Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 101 - Nagato vs Demet


__ADS_3

Angin berhembus ketika Nagato dan Demet saling menatap dingin satu sama lain. Ketika daun hijau menyentuh tanah, keduanya maju secara bersamaan dan saling bertukar serangan satu sama lain.


Demet yang menggunakan dua pedang membuat Nagato mundur beberapa langkah, tetapi tebasannya kurang dalam. Karena dia hanya memberikan sedikit sayatan pada lengan Nagato.


Jantung Nagato berdetak kencang, sudah lama dia ingin berhadapan dengan pertarungan hidup dan mati. Dan, seseorang yang lebih kuat darinya.


"Sirih." hati Nagato menarik nafas dalam - dalam dan menyalurkan pada kedua lengannya. Nagato mampu mengimbangi kecepatan Demet bahkan dia mampu menahan tebasan dua pedang milik lawannya tersebut.


"Bocah ini, dia cukup cekatan." batin Demet menatap Nagato yang terus menangkis tebasan pedangnya.


Nagato menahan tebasan pedang Demet, kemudian dia menendang perut Demet dengan kakinya, tendangan depan yang cukup telak itu membuat Demet terpental beberapa langkah kebelakang.


"Permainan pedang dan bela diri tangan kosong... cukup menarik, sepertinya kau memang pantas untuk kubunuh..." Demet mengelus bagian tubuhnya yang ditendang oleh Nagato, "Walaupun kemampuanmu cukup menggiurkan di umurmu yang masih muda ini, tetapi sangat disayangkan sekali, karena dihadapanmu ini adalah seorang pembunuh bayaran sungguhan."


Nagato tetap diam dan tidak peduli dengan omongan Demet, dia ingin bertarung lewat pukulan dan tebasan. Dan, bukan bertarung lewat kata - kata.


"Tidak takut sama sekali dengan ancamanku. Kupuji kau, bocah tampan." ucap Demet sambil tersenyum lebar melihat Nagato.


Nagato mengolah pernafasannya, dadanya benar - benar terisi. Kemudian dia menggunakan pasang santai dan menebaskan pedangnya ke arah Demet, seketika tebasan itu menciptakan api berbentuk pisau yang terbang melesat cepat menuju Demet. Nagato tidak berhenti sampai disitu dan dia menebaskan pedangnya kembali, hingga puluhan pisau api terbang ke arah Demet.


Demet tersenyum melihat teknik pedang yang digunakan Nagato, dia menghindari serangan pisau api tersebut dengan cukup mudah dan tanpa kesulitan sedikitpun. Demet menyaksikan pisau angin yang membakar Tumbuhan Pemakan Daging yang berada dibelakangnya.


"Hampir saja... woy, Devon, aku yakin bocah ini adalah anak Pandu. Mereka berdua menggunakan elemen yang sama." teriak Demet melihat Devon yang sedang berdiri menyaksikan pertarungannya.


"Jika dia anak Pandu, lebih baik kita didik dia sebagai pembunuh. Lagi pula dia memiliki keturunan darah Keluarga Von, pewaris sah takhta Kerajaan Azbec..." balas Devon melirik Nagato dan semakin tertarik dengannya. Bahkan dia berpikir jika suatu saat Nagato akan bisa membunuh Black Madia dan Magma yang sedang menguasai Azbec.


"Aku sangat yakin dia akan menjadi pembunuh yang hebat, jika saat itu tiba maka kita berdua akan menjadi kaya, tanpa bekerja sebagai pembunuh lagi." Devon menambahkan.

__ADS_1


Demet tersenyum lebar mendengar perkataan Devon, "Benar juga katamu, lebih baik kita didik bocah tampan ini menjadi pembunuh..." Demet menggaruk pipinya sambil menatap Nagato,"Bocah tampan, apa kau tertarik bergabung bersama kami, kau pasti mempunyai dendam pada raja palsu itu, bukan?"


Nagato menghela nafas panjang mendengar perkataan Demet, dengan berusaha untuk tetap bersikap tenang, dia kembali menyerang Demet.


"Raja palsu itu yang sudah membunuh orang tuamu, apa kau ingin mendengar, apa yang dikatakan Tuan Putri Sarah saat itu?" ucap Demet pada Nagato, dia sengaja memprovokasi lawannya tersebut.


Nafas Nagato semakin tidak beraturan. Dan, tiba - tiba muncul bayangan ibunya yang meneteskan air mata.


"Lautan Api!" teriak Nagato memutarkan tubuhnya sambil menebaskan pedangnya ke arah Demet, dia memegang pedangnya terbalik dan menciptakan kobaran api besar yang melingkar.


Demet mengerutkan dahinya, "Sungguh mengerikan kau membakar tangan kananku," Demet melihat tangan kanannya yang terbakar, karena terkena tebasan kobaran api Nagato,"Ini adalah kata - kata terakhir Tuan Putri Sarah."


Ketika Demet hendak berbicara, tebasan pedang api padat mengincar kepalanya, dengan cepat dia menghindari serangan tebasan pedang Nagato.


"Tidak kenal ampun... kau sangat berbeda dengan Pandu yang begitu baik." sindir Demet menatap raut wajah Nagato yang berubah.


"Kau adalah sang fajar yang tidak tahu caranya untuk bersinar-" belum selesai Demet berbicara untuk mengatakan kata - kata terakhir dari Sarah. Tebasan pedang melesat dengan cepat kembali mengarah padanya.


"Tutup mulutmu!" Nagato murka, dan kali ini dia memanipulasi aura emasnya menjadi api yang membakar seluruh tubuhnya.


Demet menelan ludah melihat seorang pemuda yang berumur 10 tahun sudah mampu memanipulasi aura.


"Apa kau tidak ingin mendengar perkataan terakhir ibumu, bocah?" Demet mengerutkam dahinya melihat Nagato yang berjalan pelan ke arahnya.


Nagato tidak menjawab perkataan Demen, dia menebaskan pedangnya ke kepala Demet. Tetapi tebasannya dapat ditangkis oleh Demet.


Keduanya saling bertukar serangan selama beberapa menit, dari pertarungan tebasan pedang berubah menjadi pertarungan adu stamina. Siapa yang lelah terlebih dulu, maka dia yang akan kalah.

__ADS_1


Baik Nagato maupun Demet tidak ada yang mau mengalah, mereka saling menebas satu sama lain dengan niat membunuh. Pertempuran yang berbicara lewat sayatan itu membuat tubuh keduanya dipenuhi goresan luka.


"Potongan Tangan!" Demet mengincari tangan kiri Nagato dengan menebaskan kedua pedangnya.


"Sial! Tebasannya terlalu kuat..." hati Nagato menangkis tebasan Demet. Dengan sekuat tenaga dia mendorong pedangnya menahan tebasan pedang Demet.


Nagato mundur beberapa langkah kebelakang dan menjaga jarak dengan Demet.


"Staminaku cukup terkuras, apa aku harus menggunakan teknik terkuatku?" hati Nagato memikirkan cara untuk melakukan serangan balik.


Ketika dalam perasaan yang tak menentu, dia tersenyum lebar karena dia tidak pernah merasakan perasaan yang membuat jantungnya berdetak sangat kencang, tak teratur dan ketakutan. Tetapi perasaan yang campur aduk itu membuat Nagato menjadi semakin tertantang melawan Demet.


"Ada apa, apa kau takut denganku?" ejek Demet melihat tangan Nagato yang gemetaran.


Senyuman lebar menghilang dari wajah Nagato, "Kau sangat pantas untuk menjadi lawanku, karena aku ingin melihat sejauh mana perkembanganku..." Nagato menatap dingin Demet, "Perlihatkan padaku kekuatan dari seorang pembunuh."


Demet tersenyum lebar mendengar perkataan Nagato,"Ternyata kau bisa berbicara juga," Demet menebaskan pedangnya ke arah Nagato,"Bocah, jika aku terbunuh olehmu, aku tidak keberatan."


Keduanya sangat menikmati pertarungan tersebut, bahkan Litha yang berada di balik pohon mengamati pertarungan itu bergidik. Karena dia takut Nagato terluka dan terjadi hal yang tidak diinginkan.


"Aku harus menunggu gori..." batin Litha menunggu Raja Hewan Buas Gorila Peniru dan yang lainnya.


Kecepatan gerakan langkah kaki Nagato bertambah cepat, dengan leluasa dia menebaskan pedangnya sesuka hatinya.


"Sepertinya aku harus mengeluarkan auraku..." guman Demet karena dirinya telah terdesak dan melihat Nagato belum menggunakan kekuatan yang sebenarnya.


Seketika aura berwarna hijau keluar dari tubuh Demet. Dan, membungkus tubuhnya seperti asap.

__ADS_1


"Pertarungan yang sebenarnya baru dimulai!" ucap Demet tersenyum lebar sambil mengeluarkan aura intimidasinya ke arah Nagato.


__ADS_2