Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 215 - Yamata Hizen Berkepribadian Ganda!


__ADS_3

Nagato berjalan menuju Penginapan Matahari Timur bersama Iris dan yang lainnya. "Bibi Shirayuki, pertandingan terakhir tadi sedikit mengecewakan. Kupikir aku bisa melihat kekuatan dari ketiga pendekar itu," ucap Nagato sembari menatap Shirayuki yang berjalan disampingnya.


"Menurut Bibi ada sesuatu yang terjadi pada Guren Toshiko..." Shirayuki menebak dan menatap wajah Nagato.


Emi menatap Nagato dan Shirayuki yang sedang berbicara. "Firasatku saat ini sangat kesal. Entah apa yang membuatku menjadi seperti ini..." Shirayuki tertawa lirih mendengar perkataan Emi.


"Ibu sudah tua. Jadi mudah merasa kesal." Shirayuki menanggapi ucapan Emi dan dibalas tatapan tajam oleh Emi.


"Shirayuki. Kau selalu saja berani bercanda denganku!" Emi menegur Shirayuki. Tidak lama keduanya berjalan tanpa saling berkata apapun lagi.


Nagato memperlambat langkah kakinya dan menungggu Iris yang sedang mengobrol dengan Litha di belakang. Namun setelah melihat wajah Iris dan Litha yang tertawa lepas, Nagato mengurungkan niatnya untuk menggoda Iris.


"Cih, kenapa aku ingin sekali mengeledek Iris?" Nagato membatin dan terus melangkahkan kakinya menuju Penginapan Matahari Timur.


Sesampainya di Penginapan Matahari Timur, seperti biasa Nagato duduk sebentar di teras penginapan sebelum merendamkan tubuhnya di kolam air panas.


Suasana sore yang begitu tenang di Penginapan Matahari Timur membuat Nagato menikmati setiap hembusan angin yang menerpa tubuhnya. Matanya memejam merasakan sinar matahari yang menerpa tubuhnya dengan kehangatan.


"Naga, kamu mirip kakek-kakek." Iris tertawa lirih. Tidak berapa lama Nagato juga mendengar suara tawa Litha, Hika dan Tika.


"Kakek-kakek?" Nagato membatin dan membuka matanya secara perlahan. Kemudian matanya menatap tajam Iris, sedangan kedua tangannya mencubit pipi Iris dengan lembut.


"Apaan sih, Naga?!" Iris mencoba menepis tangan Nagato tetapi gadis cantik itu malah membiarkan Nagato mencubit dan menarik pipinya dengan penuh kelembutan.


"Cukup." Nagato berkata lirih dan melepas tangannya yang memegang pipi Iris. Wajah Iris sedikit memerah.


"Apanya yang cukup! Apa kamu mempermainkanku?!" Iris berdiri dan meninggalkan Nagato yang sedang duduk di teras penginapan.


Litha tertawa lirih melihat Nagato dan Iris yang bertengkar. "Kalian berdua sangat lucu, Nagato." Nagato menatap Litha yang tertawa.


"Litha, apa kamu tidak cemburu?" Nagato bertanya pada Litha untuk memastikan.


Litha menggelengkan kepalanya. "Tidak. Nagato, aku tahu kamu hanya menganggapku sebagai seorang adik yang harus dijaga, benar bukan?" Litha menatap mata Nagato.


"Litha..." Nagato bergumam pelan. Sementara itu Hika dan Tika mendengarkan Nagato dan Litha yang sedang berbicara.


"Maaf Litha. Tapi aku..." Kata-kata Nagato terhenti. Entah kenapa tenggorokannya terasa penuh.


Litha tersenyum tipis. "Nagato, kamu pernah bilang padaku, perempuan yang kamu suka adalah perempuan yang bersikap alami dan jujur seperti Iris. Menurutku Iris adalah pilihan yang tepat untukmu. Sebagai seorang adik sepupumu aku harus mendukung kakakku!" Litha tersenyum lembut pada Nagato dan mengelus rambut pemuda itu sebelum beranjak pergi meninggalkannya.

__ADS_1


"Maaf Nagato. Aku tidak jujur padamu tentang siapa diriku. Tapi aku janji, aku akan memberitahumu." Litha membatin sembari menatap wajah Nagato yang kebingungan.


Hika mengikuti Litha dari belakang karena gadis kembar manis itu hendak pergi jalan-jalan bersama Litha. Sementara itu Tika tersenyum menatap Nagato.


"Jadi laki-laki tampan memang susah ya, Nagato. Aku sebagai teman Iris dan Litha hanya bisa bersikap netral." Tika mengangkat kedua tangannya dan berdiri. "Aku mandi dulu, kamu mau ikut?" Tika tertawa mengeledek Nagato.


"Aku juga ingin mandi." Nagato menerima ajakan Tika. Wajah Tika merah padam melihat Nagato yang bersikap kembali seperti biasa.


"Aku ... aku tadi bercanda!" Tika menatap wajah Nagato yang berdiri dekat dengannya.


"Aku juga bercanda." Dengan wajah yang tenang, Nagato berjalan meninggalkan Tika yang mematung seribu bahasa.


Perlahan langit malam mewarnai Ibu kota Daifuzen. Sore menyalami malam dan perlahan sinar rembulan dengan lembut kembali bersinar.


Di suatu ruangan yang ada di Istana Hizen. Sebuah istana megah itu dibangun ketika Hizen menjabat sebagai Kaisar Kai yang baru, sedangkan tempat pemerintahan yang lama telah ditinggalkan yaitu Kastil Lama Furigiri.


Dalam ruangan yang terdapat tiga orang itu, terlihat lilin-lilin memenuhi seluruh ruangan di samping sebuah ranjang. Hizen sedang duduk di atas kursi yang empuk dan dihadapannya ada Guren dan Satra.


"Maaf..." Satra menelan ludah. Wajahnya pucat pasi. "Sekarang anda Furigiri Hizen atau..." Kata-kata Satra terhenti karena melihat tatapan tajam mata Hizen.


"Yang Mulia! Aku ingin anda tanggung jawab atas bayi di dalam kandunganku ini!" Guren menangis dan menatap wajah Kaisar Hizen dengan air mata yang berlinang.


Satra menatap tajam Guren. "Bukankah sudah kubilang. Jangan pernah tunjukkan batang hidungmu setelah kau tidur dengan Yang Mulia Hizen!" Guren menangis tersedu-sedu. Gadis itu memegang perutnya dan mengelusnya.


"Apa-" Guren tidak percaya. Kemudian dia menatap tajam Kaisar Hizen yang selalu berubah-ubah sikapnya. "Anak di dalam kandunganku tidak bersalah! Yang bersalah adalah kamu! Kamu kaisar bejat yang memperkosaku!" Satra menjauh dari Guren yang mendekati Kaisar Hizen.


"Yang Mulia Yamata Hizen ... apakah ini anda?" Satra membatin dalam hatinya ketika melihat Kaisar Hizen berdiri.


Tidak berapa lama tangan Kaisar Hizen menampar wajah Guren sangat keras. "Diam! Seharusnya kamu bersyukur karena yang pertama menyentuhmu adalah aku! Aku adalah Kaisar Kai! Darah keturunan terpilih yang menjadi penguasa benua ini!" Kaisar Hizen menarik tubuh Guren dan memeluknya sangat erat hingga gadis tersebut memekik kesakitan.


"Dasar laki-laki jahanam! Perutku! Argh!" Guren memekik dan mencaci Kaisar Hizen sebisanya.


"Satra. Mana obat perangsang itu!" Kaisar Hizen menatap tajam Satra. Sedangkan wajah Guren pucat pasi.


"Ini Yang Mulia Hizen." Satra melempar sebuah botol minuman yang telah dicampur dengan obat perangsang.


Kaisar Hizen menangkapnya dan memaksa Guren untuk meminumnya. Perlawanan dari Guren tidak berarti di hadapan Kaisar Hizen.


"Satra, kamu keluar dulu. Malam ini aku akan menikmati tubuh ini sebelum membunuhnya!" Kaisar Hizen melepas seluruh pakaiannya dan menatap tajam Satra.

__ADS_1


"Apakah anda sekarang adalah Yang Mulia Yamata-"


"Hahahaha..." Suara tawa Kaisar Hizen memotong perkataan Satra.


"Ya, aku adalah Yamata Hizen. Darah keturunan terpilih mengalir di pembuluh darahku." Kaisar Hizen tertawa setelah melepas pakaiannya.


Satra tertawa mendengar perkataan Kaisar Hizen. "Ini adalah Yang Mulia Yamata Hizen yang kukenal! Bukan seperti kaisar palsu boneka yang bernama Furigiri Hizen!" Satra membuka pintu dan melirik Kaisar Hizen yang menindih tubuh Guren di atas ranjang dengan sangat kasar.


"Yang Mulia Yamata Hizen. Ngomong-ngomong istri anda..." Satra menelan ludah ketika ingin membicarakan Yuki.


"Satra walau kau tertarik dengan istriku. Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya! Bagaimanapun Yuki adalah perempuan terpilih yang mampu membuatku mengontrol kekuatan ini! Setelah dia memberiku dua anak, maka tugasnya sudah selesai!" Kaisar Hizen menatap tajam Satra dan menghampiri pria itu.


"Satra, jika kau berniat mengkhianatiku. Maka kau tahu akibatnya, bukan?" Kaisar Hizen mendorong tubuh Satra keluar ruangan gelap tersebut dan mengunci pintu ruangan itu dari dalam.


Satra tertawa lirih. "Aku tidak menyangka melihat orang berkepribadian ganda seperti ini!" Dengan langkah yang terhuyung Satra keluar dari ruangan tersebut dan mengamati keadaan terlebih dahulu.


"Aku memang mendukung Yamata Hizen tapi tidak dengan Furigiri Hizen." Satra membatin sembari melangkahkan kakinya meninggalkan Istana Hizen.


Pandangan matanya menatap langit malam. "Gore memintaku mengumpulkan senjata dari Kota Helai. Dia ingin membunuh ribuan orang di Ibu Kota Daifuzen saat Turnamen Harimau Kai mencapai babak 4 besar." Satra bergumam pelan dan berjalan menuju kediaman rumahnya yang ada di Ibu Kota Daifuzen.


"Raja Sihir Azbec itu terlalu takut dengan keturunan Keluarga Von. Setelah membantai Kota Roshima. Dia masih percaya jika keturunan Keluarga Von masih hidup." Satra membatin kembali dalam hatinya. Senyuman lebar menyeringai di wajahnya. "Aku tidak terlalu peduli dengan nyawa orang lain, asalkan kami dari Keluarga Yamata dapat mengambil alih kembali Benua Ezzo. Maka itu sudah menjadi kepuasan batinku!" Batin Satra menambahkan.


Satra memang memiliki hubungan yang baik dengan Gore, namun dia tidak setuju dengan Gore yang berniat menguasai seluruh Benua Ezzo dengan bantuan Organisasi Disaster. Karena Satra sudah mengabdikan hidupnya pada dua orang yang bernama Yamata Orochi dan Yamata Hizen. Tentu dia tidak bisa mengkhianati kedua keturunan Yamata tersebut.


Kaisar Rakuza dan Kaisar Kai itu mempunyai ambisi dendam dari 2000 tahun lalu untuk kembali menguasai seluruh daratan Benua Ezzo. Sebagai orang yang memiliki darah Yamata, tentu saja Satra sudah memberitahu hal tersebut kepada Gore sehingga Kaisar Hizen dan Kaisar Orochi mengetahui hubungan Gore dengan Organisasi Disaster.


Sama seperti Satra yang berniat memanfaatkan Gore, sosok pemimpin Sekte Pemuja Iblis tersebut juga memanfaatkan Satra. Pria yang sangat menyukai pertumpahan darah itu tidak memberitahu kebenaran tentang Kagutsuchi Nagato yang masih hidup kepada Satra.


Hubungan saling memanfaatkan juga terjadi pada Kaisar Orochi dan Kaisar Hizen. Di sisi lain Kaisar Hizen tidak ingin ambil resiko untuk berperang melawan Kekaisaran Rakuza, sehingga dia lebih memilih menjodohkan anak perempuannya yang bernama Hisui dengan anak laki-laki Kaisar Orochi yang bernama Kira, agar Kedua Kekaisaran tersebut menjalin hubungan yang lebih baik tanpa pertumpahan darah yang tidak perlu.


Di satu sisi, Kaisar Orochi justru mendatangi Satra yang juga merupakan keturunan Keluarga Yamata untuk mengintimidasi pria tersebut. Kaisar Orochi yang datang bersama orang-orang terkuatnya menyuruh Satra dan Sepuluh Tetua Kai untuk mengirimkan 1000 orang yang akan dijadikan budak di Kekaisaran Rakuza setiap bulannya, sebagai ganti hubungan damai Kekaisaran Rakuza dan Kekaisaran Kai.


Bukan itu saja, Kaisar Orochi mengetahui tentang orang yang memiliki keturunan jelmaan dewa-dewi. Dengan mengirim Reptile dan Panglima Nobu ke Kekaisaran Kai, Kaisar Orochi menginginkan anak kedua Kaisar Hizen yang bernama Hisui dan anak dari Fuyumi Shirayuki yang bernama Fuyumi Iris.


Kaisar Hizen sendiri belum mengetahui rencana Kaisar Orochi yang mengkhianatinya secara diam-diam. Sementara itu Satra tidak memberitahu pada Kaisar Hizen jika Orochi adalah keturunan Yamata. Dari hubungan itu, semua orang tersebut sudah tidak saling percaya dan saling memanfaatkan.


Di saat manusia yang memiliki sifat yang sama saling bekerjasama, maka yang tercipta hanyalah perasaan kuat untuk saling menjatuhkan. Apapun itu caranya, manusia seperti itu tidak akan pernah puas, mereka menghalalkan segala cara walau harus menikam seorang teman bahkan keluarga dari belakang.


***

__ADS_1


Di waktu yang sama, di sebuah rumah makan yang bernama Rumah Makan Hono terlihat dua pasangan muda-mudi sedang duduk berdua di depan meja makan lesehan.


Terlihat di sana Nagato dengan mengenakan baju putih lengan pendek dan celana panjang hitam sedang duduk menatap perempuan di depannya, sedangkan Iris memakai baju hitam lengan panjang dibalut dengan jaket putih dan memakai celana hitam panjang yang menutupi kakinya yang jenjang juga sedang menatap laki-laki yang duduk didepannya.


__ADS_2