
Hai, Author Pena Bulu Merah kembali.
Mohon maaf sebelumnya karena baru up, dua hari ini Author pindahan rumah jadi lupa up. Terlalu fokus menata barang-barang sampai lupa buka hp, padahal tadi sore ingat tapi pas buka WhatsApp malah lupa haha, sekian basa-basinya, sekarang silahkan nikmati dan selamat membaca.
Yuk follow IG author.
___
IG : pena_bulu_merah
____
Pertandingan yang semakin mendekati akhir dari babak penyisihan kembali dilanjutkan dengan menyajikan pertandingan antara Masayu melawan Sasae. Pertarungan apik dari kedua gadis cantik itu sangat memukau di tengah sinar matahari yang mulai bercengkrama menyambut sore, benturan pedang, saling bertukar serangan terus terlihat di lapangan Arena Lingkaran Harimau. Sekarang Masayu dan Sasae mampu membius penonton dengan permainan pedang yang gemulai dan penuh seni.
Gadis berambut biru itu dapat mengimbangi permainan pedang Masayu yang memiliki pola gerakan unik. Gerakan Masayu sulit untuk ditebak namun Sasae dapat menangkis setiap serangan yang dilancarkan oleh lawannya itu begitu juga dengan sebaliknya.
Yang paling menarik dari pertarungan kedua gadis yang beranjak dewasa di bawah sana adalah senyuman tipis mereka yang terkadang terlihat, keringat yang membasahi wajah mereka berkali-kali membuat penonton laki-laki hanya bisa menelan ludah.
Sasae memanipulasi aura tubuhnya menjadi air yang terus menerus membuat Masayu kesulitan, mengingat Masayu memanipulasi aura tubuhnya menjadi seperti hujan. Rintik air yang ada di dekat Masayu membuat Sasae meningkatkan kewaspadaannya.
Sasae menebaskan pedangnya ketika dia mundur ke belakang untuk menjaga jarak dari Masayu. Sebuah air yang padat berwarna biru melesat dengan cepat ke arah Masayu. Hal itu juga dilakukan oleh Masayu yang mengayunkan pedangnya melakukan hal yang sama seperti Sasae.
Tebasan air yang padat berwarna biru bertemu dengan tebasan pedang Masayu yang berwarna putih, kedua tebasan itu bertemu.
Ledakan terjadi membuat Sasae dengan terhuyung mencoba tetap berdiri tegak, sedangkan Masayu mengolah pernapasan sebelum kembali bergerak untuk melakukan serangan.
"Pernapasan Hujan."
Masayu kembali lagi bergerak dan melancarkan serangan keduanya dari jauh, sebuah burung walet terbentuk dari aura tubuhnya dan menyatu dengan tebasan pedangnya.
"Tembok Air Pelindung Aura."
Jari telunjuk Sasae terlihat seperti memberi tanda pada Masayu. Sebuah air berwarna biru membentuk tembok pelindung di sekitar Sasae.
Tebasan yang dilesatkan Masayu terus melesat dengan cepat ke arah Sasae. Semua orang terdiam dan berdecak kagum ketika burung walet yang bercampur dengan tebasan pedang Masayu meledak menjadi butiran air yang membentuk sebuah jarum.
"Maaf, aku ingin berada satu panggung dengan Nagato dan Litha. Aku merasa kesal karena mereka berdua terlihat seperti tidak mengenaliku!" Masayu tersenyum tipis ketika melihat raut wajah Sasae yang terkejut.
"Kenapa butiran air ini bisa menembus pelindung air milikku?!" Sasae melihat dengan jelas ketika butiran air yang membentuk jarum itu menyatu dengan tembok pelindung air miliknya dan menembusnya kemudian melesat dengan cepat menyerangnya.
__ADS_1
Sasae dengan cepat bergerak ke samping tetapi ayunan pedang dari Masayu membuat wajah santai Sasae berubah seperti orang yang kaget melihat sesuatu.
"Dia sudah berada disampingku! Pergerakannya sangat cepat dan dia memiliki teknik pedang yang unik dan tak terbatas pergerakannya!" Sasae memutarkan tubuhnya untuk menahan serangan dari depan dan belakangnya. Kemudian dia kembali mengayunkan pedangnya menyerang Masayu.
Butiran air yang berbentuk jarum berhasil ditangkis, kini Sasae menahan tebasan Masayu hingga dirinya terpental ke belakang. Masayu sendiri cukup terkejut dengan gerakan Sasae yang sangat lincah seperti seorang penari yang memegang pedang.
"Dia sepertinya memiliki teknik yang hampir sama dengan Perguruan Gunung Menangis. Ibu pernah bercerita tentang ilmu beladiri Air Terjun Kebenaran yang sangat mirip dengan kami." Masayu membatin sambil mengatur napasnya terlebih dahulu sebelum kembali bergerak dengan cepat mengayunkan pedangnya pada Sasae.
"Ibu Air dari Air Terjun Kebenaran pernah mengatakan tentang tempat tersembunyi yang merupakan bagian dari leluhur kami. Dan itu adalah tempat kalian, Masayu." Sasae tersenyum tipis ketika Masayu mengayunkan pedangnya dengan cepat memberikan serangan telak padanya.
"Aku juga mendengar tentang hal itu, bisa dibilang kalian adalah pecahan dari kami. Ketika para leluhur memiliki perbedaan pendapat." Masayu memutarkan tubuhnya lalu mengayunkan pedangnya sedangkan kakinya bersiap-siap untuk menendang Sasae.
"Ya, setiap manusia pasti memiliki perbedaan pendapat." Sasae menahan tebasan pedang Masayu tetapi tidak menahan tendangan Masayu. Tubuhnya kembali terpental ke belakang.
Masayu tersenyum dan menghunuskan pedangnya di samping leher Sasae yang baru terjatuh ke tanah, banyak orang yang terdiam melihat serangan yang dilakukan Masayu.
"Hebat, kau bisa membuatku tidak berkutik sedikitpun." Sasae mencoba untuk tersenyum ketika melirik pedang yang tajam berada tepat di samping leher putihnya yang mulus itu.
"Sasae kau juga hebat, permainan pedangmu sangat sulit kutebak. Aku sendiri tidak memprediksi ketika kau memutar dan menangkis serangan yang datang dari dua arah," puji Masayu kepada lawannya itu. Gadis berambut biru dengan rambut yang terurai dan wajah yang dipenuhi keringat tersenyum lembut mendengarnya.
"Seharusnya aku yang mengatakan hal itu kepadamu. Seperti kata Nenek Sachie kita harus berteman walau tadi kita berdua saling berusaha untuk mengalahkan. Terimakasih Masayu atas pujianmu, aku senang mendengarnya." Sasae memejamkan matanya dan menatap Sachie yang sedang melihat mereka.
"Aku menyerah!" Hanya kata itu yang keluar dari mulut Sasae sebelum gadis itu menerima uluran tangan Masayu dengan pegangan tangannya.
"Kalian tunas muda harus berpikir tenang dalam setiap keadaan, karena emosi terkadang akan memecah tali persaudaraan sedangkan jika kalian mampu menahan emosi dan menjunjung tinggi arti sebuah pertemanan maka Kekaisaran Kai yang kita tinggali ini akan dipenuhi dengan generasi muda yang memiliki tali persaudaraan yang erat. Dan semua itu akan membuat Kekaisaran Kai menuju ke arah yang lebih baik." Sachie menatap mata Masayu dan Sasae yang sedang menatap dirinya.
"Terimakasih Nenek Sachie..." Masayu dan Sasae mengucapkan terimakasih kepada Sachie kemudian tersenyum lembut kepada wasit wanita paruh baya tersebut.
"Akan kuingat petuah dari Nenek Sachie. Cepat atau lambat Kekaisaran Kai akan kembali seperti sedia kala, ke tangan yang seharusnya dan singgasananya hanya milik sang fajar yang telah ditakdirkan." Masayu menatap Sachie dan berkata, "Itu yang selalu dikatakan Ibuku kepadaku. Aku hanya ingin melihat sendiri kebenaran itu, jika semua itu benar maka aku bisa..." Masayu melihat senyuman Sachie dan Sasae kemudian dia membatin, "Maka aku bisa mewujudkan mimpiku untuk menyikap Kebenaran tentang dunia yang tertulis di prasasti."
Selang beberapa menit mereka betiga masih berbincang, tidak berapa lama Masayu dan Sasae kembali ke bangku penonton. Tulisan seperti kembali api kembali terlihat yang mengumumkan Masayu sebagai pemenangnya, selang dua puluh dua detik kemudian tulisan di atas berganti dengan tulisan nama peserta yang akan bertanding selanjutnya.
Salah satu penonton begumam pelan, "Indahnya..." Sedangkan penonton yang lainnya berkata, "Misuzawa Hanabi dari Klan Misuzawa melawan Akira dari Perguruan Api Abadi..."
***
Saat matahari semakin mendekati perjalanannya untuk berbaring di atas singgasananya, Turnamen Harimau Kai masih terus berlanjut karena menyisakan empat peserta terakhir.
Bersamaan dengan pertarungan antara Masayu melawan Sasae di sebuah penginapan yang bernama Penginapan Matahari Timur terjadi hal yang tidak terduga, sosok Shirayuki pertama kali memarahi pemuda tampan yang tidak bisa mengendalikan emosinya.
__ADS_1
Hika yang terbaring di atas ranjang sedang diberi pertolongan pertama oleh Oichi setelah itu Emi, Tika dan Ichiba mengobati luka yang dialami Hika.
Di luar kamar milik Hika terlihat Iris dan Litha yang mendengar Shirayuki memarahi Nagato. Gadis cantik yang terlihat dingin kepada semua orang kecuali Keluarga Fuyumi itu terkejut mendengar ibunya yang memarahi Nagato.
"Litha apa Naga akan baik-baik saja?" Iris melirik Litha yang sedang berdiri khawatir dengan keadaan Hika.
"Eh? Aku juga tidak tahu," jawab Litha dengan kebingungan.
"Aku juga merasa sangat marah ketika sahabatku diperlakukan seperti itu, hanya saja aku tidak menyangka Nagato akan bereaksi lebih cepat dari semua orang." Iris menyandarkan tubuhnya ke dinding.
Tangan Litha menyentuh dagunya sendiri dan matanya memejam, teringat Nagato yang selalu mudah marah ketika melihat temannya terluka, Litha ingat jelas ketika Nagato membunuh puluhan manusia buat karena dirinya dituduh dan hampir terluka oleh orang yang bernama Amaga.
"Iris dia memang seperti itu, tetapi aku tidak pernah bisa meredamkan emosi Nagato kecuali jika aku hendak menangis atau memohon dengan sangat barulah dia bisa mengendalikan emosinya," ujar Litha sambil melirik Iris dan berkata, "Tapi kamu bisa mendinginkan kepala Nagato yang panas itu, dan kamu dapat membuat Nagato tenang hanya dengan kata-kata. Iris jujur aku sangat iri padamu, aku sangat mencintai Nagato tetapi dia menganggapku seperti seorang adik atau sahabatnya yang paling dekat saja. Jadi jangan cemburu kalau Nagato dekat denganku, bagaimanapun jauh di dalam hati Nagato hanya ada namamu disana. Tolong jaga Nagato untukku ketika aku tidak ada disisinya." Iris melebar matanya mendengar Litha berkata seperti itu.
Di dalam kamar milik Shirayuki terlihat Nagato yang sedang duduk dengan pandangan matanya yang hanya menatap lantai kamar penginapan.
"Aku tidak bisa menyalahkanmu justru aku mengucapkan terimakasih kepadamu. Tapi Nagato kau tidak seharusnya tidak peduli dengan perasaanmu! Apa yang akan kau lakukan ketika membunuh orang yang telah melukai Hika?!" Shirayuki memarahi Nagato. Pemuda itu hanya diam dan menelan ludah karena dia tidak menyangka Shirayuki akan menjadi seperti ini.
"Kelemahanmu sangat besar, kamu tidak bisa mengontrol emosimu, Nagato!" Shirayuki menutupi dagunya sampai ke hidungnya dengan kipas sedangkan matanya menatap tajam Nagato.
"Aku tidak tahu kenapa seperti ini, tetapi jika aku tidak bertindak seperti tadi, aku akan kehilangan seseorang lagi! Aku paling takut dengan namanya kehilangan, kita akan sendiri jika orang terdekat kita telah tiada..." Nagato sempat berteriak pelan tetapi akhirnya suaranya menjadi sendu mengingat dirinya sangat membenci sebuah perpisahan yang berakhir dengan kehilangan dan itu akan menyebabkan dirinya jatuh dalam kesendirian.
Shirayuki berdiri dan berjalan mendekati Nagato, tangannya menyentuh pundak pemuda itu.
"Sebagai ibu dari seorang anak yang kamu sukai, Bibi Shirayuki memiliki nasihat kecil untukmu..." Nagato menatap Shirayuki berkaca-kaca.
"Nagato belajarlah untuk menahan emosimu, jangan biarkan emosi lepas, karena terkadang emosi membuatmu kehilangan banyak hal. Setelah kamu menyadari semuanya tetapi semua itu telah terlambat dan kamu barulah merasa menyesal." Shirayuki memeluk Nagato.
"Bibi ... Shirayuki..." Nagato merasa bersalah melihat air mata menetes dari Shirayuki.
Nagato menyeka air mata Shirayuki dengan jarinya, entah itu sudah menjadi naluri lelakinya yang tumbuh atau sedari kecil Nagato tidak suka melihat seorang perempuan menangis. Tindakannya kali ini menyelamatkan nyawa seseorang tetapi emosinya menyebabkan Nagato hampir kehilangan banyak hal. Dia lupa tujuannya mengkuti Turnamen Harimau Kai.
"Maaf Bibi Shirayuki. Aku mengerti kenapa Bibi Shirayuki berkata seperti ini." Nagato melepas tangan Shirayuki yang memeluknya.
"Tujuanku ingin menjuarai Turnamen Harimau Kai tetapi aku hampir kehilangan kesempatan itu, syukurlah Bibi Shirayuki menegurku. Terimakasih banyak Bibi Shirayuki. Aku bersyukur bisa mempunyai seorang-" Shirayuki sudah berhenti menangis dan jari lentiknya menyentuh bibir Nagato, kemudian bibirnya merekah, "Seorang calon mertua. Ingat itu."
Nagato memerah wajahnya karena dia selalu melihat sisi Shirayuki yang sangat berbeda dari ekspetasi kebanyakan orang. Kepalanya hanya mengangguk agar pembicaraan ini cepat selesai.
"Bibi Shirayuki aku pergi dulu. Aku akan mengajak Tika, Litha dan Iris kembali menonton pertandingan yang tersisa." Nagato beranjak pergi meninggalkan Shirayuki yang ada di kamar.
__ADS_1
"Aku memarahi anak orang? Jadi ini rasanya memarahi anak orang ... daripada memarahi aku justru seperti menggoda Nagato. Aduh, walau tampan tapi ekspresi yang malu-malu itu sungguh menakjubkan." Shirayuki tersenyum cukup lama sebelum berkumpul bersama Emi yang lainnya.
Selang beberapa menit kemudian, Emi menyuruh Nagato, Litha dan Tika kembali ke Arena Lingkaran Harimau untuk melihat peserta tersisa yang sedang bertanding. Emi ingin ketiga perwakilan dari Klan Fuyumi mengamati seorang peserta yang kemungkinan akan menjadi lawan mereka di babak 32 besar.