
Nagato tersenyum tipis melihat Iris yang duduk di sampingnya. "Kamu me-" Iris mencubit lengan Nagato sebelum pemuda itu selesai berbicara. Raut wajah Nagato sontak terkejut dan menatap tajam Iris.
"Kamu kenapa mencubitku?!" Tangan Nagato mencubit lembut pipi Iris. Banyak orang yang melihat kedekatan Nagato dan Iris. Tentu mereka hanya diam dan memperhatikan.
Litha dan Hisui tertawa lirih melihat Nagato yang sedang berdebat dengan Iris.
"Naga, kamu pasti ingin mengejekku!" Iris menepis tangan Nagato dan mengembungkan pipinya.
"Hah?!" Nagato menaikan alisnya dan tidak mengerti maksud perkataan Iris. "Aku hanya ingin bilang, kamu memang hebat. Kenapa kamu selalu saja salah sangka padaku!" Nagato memalingkan wajahnya dan mengalihkan pandangannya ke tengah lapangan.
Iris memerah wajahnya. "Kupikir Naga akan mengatakan kamu mesum..." Gadis cantik itu membatin lirih dalam hatinya. Iris malu bukan kepalang, dia mengira Nagato akan mengatakan dirinya sebagai orang mesum.
Nagato melirik wajah Iris yang memerah. Pemuda itu bisa mengetahui perubahan wajah Iris yang sangat dia sukai itu. "Iris, kamu jangan berlagak seperti bocah manja." Tangan Nagato memegang rambut halus Iris. Namun gadis cantik itu sekarang menjadi kesal karena Nagato membandingkan dirinya dengan Hisui. Perlahan Iris mengambil napas panjang dan memukul perut Nagato.
"Naga!" Iris membatin memanggil nama Nagato ketika memukul perut pemuda tersebut. Kemudian gadis cantik itu langsung menarik tangannya dengan sangat cepat.
Nagato merapatkan giginya. Sekarang Nagato sedang merasakan pukulan tangan Iris yang sangat terasa dingin di perutnya. "Kenapa? Aku tadi hanya ingin memujinya? Kenapa Iris memukulku?" Nagato membatin kebingungan.
Tidak berapa lama kedua bola mata mereka bertemu, Nagato dan Iris saling menatap selama beberapa detik sebelum mereka berdua mengalihkan pandangannya ke arah tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau.
Bersamaan dengan Nagato dan Iris yang sedang bercengkrama, Gyuki memanggil kedua nama peserta selanjutnya. Satha dan Kuromachi Kurose adalah dua nama yang dipanggil oleh Gyuki.
"Mari kita beralih ke pertandingan selanjutnya. Selanjutnya Satha dan Kuromachi Kurose. Dua nama yang kupanggil silahkan maju ke depan!" Gyuki menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu sembari memanggil dua nama peserta yang akan bertanding di pertandingan kedua belas babak 32 besar Turnamen Harimau Kai. Tidak butuh waktu lama bagi Satha dan Kurose untuk sampai di tengah lapangan.
Satha menatap tajam Kurose dan tersenyum tipis. "Mohon bimbingannya, senior." Walau terdengar sopan, tetapi nada bicara Satha serasa mengejek Kurose.
"Pemula tahun ini sifatnya kurang ajar semua! Lawanku anak dari Tetua Satra. Kita lihat apakah dia sama hebatnya dengan ayahnya." Kurose membatin dan membalas senyuman Satha.
Gyuki menatap kedua peserta yang terlihat tidak keberatan dengan keputusan hasil lawan pertandingan. "Baiklah, kalian berdua ambil jarak. Kita mulai pertandingannya." Gyuki memberi isyarat pada Satha dan Kurose untuk menjaga jarak.
Setelah melihat Satha dan Kurose berdiri di jarak yang telah ditentukan, Gyuki menarik napas dalam dan menahannya. "Dengan ini pertandingan kedua belas babak 32 besar Turnamen Harimau Kai antara Satha melawan Kurose..." Gyuki menahan ucapannya sebelum melanjutkannya." Dimulai!"
Dengan perlahan Gyuki menghembuskan napasnya, matanya memejam tenang bersamaan dengan suara bising dan riuh penonton yang menggema di telinganya. Mulut Gyuki membuka pelan-pelan. "Pernapasan Cakra." Dia mengunci udara di seluruh badannya.
Gyuki merapatkan giginya dan menahan mulutnya yang hampir memuntahkan darah. "Racun ini tetap ada di dalam tubuhku ... asap itu!" Gyuki membatin sembari memegang dadanya. Matanya terbuka pelan-pelan dan menatap kedua peserta. Raut wajahnya tetap terlihat baik-baik saja walau sekujur tubuhnya merasakan sakit yang luar biasa.
Gyuki melihat Kurose yang sudah menarik pedangnya dan mengibaskannya untuk memulai serangan pembuka. Pemuda dari Klan Kuromachi itu menyerang Satha dengan permainan pedangnya yang cepat dan mematikan.
__ADS_1
Satha juga menangkis tebasan pedang Kurose menggunakan pedangnya, matanya terlihat sangat tenang dalam mengamati pergerakan tangan Kurose. Suara benturan pedang memenuhi tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau.
Satha dan Kurose bertukar serangan selama lima menitan, permainan pedang Kurose lebih mendominasi serangan, sedangkan permainan pedang Satha mempunyai pertahanan yang cukup tangguh. Keduanya sama-sama memiliki permainan pedang yang sangat mirip dan keduanya sama-sama memiliki tujuan yang jelas, yaitu menang.
Tentu saja mereka berdua menginginkan sebuah kemenangan. Satha tersenyum tipis ketika tebasan pedang Kurose semakin cepat. Pemuda itu mulai mengeluarkan aura tubuhnya yang berwarna merah untuk mengintimidasi Kurose.
Aura tubuh berwarna merah terlihat di udara, Satha tersenyum tipis ketika aura tubuhnya berada di sekitar tubuh Kurose. "Terbakarlah!" Tubuh Kurose terbakar ketika Satha memanipulasi aura tubuhnya menjadi api.
Wajah Kurose panik untuk sesaat, namun dengan cepat pemuda itu menjatuhkan dirinya ke tanah dan berguling. Api yang membakar tubuhnya menghilang, Kurose dengan cepat bangkit berdiri dan menatap tajam Satha.
"Api ini mengingatkanku dengan pemuda kurang ajar itu!" Kurose membatin penuh kekesalan. Pemuda itu membandingkan Nagato dengan Satha.
"Bilah Pedang Hitam!" Kurose mengaliri bilah pedangnya dengan aura tubuhnya yang berwarna hitam pekat. Sekarang bilah pedang Kurose berwarna hitam pekat.
Kurose mendekati Satha secara perlahan sebelum keduanya terlibat dalam adu serangan kembali. Tebasan pedang Kurose sekarang mampu membuat raut wajah tenang Satha berubah.
"Amukan Tanah Kegelapan!" Ayunan pedang Kurose menciptakan tebasan pedang yang mampu membuat tanah berlubang menjadi berwarna hitam.
"Jadi ini elemen bawaan dirimu, senior?" Satha menaikan alisnya. "Kau berasal dari Klan Kuromachi yang identik dengan elemen tanah. Tetapi aku mempunyai elemen api yang menjadi bawaan diriku sejak lahir." Satha melapisi bilah pedangnya dengan aura tubuhnya yang berwarna merah dan menebaskannya dengan cepat ke arah Kurose.
"Kekuatanku lebih hebat darimu! Dan aku masih memiliki kekuatan yang lain!" Satha tersenyum lebar dan terlihat sinis dalam menatap Kurose.
Kurose menebak jika Satha tertarik pada Hisui, sedangkan Hiragi tertarik pada Iris. Senyuman lebar menyeringai di wajah Kurose karena dia ingin memanipulasi kemarahan Satha.
"Menurutku, pemula yang sangat jenius adalah Nagato." Kurose menatap raut wajah Satha yang berubah. Perkataannya sangat tepat karena Satha terlihat tidak menyukai Nagato.
"Wajahnya tampan." Satha terpaksa mengatakan hal tersebut demi memancing emosi Satha. "Nagato dikelilingi banyak gadis cantik. Luar biasa bukan? Dari Fuyumi Iris, Fuyumi Litha, Misuzawa Hanabi bahkan Tuan Putri Hisui. Mereka berempat terlihat menyukai Fuyumi Nagato!" Tebasan pedang Satha mengenai dada Kurose tepat setelah pemuda tersebut menyelesaikan perkataannya.
Wajah Kurose terkejut. Dia bisa melihat perubahan sikap Satha yang sangat drastis. "Sialan! Sial!" Kurose mengumpat ketika melihat dadanya terkena sayatan.
Kurose tidak menyadari tebasan Satha mengenai dadanya. Mengingat adu serangan tadi, dia lebih banyak mendominasi dibanding lawannya itu.
Tidak lama mereka kembali bertukar serangan, dengan cepat Kurose menangkis serangan yang dilancarkan oleh Satha kembali. Pandangan matanya menatap mata Satha yang dipenuhi kemarahan.
"Kau harus tahu! Hisui adalah perempuan yang akan membuat diriku menjadi lebih kuat. Dia akan menjadi mainanku!" Jantung Kurose berhenti sesaat. Pemuda itu merasa ada yang tidak beres disini.
"Bagiku perempuan hanyalah barang. Aku memiliki banyak gadis yang menjadi budak di rumahku. Mereka menangis dan memohon setiap aku menyiksanya!" Satha tertawa dan menebaskan pedangnya lebih cepat. Kurose melirik Gyuki yang terlihat tidak mendengar perkataan mereka berdua.
__ADS_1
"Apa yang dia bicarakan?!" Kurose membatin tidak percaya. Jika yang dikatakan Satha benar maka semua yang dia lakukan belakangan ini tidak menghasilkan apa-apa. "Apa Ketua Nezusaki juga mengetahui hal ini? Waktu itu Kakak Shin pernah menyinggung soal perbudakan ini?" Kurose menangkis setiap tebasan Satha sembari berusaha untuk tetap berpikir secara tenang.
"Putaran Cambuk Api!" Satha tidak peduli dengan Kurose yang terlihat terkejut dengan ucapannya, pemuda itu melancarkan serangan tebasan pedangnya yang membentuk lintasan api seperti cambuk. Dan lintasan cambuk tersebut dilapisi api yang membara di udara.
Kurose menangkis tebasan pedang Satha namum tebasan tersebut masih mengenai tubuhnya. "Kakak Shin, Take dan Ohta menghilang. Baru-baru ini Kujo juga menghilang. Ketua Nezusaki, sebenarnya apa yang telah kau lakukan selama menjabat sebagai pemimpin Klan Kuromachi?!" Dada Kurose sedikit terkena tebasan pedang Satha.
"Matilah, rakyat jelata yang tidak tahu diri!" Satha tertawa sinis hendak menebasakan pedangnya pada dada Kurose yang berdarah.
Namun tangan Satha ditahan oleh Gyuki. "Merepotkan. Sudah cukup!" Tangan Gyuki meremas tangan Satha hingga pemuda itu memekik kesakitan.
Tubuh Kurose ambruk di tanah. Matanya menatap langit. "Aku ingin menjadikan Klan Kuromachi sebagai klan terkuat di Kekaisaran Kai. Tetapi aku rasa Klan Kuromachi telah dibawah pimpinan yang salah selama puluhan tahun belakangan ini." Batin Kurose berkecamuk. Sekarang dia merasa putus asa. Ambisinya untuk menjadi lebih kuat dan memenangkan Turnamen Harimau Kai lenyap, menguap dan menghilang dalam sekejap.
Kurose pernah mendengar jika ada perdagangan manusia yang dilakukan Sepuluh Tetua Kai. Pembicaraan itu pernah disinggung oleh Shin di depan Nezusaki, namun pemimpin Klan Kuromachi tersebut membantah dan mengatakan jika sosok orang bernama Hyogoro dan Hayabusa yang menjadi dalang pembunuhan bangsawan dan menganggap kedua nama itu yang terlibat dalam perdagangan manusia.
"Hei, kurang ajar! Apa kau serius memiliki budak di rumahmu?!" Kurose berteriak menatap Satha dan berdiri.
Gyuki mengerutkan dahinya. "Budak? Tunggu, mereka berdua tadi terlihat seperti sedang berbicara di tengah pertarungan. Apa ini yang mereka bicarakan?" Gyuki membatin. Pandangan matanya beralih menatap sinis Satha.
"Apa yang kau bicarakan?" Satha memasang wajah yang tidak bersalah. Kemudian pemuda itu menatap Gyuki. "Paman Gyuki, lepaskan tanganku. Pertandingan ini belum paman akhiri, biarkan aku melepaskan serangan penyelesaian untuk mengakhiri pertandingan ini!" Satha dengan berani menggertak Gyuki.
"Oi, bocah. Mulutmu ini sama persis dengan mulut ayahmu." Gyuki mendorong tangan Satha hingga pemuda itu mundur lima langkah ke belakang.
"Paman Gyuki. Jangan terlalu terlibat dengan masalah pribadi ayahku. Aku hanya menyarankan hal ini padamu!" Satha masih bisa tersenyum. Pemuda itu tidak terlihat takut sama sekali terhadap Gyuki. "Aku akan menang dengan cara yang spektakuler. Pedangku ini membutuhkan darahmu, senior!"
"Anak muda, cepat kembali. Aku sarankan kau jangan berlagak terlalu tengik. Tanganku ini bisa meremasmu menjadi bubur dalam sekejap." Senyuman sinis menyeringai di wajah Gyuki.
"Heh? Baiklah, baiklah. Sepertinya aku terlalu bicara terlalu banyak. Ayah akan memarahiku lagi nanti." Satha berjalan menuju bangku penonton tempat dimana Hiragi duduk.
"Pertandingan kedua belas babak 32 besar berakhir dan pemenangnya adalah Satha!" Hanya kata-kata tersebut yang keluar dari mulut Gyuki.
Tidak lama suara gemuruh penonton memenuhi Arena Lingkaran Harimau. Sementara itu Gyuki melihat wajah Kurose yang terlihat syok.
"Kuromachi Kurose. Temui Nenek Sachie dan jangan temui Nezusaki atau siapapun yang berhubungan dengan Sepuluh Tetua Kai dan Hizen." Gyuki berkata dengan pelan pada Kurose. "Nyawamu bisa melayang kapan saja karena telah mendengar ucapan yang tidak sengaja keluar dari mulut bocah tengik barusan." Gyuki dan Kurose melirik menatap Satha.
"Aku tidak memiliki kekuatan dan sekutu yang cukup untuk bergerak. Ini jauh lebih merepotkan dari yang kukira." Gyuki menghela napas panjang dan memberi isyarat pada tenaga medis untuk mengobati tubuh Kurose.
"Bawa anak ini ke tempat ibuku!" Gyuki memberi perintah pada beberapa tenaga medis yang datang ke tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau. "Baik, Tuan Gyuki." Jawab mereka secara bersamaan, setelah itu para tenaga medis membawa tubuh Kurose dengan tandu menuju lorong ruang perawatan yang ada di Arena Lingkaran Harimau.
__ADS_1
"Apa yang dimaksud paman itu?" Kurose membatin menatap wajah Gyuki yang sedang berpikir.
Penonton terus bergemuruh bersamaan dengan tubuh Kurose yang dibawa tenaga medis memakai tandu. Walau pemuda dari Klan Kuromachi tersebut masih bisa bertarung tetapi Gyuki lebih memilih mengakhiri pertandingan. Dan Keputusan Gyuki tidak ditentang oleh Kurose.