
Setelah selesai makan malam bersama dengan Keluarga Bangsawan Kita, Chiaki mengajak Nagato dan Litha untuk bermain bersama tetapi Nagato dengan tegas menolaknya, karena malam ini dirinya ingin mengunjungi kediaman Klan Kitakaze.
"Kalian berdua ingin mengunjungi Klan Kitakaze?" tanya Chaika karena Nagato berniat pergi malam - malam untuk melihat latihan Klan Kitakaze.
"Ya, aku ingin melihat latihan mereka?" jawab Nagato dengan tenang.
"Mereka itu latihannya pagi - pagi." Chaika mendekati Nagato.
"Pagi?" Nagato mengerutkan dahinya.
"Iya pagi." balas Chaika.
"Malam ini aku akan tidur lebih cepat." Nagato beranjak berjalan dengan tongkat ditangan kanannya ke ruang kamar yang disediakan oleh Haru.
Litha hanya menatap Nagato dari kejauhan dan hanya membiarkan pemuda itu untuk beristirahat.
Keesokan harinya, Nagato dan yang lainnya berkunjung ke kediaman Klan Kitakaze.
"Nagato, apa kau tertarik belajar bela diri?" tanya Kuina yang ikut mendampingi Nagato.
"Aku hanya ingin melihat apakah ada anak yang cukup kuat!" Nagato terlihat tenang kali ini sambil mengepalkan tangan kanannya.
Mereka dijemput oleh Reto dengan kereta kuda karena Nagato masih dalam tahap rehabilitasi dan susah untuk berjalan.
Setelah sampai di kediaman Klan Kitakaze, Nagato menatap lambang Klan yang berlambang hijau muda itu.
Halaman yang membentang luas untuk latihan yang dimiliki Klan Kitakaze bisa dibilang sangat luas, bahkan ada hutan kecil di kediaman klan tersebut.
__ADS_1
Kakek Hyogoro dan Azai tidak ikut karena mereka menemani Shugo mengobrol, sedangkan Haru sedang berbelanja bersama Serlin di kota.
Terlihat ratusan murid yang sedang menunggu guru mereka untuk berlatih, bahkan ada beberapa murid yang menghafal gerakan - gerakan jurus yang telah diajarkan.
Nagato berjalan pelan dengan tongkat ditangan kanannya, ketika dirinya sampai di lapangan yang luas beberapa murid laki - laki yang sedang duduk menatap dirinya dengan tatapan yang meremehkan.
Reto menghela nafas panjang karena sadar dirinya juga dulu seperti itu, apalagi jika melihat seseorang yang tidak belajar bela diri, dirinya saat itu merasa lebih tinggi dan lebih hebat dari orang biasa tetapi anggapannya salah ketika Reto saat itu bertemu pendekar muda yang selalu menghormati sesama dan tidak membeda - bedakan antara yang satu dengan yang lainnya.
"Apa itu Pandu?!" benak Reto mencoba mengingat masa lalunya namun entah mengapa dia bisa melupakannya.
Miake menghampiri Nagato dan menuntunnya, melihat hal itu semua murid laki - laki yang menatap Nagato dengan tatapan meremehkan sedikit terkejut.
"Tatapan mereka membuatku jengkel ... hmmm memangnya mereka pikir kekuatan mereka lebih hebat dari Nagato!" Chiaki kesal karena ada beberapa murid laki - laki yang meremehkan Nagato, sedangkan murid perempuan terpesona dengan paras Nagato walau pemuda itu berjalan menggunakan tongkat.
Puluhan murid perempuan menghampiri Nagato terlebih dahulu untuk melihat wajah Nagato dari dekat sebelum mengucapkan salam kepada Reto dan Miake.
"Rakyat biasa penyakitan! Kenapa orang sepertimu memiliki wajah tampan seperti itu, lebih baik kau mati saja!" gumam seorang murid laki - laki yang hendak mendorong tubuh Nagato, namun tangannya ditahan oleh cucu Reto yang berumur sembilan tahun.
"Apa yang kau lakukan Takao?!" cucu Reto menggenggam tangan Takao dengan erat dan meremasnya cukup keras.
"Lepaskan tanganku Renji, apa kau tidak sadar bahwa aku adalah anak dari salah satu bangsawan?!" Takao meledak emosinya ketika melihat Renji membela Nagato.
Chiaki menghampiri Takao dan menampar pipi pemuda itu dengan keras.
"Apa kau mencoba mencelakai Nagato? Jika kau mencelakai Nagato maka kau akan kulaporkan pada ayahku!" ancam Chiaki pada Takao dengan tatapan tajam.
"Eh ... Tuan Putri Chiaki maafkan aku!" Takao memaksakan senyumannya dan menatap tajam Nagato dengan tatapan merendahkan.
__ADS_1
Kitakaze Takao berumur sebelas tahun sedangkan Kitakaze Renji berumur sembilan tahun, mereka berdua termasuk dua dari empat pendekar muda jenius dari Klan Kitakaze.
"Jika kau tidak mau diremehkan, kau perlu menunjukkan kekuatanmu, seseorang yang lemah harus tahu dimana tempatnya berada!" Renji merendahkan dan menatap tajam Nagato, tatapan Renji dipenuhi kebencian dan matanya terlihat sama dengan Nagato, sebuah mata yang ingin membalas dendam dan mencari kekuatan.
Nagato menghela nafas panjang dan tidak peduli dengan ocehan mereka.
"Seseorang yang kuat tidak berbicara lewat mulut dan mereka hanya berbicara lewat adu pukulan, sepertinya ada beberapa anak yang menarik perhatianku!" batin Nagato sambil menatap tajam Renji yang pergi menjauh darinya, setelah itu Chiaki dan Litha menuntun Nagato untuk duduk melihat murid dari Klan Kitakaze yang akan memulai latihan.
Reto dan Miake meminta maaf pada Nagato atas sikap para murid dari Klan Kitakaze yang tidak sopan terhadapnya, walau Miake hanya menundukkan kepalanya pada Nagato dan tidak berbicara sepatah katapun, tapi menurut Reto ketika Miake melakukan itu artinya dia ingin meminta maaf.
"Aku tidak tersinggung sedikit pun, lagipula aku tidak merasa mereka lebih hebat dari aku!" ucap Nagato dingin dan menatap ratusan murid yang sedang mulai berlatih.
Reto hanya mencoba tersenyum mendengar jawaban Nagato, setelah itu dirinya duduk menemani Nagato dan menyuruh Miake mengambilkan jamuan untuk Nagato dan yang lainnya.
Kuina menghela nafas panjang sambil menahan emosinya karena melihat sikap para murid Klan Kitakaze yang meremehkan anak dari gurunya, namun gadis itu mencoba untuk tetap bersabar karena luka dalam yang dialaminya.
Litha duduk disamping Nagato dan mencoba menghibur pemuda itu.
"Apa kau merasa kesal Nagato?" sapa Litha yang duduk disebelah Nagato.
"Tidak." balas Nagato singkat.
Litha hanya tersenyum tipis karena bagi gadis kecil itu sudah begitu lama rasanya ketika Nagato menjawab pertanyaan dengan cukup singkat dengan tatapan dingin di matanya.
Guru dari Klan Kitakaze sedang mengajar latihan para ratusan murid yang akan menjadi bagian dari pendekar Klan Kitakaze di masa depan, mereka sedang melatih tendangan, jep, swing dan beberapa jurus pedang dari Klan Kitakaze.
"Lakukan pemanasan hari ini, kalian semua akan sparring!" ucap seorang pria berumur enam puluhan tahun, dengan rambut yang sudah sedikit memutih, dia adalah Teuta sekaligus Guru Besar dari Klan Kitakaze yang bernama Kitakaze Arta.
__ADS_1
Murid yang sedang berlatih terkejut mendengarnya beberapa dari mereka ada yang sedikit takut dan beberapa dari mereka justru terlihat senang.