Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 206 - Masayu vs Mietara Gooru


__ADS_3

Mengingat masih ada sembilan pertandingan yang tersisa, Gyuki langsung beralih ke pertandingan selanjutnya. Dia tidak ingin membuang waktu secara percuma.


"Perguruan Gunung Menangis juga mengikuti Turnamen Harimau Kai tahun ini. Masayu adalah anak dari Nona Namida. Sepertinya dia juga bisa menggunakan Pernapasan Hujan." Gyuki berkata pelan sembari menatap ke arah bangku penonton tempat Namida duduk.


"Masayu dari Perguruan Gunung Menangis dan Mietara Gooru dari Kuil Matahari Baru. Dua nama yang kupanggil silahkan maju ke depan!" Gyuki memanggil dua nama yang akan bertanding di putaran kedelapan.


Gyuki menunggu kedatangan Masayu dan Mietara sambil mengolah Pernapasan Cakra. Tubuhnya memang mulai melemah semenjak terkena racun yang mematikan, aura tubuhnya juga telah tertutup dan tubuhnya juga mulai melemah seiring berjalannya waktu.


Tidak berapa lama Masayu dan Mietara datang. Gyuki membuka matanya pelan-pelan sambil menatap mata Masayu dan Mietara dengan seksama, kedua peserta kali ini terlihat tidak keberatan dengan keputusan Sepuluh Tetua Kai yang mengatur pertandingan Turnamen Harimau Kai.


"Baiklah. Kalian berdua ambil jarak!" Gyuki mundur dua langkah ke belakang dan menarik napas dalam-dalam.


"Pertandingan kedelapan babak 32 besar Turnamen Harimau Kai antara Masayu dari Perguruan Gunung Menangis melawan Mietara Gooru dari Kuil Matahari Baru dimulai!" Gyuki langsung memulai aba-aba pertandingan dan menatap kedua peserta yang akan bertarung.


Masayu mengolah pernapasan sambil bergerak pelan mendekati Mietara. Langkah kakinya sangat pelan, gerakannya yang lembut juga membuat Masayu terlihat seperti sedang memperhatikan Mietara dengan sangat baik.


Mietara memegang tongkatnya dan memperhatikan pergerakan lambat Masayu. Setelah jarak keduanya semakin dekat, benturan tongkat dan pedang terjadi.


Tongkat hitam milik Mietara dilapisi api yang membara sedangkan pedang Masayu hanya dilapisi aura tubuhnya yang berwarna biru muda. Serangan kedua kembali terjadi ketika keduanya saling mengarahkan senjatanya ke arah lawannya masing-masing.


Permainan tongkat hitam Mietara sangat cepat, tangannya terus memutar dan membuat Masayu hanya bisa bertahan sambil menangkis serangan Mietara.


"Tangisan 500 Kata."


Masayu menebaskan pedangnya dengan cepat setelah menahan putaran tongkat hitam Mietara. Cipratan air membasahi wajah Mietara begitu juga dengan Masayu. Gerakan Masayu semakin cepat dalam mengayunkan pedangnya yang dilapisi air ke arah dada Mietara.


"Pertahanan Tongkat Hitam."


Dengan cepat Mietara menahan tebasan pedang Masayu dengan tongkat hitamnya. Tubuh Mietara terdorong nke belakang, matanya melirik kaki Masayu yang sudah siap melepaskan tendangan dengan pisau kakinya.


Mietara memutarkan tongkat hitamnya hingga membuat tebasan pedang Masayu terpental, setelah itu dia berdiri setengah kayang menghindar tendangan pisau kaki Masayu.


Penonton berdecak kagum melihat pertarungan yang berlangsung sengit itu. Mietara melompat ke belakang dan menjauh dari Masayu. Pemuda itu mengatur napasnya yang tidak beraturan.


"Perempuan yang agresif..." Mietara bergumam pelan setelah jongkok mencari keseimbangannya. Matanya menatap tajam Masayu yang sedang berlari ke arahnya.


"Tusukan Seribu Ujung Tongkat Hitam!"


Mietara berniat memulihkan tenaganya terlebih dahulu, serangannya kali ini sangat ampuh membuat Masayu memilih bergerak mundur ke belakang.


"Dengan ini aku bisa mengatur rencana yang lebih matang." Mietara berdiri sambil memutarkan tongkat hitam kesayangannya.


Di sisi lain Masayu tersenyum tipis melihat Mietara yang berhasil memaksa dirinya untuk bergerak mundur. Sama dengan hal yang dilakukan oleh lawannya, Masayu juga menggunakan kesempatan sekarang ini untuk memulihkan tenaganya.


Gadis itu mengatur napasnya secara perlahan kemudian mengaliri bilah pedangnya dengan tenaga dalamnya.


Masayu tidak ingin tinggal diam, dia berinisiatif untuk memulai serangan. Kali ini Masayu sangat berhati-hati dalam melangkah, tebasan pedangnya terlihat begitu lembut namun sangat dalam dan bertenaga.


Mietara dapat menahannya dengan mudah, mengira tebasan pedang Masayu sangat tidak bertenaga dan lembut, Mietara langsung memainkan tongkat hitamnya. Namun Masayu kembali mengayunkan pedangnya dengan sangat cepat.

__ADS_1


Ayunan pedangnya melesat dari kiri ke kanan, benturan pedang dan tongkat hitam masih menggema di Arena Lingkaran Harimau. Mietara merapatkan giginya karena mengira Masayu telah kelelahan sehingga tebasan pedangnya terlihat begitu lembut dan gemulai, namun itu menjadi titik kesalahannya.


"Aku harus bisa menahan tebasan beruntun ini. Tebasannya sangat lembut namun permainan pedangnya berubah-ubah." Mietara membatin dalam hatinya. Pemua itu masih merapatkan giginya. "Lembut tapi bertenaga. Perwakilan dari Perguruan Gunung Menangis memang hebat," batin Mietara menambahkan.


Mietara tersentak kaget ketika melihat Masayu semakin cepat dalam bergerak, kini posisi pemuda itu semakin tidak menguntungkan. Permainan tongkat hitam Mietara masih bisa menahan setiap tebasan pedang Masayu tetapi jika tetap berlanjut seperti ini maka staminanya akan terkuras habis hanya untuk bertahan.


Mietara mengaliri tongkat hitamnya dengan tenaga dalam, setelah itu dia memutarkannya lebih cepat dari sebelumnya. Mietara merelakan lengannya terkena sayatan pedang Masayu. Giginya merapat menahan sakit ketika tebasan pedang tajam Masayu menggores lengannya.


Masayu cukup terkejut, tetapi gadis itu dapat kembali tenang dan memperkirakan pergerakan selanjutnya yang akan dilakukan oleh Mietara.


"Pertandingan ini tidak akan dimenangkan dengan mudah. Jika aku tidak siap terluka maka itu akan menjadi kekalahanku." Mietara membatin dalam hatinya. Sekarang putaran lintasan api membentuk pertahanan Mietara. Tidak berapa lama Mietara memainkan tongkat hitamnya untuk menyerang Masayu kembali.


"Pernapasan Hujan."


Masayu menarik napas panjang dan menyalurkan udara ke kedua tangannya. Perlahan ayunan pedang Masayu lebih cepat dari sebelumnya, kini gadis itu menyerang balik serangan putaran tongkat hitam yang dilapisi api.


Masayu melepaskan aura tubuhnya yang berwarna biru muda sambil menebas tongkat hitam Mietara. Benturan pedang Masayu dan tongkat hitam Mietara terjadi berkali-kali.


Pertarungan keduanya berlangsung sengit, penonton terdiam menanti hasil akhir pertandingan yang tidak diketahui hasilnya tersebut.


Masayu dan Mietara bertukar serangan selama sepuluh menitan, keringat terus membasahi tubuh keduanya dan napas mereka memburu.


"Tangisan 1000 Kata."


Masayu melakukan serangan secara tiba-tiba, bilah pedanganya mengeluarkan air yang membentuk lintasan tebasan pedang. Tidak berapa lama setiap ayunan pedang Masayu selalu ada cipratan air yang membuat mata Mietara terganggu ketika terkena cipratan air tersebut.


Mietara mendorong tebasan pedang Masayu hingga gadis itu mundur ke belakang. Setelah melihat lawannya agak menjauh darinya, Mietara memusatkan aura tubuhnya di jari tengahnya dan ujung tongkat hitamnya.


Semua orang melihat Mietara yang sedang melakukan gerakan ancang-ancang, Masayu juga menyadari hal tersebut.


"Dia berniat melakukan sesuatu?" Masayu membatin dalam hatinya. Pandangan matanya melihat baik-baik gerakan yang sedang dilakukan oleh Mietara.


"Apa dia berniat melempar tongkat hitamnya?" Masayu bertanya-tanya dalam hatinya.


Tidak berapa lama pertanyaan Masayu terjawab ketika Mietara melempar tongkat hitam ke arah dirinya.


Tongkat hitam Mietara dilapisi api dan aura tubuhnya yang berwarna merah. Senyuman lebar penuh kepuasan terlihat di wajah Mietara.


"Amukan Merah Hitam!"


Mietara berteriak dan jari tengahnya berusaha tidak menarik tongkat hitamnya sebelum melihat serangan balasan Masayu.


"Dia memusatkan aura tubuhnya di ujung tongkat hitam dan jari tengahnya ... serangan penghabisan ini harus kubalas berkali-kali lipat." Masayu membatin dalam hatinya, setelah itu dia melepaskan seluruh aura tubuhnya yang berwarna biru muda.


"Pernapasan Hujan."


Masayu menarik napas panjang dan menyalurkannya ke seluruh tubuhnya, kemudian aura tubuhnya yang berwarna biru muda dia pusatkan di kaki kanannya dan bilah pedangnya.


Masayu tersenyum tipis melihat tongkat hitam yang melesat cepat ke arahnya, dengan sekuat tenaga dia berlari ke arah serangan tongkat hitam tersebut. Semua orang terkejut melihat tindakan Masayu bahkan Mietara tidak menyangka Masayu akan melakukan hal tersebut.

__ADS_1


Mata Masayu melebar dan sepenuhnya fokus untuk melakukan serangan terakhirnya. Bilah pedangnya bercahaya berwarna biru muda dan dilapisi air.


Ketika dirinya semakin dekat dengan tongkat hitam yang dilapisi api yang membara itu, Masayu menangkis serangan tersebut.


Mietara merapatkan giginya karena tangkisan Masayu membuat jari tengahnya sedikit merasa nyeri dan kesakitan. Dengan cepat Mietara mengarahkan tongkat hitamnya ke samping tetapi Masayu sudah bergerak sangat cepat untuk mendekatinya.


"Pusaran Ombak Tangisan Air Hujan!"


Masayu memutarkan tubuhnya tepat di depan Mietara. Tubuh Mietara terseret pusaran air yang menyeret tubuhnya bersama tongkat hitamnya.


Semua orang terkejut melihat serangan balasan Masayu. Mereka semua memberikan tepuk tangan yang meriah pada Masayu.


Tubuh Mietara terhempas ke atas, tidak berapa lama pusaran air dari teknik pedang Masayu berubah menjadi air hujan yang membasahi tanah tengah lapangan Arena Lingkaran Harimau.


Tubuh Mietara sampai di titik tertinggi dan melesat jatuh ke bawah. Masayu hanya diam menatap Mietara yang terbentur tanah, pemuda itu mengerang kesakitan.


"Argh!" Mietara menatap langit yang terlihat seperti sehabis hujan, napasnya tidak beraturan. Dia tidak menyangka Masayu akan melakukan serangan penghabisan yang membuat dirinya tidak berkutik sedikitpun.


Gyuki mengangkat tangannya dan mengumumkan Masayu sebagai pemenangnya.


"Pemenang pertandingan kedelapan babak 32 besar Turnamen Harimau adalah Masayu dari Perguruan Gunung Menangis!" Tepuk tangan meriah penonton menggema di seluruh pelosok Arena Lingkaran Harimau tepat setelah Gyuki mengumumkan Masayu sebagai pemenangnya.


Mietara tersenyum puas karena telah bertarung dengan segenap kekuatannya, tetapi rasa dari sebuah kekalahan membuatnya meneteskan air mata. Sebuah air mata lelaki yang telah berjuang sekuat tenaga membasahi wajah Mietara bersamaan dengan rintik-rintik air dari teknik pedang Masayu yang masih tersisa.


Masayu memberi hormat pada Mietara dan Gyuki sebelum kembali ke bangku penonton tempat Namida dan Kanae duduk menonton.


Gyuki tersenyum melihat pertandingan yang barusan dia lihat, sebuah pertandingan yang sangat menarik itu membuat Gyuki mengingat masa mudanya.


"Masa muda adalah masa yang indah..." Gyuki bergumam pelan. Tidak berapa lama dia menatap Mietara yang sedang berjalan kembali ke bangku penonton yang ditempati oleh pendekar dari Kuil Matahari Baru.


Gyuki kembali mengalihkan pertandingan sekarang ke pertandingan selanjutnya setelah Mietara dan Masayu sudah duduk di bangku penonton.


"Baiklah kita beralih ke pertandingan selanjutnya!" Gyuki tersenyum tipis dan menarik napas dalam-dalam. "Pertandingan selanjutnya mempertemukan Fuyumi Litha dan Kitakaze Chiaki!" Semua penonton kembali bergemuruh. Tidak berapa lama Gyuki melanjutkan perkataannya.


"Bagi dua peserta yang kupanggil tadi silahkan maju ke depan!"


___


**Tahu lah kayang itu gimana kan?(Serach google kalau gak tahu hehe)


Tendangan pisau kaki itu kalau di silat itu Tendangan T.


___


Note : 22~06~2020 – 26~06~2020


22 komentar : Bonus 1 chapter.(1/5)


122 Like : Bonus 1 chapter.(2/5)

__ADS_1


1000 Vote Poin : Bonus 1 Chapter(0/10)


Bonus Chapter Malming : 3/25**.


__ADS_2