
Namida mengajak Litha dan Masayu untuk mencari orang yang meniup seruling ilusi. Dan orang itu tak lain adalah Fu.
Di dalam Istana Labirin. Ruangan yang paling atas, dekat dengan ruang singgasana. Di sana Nagato sedang bertarung melawan Shu.
Perbedaan kekuatan keduanya cukup jauh. Shu terus memberikan serangan pada Nagato. Serangan Shu membuat Nagato terdesak.
Pedang besar milik Shu yang berwarna kuning keemasan itu. Membuat Nagato cukup kesulitan melakukan perlawanan. Bahkan pedang yang Nagato gunakan, bukanlah pedang peninggalan ayahnya. Pedang yang ada di tangan Nagato adalah pedang yang di belikan oleh Kakek Hyogoro di tempat Nenek Beo.
Nagato mencoba kembali fokus. Serangan Shu bisa ditangkis Nagato, tetapi jika dia terus berada di posisi bertahan maka itu akan menjadi kekalahannya. Karena Shu belum menggunakan kemampuannya yang sebenarnya.
Nagato membuat aura tubuhnya menjadi api. Dan Nagato juga mencoba menyalurkan tenaga dalamnya pada pedangnya.
Shu tersenyum lebar melihat Nagato yang berusaha melawannya. Dia mengeluarkan 30 dari 100 kekuatannya kali ini. Serangan Shu membuat Nagato terdesak kembali. Bahkan hanya dengan sekali tebasan pedang besar Shu, sudah membuat Nagato mundur beberapa langkah ke belakang.
Nagato memikirkan cara untuk memberikan perlawanan pada Shu. Napas Nagato mulai terengah - rengah, kemudian Nagato kembali mengatur napasnya.
"Orang ini lebih kuat dariku. Aku sudah lama ingin bertarung dengan orang yang seperti ini." batin Nagato sambil menatap Shu dengan tajam.
Nagato maju menyerang Shu. Tebasan demi tebasan berbenturan satu sama lain. Keduanya bertarung sengit. Shu bisa melihat jika Nagato memiliki keinginan untuk bertarung dengannya lebih dari yang dia perkirakan.
"Bagus. Aku sudah lama tidak melihat wajah pucat orang yang berusaha sekuat tenaga. Aku ingin mendengar teriakanmu, ketika aku memotong tangan dan kakimu." ucap Shu sambil menyerang Nagato.
Nagato tersenyum tipis mendengar perkataan Shu. Kemudian Nagato mengolah pernapasan sirih, dia menyerang Shu dengan jurus yang mematikan. Selesai menggunakan jurusnya, Nagato kembali menggunakan jurus yang lainnya.
Tebasan pedang Nagato sangat mematikan. Setiap tebasannya dalam dan berkali - kali tebasannya mampu memberikan luka pada tubuh Shu. Bahkan langkah kakinya yang cepat juga sulit diikuti oleh Shu.
"Orang ini hanya terluka seperti tergores sebuah pisau saja. Sebenarnya seberapa kuat orang ini?!" batin Nagato berdecak kesal melihat Shu yang masih berdiri dengan gagahnya. Bahkan serangan Nagato seolah - olah bukan apa - apa bagi Shu.
Shu mengeluarkan aura tubuhnya dan memanipulasi auranya menjadi kabut. Dalam sekejap ruangan yang menjadi tempat pertarungan Nagato dan Shu, dipenuhi oleh kabut tebal.
__ADS_1
Shu tersenyum ketika melihat Nagato kebingungan. Dia paling suka membunuh orang yang sedang terlihat kebingungan. Dan itu sudah menjadi kebiasaan Shu.
"Satu - satunya cara untuk melihat auraku yang asli hanya dengan menggunakan Tenkai. Bocah ini sepertinya tidak bisa menggunakan Tenkai." gumam Shu yang sedang mengamati Nagato.
Shu menyerang Nagato secara diam - diam dari kabut yang tebal. Melihat Nagato yang mencoba mencari keberadaan dirinya, membuat Shu semakin ingin membunuh Nagato.
Tebasan pedang Shu mampu melukai Nagato. Walaupun Nagato mampu menahannya, tetapi Nagato terlambat bereaksi. Sehingga Nagato berulang kali terkena tusukan dan tebasan pedang Shu.
Shu terus menyerang dengan cara yang sama. Semakin lama dirinya menyerang Nagato. Semakin terbiasa Nagato menghadapi serangan Shu.
"Apa dia bisa menggunakan Tenkai? Tapi aku tidak merasakan auranya sama sekali?!" batin Shu melihat Nagato yang sudah mampu mengikuti serangannya. Bahkan serangannya yang dilakukan dari balik kabut sudah mulai tidak efektif terhadap Nagato.
Nagato tersenyum tipis karena merasakan detak jantung dan hembusan napas Shu yang mulai tidak teratur. Kali ini dirinya sudah membuat Shu masuk ke dalam jaring laba - labanya.
Nagato yang sudah terbiasa melatih pernapasannya di Bukit Angin yang sering dipenuhi kabut dan Air Terjun Tujuh Mata Air Berbeda. Membuat Nagato terbiasa dengan serangan Shu yang menyerang dari kabut.
"Pernapasan Pelangi Surgawi : Bentuk Merah."
Nagato mengolah pernapasannya sebelum menyerang Shu. Tebasannya yang cepat tidak bisa diikuti Shu. Sekarang Nagato sudah bisa bertarung seimbang dengan Shu. Walaupun banyak kabut tebal yang menghalangi jarak pandangnya. Tetapi semua itu bukanlah hambatan bagi Nagato.
Shu berkeringat dingin melihat pedang hitam yang bilahnya tipis dan panjang menyerang dirinya. Shu tidak menyangka Nagato sudah bisa bertarung seimbang melawannya. Walaupun masih berada dalam kabut tebal miliknya.
"Kenapa dia bisa menyerang seperti ini!" umpat Shu dalam hatinya ketika melihat tebasan pedang Nagato yang mengejarnya. Kali ini Shu menggunakan seluruh kekuatannya, baru pertama kali Shu bisa melihat orang yang berhasil bertarung dengannya. Setelah berada dalam kabut tebal yang diciptakan Shu dari aura tubuhnya.
Shu bisa melihat potensi Nagato yang mengerikan. Karena setiap orang yang berada di dalam kabut tebal miliknya, pasti orang tersebut akan mati dengan mudah di tangannya. Tetapi kali ini dirinya melihat Nagato yang mampu bertarung dengannya walau masih berada di dalam kabut.
Tebasan pedang Shu hanya melukai badan Nagato. Tetapi tidak ada satupun tebasan Shu yang melukai punggung Nagato.
Nagato dapat mengimbangi serangan tebasan pedang besar Shu yang beruntun menyerang dirinya.
__ADS_1
"Lautan Api."
Nagato menebaskan pedangnya sambil melakukan gerakan tipuan. Tetapi tebasannya dapat di tangkis oleh Shu dengan mudah.
Nagato mundur beberapa langkah ke belakang untuk menjaga jarak. Kemudian Nagato menebaskan pedangnya dari jauh, tebasan pedang Nagato menciptakan api padat berbentuk sabit yang melesat ke arah Shu.
Shu berlari mendekati Nagato. Tatapan mata Shu terlihat seperti ingin mencabik - cabik tubuh Nagato.
Nagato mengeluarkan seluruh auranya sebelum menggunakan jurus yang dia latih selama tiga tahun di Hutan Cakrawyuha.
Api panas membara di tubuh Nagato. Terlihat api tersebut mengelilingi tubuh Nagato. Perlahan auranya semakin menyebar dan berubah menjadi api seluruhnya.
Shu bisa melihat Nagato yang hendak mengeluarkan jurusnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi Shu menggunakan jurus pamungkasnya.
"Kabut Emas Kematian."
Tebasan pedang besar Shu membuat pedangnya menyala. Warna emasnya semakin terlihat, bahkan dalam sekali ayunannya dapat menghilangkan seluruh kabut yang ada di ruangan Istana Labirin
"Api Matahari."
Nagato maju menyerang Shu dengan cepat dan menebaskan pedangnya pada Shu.
Benturan cahaya berwarna merah menyala dan emas terlihat di udara. Tebasan Nagato terasa begitu panas bagi Shu. Perlahan Shu tidak mampu menangkis serangan Nagato.
Sebelum menebas badan Shu dengan tebasan pedang terakhirnya. Nagato memutarkan tubuhnya membuat putaran api panas yang membakar tubuh Shu.
Dalam sekali tebasan Nagato mengakhiri hidup Shu. Ini adalah pertama kalinya bagi Nagato membunuh manusia.
Setelah berhasil membunuh Shu. Perlahan - lahan tubuh Nagato tumbang karena kehabisan aura tubuhnya.
__ADS_1