sebelum dia berteriak ketika ingatannya tentang Litha bermunculan.
“Kuharap ini mimpi... Aku sudah menusuk telapak tanganku, tetapi aku masih belum bangun dari mimpiku...” Nagato merasa putus asa hingga akhirnya dia terduduk dan menangis.
Nagato mencabut pisau yang menusuk telapak tangannya dan terus melukai lengan kirinya. Tangisannya pecah karena mimpi buruk ini tidak pernah berakhir.
Suara langkah kaki menghentak di tanah, pria berambut merah yang datang membawa makanan dan obat-obatan terkejut melihat tindakan Nagato yang melukai tubuhnya sendiri.
Hound baru saja kembali dari suatu kota yang ada di Kerajaan Ellesmere. Di belakangnya terlihat Chibi yang mengikutinya dari Ibukota Daifuzen semenjak dirinya membawa Nagato.
“Jangan melakukan hal yang bodoh, kau hanya akan melukai dirimu sendiri.” Hound menaruh makanan dan obat-obatan, kemudian menghampiri Nagato yang masih melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, “Pertempuran telah berakhir. Gadis manis yang bernama Litha telah...”
“Diam! Tutup mulutmu! Jangan katakan apapun!” Nagato berteriak, matanya menatap tajam Hound yang berdiri di depannya.
“Aku sudah menusuk pisau hingga menembus kulitku! Aku sudah melukai tubuhku sendiri agar sadarkan diri dan terbangun dari mimpi ini!” Nagato berteriak, lalu menangis kembali.
“Jika semua ini mimpi, seharusnya aku telah bangun sekarang!” Nagato membenturkan kepalanya ke tanah, “Ini bukan mimpi, aku tidak bisa menerima kenyataan ini...”
Nagato menangis histeris, “Litha telah...” Dia tidak melanjutkan perkataannya, mulutnya tidak sanggup mengatakan hal tersebut.
“Litha telah mati...” Hound berkata pelan.
Nagato menangis dan memejamkan matanya. Bayangan Litha selalu muncul di dalam kepalanya.
Teringat saat Nagato bertanya kepada Kakek Hyogoro yang menyuruhnya menganggap Litha sebagai saudara kandungnya.
“Kakek Hyo, kenapa aku harus menjadi saudara Litha? Bukankah kami berdua tidak memiliki hubungan darah?” Saat itu Nagato tidak mengetahui identitas Litha yang sebenarnya, sehingga dia bertanya saat mereka berdua pertama kali berada di Hutan Cakrawyuha.
“Kenapa? Karena kalian berdua akan berguru padaku, tentu saja kalian akan menjadi saudara...” Kakek Hyogoro melirik Nagato yang berjalan di belakangnya, “Saudara tidak harus sedarah, Nagato. Karena kau seorang laki-laki, kau harus melindungi Litha sebagai saudara sekaligus seorang kakak.”
Nagato saat itu hanya diam dan mengiyakan perkataan Kakek Hyogoro.
“Nagato.... Aku sebagai guru kalian berdua bukanlah orang yang baik. Tak ada hal apapun yang bisa kuajarkan pada kalian berdua selain membunuh.” Kakek Hyogoro berhenti berjalan dan menatap Nagato yang berdiri disampingnya.
__ADS_1
“Kakek Hyo, jangan katakan hal yang memalukan seperti itu...” Nagato memalingkan wajahnya dan menghela napas panjang.
“Pada akhirnya aku hanya mengajari kalian cara membunuh...” Kakek Hyogoro menanggapi perkataan Nagato dengan wajah yang merasa bersalah.
“Tapi.... Aku ingin kau ingat perkataanku yang satu ini.” Kakek Hyogoro menatap Nagato tajam, “Saat saudaramu dalam bahaya, saat teman-temanmu terluka dan saat seorang perempuan yang kau cintai menderita. Kau harus melindungi. Melindungi sesuatu yang berharga di hidupmu itu, Nagato.”
“Walau menghadapi sesuatu yang tak dapat kau kalahkan, atau tenggelam dalam keputusasaan. Kau harus bangkit kembali, menghadapi berbagai kesulitan dan cobaan dengan dada yang lapang.” Kakek Hyogoro menyentuh rambut Nagato dan tersenyum, “Jadilah orang yang seperti itu, Nagato.”
Nagato mengingat kata-kata Kakek Hyogoro membuat hatinya merasakan sakit. Dia telah gagal sebagai seorang kakak. Asha, Hisui bahkan Litha. Dia tidak dapat melindungi mereka bertiga, bahkan Iris, perempuan yang dia suka, kini tidak dapat dia lindungi. Keputusasaan semakin membesar, memenuhi hati Nagato.
“Aku terlalu lemah! Aku tidak bisa melindungi adikku sendiri!” Nagato mencengkram tanah dan menangis.
“Nagato...” Hound hendak menyuruh Nagato agar jangan melakukan tindakan yang membahayakan, tetapi dirinya ditatap Nagato tajam.
“Pergi! Tinggalkan aku sendiri!” Nagato bahkan tidak mengetahui identitas Hound, tetapi pria berambut merah itu terlihat peduli padanya.
“Tidak akan. Jika aku pergi, kau akan mencoba bunuh diri.” Sebisa mungkin Hound hendak mengambil pisau tertancap di lengan kiri Nagato.
“Ini hidupku! Lagian umurku tidak akan bertahan lama karena penyakit jantung ini! Lebih baik aku mati bunuh diri!” Nagato hendak memotong lehernya sendiri, tetapi Hound langsung menerkam tubuh Nagato dan memegang tangan kanan pemuda tersebut.
“Apa yang kau katakan?! Bisa-bisanya kau mengatakan hal ini semudah itu?!” Hound tidak habis pikir ketika melihat luka tusukan di sekujur tubuh Nagato. Sungguh ironis dan menyayat hatinya melihat Nagato menderita.
Mata Hound terbelalak kaget. Dia menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit, sebelum tangannya mendorong Nagato.
Tanpa sepatah katapun, Hound membiarkan Nagato pergi. Kemudian dia mengobati lukanya sendiri.
“Hampir saja dia membunuhku, dia benar-benar berniat membunuhku....”
Hound meringis kesakitan ketika mencabut pisau dari perutnya. Butuh beberapa menit, dia mengobati lukanya sebelum membawa makanan dan obat-obatan menyusul Nagato.
Hound memiliki alasan tersendiri menolong Nagato. Dia mengetahui umur Nagato yang tidak akan mencapai delapan belas tahun. Bahkan itu adalah perkataan Uzui kepadanya tujuh tahun lalu. Sedangkan kutukan yang ada di tubuh Nagato akan memperpendek umurnya, sehingga Hound berpendapat Nagato akan mati tidak mencapai empat belas tahun.
Namun setelah melihat keadaan Nagato yang benar-benar menyedihkan. Hound bisa mengetahui Nagato telah kehilangan kekuatan untuk belajar bela diri. Aura tubuhnya tertutup dan tenaga dalamnya juga tertutup.
Ketika Hound berjalan menyusuri hutan, dia menemukan Nagato yang sedang terbaring di atas tanah.
__ADS_1
“Bodoh! Kau ini membuatku khawatir!” Hound langsung menutup tubuh Nagato dengan perban. Nagato hampir pingsan karena luka tusuk dari perbuatannya sendiri membuat darah segar terus mengalir keluar dari sekujur tubuhnya.
“Biarkan... aku... sendiri...” Nagato mencoba berbicara karena melihat Hound mengobatinya.
“Tinggalkan aku!” Nagato berteriak dan hendak menggigit lidahnya, tetapi lehernya dicekik Hound.
“Bocah berandalan! Kenapa kau sampai sebegitunya ingin bunuh diri?” Hound marah. Kali ini Hound tidak dapat menahan kemarahannya, “Aku tahu kau sangat menderita! Tetapi, bukankah kau memiliki sesuatu yang berharga?! Kau harus hidup demi sesuatu yang berharga dalam hidupmu itu!”
Nagato batuk darah, dengan segera Hound langsung melepas cekikan tangannya.
“Kau sangat percaya diri dengan kemampuanmu, tetapi kekuatan besar menghancurkan kepercayaan dirimu itu! Orang-orang seperti mereka di dunia luar sana sangatlah banyak dan akan membuatmu lebih menderita dari sekarang ini! Jangan terus-terusan merasa putus asa! Bukankah kau memiliki janji yang berharga dan harus kau tepati saat bersama Litha?!”
Hound menatap Nagato yang melebar matanya setelah mendengar perkataannya demikian. Terlihat Nagato terduduk di tanah dan menangis karena mengingat janji yang mereka ucapkan berempat. Janji saat Hisui masih ada.
Hound tersenyum ketika melihat Nagato meneteskan air mata. Air mata kali ini bukanlah air mata keputusasaan, sehingga Hound duduk di depan Nagato dan ingin mendengar langsung apa yang akan diucapkan Nagato.
“Litha.... Impian, Litha memberiku mimpi. Hisui, Litha, Iris, aku bersama mereka bertiga berjanji akan pergi keluar dari benua ini bersama-sama...” Nagato menangis sesenggukan.
“Aku yakin butuh waktu lama agar ingatan Iris kembali, tetapi aku akan mengajaknya pergi dari Benua Ezzo ini suatu hari nanti...” Nagato menyeka air matanya.
Hound tersenyum lebar melihat Nagato sudah terlihat lebih tenang.
“Kalau begitu, kita harus menyembuhkan penyakit jantungmu itu terlebih dahulu.” Hound berkata sambil menatap Nagato.
“Penyakitku ini tidak akan bisa disembuhkan. Kutukan dari iblis itu akan membuat umurku hanya menginjak empat belas tahun...”
Hound terkejut mendengar perkataan Nagato. Segera dia mengemas obat-obatan yang baru saja dia gunakan.
‘Kalau tidak salah Air Mata Phoenix berada di Benua Ezzo ini. Walau informasi dari Gore belum tentu akurat. Aku akan mencarinya dan menemukannya terlebih dahulu untuk menyembuhkan Nagato.’ Hound merapatkan giginya, ‘Sebelum mereka mendapatkannya!’
“Nagato, mari kita pergi. Pertama-tama, kita sembuhkan penyakit jantungmu. Kita cari seorang dokter.” Ajak Hound sambil berdiri dan tersenyum ramah pada Nagato.
Nagato menatap Hound tidak percaya. Setelah dia menusuk tubuh pria berambut merah itu dengan pisau, tetapi Hound tetap bersikap baik padanya.
Menuju akhir. Momen kematian Nagato semakin dekat. Nagato dan Hound melakukan perjalanan bersama mengelilingi Benua Ezzo untuk mencari seorang dokter dan Air Mata Phoenix.
__ADS_1
Perjalanan panjang dan menyakitkan dilalui Nagato dan Hound, perjalanan itu akan memperdalam ikatan mereka ketika Hound mencurahkan seluruh isi hatinya dan meneteskan air mata untuk Nagato.
Kisah perjalanannya bersama pria berambut merah yang baik hati, akan dikenang disepanjang hidup Nagato.