Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 154 - Kota Mikazuchi


__ADS_3

Gerbang yang kokoh dengan warna putih keperakan, penjaga gerbang kota yang memakai senjata lengkap dan sebuah pintu masuk yang dibuat dari besi membuat Kota Mikazuchi semakin terlihat kemegahannya.


Rombongan kedatangan pendekar dari Klan Fuyumi menjadi perhatian penjaga gerbang kota maupun penduduk kota bawah, para pendekar berparas cantik menjadi santapan pagi bagi lelaki yang melihat kedatangan mereka.


"Nenek Emi. Aku melihat ada orang yang mengikuti kita." Nagato berkata pelan didekat Emi. Jangkauan deteksinya cukup luas, Nagato berusaha untuk tetap tenang melihat perbedaan yang sangat terlihat.


"Jangan turunkan kewaspadaanmu, kamu adalah satu-satunya pendekar laki-laki dari Klan Fuyumi. Kau harus bisa melindungi Iris dan yang lainnya." Emi menepuk pundak Nagato sambil mengecek tubuh pemuda yang memakai topeng rubah putih itu. Emi terkejut setelah mengetahui umur Nagato yang tidak panjang, tidak berapa lama dia menoleh melihat Litha dan Iris.


"Sepertinya jika Nagato berhubungan dengan salah satu dari mereka akan sembuh..." batin Emi merasa kasihan pada Nagato yang masih muda sudah mempunyai beban hidup yang menyakitkan.


Nagato memperlambat langkahnya agar bisa berjalan ditengah-tengah kerumunan Iris, Litha, Hika dan Tika. Mereka berjalan santai menuju penginapan yang ada di kota atas yang dekat dengan kediaman Bangsawan Seifu di Kota Mikazuchi.


Sambil berjalan santai, Shirayuki mendekati lima perwakilan pendekar muda dari Klan Fuyumi yang sedang berjalan bersama. Shirayuki menjelaskan kepada mereka berlima tentang tiga perguruan terbesar di Kekaisaran Kai yang bekerja di bawah Bangsawan Seifu. Tiga perguruan tersebut adalah Perguruan Api Abadi, Ikatan Darah Tunggal dan Pedang Naga Sakti.


Shirayuki juga menjelaskan tentang salah satu klan terbesar yang berada di kubu barat telah resmi menjadi bangsawan, klan tersebut adalah Klan Seifu yang merupakan klan besar di Provinsi Barat.


Klan Seifu yang mendukung Kaisar Hizen dan Satra dapat dengan mudah mendapatkan hak bangsawan karena campur tangan Satra di pemerintahan. Sistem kasta di Provinsi Barat terlihat jelas di Kota Mikazuhchi. Tempat tinggal penduduk dibagi menjadi dua, yakni kota atas tempat tinggal orang-orang kaya, Bangsawan Seibu dan Bangsawan Seifu. Sementara itu kota bawah hanya ditempati orang-orang miskin yang hidupnya berkecukupan, bangunan yang megah di kota bawah hanya dilihat dari luarnya.


Bisnis perbudakan merajalela di Kota Mikazuchi. Berkat bantuan organisasi bawah tanah terbesar di Benua Ezzo yang bernama Spider, banyak orang-orang kaya di Kekaisaran Kai selain Provinsi Utara mulai gemar membeli budak. Datangnya pengaruh bangsa asing dari luar Benua Ezzo menjadi faktor utama perubahan sifat asli penduduk Kekaisaran Kai.


Tidak terasa Nagato dan rombongan pendekar dari Klan Fuyumi telah tiba di depan sebuah penginapan yang bernama Penginapan Bunga Badai. Bangunan yang megah dan memiliki halaman yang luas membuat Nagato sedikit khawatir. Nagato menyadari jika ada orang yang selalu mengawasi mereka, dan itu membuatnya selalu meningkatkan kewaspadaan.


Emi memesan sebuah kamar yang hanya terdiri dari satu ruangan besar, dan di dalam kamar tersebut terdapat sepuluh ranjang tempat tidur. Nagato malu karena harus tidur bersama perempuan, apalagi dia tidak terbiasa tidur satu kamar bersama perempuan lain kecuali Litha.


Setelah semua pendekar dari Klan Fuyumi masuk ke dalam ruangan kamar penginapan, Emi keluar hendak membayar biaya penginapan. Dalam perjalanan menuju tempat pembayaran, Emi merasa penginapan yang akan menjadi tempat mereka bermalam juga kedatangan tamu tak terduga.


Emi bisa melihat beberapa pendekar muda perwakilan dari sepuluh klan terbesar di Kekaisaran Kai menginap di Penginapan Bunga Badai. Senyuman lebar menyungging di wajah Emi yang mulai mengkerut. Ternyata Penginapan Bunga Badai juga kedatangan empat pendekar muda yang sering disebut dengan julukan Sepuluh Pendekar Muda Jenius.


"Permisi..." Emi menyapa pelayan penginapan yang sedang menatap kedatangan tiga pendekar muda dari Klan Akatsuki.


"Eh ... anu ... ada apa?" Pelayan perempuan yang memiliki wajah manis gugup melihat Emi yang menyapanya.


"Berapa biaya kamar yang kami pesan?" Emi mendekati pelayan perempuan tersebut dan melirik sedikit Pemimpin Klan Akatsuki dan Wakil Pemimpin Klan Akatsuki.


"Maaf, anda dari klan mana?" Pelayan perempuan tersebut canggung sekaligus gugup melihat tatapan tajam Emi.


"Apa namaku tidak terlalu terkenal dibandingkan dengan anakku?" Emi bertanya balik pada pelayan perempuan yang bertanya padanya. Hatinya sedikit merasa kesal, semua orang sangat mengenal kecantikan dan keanggunan Shirayuki, sedangkan tidak banyak orang awam yang mengenal nama Emi kecuali para pendekar di Kekaisaran Kai.


Pelayan perempuan tersebut menggelengkan kepalanya pelan, ada sedikit rasa takut dibenaknya, karena melihat Emi yang menatap tajam dirinya.


"Maaf... saya tidak mengetahui nama anda-" belum selesai mengucapkan kalimatnya, pelayan perempuan tersebut merasa bersalah pada Emi yang menulis namanya di kertas.


"Fuyumi Emi..." Pelayan perempuan tersebut bergumam pelan setelah Emi menyelesaikan tulisannya di kertas.

__ADS_1


Emi tersenyum melihat pelayan perempuan terkejut dengan namanya, ada perasaan bangga dalam hati Emi.


"Inilah namaku." Emi tersenyum lembut pada pelayan perempuan sambil tangan kanannya mengambil beberapa koin emas yang dia selipkan di kain putih yang terikat di pinggang kirinya. "Jadi berapa biayanya?" Suara Emi membuyarkan lamunan pelayan perempuan yang mematung.


"Eh ... tunggu dulu ... Nona Emi." Pelayan perempuan tersebut merasa grogi mengetahui Emi yang ternyata adalah ibu dari Shirayuki.


"Kamar besar dengan sepuluh ranjang, ditambah makan bersama di aula. Semuanya dua puluh lima keping emas, Nona Emi." Pelayan perempuan penginapan menjelaskan biaya pendekar Klan Fuyumi yang menginap semalam di Penginapan Bunga Badai.


"Mahal sekali..." Emi bergumam pelan sambil mengeluarkan dua puluh lima koin emas dan memberikannya pada pelayan penginapan.


"Terimakasih banyak, Nona Emi. Semoga anda nyaman dengan pelayanan yang kami berikan." Pelayan perempuan penginapan membungkuk dan memberi hormat pada Emi.


"Ya, setidaknya kalian harus menyiapkan makan malam yang banyak." Emi berjalan pelan menjauh dari pelayan penginapan menuju kamar yang telah dia pesan.


Setelah kembali di kamar besar penginapan yang dirinya pesan, terlihat di dalam kamar raut wajah gembira empat gadis kecil yang menjadi wakil Klan Fuyumi sedang bermain, sedangkan Nagato sedang berbaring dan tertidur.


Emi masuk ke dalam kamar dan duduk di sebelah Shirayuki sambil mendengarkan cerita tentang misi terakhir yang dijalankan Oichi.


Gadis berparas cantik dan manis yang sekarang terlihat sangat dewasa itu telah resmi menjadi kekasih Azai. Perkataan Oichi membuat Nagato yang sedang berbaring dan tertidur langsung reflek terbangun.


"Azai, dia sepertinya sangat menikmati hidup menjadi prajurit kekaisaran." Nagato menatap Oichi yang sedang bercerita tentang hubungannya dengan Azai pada Shirayuki.


"Aku tidak menyangka kalian telah sampai sejauh itu. Selamat Oichi." Ichiba memeluk Oichi sambil mengusap perut gadis berumur 23 tahun tersebut.


"Akhirnya kalian berdua bertemu. Selamat Oichi." Shirayuki tersenyum manis pada Oichi.


"Terimakasih guru. Guru Shirayuki sangat cantik dan baik." Oichi reflek memeluk tubuh Shirayuki karena perempuan yang menjadi panutannya tersenyum manis padanya. Melihat sikap Oichi yang memeluk Shirayuki dengan santainya, Ichiba menegur Oichi.


"Jaga sikapmu Oichi!" Ichiba menegur Oichi yang memeluk Shirayuki.


"Hehehe ... maaf." Oichi melepas pelukannya dan mengusap perutnya dengan lembut.


Emi hanya diam melihat tiga pendekar wanita yang namanya sangat tidak asing di Kekaisaran Kuru.


"Oichi..." Emi menatap Oichi penuh makna dan melirik perut gadis tersebut. "Tetap patuhi aturan klan. Kalian boleh saja saling mencintai, tetapi jika kau ingin tetap menjadi bagian dari Klan Fuyumi maka kau harus rela hidup terpisah, tidak satu rumah dengan pria yang namanya Azai." Emi mengingatkan peraturan Klan Fuyumi pada Oichi.


"Jika anak kalian laki-laki, maka anak tersebut harus hidup bersama ayahnya. Tetapi jika anak kalian perempuan, maka anak tersebut harus hidup bersama ibunya di Pulau Maru." Emi menghela napas panjang mengingat aturan Klan Fuyumi yang berlaku sejak dahulu. "Tetapi jika kau ingin hidup bersama suami dan anakmu, maka satu-satunya pilihanmu adalah pergi meninggalkan nama margamu yaitu Fuyumi dan tidak boleh menginjakkan kakimu kembali di Pulau Maru maupun Pulau Samui." Perkataan terakhir Emi membuat Oichi terdiam beberapa saat, sedangkan Iris, Litha, Hika dan Tika yang sedang bermain juga berhenti. Nagato menelan ludah sebelum mengalihkan pandangnya.


"Iya..."Oichi menjawab perkataan Emi dengan lesu tanpa semangat sedikitpun.


"Ibu jangan terlalu ketat memaksa kehendak Oichi." Shirayuki dengan santai menatap Emi.


"Ini adalah aturan mutlak Shirayuki. Kau tidak boleh ikut campur, dan aku hanya mengingatkan saja." Emi menatap tajam Shirayuki.

__ADS_1


"Ya, ya, maaf." Shirayuki langsung diam dan memainkan kipasnya.


Dalam suasana yang tegang itu, dua mata saling melirik dan menatap satu sama lain selama beberapa menit. Keduanya saling menatap penuh sebuah makna yang dalam.


"Aku dan Naga tidak akan pernah bersama..." batin Iris sedikit sedih ketika mendengar perkataan Emi. Matanya masih menatap Nagato.


"Aku tidak menyangka Azai akan menjadi seorang lelaki sejati." Nagato menatap Iris sesaat sebelum membaringkan tubuhnya mengingat Azai yang sudah lama tidak berjumpa dengannya.


Tak terasa waktu semakin berlalu, tepat setelah matahari terbenam dan langit menjadi gelap, Emi mengajak pendekar dari Klan Fuyumi untuk mandi bersama kecuali Nagato.


Selesai mandi, Emi menyuruh yang lain kembali memakai pakaian yang mereka kenakan untuk menunjukkan identitas Klan Fuyumi pada yang lainnya.


Nagato memakai topeng rubah putih karena melihat Emi begitu bersemangat.


***


Satu hari yang lalu, kabar tentang Azai yang meninggal belum tersebar. Di sebuah tebing yang berada dekat dengan lautan terjadi sebuah pertempuran. Tebing tersebut berada di Kekaisaran Kinai. Tebing yang bernama Tebing Shikaku menjadi tempat pertempuran antara pasukan dua jendral Kekaisaran Kai yang dipimpin Hawk dan Matsuri melawan Brusca dan beberapa petinggi dari Spider.


Tempat persembunyian Sekte Pemuja Iblis telah ditemukan, kedatangan pasukan dari Hawk dan Matsuri yang berniat membantu Kakek Hyogoro, Merlin dan Panglima Kekaisaran Kai yang bernama Goro justru dihadang oleh Brusca dan petinggi Spider. Bahkan beberapa pasukan yang didik dari kecil dengan hidup sebagai pembunuh oleh Gore membuat pasukan Hawk dan Matsuri terhadang selama satu hari penuh.


Kuina yang berada di bawah pasukan dari Matsuri merasa ada pengkhianat di antara rekan-rekannya. Rencana yang hanya diketahui oleh Hawk, Matsuri, Merlin, Kakek Hyogoro, Goro, Azai, Serlin dan orang terakhir yang mengetahui rencana penyerangan markas Sekte Pemuja Iblis adalah dirinya sendiri. Rencana yang telah disiapkan dengan matang-matang, hancur berantakan karena ulah seseorang.


Setelah seharian bertempur sengit melawan Brusca yang merupakan anggota dari Tujuh Dosa Besar Mematikan dan petinggi Spider dalam kurun waktu yang cukup lama, akhirnya pasukan yang dipimpin Hawk dan Matsuri dapat langsung menuju markas Sekte Pemuja Iblis.


Dengan anggota yang terpisah-pisah, Kuina dikejutkan dengan tidak ada kehadiran Azai yang dianggap telah mati oleh Serlin dan beberapa prajurit yang melihat Azai tenggelam di lautan setelah terjatuh dari tebing.


Hujan yang mengguyur medan pertempuran membuat kesedihan Kuina menumpuk, dirinya yang masih syok mendengar kematian Azai kembali dikejutkan dengan kematian Kakek Hyogoro dan Panglima Goro yang kalah bertarung melawan Gore dan Brusca.


Hawk menyesal karena gagal menghentikan Brusca yang membantu Gore. Ditengah-tengah derasnya hujan, seekor elang emas terbang memutari Kakek Hyogoro yang tergeletak di tanah dan tak bernyawa. Tiga pucuk surat yang tidak basah terlihat di kantong kaki elang emas yang bernama Kin.


Berita kematian Kakek Hyogoro, Panglima Goro dan Azai belum menyebar karena semua orang yang melihat langsung kematian mereka masih berada di Kekaisaran Kinai.


Sebuah insiden yang akan membawa Kekaisaran Kai dalam kehancuran, dan melibatkan Benua Ezzo dalam malapetaka peperangan membuat Hawk, Matsuri, Kuina dan Serlin menatap tubuh Kakek Hyogoro yang tak bernyawa.


Satu hal yang mereka berempat sadari, kematian Kakek Hyogoro dan Azai akan meninggalkan luka yang mendalam bagi anak seseorang yang paling berjasa di kehidupan mereka, anak tersebut tak lain adalah Nagato yang merupakan guru dari Hawk, Matsuri, Kuina dan Serlin.


Mereka berempat hanya berharap mental Nagato tidak hancur karena harus menerima kenyataan pahit kembali.


Setelah bersusah payah bangkit dari kenyataan pahit sejak kematian adik angkatnya yang bernama Asha. Takdir mengalun ke arah yang sangat tak terduga, kenyataan yang sangat menyakitkan dan memilukan harus kembali Nagato rasakan.


***


Kembali ke Kekaisaran Kai. Di Penginapan Bunga Badai, Kota Mikazuchi. Aula makan Penginapan Bunga Badai sedikit memanas karena banyaknya berkumpul pendekar muda yang mengikuti Turnamen Harimau Kai. Sembilan pendekar dari Klan Fuyumi yang paling mencolok menjadi perhatian mereka semua, terutama sosok pemuda yang memakai topeng rubah putih dan dikelilingi empat gadis yang berparas cantik.

__ADS_1


__ADS_2