
Di tengah kota bagian selatan terdapat pasar malam yang ramai pengunjung. Nagato bersama yang lainnya datang untuk menikmati suasana malam di Ibu Kota Daifuzen.
Dalam perjalanan mereka bertemu dengan Yuki yang sedang dikawal pasukan militer Kekaisaran Kai. Yuki bersama Hisui dan Hiragi terlihat sedang membeli permen apel dan mencari makanan ringan.
"Selamat malam Kakak Tampan!" Hisui melambaikan tangannya, namun gadis bermata sayu itu terlihat sedang sibuk bermain bersama Hiragi. Kedua kakak beradik itu sedang mencoba menangkap ikan.
Sementara itu Nagato terus berjalan mengikuti Litha. Tidak berapa lama terlihat Hanabi yang memegang kerah baju Litha. Setelah itu mereka berdua berhenti berjalan, lalu diikuti yang lainnya.
"Bagaimana kalau kita makan ramen di sini?" Litha tersenyum lembut kepada semuanya.
"Aku ikut aja." Kenji menatap tajam Takao yang juga sedang menatap dirinya.
"Ramen? Boleh juga, bukan begitu, Kenji?" Dengan sengaja Takao menatap sinis Kenji.
"Kau pikir bisa mengalahkanku? Aku pernah menghabiskan lima mangkuk ramen, jangan meremehkanku, Takao!" Kenji langsung duduk di kursi yang sudah disediakan di halaman lapangan oleh penjual ramen.
Meja dan kursi di tempatkan di tempat terbuka sehingga banyak orang yang bisa menikmati ramen sembari merasakan keramaian pasar malam di Ibu Kota Daifuzen.
Nagato sempat sekilas melihat raut wajah Hanabi yang terlihat sedikit berubah dari biasanya. "Tampaknya Hanabi sedikit antusias. Jadi ini makanan kesukaannya." Senyuman tipis menghiasi wajah Nagato ketika dia membatin melihat Hanabi.
"Nagato, Iris, sini duduk." Litha melambaikan tangan pada Nagato dan Iris yang masih berdiri berdampingan. "Jangan diam berdiri saja,” tambahnya.
Kemudian Nagato dan Iris duduk di samping Litha. Walau ada Renji, Kenji, Takao dan Ninjin, tetapi Nagato terlihat lebih akrab dengan teman perempuannya.
"Meja nomor lima dan delapan. Kalian pesan berapa porsi?" Penjual ramen yang sedang membuat ramen berteriak pada Nagato dan yang lainnya.
Di meja nomor delapan diisi oleh Takao, Kenji, Renji, Ninjin, Yuri, Chiaki dan Chaika. Sedangkan meja nomor lima ditempati oleh Nagato, Iris, Litha, Hika, Tika, Hanabi dan Masayu.
"Nomor delapan tujuh mangkuk!" Yuri mengangkat tangannya. Kemudian dia menoleh melihat Kenji yang sudah tidak pernah menyapanya semenjak kekalahan Kenji di babak 32 besar Turnamen Harimau Kai.
Tidak berapa lama Tika mengangkat tangannya. "Paman! Meja nomor lima juga pesan tujuh mangkuk ramen!" Gadis manis kembar itu tersenyum setelah memesan ramen yang sedang dibuat oleh penjual ramen.
"Baiklah. Silahkan menunggu terlebih dahulu. Pesanan kalian akan segera datang," sahut penjual ramen sembari membuat ramen dengan penuh semangat.
"Aku tidak menyangka Hanabi menyukai ramen." Litha menatap Hanabi dan tersenyum lembut. "Tapi Hanabi sangat pemalu." Sekarang tangan Litha mencubit gemas pipi Hanabi.
"Aku tidak seperti itu..." Dengan wajahnya yang datar, Hanabi menatap Litha. "Hanya saja ini baru pertama kalinya aku keluar malam bersama orang banyak seperti ini."
"Jadi seperti itu." Litha melepas cubitannya dan melihat seksama wajah Hanabi. "Cantiknya..." Tanpa sadar Litha menggumam pelan.
Hanabi yang mendengarnya, langsung menoleh kembali melihat Litha. "Kamu juga cantik, Litha." Perkataan Hanabi membuat Nagato dan yang lainnya tersenyum dan tertawa lirih.
"Ngomong-ngomong, kedua orang itu..." Tika menunjuk meja nomor tiga yang terlihat telah diisi empat orang. Dan orang-orang tersebut tidak asing di mata mereka.
"Mereka dari Klan Akatsuki." Masayu menanggapi perkataan Tika.
Hika menoleh melihat Tika sesaat, kemudian dia terlihat kebingungan karena melihat Akaza, Kise dan Takeda sedang lomba makan.
"Tika, Tika. Kenapa mereka makannya terburu-buru?" Tanya Hika polos. Kemudian Tika tersenyum setelah mendengar pertanyaan Hika.
"Laki-laki hanya akan selalu melakukan hal yang bodoh. Jangan mencontoh cara makan mereka bertiga, Hika." Tika memegang pundak Hika dan menatap kedua bola mata saudari kembarnya itu.
Nagato yang mendengar perkataan Tika sedikit kesal. Dahinya mengernyit. "Tika. Ngomong-ngomong aku adalah laki-laki. Perkataanmu itu sangat menyinggungku." Tatapan tajam Nagato menatap ke satu arah yaitu Tika.
"Hehe. Kalau Nagato adalah pengecualian." Tika mengedipkan matanya kepada Nagato. Melihat itu, Nagato hanya menghela napas panjang.
Masayu yang memperhatikan Hika, Tika dan Iris merasa bahwa pendekar dari Klan Fuyumi tidak terlalu menyukai laki-laki. Karena penasaran, Masayu memberanikan diri untuk bertanya.
"Tika, kenapa kamu terlihat sangat membenci laki-laki?" Masayu menatap Tika karena merasa gadis kembar manis itu paling enak diajak berbicara.
"Bukannya membenci, hanya saja kebanyakan laki-laki tertarik dengan kami, perempuan dari Klan Fuyumi karena nafsu belaka. Tatapan mereka terlalu mengganggu." Tika menjawab sembari memiringkan kepalanya.
Litha tersenyum mendengar perkataan Tika. "Kupikir saat dalam perjalanan orang-orang hanya menatap Bibi Shirayuki dan Iris saja..." Gadis manis tersebut bergumam pelan namun suaranya masih terdengar oleh Hika dan yang lainnya.
"Saat itu. Aku dan Hika mempunyai trauma bermain dengan laki-laki. Semenjak itu aku membenci laki-laki yang memiliki mata jelalatan." Tika mengepalkan tangannya dan terlihat geram.
Semua orang yang ada di meja nomor lima menatap Tika.
"Pantas saja, ternyata Tika mempunyai trauma..." Litha membatin dalam hatinya. Setelah itu giliran Hika yang membatin.
"Tika masih ingat itu. Hika juga benci kalau mengingatnya," batin Hika lirih.
Nagato menatap Iris. Kemudian gadis cantik itu juga menatap Nagato.
"Ini masalah perempuan, jangan terlalu ikut campur." Bisik Iris sembari matanya memberi isyarat pada Nagato agar tetap diam.
Nagato mengangguk lirih dan tersenyum tipis. "Setiap orang mempunyai masa lalu. Dan masa laluku itu yang membuatku jadi seperti ini," batin Nagato.
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa menit, penjual ramen datang membawa empat mangkuk ramen, setelah itu dia kembali lagi membawa tiga mangkuk ramen yang tersisa.
"Silahkan dinikmati..." Penjual ramen tersebut tersenyum melihat Nagato yang duduk dengan santainya dikelilingi gadis-gadis cantik.
"Impian semua laki-laki adalah seperti dia ini. Aku sedikit merasa iri." Penjual ramen tersebut membatin dan kembali untuk melayani pelanggan yang lain.
"Selamat makan..." Ucap Nagato bersama yang lainnya secara bersamaan. Setelah itu mereka menyantap hidangan ramen yang telah disajikan.
Sedangkan meja nomor delapan yang ditempati Chiaki dan pendekar dari Klan Kitakaze telah menyantap ramen terlebih dahulu.
Nagato memperhatikan Iris yang sedang memakan ramen. "Cara makannya seperti Tuan Putri Kerajaan..." Batin Nagato.
Iris juga melihat Nagato yang memperhatikan dirinya untuk sesaat, setelah Nagato mengalihkan pandangannya. Baru lah Iris memperhatikan Nagato.
Sementara itu Litha dan Masayu yang duduknya dekat dengan Hanabi sedikit terkejut. Karena Hanabi yang biasanya terlihat tidak peduli, namun sekarang wajahnya terlihat antusias ketika memakan ramen.
"Ternyata Hanabi bisa tersenyum seperti ini..." Litha membatin lirih dalam hatinya.
Ketika mereka bertujuh sedang makan dengan tenangnya, suara dari Takeda terdengar begitu keras.
"Akaza, Kise. Makan yang tenang. Kunyah dulu sebelum menelannya." Terlihat Takeda sudah menghabiskan ramen dan sedang menatap Akaza dan Kise yang berlomba memakan ramen.
Akai yang melihat kelakuan Akaza hanya bisa diam tanpa ekspresi sedikitpun. "Bukankah tadi mereka bertarung mati-matian sebagai lawan? Namun sekarang Kakak Akaza dan Kakak Kise sudah akrab seperti ini..." Akai membatin dalam hatinya.
"Huuh... kenyang. Aku yang menang, Kise!" Akaza menaruh mangkuk kelimanya. Tidak berapa lama Kise juga menaruh mangkuk kelimanya.
"Imbang! Kita imbang!" Kise menanggapi perkataan Akaza.
"Apa katamu? Aku yang menghabiskannya terlebih dahulu!" Akaza menatap sengit Kise.
"Kau tidak menghabiskan semua kuahnya. Lihat punyaku ini..." Kise memperlihatkan mangkuknya pada Akaza. "Inilah perbedaanku denganmu, Akaza!" Tambahnya.
Akaza menggaruk kepalanya. "Aku tidak peduli. Kuahku hanya sisa sedikit. Dan aku yang menang!" Akaza tetap bersikeras memenangkan pertandingan lomba makan ramen antara dirinya melawan Kise.
"Tidak mau mengakui kekalahannya." Kise mengangkat kedua tangannya. "Lebih baik kita tanya ke orang yang lebih dewasa. Bukan begitu, Akaza?" Senyuman tipis menghiasi wajah Kise.
Tidak berapa lama Akaza dan Kise menatap Takeda. Setelah itu mereka berdua berkata, "Kakak Takeda. Siapa pemenangnya?" Tanya Akaza dan Kise secara bersamaan.
Takeda menyilangkan kedua tangannya di dadanya. "Pemenangnya adalah aku." Jawab Takeda sembari menatap tujuh mangkuk ramen yang telah dia habiskan.
"Cih, sialan. Kupikir Kakak Takeda adalah orang dewasa." Kise langsung menyudahi pembicaraan. Sedangkan Akaza justru terkagum-kagum dengan Takeda.
"Kakak Takeda memang lelaki sejati. Aku kagum padamu Kakak Takeda." Akaza menatap Takeda dengan mata yang terkagum-kagum.
Kise membatin kesal mendengar perkataan Akaza. "Matamu, lelaki sejati. Bagaimana bisa dia tersentuh karena hal seperti ini."
Takeda tertawa mendengar perkataan Akaza. "Ayo kita pulang. Bukankah malam ini kalian mau berlatih denganku?" Takeda berdiri dan langsung menghampiri penjual ramen untuk membayar makanan yang mereka pesan.
Akaza, Akai dan Kise juga langsung mengikuti Takeda. Bersamaan dengan Takeda yang sudah berdiri. Puluhan pendekar dari Perguruan Api Abadi dan Klan Kuromachi yang sedang makan ramen di meja nomor satu dan meja nomor dua membicarakan tentang seseorang.
"Apa kalian mendengarnya? Raja Sihir Black Madia mempercayai jika anak Pandu masih hidup?" Seseorang dari Klan Kuromachi memulai pembicaraan.
"Dia ingin menguasai Azbec tetapi takut dengan anak Pandu. Apa yang perlu ditakutkan dari anak pengkhianat terkutuk itu?!" Sekarang pendekar dari Perguruan Api Abadi menanggapi perkataan dari pendekar Klan Kuromachi.
"Jika anak Pandu memang masih hidup. Aku akan memenggal kepalanya dengan pedangku ini!" Lalu salah satu pendekar dari Klan Kuromachi tertawa sembari memegang sarung pedangnya.
"Itu tidak pantas untuknya. Lebih baik kita siksa dia sampai sekarat dan tusuk tubuhnya dengan ribuan jarum! Agar dia menyesal karena telah terlahir menjadi anak Pandu!" Pendekar dari Perguruan Api Abadi berkata dengan jelas dan tertawa lantang.
"Orang yang keluarganya telah dibunuh oleh Pandu, wajib menyiksa anak terkutuk itu agar dia tahu kekejaman ayahnya yang pura-pura bersikap baik di masa lalu itu!" Tambah pendekar tersebut.
Nagato yang sudah selesai memakan ramen memejamkan matanya. Kedua tangannya digenggam tangan Iris dan Litha dengan sangat erat.
Masayu dan Hanabi menatap perubahan raut wajah Nagato. Biasanya Nagato selalu terlihat dingin namun peduli pada orang yang dikenalnya, namun sekarang mata Nagato yang terpejam terlihat seperti orang yang sedang menahan amarahnya.
Sementara itu Hika dan Tika sedang mengobrol berdua. Kedua gadis kembar itu tidak mendengarkan perkataan pendekar yang menghina nama ayah Nagato.
Tidak berapa lama pendekar dari Perguruan Api Abadi mulai mengalihkan pembicaraan dan menghina nama baik Kakek Hyogoro.
"Kalian dengar. Akhir-akhir ini seribu orang menghilang tanpa alasan yang jelas. Kudengar dalangnya adalah Hyogoro." Pendekar tersebut menatap pendekar yang lainnya.
"Pembunuh itu selalu melakukan hal yang tercela. Kudengar banyak gadis yang sudah menjadi mangsa dari Hyogoro bejat itu." Kemudian pendekar dari Klan Kuromachi menanggapi perkataan pendekar dari Perguruan Api Abadi.
"Pembunuh sampai kapanpun akan tetap menjadi pembunuh. Guru dan murid sama saja. Yang satunya suka membantai orang dan yang satunya pembantai keluarganya." Salah satu pendekar yang sedari tadi diam mulai angkat bicara.
"Hyogoro hanyalah pecundang tua tidak berguna. Dia hanya berani membunuh kaum bangsawan dan mencabuli gadis tak berdosa." Pendekar dari Perguruan Api Abadi tertawa dan menatap teman-temannya. "Sekarang dia menculik seribu orang. Dasar pecundang tua tidak berguna." Tambahnya dan disambut tawa oleh pendekar dari Perguruan Api Abadi dan Klan Kuromachi.
Mendengar itu, amarah Nagato membara.
__ADS_1
"Tarik kembali kata-katamu itu!" Teriakan Nagato membuat semua orang menatapnya.
Kedua tangan Nagato melepaskan pegangan tangan Iris dan Litha. "Lepaskan aku!" Sekarang mata Nagato terbuka dan menatap tajam kumpulan pendekar dari Perguruan Api Abadi dan Klan Kuromachi.
"Nagato!" Litha melepaskan tangannya namun gadis manis tersebut menatap tajam Nagato. "Jangan membuat masalah! Kita berdua sekarang memakai nama Fuyumi dan semua tindakan kita akan merusak nama baik Bibi Shirayuki dan Nenek Emi jika kita melakukan keributan!" Gadis manis tersebut menegur Nagato. Namun perkataan Litha tidak digubris oleh Nagato.
Hika dan Tika langsung menoleh melihat Nagato. Sedangkan Hanabi dan Masayu hanya diam sembari menatap Nagato. Kedua gadis muda itu penasaran dengan alasan kemarahan Nagato.
"Naga, tenangkan dirimu!" Iris tetap menggenggam tangan Nagato bahkan sekarang lebih erat dia menggenggamnya.
Tidak berapa lama Nagato berdiri dan dengan dinginnya dia menarik tangannya dari genggaman tangan Iris. "Tindakanku tidak ada hubungannya dengan siapapun! Mereka telah menghina nama baik ayahku dan orang yang berjasa dalam hidupku! Aku tidak mungkin membiarkanya begitu saja!"
Sekarang Nagato berjalan menghampiri puluhan pendekar dari Perguruan Api Abadi dan Klan Kuromachi, namun Litha dengan cepat menarik tangan Nagato. Langkah kaki Nagato pun terhenti.
"Nagato berhenti!" Litha terlihat seperti memohon namun Nagato sudah dikuasai emosi.
"Mereka sudah mengotori nama baik Kakek Hyo! Dan Kakek Hyo adalah kakekku. Aku tidak akan tinggal diam!" Nagato kembali berjalan dan menghiraukan setiap perkataan Litha.
Pendekar dari Perguruan Api Abadi dan Klan Kuromachi tertawa melihat Nagato yang berjalan mendekati mereka.
"Lihat, dia Fuyumi Nagato. Apa perkataanku tadi ada yang salah? Kau kenapa tersinggung bocah muda?" Pendekar yang menghina Kakek Hyogoro tersenyum mengejek menatap Nagato. "Hyogoro adalah pecundang tua tidak berguna. Apanya yang monster? Apanya yang guru dari seorang pangeran?"
Nagato tidak menggubris perkataan pendekar tersebut. Terlihat sekarang aura tubuh berwarna emas melapisi tubuh Nagato. Tidak berapa lama aura berwarna emas itu memadat di kedua tangan Nagato.
Api berkobar ketika tangan Nagato mengepal. "Aku bilang, tarik kembali kata-kata kalian itu, penerka sialan!" Mata Nagato menatap tajam seluruh pendekar yang berdiri dan telah menarik senjatanya.
"Lihat, dia benar-benar ingin melawan kita semua!" Pendekar dari Klan Kuromachi menarik pedangnya dan menghampiri Nagato. "Jangan terlalu sombong, bo-"
Belum selesai berbicara, pukulan tangan Nagato membuat pendekar tersebut terpental jauh ke belakang dan tubuhnya tersungkur di jalanan.
Semua orang panik karena melihat pertarungan di halaman lapangan. Penjual ramen juga terkejut karena lapaknya akan menjadi tempat keributan.
Takeda menatap Nagato yang sedang dikelilingi pendekar dari Perguruan Api Abadi dan Klan Kuromachi. "Anak itu, kenapa dia bisa marah?"
Sementara itu Renji dan Kenji memegang tubuh Nagato. "Dinginkan kepalamu? Apa yang kau pikirkan, Nagato?!" Kenji tidak menyangka melihat Nagato akan semarah ini karena mendengar perkataan pendekar dari Perguruan Api Abadi dan Klan Kuromachi.
Renji menghadang Nagato. Tidak berapa lama, Takao dan Ninjin juga berusaha menenangkan Nagato.
Iris dan yang lainnya menghampiri Nagato, namun tindakan mereka semua tidak dapat memadamkan emosi Nagato yang sudah terlalu membara itu.
"Lepaskan aku! Kenji! Renji!" Nagato menatap tajam Kenji dan Renji yang menahan tubuhnya. Tidak berapa lama Nagato mendorong tubuh Kenji dan Renji. Dengan cepat dia menghampiri pendekar yang sudah siap mengayunkan pedang mereka.
"Bagaimana bisa dia emosi seperti ini?" Renji membatin tidak percaya.
"Yang benar saja! Dia menerjang mereka semua!" Kenji justru terkejut melihat Nagato sudah bertarung melawan puluhan pendekar dari Perguruan Api Abadi dan Klan Kuromachi.
"Ini..." Takao menelan ludah melihat teknik pertarungan Nagato yang brutal. Semua pendekar yang mengeroyok Nagato sudah terkapar di tanah.
Ninjin juga baru melihat sisi gelap Nagato. Tentu dia terkejut dengan apa yang baru dia lihat.
Nagato menatap puluhan pendekar yang terkapar di tanah. Emosinya masih belum reda, mendengar dan mengingat vperkataan orang yang menghina Kakek Hyogoro membuat Nagato masih tidak terima.
Iris yang menyadari kebencian Nagato langsung berlari ke arah pemuda tersebut. Bibirnya merekah dan menghembuskannya napasnya untuk membekukan tubuh Nagato.
"Cukup, Naga!" Iris berteriak dan memeluk tubuh Nagato dari belakang.
Tubuh Nagato membeku sesaat, namun api yang masih berkobar di kedua tangannya dan aura tubuh yang membungkus tubuhnya membuat es milik Iris tidak terlalu berpengaruh padanya.
"Naga!" Semua orang terkejut melihat Iris yang memeluk Nagato. "Sudah cukup!" Pinta Iris pada Nagato.
Gigi Nagato merapat. Perlahan Nagato mencoba menenangkan dirinya. Tangannya memegang tangan Iris yang melingkar di perutnya karena Iris memeluk dirinya dari belakang.
"Maaf..." Hanya kata-kata tersebut yang keluar dari mulut Nagato.
Iris merasakan tangan Nagato yang melepas pelukannya. Kemudian pemuda itu membalikkan badannya.
Nagato melirik sedikit raut wajah pendekar dari Klan Kuromachi yang terlihat ketakutan. Tidak berapa lama pendekar dari Perguruan Api Abadi melempar kantong yang berisi keping emas ke arah penjual ramen. Setelah itu mereka pergi meninggalkan pasar malam.
"Naga..." Iris memerah wajahnya.
Nagato menyembunyikan perasaan senangnya karena Iris dapat menenangkan dirinya. Kemudian matanya beralih menatap Litha dan Hanabi yang sedang berbicara dengan penjual ramen.
Tiga jam kemudian. Nagato dan yang lainnya pulang ke Penginapan Matahari Timur. Dalam perjalanan tidak ada yang berani menanyakan alasan kenapa Nagato bisa semarah itu.
Hanya dua orang yang menyadari alasan kemarahan Nagato yaitu Iris dan Litha. Dan dua orang yang mengetahui identitas Nagato lagi adalah Hanabi dan Masayu.
Setelah melihat tindakan Nagato, tentu Hanabi dan Masayu bisa menduga dan menebak jika Nagato adalah anak dari Pandu dan murid dari Kakek Hyogoro.
__ADS_1