
“Akhir-akhir ini? Apa kau selalu mengawasiku setiap hari?” Nagato membatin dan berteriak sekeras-kerasnya agar Roh Dewa Kematian, Shinigami, mendengar suara hatinya.
Sekarang Nagato tidak melihat wujud Roh Dewa Kematian, Shinigami, tetapi dia masih bisa mendengar suara makhluk mengerikan itu. Entah dimana keberdaan makhluk yang berwajah iblis itu berada. Tetapi Nagato merasa Roh Dewa Kematian, Shinigami, sedang mengawasinya.
“Kau pikir aku akan mengatakan padamu! Bahkan ayahmu juga selalu mengawasimu. Aku merasakan aura samar-samar milik Pandu kurang ajar itu, sejak dia mati di alam bawah sadarmu ini!” Walau memiliki suara dan sifat yang sadis. Roh Dewa Kematian, Shinigami, selalu mengatakan hal yang tidak perlu pada Nagato. Sehingga perkataannya selalu membuat Nagato penasaran.
Kali ini Nagato melepaskan aura hitam pekat dan membuat kubangan hitam keputusasaan meledak seperti ombak. Air yang berwarna hitam membulat dan meledak hingga lenyap tak bersisa ditelan kegelapan. Kedua bola mata Nagato mencoba mencari keberadaan Roh Dewa Kematian, Shinigami.
“Apa yang kau katakan padaku itu sungguhan, Shinigami?!”
Nagato berteriak dan berharap Roh Dewa Kematian, Shinigami, menunjukkan wujudnya kembali namun sepertinya makhluk mengerikan itu tidak ingin menunjukkan wujudnya kembali.
“Berisik sekali! Kau urus saja masalahmu! Jangan pernah muncul dihadapanku lagi!” Terdengar suara jentikkan yang membuat Nagato menghilang tubuhnya dari alam bawah sadar. Belum sempat Nagato mengetahui alasan dibalik perkataan Roh Dewa Kematian, Shinigami, tubuhnya menghilang secara perlahan bagaikan cahaya yang memudar ditelan kegelapan malam.
Tak lama Roh Dewa Kematian, Shinigami, menunjukkan wujudnya setelah Nagato menghilang sepenuhnya. Makhluk mengerikan itu mengayunkan pedangnya yang berbentuk sabit ke sembarang arah.
“Pemuda yang mirip denganmu adalah aku yang sebenarnya! Kebencianku masih belum sepenuhnya menghilang! Pandu! Sarah! Lihat sekarang! Anakmu datang meminta kekuatan padaku!”
Roh Dewa Kematian, Shinigami, tertawa dan tersenyum menyeringai penuh kepuasan. Bersamaan dengan rasa puasnya, Roh Sang Hitam muncul dengan wujud perempuan berparas cantik yang memiliki telinga panjang dan runcing.
Tanpa sehelai pakaian yang dikenakan. Roh Sang Hitam menjentikkan jarinya membuat Roh Dewa Kematian, Shinigami, terikat ribuan rantai berwarna hitam pekat.
“Itu salahmu yang berusaha menghancurkan dunia! Dikhianati oleh orang yang kau anggap pion.... Dasar menyedihkan!”
Wajah sinis Roh Sang Hitam membuat Roh Dewa Kematian, Shinigami, berteriak dan mengeluarkan suara yang menggelegar dari alam bawah sadar Nagato.
“Maka dari itu. Aku akan membunuh manusia sebanyak-banyaknya! Terutama ras manusia yang mengetahui kebenaran tentang Eden dan mereka menutupinya... Aku harus membunuh manusia yang mengaku Dewa!”
Roh Dewa Kematian, Shinigami, kembali berteriak dan membuat Roh Sang Hitam menjentikkan jarinya. Sebuah rantai menutup mulut Roh Dewa Kematian, Shinigami, secara paksa.
Roh Sang Hitam dengan mudah membekap mulut Roh Dewa Kematian, Shinigami. Dengan wajahnya yang sinis walau berparas cantik, Roh Sang Hitam memejamkan matanya ketika mata Roh Dewa Kematian, Shinigami, menatap dirinya kedua bola mata yang mendelik.
“Aku percaya dia dapat mengetahui kebenaran itu. Dia telah lama menderita. Dia begitu lemah. Dunia sangat membenci namanya. Tetapi aku yakin, dia adalah orang yang akan menemukan Eden.... Menemukan sejarah kelam manusia. Jika bukan dia yang memikul takdir Karma. Maka anaknya akan memikul pertempuran yang dijanjikan dan tidak bisa dihindari. Perang Karma. Aku yakin, pemuda itu menjadi kuncinya.”
Roh Sang Hitam menghilang dan membiarkan tubuh Roh Dewa Kematian, Shinigami, terikat ribuan rantai hitam tanpa dilepaskan.
__ADS_1
‘Mungkin dia bisa menggunakan tingkat tiga kutukanku. Tetapi empat dan lima. Dia tidak bisa. Saat itu tiba, maka aku akan bebas. Aku harus bersabar sampai hari itu tiba. Seorang Dewi sepertimu berharap pada manusia! Dasar tidak berguna!’
Roh Dewa Kematian, Shinigami, mengerang dan mengutuk Roh Sang Hitam beserta Nagato dari dalam hatinya.
***
“Aku kembali?” Nagato sedang menangkis tebasan pedang Kousuke.
“Kembali? Apa yang kau katakan?” Kousuke menatap Nagato dan menendang perut Nagato dengan tendangan yang memakai tumit kakinya.
Nagato menggertakkan giginya dan menahan tebasan beruntun dari Kousuke. Cipratan air mengenai wajahnya. Sensasi sekarang yang dirasakan Nagato membuat dirinya tenang walau hati dan emosinya berkobar layaknya api yang membara.
‘Seacara tidak sadar aku melakukan konsentrasi secara penuh. Perasaan ini, aku merasakannya saat Kakek Bisma mengajariku cara berdiri di gerbang hitam itu. Sekarang pertanyaanku adalah gerbang hitam itu. Aku tidak tahu tentang itu, tetapi ketenangan yang didapat dari aura itu. Aku ingin mengetahuinya...’
Ayunan pedang Nagato masih lemah. Serangannya hanya mencari celah untuk menusuk perut Kousuke. Tebasan demi tebasan yang dilancarkan Kousuke masih dapat ditahan oleh Nagato.
Benturan api dan api terus bertabrakan. Tebasan Kousuke dalam, namun tebasan Nagato juga dalam, bahkan sekarang dia bisa melihat dan menatap arah ayunan yang cepat dari tebasan pedang Kousuke.
“Bocah! Jangan berlagak tenang saat berhadapan denganku!”
Badannya bersimbah darah. Senyuman menyeringai di wajah Nagato. Beberapa prajurit militer Kekaisaran Rakuza dan pendekar yang melihat ekspresi Nagato berkeringat dingin.
“Ada apa?” Suaranya dingin dan tatapannya tajam. Dalam satu langkah yang pasti. Nagato melepaskan aura tubuhnya untuk mengintimidasi Kousuke.
Aura tubuhnya menyebar layaknya elang yang memangsa ular. Tubuh Kousuke tidak bergerak sedikitpun karena merasakan perbedaan dalam diri Nagato.
Mungkin orang yang melihat pertarungan mereka, merasa Kousuke lebih unggul dalam pertarungan. Namun sekarang Nagato sedang mengintimidasi Kousuke dengan aura tubuhnya. Orang yang paling mengetahui dan menyadari perubahan Nagato hanyalah Kousuke, yang sekarang menjadi lawannya.
“Ruang Hampa!” Nagato menekan aura tubuhnya dan mengarahkannya pada Kousuke. Tubuh Kousuke terduduk di tanah. Nagato tersenyum menyeringai dan melesat cepat sambil mengayunkan pedangnya dengan lincah.
“Tenkai!”
Kousuke dengan cepat berdiri dan menahan tebasan pedang Nagato. Tendangan kaki dan tebasan pedang Nagato mengenai dadanya. Mata Kousuke menatap Nagato penuh kebencian.
“Kau! Bocah tengik sialan!”
__ADS_1
Suara pedang yang berbenturan kembali menggema. Nagato dan Kousuke bertukar serangan. Tebasan jarak jauh dari Kousuke dapat dihindari Nagato dengan baik.
“Ini tidak baik. Bagaimanapun aku harus membuatmu menyesal karena telah menggunakan pedang itu...” Sekuat tenaga Nagato mengayunkan pedangnya dari jauh. Tebasan pedang yang membentuk sabit api melesat cepat ke arah Kousuke.
Melihat serangan yang melesat cepat ke arahnya. Kousuke tertawa dan berlari ke arah Nagato sebelum keduanya bertukar serangan kembali. Tebasan demi tebasan keduanya membuat pertarungan semakin sengit.
Nagato sangat menikmati pertarungan ini. Mata Nagato menyipit dan mengincar kepala Kousuke. Namun pria yang menjadi lawannya itu menunduk dengan cepat dan menatap Nagato sangat tajam.
“Cih!” Nagato menjentikkan lidahnya dan mundur dua langkah ke belakang sebelum menebaskan pedangnya dengan cepat.
“Rambutku? Kau!” Mata Kousuke mendelik ketika menyentuh rambutnya yang terkena tebasan pedang Nagato.
“Maaf, aku masih belajar mengayunkan pedang...” Dengan sengaja Nagato memprovokasi Kousuke yang menatapnya geram.
Tak sampai satu menit. Kousuke mengayunkan pedangnya dengan membabi buta pada Nagato. Permainan pedang Kousuke berubah menjadi agresif. Sedangkan Nagato masih tetap tenang dan melakukan tebasan halus sebelum menebaskan pedangnya lebih kuat dan bertenaga.
“Lautan Api!”
“Lintasan Jingga!”
Nagato menebaskan pedangnya secara beruntun dan membuat Kousuke sadar dengan tindakannya.
“Kekuatanku masih jauh diatasmu!” Kousuke menahan tebasan pedang Nagato dengan serangan tebasan pedang yang membentuk ombak air.
Kousuke melepaskan aura tubuhnya lebih besar dan terus mengayunkan pedangnya secara brutal. Tebasan pedangnya membuat Nagato memejamkan matanya.
“Bagaimana kau bisa tahu kekuatanku masih di bawahmu?”
Wajah Kousuke berubah karena merasakan Nagato melepaskan aura tubuhnya yang berbeda. Api yang membara disekitar Nagato membuatnya bergidik ngeri.
“Aku tahu kenapa Tuan Brusca dan Tuan Gore menginginkanmu...” Kousuke melepaskan aura tubuhnya lebih besar dan berniat membuat Nagato terluka walau dirinya diperintahkan untuk menangkap Nagato hidup-hidup. Namun setelah melihat aura tubuh Nagato yang berbeda. Kousuke berniat membunuh Nagato tanpa sengaja.
“Gore? Beri tahu aku dimana orang itu!” Telinga Nagato bergoyang ketika mendengar nama Gore yang diucapkan Kousuke.
Kali ini aura tubuh Nagato berubah-ubah. Sekarang Nagato tidak memanipulasi aura tubuhnya menjadi api, melainkan mengubahnya dari aura berwarna emas menjadi hitam pekat bercampur emas.
__ADS_1
“Tenkai!”