Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 168 - Pedang Sebagai Pajangan?


__ADS_3

Senyuman lebar terlihat jelas di wajah Kujo. Akhirnya yang dinanti-nanti telah tiba. Kujo sangat meremehkan Nagato. Dengan semringah dia tertawa lepas dan berkata, "Akhirnya giliranku beraksi."


Kurose tersenyum tipis dan melirik tajam Kujo yang memegang pedangnya.


"Kujo. Dia benar-benar beruntung bertarung melawan topeng monyet itu!" Kurose membatin penuh kebencian terhadap Nagato.


Sementara itu Nagato berjalan dengan tenangnya menuju lapangan. Sesampainya di tengah lapangan. Sambutan raut wajah menyebalkan dari Kujo membuat pembuluh darah Nagato mendidih.


"Aku sarankan kau untuk menyerah. Karena aku sangat serius ingin membunuhmu." Kujo tersenyum sangat sinis menatap Nagato.


Topeng rubah putih yang dikenakan Nagato membuat Kujo kesal. Dia sama sekali tidak bisa melihat wajah Nagato yang sesungguhnya.


Nagato dan Kujo menatap tajam tanpa berbicara sepatah kata pun selama beberapa detik. Setelah Mujin bersuara lantang meneriakkan kata, "Mulai." Suara riuh penonton menggema.


Kujo bergerak sangat cepat mengayunkan pedangnya mengincar leher Nagato. Gerakan Kujo masih bisa dilihat jelas oleh Nagato.


Dengan gesitnya, Nagato menunduk serendah mungkin tanpa merasa direndahkan. Tangannya sudah mengepal dan bersiap memukul perut Kujo.


Penonton berdecak kagum melihat pertarungan Nagato yang tidak pernah membuat mereka bosan. Pukulan Nagato yang dilapisi api memukul perut Kujo dengan telak.


Tubuh Kujo terlempar ke belakang beberapa langkah. Wajahnya sangat buruk, Kujo tidak menyangka akan terkena serangan Nagato semudah ini.


Emosinya meluap. Kujo melepaskan aura tubuhnya yang berwarna hitam pekat ke arah Nagato.


Untuk membalas tindakan Kujo yang melepaskan aura tubuh hitam pekat ke arahnya, Nagato langsung melepaskan aura tubuhnya yang berwarna putih untuk membalas tindakan Kujo.


Nagato memanipulasi aura tubuhnya yang berwarna putih menjadi sebuah harimau putih. Mata Kujo terbelalak kaget bukan kepalang. Ternyata Nagato lebih hebat darinya dalam memanipulasi aura. Bahkan aura tubuh yang diubah menjadi bentuk hewan oleh Nagato tidak pernah dia lihat.


Semua penonton menganga melihat aura putih Nagato yang membentuk harimau putih. Sangat jarang pendekar muda bisa memanipulasi aura tubuhnya sesuka hatinya. Seolah-olah aura tubuh itu sendiri sudah menjadi bagian dari diri kita. Bisa dihitung dengan jari orang-orang di Benua Ezzo yang mampu memanipulasi auranya seperti Nagato walau masih jauh dari kata sempurna.


Benturan aura putih dan hitam pekat terlihat sengit saling mencengkeram, saling menjatuhkan di udara. Aura putih Nagato mampu meredam aura hitam pekat Kujo.


Kali ini Nagato melapisi kedua tangannya dengan api. Berselang dua detik kemudian, Nagato bergerak cepat menyerang Kujo.


Wajah Kujo mengkerut. Sangat buruk untuk dilihat. Setelah meremehkan lawannya, kini Kujo menjadi samsak hidup Nagato. Pedang yang digenggam Kujo terlihat seperti pajangan bagi Nagato.


Namun, penonton yang melihat pertandingan itu dari atas tribun juga berpikir pedang hitam yang ada di pinggang Nagato hanyalah sebuah pajangan.


"Apa pedangmu itu hanya sebagai pajangan?" Nagato berucap dengan nada yang santai dan tenang. Tetapi bagi Kujo itu adalah sebuah penghinaan.


"Pedangmu itu yang sebagai pajangan! Topeng monyet sialan!" Kujo berteriak sambil menebaskan pedangnya ke tubuh Nagato.


"Kurang cepat." Nagato menghindari tebasan pedang Kujo sambil memanfaatkan emosi yang meluap menguasai tubuh Kujo.


Nagato kembali melancarkan pukulan api berkali-kali pada tubuh Kujo. Semua penonton berdecak kagum melihat itu. Nagato di mata mereka seperti pendatang baru yang menarik perhatian.


"Argh!" Kujo berteriak meringis kesakitan setelah dirinya tidak bisa menangkis pukulan Nagato. Perutnya menjadi sasaran empuk Nagato.


"Cih." Nagato berdecak kesal. Dia berhenti menyerang Kujo dan berkata, "Aku belum menggunakan setengah dari kekuatanku. Aku tidak tertarik melawan orang lemah yang tidak bisa membuatku mengetahui jawaban itu."


Kujo bangkit berdiri dan kekesalannya semakin menumpuk mendengar perkataan Nagato. Sudah lama dia tidak merasa sekesal ini karena diremehkan orang.


"Jangan berlagak sombong, kau!" Kujo mendelik matanya menatap Nagato satu arah.


"Turnamen ini lebih banyak pendekar muda yang akan mengalahkanmu." Kujo melirik sepuluh pendekar muda jenius dan pendekar muda tak bermahkota. Terlihat tiga orang pendekar muda tak bermahkota menatap pertandingan ini dengan serius.


Kujo sendiri telah dikeluarkan dari jejeran sepuluh pendekar muda jenius.


"Kau pikir aku peduli dengan hal itu. Setelah kalah dariku. Ini menjadi alasanmu..." Nagato tersenyum tipis dari balik topeng rubah putih yang dia kenakan. Raut wajah emosi yang ditunjukkan Kujo semakin membuat Nagato ingin memancing emosinya.


"Jenius? Mahkota atau apapun itu. Aku akan mengalahkan mereka semua." Nagato menambahkan sambil tangan kanannya menyentuh topeng rubah putih.


Wajah Kujo terlihat sangat merah penuh emosi kemarahan. Perlahan matanya memejam untuk menenangkan perasaan yang sangat ingin mencabik-cabik tubuh Nagato.


"Tarian Pekat Malam."


Kali ini Kujo menyerang Nagato dengan gerakan yang stabil. Energinya tidak terbuang cuma-cuma. Tebasan Kujo yang menebaskan pedangnya berkali-kali pada Nagato itu membuat penonton berdecak kagum.


Permainan pedang Kujo sangat cepat dan gerakannya kasar. Puluhan tebasan sudah dia arahkan pada Nagato. Namun tidak ada satu pun yang mengenai tubuh Nagato.


Kimono putih dengan kain putih yang terikat di pinggang kiri Nagato masih sangat bersih. Dalam tengah-tengah debu yang memenuhi lapangan Lingkaran Arena Harimau, kimono putih dan kain putih masih tetap bersih seperti sedia kala.


Nagato tersenyum melihat teknik pedang Kujo. Muncul niat dalam benaknya untuk menyalin gerakan Kujo.


"Menarik." Hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut Nagato setelah melihat dengan jelas teknik pedang Kujo.

__ADS_1


"Bara Api."


Nagato memejamkan matanya dan melepaskan aura tubuhnya yang bercampur dengan elemen api di seluruh tubuhnya.


Penonton terdiam penuh kekaguman melihat Nagato. Mata mereka melebar setelah melihat Nagato berada di belakang Kujo.


"Kecepatan. Itu adalah senjata utamaku." Nagato berbalik dan menendang punggung Kujo. Setelah itu dia memukul Kujo yang masih terpental karena tendangannya.


Mujin melebar matanya tidak bisa mengikuti pergerakan Nagato. Menurutnya bakat Nagato sangat mengerikan bagi pendekar di Kekaisaran Kai.


Sepuluh Tetua Kai tertarik menjadikan Nagato sebagai seorang pembunuh yang bertarung sampai mati demi Kekaisaran Kai. Dari sepuluh orang yang tertarik pada Nagato hanya satu yang tersenyum lebar penuh kelicikan. Pria licik itu ialah Satra.


"Tidak salah lagi dia adalah Kagutsuchi Nagato. Gadis itu telah memberitahu kami tentang anak Pandu yang masih hidup." Satra membatin penuh kemenangan. Rencana dan kebenaran masa lalu seakan-akan masih ada di genggamannya. Tabir kebenaran tidak akan terungkap. Hanya dirinya, Gore, Brusca, pemimpin dari Tujuh Dosa Besar Mematikan dan beberapa orang terdekatnya yang mengetahuinya kebenaran tentang musnahnya Klan Kagutsuchi.


Sosok pengkhianat yang hidup dalam keputusasaan itu menjadi mata-mata bagi Satra, Black Madia dan Magma. Namun orang yang menjadi tuan dari gadis itu hanyalah Gore. Kekuatan yang melawan hukum alam. Ilmu sesat yang dipelajari di Kerajaan Zhang yang kini menjadi Benua Es itu merupakan salah satu ilmu yang digunakan seluruh anggota maupun mantan anggota Tujuh Dosa Besar Mematikan.


"Bocah itu dilindungi Monster Pembunuh Kai dan Emi. Sulit bagiku untuk menghabisinya. Tetapi sepertinya tatapan kebencian dari anak Hizen cukup menarik perhatianku." Satra membatin menatap tajam Hiragi yang terlihat menatap Nagato penuh kebencian. Sorot mata Hiragi terlihat tidak suka dengan Nagato.


Satra tidak mengetahui alasan Hiragi bisa sampai seperti itu. Namun ini adalah hal yang menguntungkan baginya. Satra berniat memanfaatkan emosi hati Hiragi yang masih mudah marah untuk membunuh Nagato.


Satra tidak perlu mengotori tangannya. Dua gadis muda yang terlihat dekat dengan Nagato menarik perhatian Satra. Dua gadis itu adalah Iris dan Litha.


Senyuman lebar menyeringai di wajah Satra. Dia menutupi mulutnya dengan tangan agar tidak terlihat senyumannya. Lidahnya menjilat bibirnya sendiri.


"Tubuh dua gadis itu akan memberi manfaat pada tubuhku. Aku akan mendapatkan mereka berdua sekaligus kematian anak Pandu!" Satra membatin penuh kemenangan. Dia sangat yakin rencananya untuk mendapatkan kesucian Iris dan Litha akan berjalan dengan sempurna. Satra benar-benar berniat mencari cara untuk menyetubuhi kedua gadis itu selagi kedua gadis itu masih di Ibu Kota Daifuzen.


"Keberuntungan selalu berpihak padaku. Setelah aku berhasil menduduki tahta kaisar. Hisui juga akan menjadi milikku. Aku akan menjadi orang terkuat di Benua Ezzo." Satra lagi-lagi membatin sambil tersenyum lebar melihat Iris, Litha dan Hisui yang memiliki tubuh jelmaan dewa-dewi.


Hisui dan Iris sudah Satra ketahui asal-usulnya. Tubuh kedua gadis itu menjadi incaran setiap lelaki maupun pendekar yang mengetahui seluk beluk kekuatan yang bersemayam di kedua gadis itu. Sedangkan untuk Litha. Satra hanya berasumsi saja, karena menurutnya Klan Fuyumi melindungi Nagato dan Litha karena sesuatu yang tersembunyi.


Lamunan Satra buyar setelah mendengar ledakan yang sangat keras. Matanya terkejut melihat Nagato yang memukul dinding Arena Lingkaran Harimau hingga berlubang. Api menyebar cepat di sekitar dinding.


Nagato terlihat sangat emosi di bawah sana. Sedangkan wajah Kujo pucat pasi dan seluruh sel-sel tubuhnya terlihat sangat kaku.


"Katakan sekali lagi!" Nagato memegang kerah kain jubah hitam Kujo dan menariknya dengan kasar.


"Kau tadi mengatakan sesuatu yang membuatmu akan merasakan akibatnya!" Nagato menatap tajam Kujo dari balik topeng rubah putihnya.


Melihat Nagato yang terlihat seperti ingin menghabisi Kujo tentu Nezusaki, Kurose dan beberapa pendekar dari Klan Kuromachi melompat menuju lapangan Arena Lingkaran Harimau. Namun tidak untuk Mujin yang mengetahui pembicaraan Nagato dan Kujo.


Mendengar perkataan Kujo yang membawa nama ayahnya. Tidak butuh sedetik untuk Nagato langsung mengancam Kujo. Dinding Arena Lingkaran Harimau berlubang dan terbakar karena ulah Nagato.


Penonton semuanya terdiam. Mereka tidak menyangka akan melihat pertandingan yang sangat menarik ini sampai membuat mereka diam dan menikmati. Tetapi kemarahan Nagato terasa sangat jelas di mata mereka. Melihat Nagato yang terlihat serius ingin membunuh Kujo membuat penonton keheranan tentang alasan mengapa Nagato sampai marah seperti ini.


"Apa yang membuatmu bisa berkata seperti itu?! Katakan padaku!" Nagato kini mencekik leher Kujo. Kemudian dia melemparnya dengan keras ke tanah.


"Pa-Pandu ... uhuk ... uhuk ... telah membunuh orang ... tuaku." Kujo pingsan setelah mengatakan alasannya yang sangat membenci Pandu.


"Lelucon macam apa ini? Siapa yang berani berbuat seperti itu? Ayahku tidak mungkin membunuh orang tanpa alasan yang pasti. Aku yakin itu!" Nagato membatin dan menatap tajam Kujo yang telah pingsan. Tubuh lawannya itu tergeletak di tanah.


"Menyedihkan. Sudah kuduga, kau dikeluarkan dari sepuluh pendekar muda jenius karena kau terlalu lemah, Kujo." Nagato menoleh ke belakang melihat Kurose yang datang menghampirinya. Dengan cepat Kurose berniat menyerang Nagato yang membuat Kujo terbaring lemah tak berdaya.


"Jangan ikut campur!" Nagato dengan mudah memukul Kurose hingga pemuda itu terpental jauh ke belakang. Tindakan Nagato menarik perhatian semua orang.


"Sial! Kau menyerangku! Wasit dia harusnya dikeluarkan karena menyerang peserta lain yang tidak bertanding!" Kurose menatap Mujin.


Mendengar teriakan Kurose. Seluruh penonton menyoraki tindakan Kurose.


"Kembali! Jangan ganggu pertandingan!"


"Perusak suasana!"


Suara penonton membuat wajah Kurose memerah karena emosi. Merasa dipermalukan, Kurose menggertakkan giginya dan melepaskan aura hitam pekatnya ke arah Nagato.


Suara langkah yang sangat cepat dari beberapa pendekar yang hendak memukul Nagato datang dalam sekejap ke lapangan Arena Lingkaran Harimau. Semua orang terdiam melihat Nezusaki bersama pendekar dari Klan Kuromachi yang hendak menyerang Nagato. Yang paling menarik perhatian mereka adalah Nezusaki yang hendak menebas kepala Nagato dengan kedua pedangnya.


Seluruh tanah, rumput dan pepohonan yang ada di lapangan Arena Lingkaran Harimau membeku. Emi dengan cekatan tidak membiarkan orang lain menyentuh keluarganya. Bagaimana pun juga Nagato dan Litha telah menjadi bagian dari keluarga besar Klan Fuyumi.


Iris membekukan tubuh Kurose. Sedangkan Litha, Hika dan Tika berdiri di depan pendekar yang mengelilingi Nagato.


"Jangan tarik pedangmu!" Ichiba dan Oichi menahan dua tebasan pedang yang mengincar Nagato.


Sementara itu Nezusaki merapatkan giginya melihat tebasan pedangnya ditahan oleh pedang Nagato. Tidak berapa lama Emi datang berdiri di antara keributan. Penonton menggelengkan kepalanya berkali-kali. Mengingat sekarang mereka hampir melihat pertumpahan darah di Turnamen Harimau Kai.


Mata semua lelaki tertuju pada Shirayuki yang melayang di udara. Perempuan cantik itu menghembuskan napas lewat mulutnya membekukan seluruh pendekar dari Klan Kuromachi.

__ADS_1


"Singkirkan tangan kotor kalian dari anggota keluargaku!" Ucapan dingin Shirayuki membuat penonton perempuan berteriak histeris.


"Kya ... tuan putri Shirayuki!"


"Kecantikannya membuat mataku tidak bisa terbuka!"


"Kya ... silau sekali!"


"Ah. Mataku serasa mau lepas."


"Ah. Tidak. Air mataku meleleh."


Pria yang berada di tengah-tengah kerumunan perempuan penggemar berat Shirayuki langsung berkomentar setelah mendengar perkataan mereka.


"Saraf orang-orang ini sudah putus. Menggelikan sekali." Hayabusa meminum araknya dan menatap pertandingan yang sangat menarik di bawah sana.


"Api? Api itu sangat mirip dengan api milik guru." Hayabusa meneguk arak sambil menatap Nagato yang sedang menahan tebasan pedang Nezusaki.


Api melapisi pedangnya dan aura emas mengelilingi tubuhnya. Nagato menatap Nezusaki dengan tenang sambil menahan tebasan pedang yang dilancarkan pemimpin dari Klan Kuromachi tersebut.


"Bocah!" Nezusaki kembali menebaskan pedangnya tetapi sebuah selendang berwarna merah muda mengikat pedang Nezusaki.


"Tanganmu tidak akan pernah bisa menyentuh dia." Misuzawa Hana berdiri di samping Nagato.


"Sarungkan pedangmu kembali, tuan muda." Hana memberi saran pada Nagato.


"Kau ... tunggu dulu, bukankah kau yang di Kota Yasai waktu itu." Nagato menatap Hana yang terlihat semakin tua.


Mujin terlihat sangat malas melihat situasi yang terjadi di depan matanya.


"Merepotkan. Sungguh merepotkan. Kenapa bisa sampai seperti ini." Mujin bergumam pelan sebelum dia berkata, "Ini adalah kesalahanku karena tidak segera menghentikan pertandingan ini."


Mujin berkata pada dirinya sendiri. Kemudian dia berjalan untuk melerai keributan yang terjadi, tetapi tubuhnya dibekukan oleh Shirayuki.


"Jangan ikut campur tetua tidak berguna!" Shirayuki dengan sinisnya merendahkan Mujin.


"Eh? Tunggu ... aku ini wasit. Kalian dengar tidak?" Mujin melebar matanya karena merasa seperti orang bodoh yang terjebak dalam situasi panas di sekitarnya. Situasi panas dari emosi kemarahan orang-orang yang sedang menatap tajam satu sama lain.


"Cukup hentikan!" Teriakan Mujin membuat kubu Klan Kuromachi dan kubu Klan Fuyumi langsung menatap pria yang tubuhnya membeku karena ulah Shirayuki itu.


"Pemenangnya! Fuyumi Nagato!" Mujin menghancurkan es yang membuat sekujur tubuhnya membeku sambil berteriak dengan keras.


"Itu sudah jelas. Nagato sudah pasti menjadi pemenangnya. Hei, wasit. Yang jadi masalah sekarang tentang tindakan orang-orang tak beradab ini." Shirayuki berbicara santai dan jelas. Perkataannya membuat siapapun lelaki yang mendengar meleleh.


"Mereka berniat menyerang peserta. Jadi menurutmu bagaimana?" Shirayuki menatap dingin Mujin sambil terus membekukan pendekar dari Klan Kuromachi.


"Jika kalian kedua klan tidak kembali ke bangku penonton dalam tiga menit. Seluruh pendekar muda dari Klan Kuromachi dan Klan Fuyumi akan gagal secara otomatis." Mujin menatap semua pendekar yang sudah bersiap bertarung satu sama lain itu.


"Dengan kata lain. Kalian! pendekar muda dari Klan Kuromachi dan Klan Fuyumi akan didiskualifikasi." Mujin menambahkan.


"Nenek Emi. Bibi Shirayuki. Lebih baik kita kembali. Ini kesalahanku yang tidak bisa mengontrol emosi. Aku tidak ingin melibatkan Iris, Litha, Hika dan Tika yang mengikuti turnamaen ini." Nagato meminta orang-orang yang telah melindunginya segera kembali ke bangku penonton.


"Kau akan dengar omelanku semalaman, Nagato!" Emi langsung menarik pedangnya yang menancap di tanah. Seluruh es mencair di lapangan Arena Lingkaran Harimau.


"Baiklah, jika Nagato berkata seperti itu." Shirayuki berjalan di samping Emi.


"Terimakasih Nenek Selendang Bunga Merah Muda." Nagato mengucapkan terimakasih kepada Hana.


Hana hanya mengangguk dan tertawa renyah mendengar ucapan Nagato.


"Tuan muda, namaku adalah Hana. Lain, Nenek Selendang Bunga Merah Muda." Hana menarik selendangnya dan berjalan menghampiri Nagato.


"Terimakasih Nenek Hana." Nagato kembali mengucapkan terimakasih kepada Hana.


"Sama-sama, tuan muda Nagato." Hana tersenyum lembut pada Nagato. Kemudian dia berjalan menghampiri Emi.


Pendekar dari Klan Kuromachi juga kembali ke bangku penonton dengan penuh emosi kemarahan. Sementara itu, Kujo telah dirawat oleh tim medis di ruang kesehatan yang ada di Arena Lingkaran Harimau.


Penonton terkejut melihat apa yang barusan mereka lihat. Hari ini pertandingan babak penyisihan Turnamen Harimau Kai sangat menarik. Tidak sia-sia mereka datang jauh-jauh hanya untuk menonton pertandingan Turnamen Harimau Kai.


Mujin membuka kertas. Tidak berapa lama dia bergumam pelan setelah membaca peserta yang tersisa semakin sedikit.


"Hari ini tersaji pertandingan yang menarik," gumam Mujin sambil tersenyum lebar.


___

__ADS_1


IG : pena_bulu_merah


__ADS_2