Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 174 - Story Leak


__ADS_3

Hari ini jalanan Ibu Kota Daifuzen seperti biasa sangat ramai, bahkan mungkin hari ini lebih ramai dari hari kemarin.


Semua orang berbondong-bondong hendak menyaksikan babak penyisihan terakhir Turnamen Harimau Kai. Hari ini juga mereka akan mengetahui pendekar muda yang akan lolos ke babak 32 besar.


Mujin masih memimpin menjadi wasit pertandingan. Emi dan Shirayuki merasa jumlah penonton lebih banyak dari kemarin, terlihat bangku penonton biasa tidak di gunakan, mereka semua berdiri berdesak-desakan demi menonton Turnamen Harimau Kai.


Di antara semua penonton tersebut, kelompok yang di bentuk oleh pemimpin Sekte Pemuja Iblis yang bernama Gore sedang mengamati jalannya pertandingan. Kelompok yang bernama Akuyaku itu terdiri dari empat orang pengguna Senjata Kuno. Mereka semua sedang mencari anak Pandu yang masih hidup, informasi dari pengkhianat sangat membantu pergerakan Gore. Bahkan Gore juga membantu Magma dan Black Madia untuk mengamati pertumbuhan Nagato karena sosok Raja Black Madia yang bengis itu takut dengan ramalan Sarah tentang anaknya yang akan membuat Benua Ezzzo terbuka.


Gore hendak menjadikan Nagato sebagai kelinci percobaan sama halnya seperti seorang pemuda yang memiliki pewaris kekuatan surgawi Sang Biru. Pemuda itu kini menjadi kelinci percobaannya.


Kutukan kuno Dewa Kematian, jelmaan Dewa Api dan Sang Hitam ada di tubuh Nagato. Sosok manusia yang lahir sempurna namun terkena sebuah penyakit kutukan yang membuatnya tidak mampu hidup lama lebih dari 15 tahun itu membuat Gore ingin mendapatkan kekuatan yang di miliki Nagato.


Panglima Nobu, Reptile dan Onigawara menyamar. Sementara itu pasukan Kekaisaran Rakuza telah menyamar menjadi penduduk biasa, kebanyakan dari mereka semua telah memesan penginapan untuk memulai penyerangan langsung pada Kaisar Hizen dan militer Kekaisaran Kai yang ada di Ibu Kota Daifuzen.


Reptile menutupi seluruh tubuhnya karena sebagian tubuhnya bersisik seperti ular. Pandangan matanya terarah pada Hisui yang sedang duduk bersama Yuki.


Di lapangan telah di mulai pertandingan babak penyisihan. Beberapa pendekar muda telah bertanding secara bergiliran.


Nagato menunggu gilirannya untuk bertanding, tangannya menjadi penyangga pipinya. Pandangan matanya terarah pada pertandingan di bawah sana.


Suara penonton yang bergemuruh dan kebisingan membuat dahi Nagato mengkerut. Entah mengapa Nagato menjadi kesal sendiri mendengar suara riuh dari lautan manusia yang bersorak.


Beberapa pertandingan telah berlalu, di lapangan Arena Lingkaran Harimau terlihat Mujin menatap ke arah bangku penonton Klan Fuyumi.


"Pertandingan selanjutnya antara Fuyumi Nagato melawan Kitakaze Takao. Dua nama yang kupanggil silahkan maju ke depan!" Mujin batuk pelan sambil menggaruk kepalanya. Pria itu terlihat sangat malas menjadi wasit.


Nagato tersenyum karena dia akan bertarung melawan Takao yang merupakan empat pendekar mua jenius dari Klan Kitakaze. Walau tidak menjadi sepuluh pendekar muda jenius di Kekaisaran Kai, nama Takao cukup tenar.


"Semangat Nagato." Tika memberi semangat kepada Nagato.


"Nagato kamu pasti bisa," ucap Hika dengan malu-malu.


"Aku percaya kamu bisa bertarung semaksimal mungkin..." Litha tersenyum melihat Nagato.


"Baiklah, aku berangkat dulu," ucap Nagato sembari berdiri dari bangku melewati depan Iris dan berkata lirih, "Ratu Es..."


Iris menyipitkan matanya melihat Nagato yang berjalan meninggalkannya.


"Ratu Es? Apa maksudnya? Dasar aneh," keluh Iris menanggapi perkataan Nagato.


Oichi dan Ichiba menebak-nebak jalannya pertandingan kali ini.


"Kak Ichiba. Sepertinya Nagato akan cukup kesulitan melawan Takao. Apa dia akan baik-baik saja ya," ucap Oichi sambil melirik Ichiba.


"Apa yang kamu katakan, Oichi. Lagipula Nagato adalah menantu Tuan Putri Shirayuki, mana mungkin dia kalah semudah itu," sahut Ichiba menanggapi perkataan Oichi.


"Hmm ... apa yang kalian berdua bicarakan?" Emi menoleh melihat Oichi dan Ichiba.


"Tidak apa-apa, Ketua Emi," elak Ichiba sambil tersenyum canggung.


"Sepertinya hanya Nagato saja yang bisa membuat Iris menjadi bersikap layaknya anak-anak pada usianya. Masa muda memang indah, aku ingin menjadi saksi cinta mereka," batin Emi sambil tersenyum imut tetapi wajahnya justru terlihat menakutkan. Melihat itu, Ichiba dan Oichi menahan tawa mereka.


"Haha-" Ichiba hampir tertawa tetapi dengan cepat dia menutup mulutnya dengan tangannya.


"Apa yang terjadi dengan Iris dan Nagato? Semoga saja mereka tidak bertindak berlebihan," batin Shirayuki memperhatikan anak perempuannya yang terlihat cuek. Sedangkan pandangan matanya terarah pada cincin yang memiliki motif bentuk setengah hati. "Bahkan cincin mereka berdua sama. Anak sekarang ternyata sangat agresif," batin Shirayuki menambahkan.


"Ketua Emi," ucap Shirayuki lirih sambil melirik ibunya.


"Shirayuki, kau harus ingat, aku ini ibumu. Jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu," jawab Emi menatap Shirayuki yang terlihat ingin mengatakan sesuatu padanya.

__ADS_1


"Bu, coba perhatikan cucumu itu," ujar Shirayuki menunjuk Iris dengan jarinya.


Emi menatap jari manis Iris yang dibalut sebuah cincin yang indah bermotif lambang setengah hati.


"Dasar cucuku," gumam Emi melihat Iris yang terlihat sedang cuek kepada seseorang. Dan seseorang itu tentu Nagato.


Di bangku penonton Klan Kitakaze berada, Takao menatap tajam Nagato dari kejauhan. Dia sadar jika Nagato bukanlah lawan yang mudah dikalahkan. Tetapi kepercayaan dirinya yang tinggi membuat Takao cukup percaya diri.


"Akhirnya giliranku tiba! Saatnya menunjukkan pada pemuda yang berkumpul bersama gadis-gadis manis itu, jika dii tidak layak sama sekali berada di samping mereka!" Takao tersenyum tipis dan beranjak dari tempat duduknya.


"Takao sialan! Dia sangat meremehkan Fuyumi Nagato!" Kenji membatin tepat setelah mendengar perkataan Takao.


"Hmph! Bodoh!" Renji menatap Takao yang sedang berjalan menuju lapangan Arena Lingkaran Harimau.


Penonton bergemuruh melihat Nagato dan Takao yang akan bertanding. Suara riuh penonton menggema ke seluruh pelosok Arena Lingkaran Harimau.


"Tuan Muda Nagato akan bertarung melawan Takao. Kuharap Tuan Muda Nagato tidak terlalu melampiaskan dendam lamanya," batin Reto melihat Nagato yang sudah berada di lapangan Arena Lingkaran Harimau menunggu kedatangan Takao.


Reto masih mengingat sambutan buruk yang didapatkan Nagato ketika berkunjung ke Klan Kitakaze.


"Kakek, sepertinya kakek sangat mengenal pemuda bertopeng itu?" Renji melemparkan pertanyaan kepada Reto.


"Kakek mengenalnya saat dalam misi tujuh tahun lalu di Kota Yasai. Tuan Muda Nagato berhasil membunuh manusia buas. Dia sangat berbakat, Renji." Reto tersenyum kepada cucu kesayangannya itu. Mata Renji melebar mendengar perkataan Reto.


"Dan kalian pernah bertemu saat Tuan Muda Nagato berkunjung ke tempat kita." Reto menambahkan sambil tersenyum tipis.


"Pernah bertemu? Apa aku pernah bertemu dengannya?" Renji menatap tajam Nagato namun dia tidak mengingat sekali sosok pemuda yang memakai topeng rubah putih tersebut.


***


Tak lama setelah di lakukannya Festival Sihir di Kerajaan Sihir Azbec. Di perairan yang dekat dengan Pulau Majin terdapat tiga kapal yang sedang berlabuh di pinggiran pantai.


Organisasi Revolusioner mencari anggota yang dengan sukarela bergabung bersama mereka, sosok orang-orang yang ingin mencari kebebasan yang sebenarnya, kedamaian dan mereka memiliki tekad untuk membuat dunia lebih baik, semua bergabung dengan Organisasi Revolusioner. Seluruh penduduk Tanjung Missique bertekad untuk mengikuti Honjo. Mereka tergerak hatinya mendengar perkataan Honjo.


Namun kapal Organisasi Revolusioner berhenti di dekat Tanjung Missique untuk menunggu kedatangan Honjo.


Di atas kapal terlihat seorang perempuan yang memakai kacamata sedang menunggu kedatangan Honjo.


"Suami sialan! Beraninya dia membuatku menunggu lama!" Perempuan berambut merah itu memukul kepala Kung Wu yang ada di sampingnya.


"Nona Allete kenapa kau memukulku?" Kung Wu memegang kepalanya.


"Kau yang ada di sampingku, jadi aku memukulmu!" Perempuan berambut merah yang bernama Allete itu terlihat sedang kesal.


"Nona Allete! Nona Allete! Tuan muda menghilang!" Perkataan salah satu tim medis yang menjadi bawahannya membuat Allete terkejut. Setelah itu orang yang berteriak memberikan sepucuk surat kepada Allete.


"Tuan muda meninggalkan surat ini." Allete memegang sebuah surat yang di tulis anaknya. Kemudian dia membuka dan membaca surat tersebut.


Ayah, Ibu, maaf atas kepergianku. Aku adalah seorang pemuda yang ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia dari kekacauan. Aku adalah seorang pahlawan yang di panggil dari dunia lain-


Belum selesai membaca surat anaknya, Allete menyobeknya.


"Bocah ini! Ayah dan anak sama saja!" Allete berdecak kesal kemudian dia memukul Raden Aryaguna yang sedang menatap kerisnya.


"Nona Allete kenapa kau memukulku?" Raden Aryaguna memegang kepalanya yang dipukul oleh istri pemimpinnya itu.


"Kau sedang mengeluarkan senjata pusakamu, jadi aku memukulmu." Allete mengerutkan dahinya. Dia khawatir pada anaknya yang baru berumur 12 tahun melarikan diri dari kapal. Apalagi sekarang mereka berada di Benua Ezzo yang merupakan salah satu dari tiga benua tersembunyi.


"Alasan macam apa itu?" Raden Aryaguna dan Kung Wu tidak menerima jawaban Allete.

__ADS_1


"Suamiku lama sekali! Cepat kalian cari dia! Ngapain dari tadi diam aja!" Allete memberi perintah pada anggota Organisasi Revolusioner.


"Ba-Baiklah!" Puluhan anggota Organisasi Revolusioner langsung turun dari kapal namun kedatangan Honjo yang datang secara tiba-tiba membuat mereka mengurungkan niatnya untuk mencari sosok pemimpin Organisasi Revolusioner tersebut.


Angin berhembus sangat kencang, terlihat Honjo yang seperti melayang di udara mengendalikan angin untuk membawa tubuhnya.


"Kau terlambat sekali, suami sialan!" Allete langsung menatap Honjo dengan sengit.


"Anak kita melarikan diri! Apa kau telah mengetahuinya?!" Allete menghampiri Honjo dan hendak memukul wajah suaminya itu tetapi langkah kakinya berhenti.


"Ah, suamiku apa yang kau bawa?!" Allete mengerutkan dahinya.


"Bukannya membawa anak kita yang kebanyakan mengkhayal itu. Sekarang kau malah membawa orang lain! Beraninya kau berselingkuh di belakangku, suami sialan!" Allete terlihat sangat murka.


"Maaf istriku. Bisakah kau obati dia. Kau adalah dokter kesayanganku. Aku tidak akan mengkhianatimu." Perkataan Honjo membuat Allete langsung luluh.


"Baiklah. Aku adalah dokter yang akan selalu disisimu dan kau adalah pasienku." Allete mengecup pipi Honjo. Kemudian dia menyuruh bawahannya untuk membawa tubuh seseroang yang di bawa Honjo menuju ruang perawatan.


"Cepat bawa dia!" Perintah Allete kepada tenaga medis Organisasi Revolusioner. Setelah itu Allete langsung memeluk Honjo.


"Parah sekali! Bagaimana dia bisa seperti ini?!"


"Tubuhnya terlalu banyak kemasukan air!"


"Cepat persiapapkan alat!"


"Segera lakukan operasi!"


"Cepat, berikan pertolongan pertama!"


Di tengah-tengah keterkejutan anggota Organisasi Revolusioner yang melihat orang yang sedang sekarat di bawa Honjo. Semua orang menganga melihat pemimpin mereka sedang terlihat bermesraan dengan istrinya.


"Pasienku..." Allete tersenyum manja pada Honjo.


Reaksi semua pengikut Honjo langsung melongo melihat perubahan drastis sikap dari istri pemimpin mereka.


"Sebenarnya apa hubungan Tuan Honjo dan Nona Allete?" Puluhan orang yang melihat Allete memeluk Honjo semuanya membatin termasuk Kung Wu dan Raden Aryaguna.


"Istriku. Anak kita akan baik-baik saja, aku sudah berikan pedangku padanya. Percayalah, dia adalah anak kita." Honjo membalas pelukan istrinya.


"Kita harus percaya padanya," tambah Honjo mengecup kening istrinya.


"Ya, aku percaya." Allete membenamkan wajahnya pada dada Honjo.


Kemudian Honjo melirik anggotanya yang sedang menatap dirinya. Sementara itu Allete langsung memakai masker dan menaikan kacamatanya bergegas menuju ruang perawatan.


"Apa semuanya sudah siap?" Honjo bertanya pada anggotanya.


"Sudah. Sepertinya kita bisa melakukan persiapan kita lebih cepat." Raden Aryaguna masih memegang kerisnya.


"10 tahun lagi tepat ramalan 300 tahun Keluarga Prabu. Aku akan menantikan hari kebebasan itu!" Raden Aryaguna menggenggam erat kerisnya.


"Ya, kita lakukan persiapan terlebih dahulu. Bahamut dan Disaster adalah musuh yang merepotkan. Ramalan akan datangnya sang fajar akan menjadi pembukitanku pada leluhurku!" Honjo menanggapi perkataan Raden Aryaguna.


Sementara itu Kung Wu tidak henti-hentinya di buat kagum oleh teman-temannya di Organisasi Revolusioner, baik itu Honjo, Raden Aryaguna maupun Allete, mereka semua memperlihatkan tentang dunia luar selain Benua Jiu kepada Kung Wu. Bahkan berkat pertemuannya dengan Honjo yang tidak terduga, kini Kung Wu lebih luas dalam memandang kehidupan, seluas dunia yang tak berujung dan masih banyak misteri yang tidak di ketahui itu.


Honjo menggertakkan giginya mengingat Festival Sihir yang baru dia lihat di Kerajaan Sihir Azbec. Selang beberapa menit kemudian, dia memberi perintah pada seluruh anggota Organisasi Revolusioner untuk segera berlayar.


"Baiklah. Kita berlayar! Tujuan kita selanjutnya adalah Benua Hati!"

__ADS_1


Tiga kapal Organisasi Revolusioner kembali berlayar. Tujuan mereka selanjutnya adalah Benua Hati.


***


__ADS_2