Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 276 — Pembantaian Sepihak II


__ADS_3

“Ichiba, Oichi!” Shirayuki menatap Ichiba dan Oichi yang berlari terbirit-birit menghampirinya. Terlihat Hika dan Tika yang menatap Takatsugu berkaca-kaca.


“Tuan Putri Shirayuki. Tolong jaga kedua anakku. Aku tidak menyangka laki-laki itu selalu saja bertindak ceroboh dan seenaknya!” Ichiba tidak habis pikir karena melihat Takatsugu berniat mengorbankan nyawanya.


Shirayuki sendiri tidak dapat berbuat banyak tetapi saat ini dia ingin melindungi kebahagiaan kecilnya ini. Senyuman manis keterpaksaan menghiasi wajahnya.


“Ichiba jangan bertindak gegabah! Aku akan mengulur waktu untuk kalian! Bawa orang-orang yang ada disana pergi dari sini!” Shirayuki menunjuk Takatsugu dan yang lainnya. Pendekar yang telah melancarkan serangan aura para Ignist.


“Ibu!” Iris panik karena dia sudah sering melihat ibunya selalu bertindak seenaknya. Tanpa memikirkan perasannya, bahkan demi kehidupannya, Shirayuki rela melakukan segalanya bahkan jika harus memberikan nyawanya sekalipun.


Shirayuki tersenyum kepada Iris dan mengelus rambutnya, “Tenang saja. Ibu tidak akan mati semudah itu. Kau harus bisa menguasai teknik itu. Teknik terlarang. Jika kau menguasainya, suatu saat maka kau akan melindungi orang yang berharga bagimu...”


Shirayuki mencoba menggunakan teknik terlarang. Kekuatan dari Dewi Salju yang tersisa, namun aura tubuhnya tidak mencukupi. Sempat berpikir untuk menggunakan nyawanya sebagai gantinya, namun tubuh Shirayuki tidak dapat mengikuti pikirannya. Mulutnya mengeluarkan darah dalam jumlah banyak, bibir mungilnya bersimbah darah.


“Tuan Putri Shirayuki... Maafkan aku, jangan memaksakan diri anda....” Ichiba menggigit bibir bawahnya. Kemudian dia menatap Tika dan Hika berkaca-kaca.


”Kita tidak dapat bertahan dari ini...” Oichi tidak menyangka pertempuran akan berakhir seperti ini. Kekalahan bagi semuanya, sungguh ironis.


“Bibi Shirayuki! Orang itu mencariku! Mereka tidak akan berhenti membunuh sampai menemukan orang yang bermarga Kagutsuchi!” Nagato setengah berteriak pada Shirayuki. Dia merasakan kekesalan yang bercampur dengan perasaan tidak berdaya, “Aku akan berbicara dengan mereka!”


Ketika Nagato menyelesaikan perkataannya, petir menyambar tanah tepat di depan mereka berdiri. Shirayuki langsung menaikan kewaspadaannya, begitu juga dengan Ichiba dan Oichi. Sementara Nagato, Iris, Litha, Hika dan Tika terkejut melihat serpihan-serpihan petir membentuk tubuh manusia.


“Benar sekali, kalian semua tidak akan bertahan dari amukan keempat orang itu. Dan kalian semua juga tidak akan mengalahkanku.” Tiba-tiba Raido berada di depan mereka.


“Tadi kau mengatakan nama margamu Kagutsuchi, bukan?” Raido menatap tajam Nagato an tersenyum menyeringai.


Tangan Raido melepaskan pukulan yang dilapisi petir. Hembusan angin bercampur api menahan pukulan petir yang mengarah pada Nagato. Shirayuki dan yang lainnya kembali dibuat terkejut dengan kedatangan pria yang memakai jaket hitam dan memiliki rambut merah.


“Tidak akan kubiarkan kau menyentuhnya, Raido!” Pria berambut itu melakukan gerakan sedikit aneh, tipuannya membuat Raido sempat terkejut dan menjaga jarak dengannya.


“Kau...” Raido terkejut melihat seorang pria berambut merah dengan kekuatan Air Suci Tipe Elemen : Api. Senyuman lebar menghiasi wajahnya, “Apa kau termasuk dalam percobaan Elemen yang dilakukan para manusia keparat itu?!”


Pria berambut merah justru merokok dengan santai dan menatap Raido dengan tatapan yang tenang.


“Kekuatanku ini pemberian dari seseorang. Aku datang jauh-jauh, kembali dan bergabung dengan kumpulan manusia berwujud iblis agar bisa bertemu denganmu, Kagutsuchi Nagato!” Pria berambut merah justru menoleh pada Nagato dan tersenyum ramah.


Raido menarik napas dalam-dalam, hanya dalam satu tarikan napasnya, kecepatan serta pukulan tangannya membuat pria berambut merah terpental dengan mulut yang memuntahkan darah segar ketika perutnya terkena pukulan Raido.

__ADS_1


“Hound! Apa yang kau lakukan?! Kita diperintahkan menangkap keturunan Pandu hidup-hidup!” Dua pria dari Organisasi Disaster yang meminum Air Suci Buatan Tipe Elemen : Api menegur pria berambut bernama Hound yang berbicara pada Nagato.


“Huh, sakitnya. Pengguna Air Suci yang telah membangkitkan kekuatan sangat berbeda..." Pria berambut merah bernama Hound berdiri. Kemudian dia melepaskan aura tubuhnya sebelum membunuh kedua rekannya yang menjadi bahan percobaan Black Madia, Gore dan Magma.


“Hound! Apa yang kau lakukan—” Keduanya mati dalam sekejap ketika pukulan tangan Hound menembus perut mereka.


“Maaf, tetapi sejak awal aku tidak memiliki niat untuk menculik anak Hizen ataupun membunuh keturunan Pandu...” Hound menggumam pelan dan menoleh melihat Raido yang menatapnya keheranan.


“Sepertinya kau tidak akan melepaskanku...” Hound kembali merokok dan menatap Raido berharap pria berbadan kekar itu dapat diajak bicara baik-baik.


“Namamu Hound? Apa yang dilakukan anggota Hero di benua ini?” Raido menghilang dari pandangan Nagato dan yang lainnya.


“Tergantung dari jawabanmu. Jika kau mau menjadi anggotaku maka aku akan membiarkanmu hidup. Bergabunglah denganku, aku akan membentuk sebuah organisasi yang akan menjadi salah satu Lima Penguasa...” Raido berada di depan Hound dan melepaskan kekuatan Air Suci-nya untuk mengintimidasi.


“Lima Penguasa?!” Wajah Hound terlihat membenci nama itu. Kemudian dengan segenap kekuatannya, dia mulai melepaskan serangan pada Raido.


“Kita pergi!” Shirayuki menggunakan kesempatan ini untuk pergi dari tempat pertarungan Hound dan Raido.


“Nagato, apa kau mengenal orang itu?” Shirayuki bertanya pada Nagato sambil berlari menuju tempat Emi.


“Tidak. Aku sama sekali tidak mengenalnya...” Nagato masih menatap Hound keheranan. Tetapi dia sangat berterimakasih pada pria berambut merah yang menahan Raido.


“Pertarungan mereka berat sebelah. Pengguna kekuatan api itu tidak akan bertahan lebih lama...” Iris sesaat menoleh ke belakang melihat Hound yang terdesak melawan Raido.


Nagato masih tidak percaya dengan keadaan ini. Namun dia masih berharap lebih, sekecil apapun itu dia tidak boleh merasa putus asa terlebih dahulu sebelum berjuang sekuat tenaganya.


Sementara itu di bagian selatan. Terlihat Karakurt menggunakan masker dan pakaian pelindung, begitu juga dengan Black Rhino. Asap dari kekuatan Air Suci Tipe Bencana : Gas Belerang mulai menyebar dengan cepat. Prajurit militer Kekaisaran Rakuza dan prajurit militer Kekaisaran Kinai sudah menghirup, begitu juga dengan sebagian pendekar dari Gunung Menangis, Air Terjun Kebenaran, Klan Misuzawa, Klan Seifu dan beberapa klan barat dari Kekaisaran Kai. Mereka semua tergeletak di tanah.


Di tempat yang tidak terkena asap terlihat Hana mencari keberadaan Hanabi. Bahkan Matsuri tidak menemukan keberadaan Hanabi dimanapun.


“Matsuri, dimana Hanabi?!” Hana berteriak panik. Matsuri keluar dari Ilusi Hutan Cakrawyuha bersama Hanabi. Mereka berdua bersama melawan prajurit militer Kekaisaran Rakuza, namun keduanya terpisah saat Black Rhino menyerang secara membabi-buta.


“Hanabi... Tidak mungkin!” Matsuri panik karena merasa Hanabi tertinggal bersama pendekar yang lainnya di tempat berasap itu.


Matsuri hendak berlari ke asap yang memenuhi kota bagian selatan, namun tangannya di tahan Hana.


“Apa Hanabi disana?!” Hana tidak menyangka Hanabi tertinggal di kepulan asap itu.

__ADS_1


Teriakan kematian menggema bahkan amukan dari Black Rhino membuat mereka semua menjaga jarak dari kepulan asap tersebut.


“Ketua Mio, bantu aku!” Namida menatap Mio dan memberi isyarat untuk memanipulasi aura. Pendekar dari Gunung Menangis dan Air Terjun Kebenaran mengerti maksud Namida.


“Semuanya kita bantu Ketua Namida!” Mio mengikuti Namida.


Namida dan Mio mulai memanipulasi aura tubuhnya menciptakan hujan air yang rintik-rintik membasahi tempat mereka pijak.


“Tidak akan kubiarkan!” Karakurt keluar dari kepulan asap dan hendak melancarkan serangan namun teriakan dari seorang gadis muda berambut hitam kemerah-mudaan menggema.


“Semuanya menjauh dari asap ini!” Namida, Mio, Hana, Matsuri dan beberapa pendekar muda seperti Masayu, Yuri, Chiaki, Chaika serta pendekar muda lainnya terkejut melihat Hanabi keluar dari kepulan asap.


Mereka semua mengikuti perkataan Hanabi. Dengan cepat Hana dan Matsuri membawa tubuh Hanabi.


“Mereka berdua membunuh semua orang...” Hanabi terlihat begitu pucat. Tubuhnya terasa begitu panas.


“Asap itu racun? Itu adalah gas yang berbahaya! Hanabi olah pernapasan milik ayahmu!” Hana memberi isyarat pada Hanabi agar mengolah Pernapasan Cakra.


Hanabi mengikuti perintah Hana tetapi tubuhnya sudah begitu lemah. Matsuri melihat adik kandungnya tergeletak tak berdaya, dan tidak dapat menahan amarahnya.


“Kyla! Pimpin mereka untuk menjauh dari sini! Pergi sejauh mungkin!” Matsuri menatap Kyla dan beberapa bawahannya.


“Tetapi—” Kyla terkejut dengan perkataan Matsuri.


“Aku akan menahan orang itu dengan serangan jarak jauh! Cepat pergi!” Perintah Matsuri membuat Kyla dengan berat hati pergi.


Sementara itu di dalam kepulan asap. Darah segar mengalir dengan deras di jalanan. Black Rhino membunuh tanpa pandang bulu.


“Karakurt! Kekuatanmu ini sangat berguna tetapi kau sangatlah payah!” Black Rhino menyinggung Karakurt yang tidak dapat melumpuhkan semua orang di bagian selatan.


“Oi! Dimana keberadaan orang yang bermarga Kagutsuchi?!” Black Rhino mencekik salah satu pendekar dari Gunung Menangis.


“Walau aku tahu sekalipun. Aku tidak akan pernah mengatakannya padamu!” Pendekar dari Gunung Menangis meludahi wajah Black Rhino. Walau tubuhnya telah lemah karena menghirup asap dari gas belerang, tetapi dia masih mempunyai tenaga untuk membuat Black Rhino marah.


Tidak butuh waktu lama untuk Black Rhino membunuh pendekar tersebut. Hanya dalam sekali genggamannya. Leher pendekar tersebut hancur.


“Aku rasa manusia rendahan yang berasal dari negeri bernama Kai memiliki nyali yang lebih besar dari sekelompok pecundang ini...” Black Rhino mengelap wajahnya yang terkena air liur orang yang barusan dia bunuh.

__ADS_1


“Sialan! Mayat ini!” Seketika Black Rhino melepaskan kemarahannya. Perlahan wujudnya mulai berubah.


__ADS_2