Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 147 - Perasaan Terburukku


__ADS_3

Kuas menjelaskan semuanya kepada Nagato. Semua orang yang sedang berada di luar Asrama Salju Rembulan juga mendengar perkataan Kuas.


Dorobo dan Celes menunduk setelah Kuas selesai menjelaskan kematian Asha pada Nagato.


Iris terkejut melihat raut wajah Nagato yang begitu marah, setelah melihat tiga pencuri yang mengenal Nagato akhirnya dia sadar jika dirinya belum mengenal Nagato sama sekali.


Iris melihat Litha yang sedang menangis, tidak berapa lama Tika dan Hika datang menghampiri Litha setelah mengambil obat untuk Hiragi.


"Apa katamu? Asha..." seluruh indera Nagato berhenti, kebencian yang dia pendam perlahan mulai keluar dari dasar hatinya yang paling dalam.


Napas Nagato tidak teratur, emosinya meledak setelah mendengar kematian Asha. Dalam sekali langkahnya, Nagato memegang kerah baju Kuas.


"Jangan bercanda! Asha hanya kembali ke Azbec!" teriak Nagato sambil mendorong tubuh Kuas hingga keduanya terlempar keluar dari Asrama Salju Rembulan.


"Kuas! Kalau kau bercanda aku tidak akan segan memukulmu!" Nagato mendorong tubuh Kuas dan merapatkannya ke dinding Asrama Salju Rembulan.


"Nagato!" Dorobo mencoba menenangkan Nagato,"Dinginkan kepalamu!"


Kuas menggertakkan giginya dan memukul wajah Nagato dengan keras, pukulannya membuat Nagato tersungkur di tanah yang bersalju.


"Bocah tengik! Aku tidak bercanda!" Kuas menahan tubuh Nagato dan menteskan air matanya mengingat kematian Asha, "Aku melihat dengan mataku sendiri, aku pikir itu adalah mimpi. Tapi semua itu nyata Nagato!" teriak Kuas.


"Semua itu nyata dan Asha telah mati..." tambah Kuas meneteskan air matanya di wajah Nagato.


"Asha memang menyebalkan, tapi tidak mungkin jika keluarganya hanya diam saja melihat Asha mati!" bentak Nagato mencoba melepaskan tangan Kuas yang menahan tubuhnya.


"Seorang pencuri sepertiku juga memahami perasaannya!" Kuas mendorong tubuh Nagato dengan begitu keras hingga tubuh Nagato terbentur ke tanah bersalju berkali - kali.


"Tidak semua orang tua itu sama! Jika keluarganya memang menyayangi Asha maka tidak mungkin Asha pergi melarikan dari dari rumahnya!" Kuas memegang leher Nagato karena Nagato mencoba untuk tetap melawan, "Tidak mungkin keluarganya diam saja dan melihat Asha mati! Tapi aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Kakaknya menghancurkan leher Asha tepat setelah kematiannya!" teriak Kuas menangis dan melepaskan tangannya yang mencekik leher Nagato.


"Bagaimana keluarganya hanya diam dan tidak peduli melihat anaknya mati..." gumam Nagato yang masih tidak percaya.


"Kau tidak melihat wajah Asha dan seluruh tubuhnya yang lebam! Hanya dengan melihatnya saja aku bisa mengerti!" Kuas mengingat wajah Asha yang lebam dan sekujur tubuhnya yang memiliki bekas pukulan, "Aku bisa melihat jika setiap hari Asha disiksa oleh keluarganya!"


Nagato diam tidak membantah perkataan Kuas lebih jauh lagi, pikirannya saat ini kacau. Pikirannya tidak dapat lagi berpikir jernih, mencoba untuk tetap tenang tapi suara detak jantungnya terdengar keras. Semua orang bisa melihat jika wajah Nagato begitu pucat.


Nagato meningat Asha yang mudah menangis, hatinya hancur membayangkan bagaimana Asha disiksa oleh keluarganya. Darahnya mendidih dan kemarahannya meledak karena Nagato tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan dan penderitaan Asha saat kakaknya menyiksanya.


Tidak selamanya memiliki keluarga itu bahagia. Justru karena kita masih keluarga itu adalah takdir yang paling menyakitkan.


Perkataan Asha menggema di telinganya, Nagato menjambak rambutnya sendiri dengan cukup keras.

__ADS_1


"Kenapa saat itu aku tidak langsung menyelamatkannya?" Nagato mengigit bibirnya hingga berdarah, "Apa aku masih terlalu lemah setelah berlatih selama tujuh tahun belakangan ini?" pikiran Nagato semakin kacau mengingat ketidakmampuannya melawan Green Vas.


Nagato berdiri dan menangkap leher Kuas dengan cepat, tubuh Kuas terangkat karena pegangan tangan Nagato.


"Siapa orang yang membunuh Asha?!" Nagato penuh emosi menatap dingin Kuas, "Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!"


"Bangsawan Bahamut?" Kuas terkejut melihat Nagato.


Nagato melempar tubuh Kuas dan berlari ke arah pantai, semua orang terkejut melihat Nagato.


"Naga!" teriak Iris mengejar Nagato tetapi gadis cantik dan dingin itu dihadang Dorobo.


"Bagaimana kau bisa percaya diri seperti itu?!" teriak Dorobo sengaja hendak memprovokasi Nagato, "Ayahmu yang merupakan sosok jenius saja mati dengan mudah di tangan Kazan!" Dorobo tersenyum tipis melihat Nagato berhenti berlari.


"Kau!" Nagato menatap dingin Dorobo.


"Asha mati di tangan Bangsawan Bahamut! Bangsawan Dunia! Apa yang bisa kau lakukan untuk melawan mereka?!" Dorobo membalas tatapan dingin Nagato.


"Jangan pikir tekad saja bisa membuatmu membalas kematian orang tuamu dan Asha!" teriak Dorobo kembali memprovokasi Nagato.


"Dorobo!" Nagato memanipulasi auranya menjadi api yang mengarah ke arah Dorobo.


"Naga! Tenangkan dirimu!" tegur Iris menatap Nagato ketika pelindung es miliknya mencair.


"Iris! Sejak awal kau selalu bersama ibumu! Kau tidak tahu apapun tentang perasaanku!" bentak Nagato menatap dingin Iris.


Dorobo menepuk pundak Iris dan berlari dengan cepat kearah Nagato. Pukulan tangannya mengenai wajah Nagato dan kedua tangannya menahan tubuh Nagato.


"Gadis muda cepat bekukan anak ini!" perintah Dorobo pada Iris.


"Tapi..." Iris bimbang untuk membekukan Nagato.


Tidak lama Shirayuki mengembuskan napasnya membekukan seluruh badan Nagato kecuali kepala.


"Bibi Shirayuki! Lepaskan aku!" teriak Nagato pada Shirayuki.


Dorobo menatap tajam Nagato dan menyuruh Kuas untuk memberikan surat yang ditulis Asha.


"Nagato ada surat dari Asha yang ditulis untukmu." ucap Dorobo pada Nagato.


Kuas berjalan mendekati Nagato dan Dorobo, tangannya mengeluarkan sepucuk surat dari sakunya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu kapan Asha menulisnya, tapi aku yakin dia menulis surat ini ketika orang tuanya meninggalkannya di rumah." Kuas memberikan surat yang ditulis Asha pada Nagato.


"Ini punya Bisma." Kuas mengeluarkan surat yang lainnya.


Nagato membakar es yang mengekangnya dengan aura tubuhnya, kemudian mengambil surat yang ditulis Asha untuknya.


"Aku akan memberikannya pada Kakek Bisma suatu saat nanti." Nagato memegang surat yang ditulis Asha.


Iris hendak mengejar Nagato karena takut pemuda itu mengamuk lagi, tetapi pundaknya ditahan Shirayuki.


"Biarkan dia sendirian." Shirayuki menenangkan anaknya.


"Bisma?" Kuas menaruh surat yang Asha tulis untuk Bisma di sakunya kembali.


Nagato perlahan menjauh dari halaman depan Asrama Salju Rembulan. Kaisar Hizen masih tidak terima dengan Nagato yang memukul Hiragi. Kemarahannya diredakan oleh Emi yang sedikit tertarik dengan Nagato.


Sementara Litha tertidur dipelukan Tika dan Hika setelah menangis berjam - jam. Kedua gadis kembar itu membawa tubuh Litha kemabali ke kamar.


Nagato menggertakkan giginya agar tidak menangis, tangannya yang memegang surat Asha masih bisa merasakan sentuhan tangan Asha di kertas tersebut.


"Ini adalah perasaan terburukku..."


___


****Bonus Komentar : _


Bonus Like : _


Bonus Vote : 4 Chapter.


Bonus Author : 2 Chapter.


Makasih ya yang udah vote Kagustcuhi Nagato. Kalian Luar Biasa😘 kaya Ariel NOAH ajaπŸ˜‚


Selamat membaca, Ngabuburead di rumah aja.


#Komen sampai 50 bonus loh 1 chapter.


___


IG : pena_bulu_merah****

__ADS_1


__ADS_2