
Nagato, Litha dan Asha tetap menjalani hari - hari biasa. Dorobo tidak memaksa Asha untuk menceritakan tentang rahasia yang dia sembunyikan pada Nagato dan Litha, sampai saat ini Asha belum menceritakan pada Nagato tentang kakaknya yang bernama Black Fang adalah orang yang termasuk membunuh Uzui selain Kazan dan petinggi Disaster.
Musim terus berlalu dan tidak terasa telah sebelas bulan semenjak kepergian Kakek Hyogoro. Terasa sangat lama bagi Nagato yang menunggu kedatangan Kakek Hyogoro, kini Nagato dan Litha berumur sebelas tahun sedangkan Asha berumur delapan tahun.
Hari ini mereka bertiga, Nagato, Litha dan Asha pergi ke permukiman orang buangan di dekat laut yang menjadi tempat Bisma untuk beristirahat beberapa bulan yang lalu. Wilayah Kokoto adalah wilayah pinggiran wilayah Me yang begitu dekat dengan laut, hari ini Asha berniat mengungkapkan perasaannya kepada Litha.
Nagato melirik Asha yang sedang berjalan bersama Litha dan mereka berdua terlihat begitu dekat. Nagato tidak ada perasaan cemburu sedikitpun, hanya saja sejak malam itu. Malam dimana Asha menangis setelah Nagato memberitahu identitasnya, banyak hal yang Nagato ingin tanyakan pada Asha.
Nagato tidak ingin berprasangka buruk pada Asha tetapi sejak malam itu Asha terlihat lebih baik padanya dan tidak pernah menangis seperti biasanya.
Nagato memegang pedangnya, "Pedang ayah? Pedang itu salah satu senjata surgawi maka tidak heran jika pedang ayah tidak mau menerimaku sebagai pemiliknya." batin Nagato mengingat pedang peninggalan ayahnya yang tidak bisa terlepas dari sarungnya.
Ketika Nagato, Litha dan Asha dekat dengan rumah yang hancur, di sana terlihat beberapa preman yang sedang mabuk kemudian puluhan preman mendekati Litha. Nagato melirik Asha yang melindungi Litha dengan gagahnya.
"Gadis kecil ini sangat cantik sekali, kita bisa bermain dengannya malam ini." ucap salah satu preman yang memegang pisau sambil menjilat lidahnya sendiri.
"Hoi, sudah kuduga. Kau menyukai gadis kecil seperti ini." sahut salah satu preman yang sedang memegang botol arak.
"Gadis kecil, ikut dengan pam-" belum selesai berbicara, salah satu preman sudah dipukul wajahnya oleh Asha.
Asha menatap dingin puluhan preman dihadapannya dan tersenyum sinis mencoba untuk terlihat gagah dihadapan Litha.
"Tangan kalian tidak pantas menyentuh Kak Litha." ucap Asha dengan tenang.
Litha terkejut melihat Asha yang berbeda hari ini, jantungnya sedikit berdebar kencang melihat Asha yang terlihat gagah.
"Bocah ingusan ini!" umpat salah satu preman menyerang Asha dengan mengayunkan pisaunya.
Asha menahan tusukan pisau preman yang menyerangnya kemudian dia membanting preman tersebut dengan keras.
"Seorang pahlawan akan melawan kejahatan sampai akar - akarnya." ucap Asha dengan bangga sambil mengunci preman yang telah dikalahkannya.
Litha kagum melihat Asha, tidak berapa lama dia melirik Nagato yang berwajah datar dan menatap Asha yang sedang mengunci preman yang telah dikalahkan oleh Asha sendiri.
"Bocah tampan ini sepertinya lemah, kita bunuh dia!" salah satu preman mengajak preman yang lainnya untuk menyerang Nagato.
"Tampan? Lemah?" Nagato mengerutkan dahinya sambil menghindari tusukan dan pukulan dari berbagai arah.
"Bara Api."
Nagato melepaskan aura intimidasinya sambil memanipulasi aura tubuhnya menjadi api yang berkobar dan merambat ke arah puluhan preman.
Nagato tersenyum tipis melihat puluhan preman yang berlari ke arah laut untuk menghilangkan api dari badan mereka. Melihat Nagato dengan mudah mengalahkan preman, Asha melepaskan preman yang telah pingsan karena kuncian tangannya.
"Kak Nagato memang hebat, sial!" Asha menghampiri Nagato dan tersenyum lebar.
"Asha kau harus berlatih lebih giat lagi." ucap Nagato pada Asha.
"Iya." jawab Asha singkat. Asha paling mengetahui jika Nagato berlatih sampai lupa waktu hingga terlihat kulit putih Nagato yang pucat karena jarang tidur dan terkena sinar matahari.
Asha sering melihat Nagato bersembunyi di dalam gua dan bermeditasi selama dua atau tiga hari, melihat Nagato saja sudah membuat Asha kagum.
"Bunga?" Asha melihat bunga berwarna merah muda yang terlihat indah yang telah dibuang di pinggiran Kakato.
Asha mengambil bunga tersebut dan menyembunyikan bunga tersebut di belakang badannya.
"Aku akan memberikan ini pada Kak Litha, aku telah mengumpulkan keberanian." batin Asha menatap Litha yang tersenyum manis pada Nagato penuh makna.
Nagato menatap Asha yang terlihat menyembunyikan sesuatu karena tangan kanan Asha berada di belakang punggung, nafsu membunuh yang begitu besar membuat Nagato tidak dapat berbicara ketika dia ingin mengucapkan sesuatu pada Asha.
"Asha, ternyata selama ini kamu bermain dengan rakyat jelata." suara yang tidak asing di telinganya, membuat Asha terdiam ketakutan.
"Kakak Black..." gumam Asha pelan dan berkeringat dingin melihat seorang pria berambut hitam bercampur putih datang bersama puluhan penyihir bawahannya.
__ADS_1
Nagato dan Litha langsung menarik pedang mereka berdua, kedatangan Black Fang dan puluhan penyihir membuat Nagato tidak enak firasatnya.
"Asha, kau tahu harus berbuat apa, bukan?" bisik Black Fang di telinga Asha.
Asha merinding ketakutan karena dia yang paling mengetahui jika kakaknya sendiri yaitu Black Fang adalah penyihir keji yang bekerja di bawah Black Madia.
"Green Vas, hadang dua anak jelata ini!" perintah Black Fang pada salah satu temannya.
"Kau pikir kau siapa? Kita berdua derajatnya sama dalam tujuh penyihir pelindung raja! Kau tidak berhak menyuruhku!" bentak seorang pria berambut hijau tua dan badannya dipenuhi tato.
"Aku akan memberimu dua budak wanita yang kualitasnya bagus." ujar Black Fang pada Green Vas.
Green Vas tersenyum mesum menatap Litha kemudian dia mengangguk pelan menatap Black Fang.
"Kau duluan, aku pegang janjimu itu. Sebelum menyambut kedatangan Exequtor dan Bangsawan Bahamut, aku akan mencicipi tubuh gadis mungil ini." Green Vas menatap Litha dengan tatapan mesum.
Asha meledak emosinya melihat Black Fang berhasil memanipulasi Green Vas.
"Kakak Black, kumohon jangan sentuh mereka berdua. Kak Nagato dan Kak Litha sangat berharga bagiku." pinta Asha sambil menatap Black Fang.
Black Fang menaikan alisnya sebelum memukul wajah Asha hingga berdarah. Bunga merah muda yang hendak Asha berikan pada Litha jatuh dan hancur.
"Kak Litha..." gumam Asha melihat setangkai bunga yang telah hancur.
"Asha, nyawa mereka berdua ada di tanganku. Ikut aku pulang!" teriak Black Fang menarik tangan Asha secara paksa dan menyeretnya di tanah.
"Lepaskan Asha!" teriak Nagato yang dihadang puluhan penyihir.
Nagato menatap tajam Black Fang dan mengingat wajah dari seseorang yang sangat dibenci Asha itu.
"Asha! Jangan pergi! Bukankah kau ingin menjadi pahlawan!" teriak Nagato ketika tidak bisa melewati puluhan penyihir yang menghadangnya.
Asha menangis tidak menjawab perkataan Nagato, tangannya pasrah ditarik Black Fang.
Nagato dan Litha langsung berlari untuk mengambil Asha dari cengkeraman Black Fang tetapi nafsu membunuh dari Green Vas membuat langkah mereka berdua berhenti.
"Bocah! Beraninya kau membunuh seluruh bawahanku!" Green Vas menatap dingin Nagato.
Green Vas adalah penyihir yang mempunyai bakat sihir kekuatan, seluruh badannya bisa menjadi baja dan besi bahkan pukulannya dapat membuat manusia biasa hancur.
Nagato menyerang Green Vas, melihat Green Vas membuat Nagato mengingat masa lalu kelamnya yang memilukan. Nagato sama sekali tidak takut pada Green Vas karena satu hal yang dia takutkan sekarang, jika saat ini dia melarikan diri dan tidak membunuh Green Vas maka Litha akan dalam bahaya dan dia tidak bisa menyelamatkan Asha.
"Anaconda Punch."
Green Vas menangkis tebasan pedang Nagato dengan pukulan tangannya, pertarungan keduanya membuat seluruh barang rongsokan di wilayah Kakato terhempas. Preman dan penduduk yang melihat penyihir dari Azbec langsung melarikan diri.
"Litha! Rebut Asha!" teriak Nagato pada Litha.
Litha mengikuti perkataan Nagato dan berlari ke arah Black Fang dengan cepat, dalam satu tarikan napasnya Litha menebaskan pedangnya yang dilapisi air ke arah Black Fang.
"Tarian Peri Air."
Litha memutarkan tubuhnya berkali - kali sambil menebaskan pedangnya tetapi Black Fang dapat menahannya hanya dengan tangan kosong.
Tangan Black Fang mencekik leher Litha dengan keras. Asha menatap tajam Black Fang dan berusaha memukulnya tetapi dia mengurungkan niatnya ketika melihat Black Fang tersenyum lebar.
"Jangan lukai dia! Kak Litha, Kak Nagato. Aku akan pergi sebentar, terimakasih telah menjadi kakak yang baik untukku." ucap Asha dengan tulus dan terlihat senyuman yang dia paksakan pada Nagato dan Litha.
Black Fang tertawa kemudian melempar Litha ke arah Nagato, kekuatan Black Fang diluar perkiraan Litha dan Nagato. Black Fang sama sekali belum menggunakan kekuatan sihirnya tetapi dapat menangkap Litha dengan mudah.
Nagato meledak emosinya melihat Litha yang batuk darah, senyuman Asha membuatnya mengingat senyuman ibunya sendiri. Nagato tidak ingin melihat senyuman perpisahan yang menyayat hatinya kembali.
"Asha! Kau adalah adikku! Jadi jangan pergi tinggalkan kakakmu ini!" teriak Nagato pada Asha.
__ADS_1
Teriakan Nagato membuat Litha dan Asha terkejut karena Nagato sama sekali tidak pernah menunjukkan emosinya yang berlebihan pada siapapun.
"Terimakasih Kak Nagato..." batin Asha setelah mendengar perkataan Nagato.
Green Vas memukul perut Nagato hingga tersungkur di tanah, teriakan Nagato membuat Green Vas dan Black Fang tertawa.
"Kakak Black, jangan lukai mereka berdua. Aku akan berjanji, aku akan menjadi anak bangsawan yang sebenarnya." ucap Asha terpaksa sambil menggigit bibirnya hingga berdarah.
Black Fang tersenyum lebar kemudian menyuruh Asha untuk segera pergi, perlahan Asha dan Black Fang semakin jauh dari Nagato dan Litha.
"Bocah jelata! Jika kau membiarkan aku menikmati gadis kecil ini, aku akan membiarkanmu pergi!" Green Vas menatap Litha yang tersungkur di tanah sambil ******* bibirnya sendiri.
Nagato memanipulasi auranya menjadi api dan membuat aura tubuhnya yang membara menjadi begitu padat hingga tubuhnya diselimuti api.
"Kubunuh kau!" teriak Nagato menebaskan pedangnya dengan begitu cepat pada tubuh Green Vas.
Nagato terus melancarkan serangan demi serangan pada Green Vas tetapi tidak ada yang membuatnya terluka. Litha yang sedang tersungkur, berdiri kemudian dia menusuk Green Vas dari belakang.
"Argh!" teriak Green Vas kesakitan ketika pedang Litha menembus perutnya.
Litha memanipulasi auranya menjadi air yang padat dan menyalurkannya pada bilah pedangnya yang tajam.
"Gadis tengik!" teriak Green Vas dengan keras hingga membuat api di tubuh Nagato padam bahkan Litha terlempar ke belakang.
Nagato terkejut melihat Green Vas yang sudah berada di dekat Litha dan bersiap menyerang Litha.
"Dia begitu cepat!" Litha terkejut melihat Green Vas yang sudah siap memukulnya.
Pukulan Green Vas mengenai perut Litha dengan cukup telak, Nagato menghilang dari pandangan Green Vas dan menebaskan pedangnya pada leher Green Vas.
Tebasan pedang Nagato tidak dapat melukai leher Green Vas sama sekali, sadar akan perbedaan kekuatan yang terlalu jauh membuat Nagato syok.
"Mati kau bocah!" Green Vas memukul perut Nagato dengan pukulan Anaconda Punch.
Nagato memuntahkan darah segar dan terpental jauh ke belakang. Nagato dan Litha tidak menyangka akan datang hari yang sulit seperti ini, hari dimana mereka berdua tidak dapat melindungi Asha.
"Asha..." gumam Litha mencoba untuk berdiri tetapi tubuhnya tidak dapat bergerak karena pukulan Green Vas.
"Litha!" teriak Nagato ketika melihat Green Vas hendak memukul kepala Litha.
Tubuh Nagato bergerak cepat dan menebas tangan Green Vas hingga berdarah. Raut wajah Nagato berbeda, matanya terlihat begitu tenang bahkan aura tubuhnya yang berwarna emas keluar dalam jumlah besar.
"Jangan bilang anak ini bisa menggunakan itu..." Green Vas berkeringat dingin melihat mata Nagato yang terlihat begitu tenang dan dingin.
Green Vas mengingat sosok Magma. Ketika marah Magma selalu memperlihatkan sorot mata yang melihat sekelilingnya seperti serangga, satu hal yang berbeda dari Nagato dan Magma adalah mata Nagato sangat tenang dan dingin seakan - akan tatapannya begitu menusuk siapa saja yang melihatnya.
Nagato tidak mengetahui jika dirinya telah menyentuh salah satu rantai gerbang iblis.
"Sial!" umpat Nagato ketika merasakan ada beberapa bagian tubuhnya yang terluka dan bersimbah darah karena pukulan Green Vas.
Nagato tidak ingin membuang waktu untuk membunuh Green Vas, kekuatan yang bangkit secara tiba - tiba ini membuat Nagato menyerang Green Vas dengan begitu cepat dan gesit.
Setiap tebasan pedang Nagato melukai tubuh Green Vas bahkan luka sayatan di tubuh Green Vas sekarang terlihat cukup parah.
Green Vas mengerutkan dahinya karena dia tidak menyangka akan kesulitan melawan anak muda.
"Jangan salah sangka, bocah!" Green Vas tersenyum lebar dan membiarkan Nagato memotong tangan kirinya yang telah terluka karena tebasan pedang Nagato.
"Black Magic : Instant power."
Mata Green Vas berwarna hijau dan aura tubuhnya yang berwarna hijau tua keluar dalam jumlah besar membuat konsentrasi Nagato buyar.
"Kekuatan air suci buatan dan sihir yang digabungkan oleh Gore dan Yang Mulia Black Madia membuat tubuhku dipenuhi kekuatan yang meluap - luap!"
__ADS_1