
Nagato, Iris dan Litha melakukan serangan beruntun secara bersamaan. Menerjang lawan yang kebin banyak jumlahnya dari mereka bertiga. Darah terus berceceran ketika pedang mereka bertiga membunuh musuhnya dalam satu, dua kali tebasan.
“Bau amis ini menggangguku...” Iris membekukan mayat-mayat yang bergelimpangan di jalanan dan membekukannya.
Nagato tidak menggubris perkataan Iris dan hanya kembali menyerang pasukan militer Kekaisaran Rakuza yang terus berdatangan. Semangat bertempur pasukan militer Kekaisaran Rakuza semakin semangat dan menyerang Nagato, Iris dan Litha dalam jumlah yang lebih besar.
“Mengalir Seperti Air!”
“Mawar Salju Rembulan!”
“Lautan Api!”
Tanpa keraguan. Serangan gabungan Nagato, Iris dan Litha terus membuat prajurit militer Kekaisaran Rakuza berdatangan. Sudah puluhan prajurit yang mati di tangan ketiga anak muda itu.
“Sepertinya perubahan wujud ular itu berhasil menaikan semangat bertempur mereka. Ini tidak baik. Mental pasukan dari Kekaisaran Kai menciut. Padahal mereka lebih tua dariku. Cih, dasar penakut!” Nagato mendecakkan lidahnya kesal melihat beberapa prajurit militer Kekaisaran Kai pasrah dan tidak melawan.
“Mereka berniat menangkapku. Sudah kuduga, di dunia semua orang akan menganggap kami sebagai tubuh, bukan manusia!” Iris membekukan puluhan prajurit militer Kekaisaran Rakuza dan menghancurkannya menjadi bongkahan es.
“Iris, aku tahu bagaimana perasaanmu itu. Aku pernah melihat ratusan bahkan ribuan jeritan kematian. Sementara aku tidak dapat berbuat apapun. Jangan lupakan kami berdua. Kamu tidak sendiri!” Litha melirik Iris dan punggung mereka berdua bersentuhan.
“Ya, aku mengerti. Hanya saja aku masih tidak terima dengan kematian Hisui...” Iris menjawab sembari bergerak ke depan. Menerjang dan mengayunkan pedang es di tangannya untuk membunuh prajurit militer Kekaisaran Rakuza.
“Seni Nafas Sirih : Bentuk Kasar...” Litha mengolah pernapasan dalam satu tarikan napasnya. Kemudian dia menebaskan pedangnya mengarah ke depan, “Lintasan Biru Muda!”
Matanya memejam dan telinganya mendengar suara-suara yang menyayat hatinya. Teriakan ini membuatnya muak.
“Lintasan Jingga!”
Satu tebasan pasti. Nagato membunuh salah satu prajurit militer Kekaisaran Rakuza. Kini semangat bertempur pendekar dan prajurit militer Kekaisaran Kai naik. Mereka menatap ketiga anak muda yang terus menyerang, menerjang dan saling melindungi.
Kimono putih yang mereka kenakan telah bersimbah darah. Kain putih yang terikat di pinggang sebelah kiri ketiganya juga terkena cipratan darah segar.
“Baguslah. Sepertinya tindakan kita membuat mereka kembali bersemangat untuk saling membunuh...” Nagato dengan suara sendunya yang tenang sedikit kesal.
“tu lebih baik, daripada mati tanpa perlawanan.” Iris membentuk pohon cemara es di tengah jalanan, ”Ilusi Cemara Es!”
“Seni Nafas Sirih...”
Nagato mengolah pernapasan dan membunuh prajurit militer Kekaisaran Rakuza yang tidak dapat bergerak karena berada dalam jangkauan serangan Iris.
“Maaf, Litha. Aku lemah, aku membiarkan tanganmu ternoda dengan lumuran darah, begitu juga kamu, Iris...”
“Naga, jangan katakan itu. Tetap menjadi dirimu. Mendengarmu mengatakan itu, membuatku merinding...” Iris dengan tatapan sinisnya menatap prajurit militer Kekaisaran Rakuza yang terbunuh oleh tebasan pedang Nagato dan Litha.
“Benar kata, Iris. Perkataan Kakak Soren membuatku sedikit kesal. Terima saja bantuanku ini. Aku tidak ingin selamanya menjadi adik yang kau lindungi!” Litha menanggapi perkataan Nagato dengan serius.
Saat ini Nagato melihat Litha begitu berbeda di matanya. Litha juga memiliki nasib yang sama seperti dirinya. Darah Keluarga Von yang mengalir di dalam pembuluh darah mereka membuat keduanya merasakan pahitnya kehidupan.
“Lautan Api!” Mata Nagato menatap darah dan raut wajah dari orang yang dia bunuh. Teriakan ini akan terus terdengar sampai salah satu pihak kalah.
__ADS_1
Ibukota Daifuzen semakin mengecil karena Yamata No Orochi dan Manusia Hewan Buas juga telah memporak-porandakan pinggir kota megah itu.
Pertempuran kelompok Hayabusa melawan Phyton juga terkena dampak serangan Yamata No Orochi. Di tengah kota, kini pihak Kekaisaran Kai dan Kekaisaran Rakuza saling berhadapan. Sedangkan pihak ketiga yakni Manusia Hewan Buas yang merupakan Proyek Beast milik Gore juga ikut dalam pertarungan tersebut.
Bangunan yang megah kini telah runtuh, hangus bahkan rata dengan tanah. Pertempuran ini sama-sama memiliki arti bagi kedua kubu. Sedangkan pihak Sekte Pemuja Iblis hanya ingin melihat keberhasilan Proyek Beast yang dapat menghancurkan Ibukota Daifuzen.
Di sisi lain Hika dan Tika bersama Yuri dan pendekar dari Klan Kitakaze bertarung melawan prajurit militer Kekaisaran Rakuza beserta Manusia Hewan Buas.
“Ular itu semakin mendekat...” Hika menelan ludah ketika melihat wujud Yamata No Orochi yang menakutkan.
“Kita juga diuntungkan dengan posisi ini karena semua pendekar bersatu. Tetapi orang yang menjadi wasit itu terlihat kesulitan melawan pria kapak itu, Hika.” Tika melihat Panglima Perang Nobu yang berada di tengah-tengah pasukan militer Kekaisaran Kai beserta pendekar dari kubu timur dan kubu barat tanpa rasa takut.
“Bunga Api Berhembus!”
“Sambaran Elang Api!”
Kedatangan Tsumasaki dan Budou membantu Chosu, Satsuma dan Takatsugu yang terdesak melawan Panglima Perang Nobu.
“Biar kami yang melawan orang ini!” Tsumasaki menatap Panglima Perang Nobu sebelum keduanya bertukar serangan.
“Hawk! Kenapa jadi seperti ini?!” Budou berteriak ke arah Hawk yang terpental karena terkena sabetan salah satu kepala Yamata No Orochi.
“Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Amati situasi ini baik-baik. Kau itu seorang jendral. Jangan bersikap seperti anak manja bangsawan!” Hawk bangkit berdiri dan menyeka darah yang keluar dari mulutnya.
“Tidak berguna, Emi!” Dua kepala ular yang terpotong kembali terbentuk. Yamata No Orochi sudah berada di dekat alun-alun Ibukota Daifuzen.
Emi menebaskan pedangnya yang berisi aura tubuhnya dan tenaga dalamnya. Salah satu kepala ular kembali terpotong. Namun Kaisar Orochi yang memiliki kekuatan Yamata No Orochi masih dapat menumbuhkan kembali kepalanya.
“Tidak ada gunanya! Kalian semua masih berusaha melawanku! Tunduk padaku! Maka kalian akan hidup lebih lama dan merasakan kejayaan!” Delapan kepala Yamata No Orochi menyembutkan api ke arah pasukan militer Kekaisaran Kai.
Teriakan dan jeritan terus terdengar. Pendekar dari Air Terjun Kebenaran yang dipimpin Mio beserta Namida berusaha menahan serangan semburan api.
“Kalian semua! Bakar mereka!” Salah satu kepala Yamata No Orochi menatap tajam pasukannya yang berada di garis depan berhadapan dengan pendekar dari kubu timur.
“Baik, Yang Mulia Orochi!” Secara serentak seribu prajurit lebih menjawabnya.
“Semburan Api!”
”Hembusan Api!”
“Tiupan Api!”
“Hembusan Nafas Angin!”
“Pusaran Angin!”
Prajurit militer Kekaisaran Rakuza mengeluarkan api dari mulutnya. Kobaran api yang membara mengarah pada pendekar yang disana ada Emi, Namida, Owara, Reto, Takamasa, Takeda, Mio, Mizurawa, Katsuri dan ratusan pendekar yang bergabung melawan balik serangan gabungan dari prajurit militer Kekaisaran Rakuza.
Benturan api dan air membuat pertempuran di alun-alun kota dipenuhi kabut sesaat. Tak lama Emi menggunakan kekuatan dari pedang di tangannya.
__ADS_1
“Membekulah! Orochi!” Jalanan berubah menjadi es yang membentang luas membekukan mayat-mayat yang bergelimpangan di tanah.
Kaisar Orochi melihat kekuatan Emi, “Nobu! Kesini!” Perintah dari Kaisar Orochi tidak dapat dibantah Panglima Perang Nobu.
“Hujan Seribu Amukan Halilintar!”
Kapak yang dia ayunkan ketika dikeroyok dari berbagai arah membuat ledakan besar. Bahkan Nagato dan yang lainnya telah menjaga jarak dari pertarungan Panglima Perang Nobu ikut terpental.
“Kekuatan yang mengerikan!” Iris mengumpat kesal karena melihat banyak orang yang kekuatannya di luar nalar.
Sementara itu Nagato melebar matanya melihat salah satu kepala Yamata No Orochi hendak memakan Hika dan Tika.
“Kalian berdua! Lari!” Nagato dan Litha berteriak secara bersamaan.
“Hika! Tika!”
Beberapa orang melihat Hika dan Tika yang hendak terkena semburan api dan lahapan mulut salah satu kepala ular Yamata No Orochi.
“Kalian berdua!” Ichiba memeluk kedua anaknya dan hendak membawa mereka berdua melarikan diri menghindari serangan Yamata No Orochi.
Namun semburan api dan salah satu kepala Yamata No Orochi sudah semakin dekat dengan mereka.
“Auman Satu Tarikan Nafas!”
Takatsugu menahan semburan api dan memukul wajah kepala ular yang hendak memakan istri beserta kedua anaknya.
“Sayang...” Ichiba menangis melihat simbol matahari yang ada dipunggung Gyuki yang tak lain adalah Takatsugu. Salah satu pengikut Kagutsuchi Pandu.
“Paman Gyuki...” Hika terisak melihat Takatsugu yang menyelamatkan dirinya.
“Ayah!” Tika menjerit karena tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ayah. Namun ayah yang dia dambakan bertemu dengannya di pertempuran.
Takatsugu tersenyum lembut pada istri dan kedua anaknya, “Maaf, aku tidak ada untuk kalian bertiga. Aku tidak bisa melibatkan kalian dalam urusan pribadiku...”
Ichiba berdiri bersama Hika dan Tika menatap kegagahan Takatsugu yang melempar salah satu kepala Yamata No Orochi.
“Walau aku tidak ada untuk kalian! Tapi aku tidak membiarkan siapapun memyentuh kebanggaanku!” Wujud Gyuki berubah. Kini dia tidak peduli lagi dengan racun yang ada di dalam tubuhnya. Hari ini seluruh pengikut Pandu yang selamat dari kejadian pembantaian berniat mati di pertempuran ini.
Semua mata menatap Takatsugu karena melihat bayangan di belakang pria itu yang tak kalah mengerikan wujudnya dari Kaisar Orochi yang telah merubah wujudnya menjadi Yamata No Orochi.
Arwah Suci Jenis Mythical : Ushi Oni yang memilih Takatsugu membuat dirinya menjadi monster iblis berkepala sapi.
“Ayah? Jadi dia ayah kita, Tika?” Hika berseri-seri melihat wujud ayahnya yang melindungi dirinya.
“Iya, Hika. Paman Gyuki adalah Takatsugu, ayah kita, Hika!” Tika tak henti-hentinya meneteskan air mata suka cita.
“Takatsugu Si Iblis Sapi. Itulah julukan ayah kalian...” Ichiba tidak menyangka sampai saat ini Takatsugu masih hidup dan mengganti namanya menjadi Gyuki.
Takatsugu tersenyum lembut pada Ichiba, Hika dan Tika sebelum merubah wujudnya menjadi, “Ushi Oni!”
__ADS_1