
Nagato menarik tangan Litha kemudian dia berada ditengah - tengah kerumunan Lebah Racun yang terus menyerangnya.
"Tetap berada didekatku dan jangan menjauh dariku." ucap Nagato kepada Litha dengan tangannya yang memegang pedangnya, sedangkan kakinya dalam posisi kuda - kuda.
Litha memperhatikan kuda - kuda Nagato yang terlihat sangat santai dan begitu alami.
"Teknik baru Nagato..." hati Litha sambil menelan ludah, dia melihat Nagato yang memejamkan matanya dan berkonsentrasi secara penuh. Nagato terlihat sangat bisa diandalkan di dalam benaknya.
Aliran nafas Nagato stabil dan aura disekitar Nagato terasa sangat nyaman, sehingga membuat Litha tenang berada di dekat Nagato.
"Sirih." hati Nagato menghirup udara disekitarnya kemudian dia menyalurkannya ke seluruh tubuhnya. Di dalam kepala Nagato terdapat bayangan Lebah Racun dan Kera Hitam yang tidak bergerak selama satu detik.
Detak jantung Nagato terdengar begitu tenang bahkan suara nafasnya tidak terdengar.
"Ruang Hampa." hati Nagato kemudian dia mengeluarkan teknik pedang jurusnya yang baru, membuat Lebah Racun dan Kera Hitam tidak bergerak selama satu detik, karena Nagato mengelurkan aura intimidasinya untuk mengintimidasi Lebah Racun dan Kera Hitam.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Nagato mengayunkan pedangnya membunuh Lebah Racun yang berterbangan diatas dengan tebasan pedangnya.
"Jatuhlah..." gumam Nagato membuka matanya secara perlahan - lahan, Lebah Racun yang berterbangan di atas mereka berdua terjatuh dan tergeletak di tanah. Litha berdecak kagum melihat teknik baru milik Nagato.
"Sisanya biarkan mereka melarikan diri, karena suatu saat nanti Hutan Cakrawyuha akan berguna untuk berlatih..." gumam Nagato melihat beberapa Lebah Racun terbang cepat melarikan diri dari pandangannya.
Kini tanah tandus yang kekeringan menjadi penuh darah Hewan Buas yang telah mati tergeletak di tanah. Nagato menatap Kera Hitam yang masih diam mengawasi dan mengamati dirinya yang sedang bersama Litha.
"Nagato, bagaimana caramu melakukannya?" tanya Litha kegirangan melihat teknik baru Nagato.
Nagato tersenyum tipis melihat Litha yang begitu ceria, dengan senyuman manis yang menyungging diwajah cantik Litha, membuat Nagato menelan ludah dan terdiam selama beberapa detik.
"Aku hanya mengeluarkan aura intimidasi kepada lalat sialan itu..." jawab Nagato dengan tenang dan terlihat cuek.
__ADS_1
"Hanya itu?" ucap Litha mengerutkan dahinya mendengar jawaban Nagato.
"Tetapi aku tidak melihat auramu..." tambah Litha dengan suara yang lirih dia mengamati badan Nagato.
Nagato menutup mata Litha yang sedang mengamati bentuk badannya.
"Jangan melihatku seperti itu..." tegur Nagato menutup mata Litha dengan telapak tangan kirinya.
Litha memegang tangan Nagato untuk menyingkirkan telapak tangan pemuda itu dari matanya.
"Aku tidak melihat auramu..." ucap Litha sambil menyentuh badan Nagato dengan jarinya yang lentik.
"Auraku berwarna putih dan emas... " jawab Nagato singkat dan pura - pura terlihat tidak peduli.
"Hmm... pantas saja aku tidak melihatnya... karena kamu mengeluarkan aura putih... tetapi bentuk badanmu bagus juga... " balas Litha sambil tersenyum manis dia menyentuh badan Nagato dengan jari - jari lentiknya.
"Berhenti mengatakan hal yang melakukan..." tegur Nagato sambil memalingkan wajahnya kesamping.
"Hah? Tadi kamu juga berkata seperti itu..." Nagato menanggapi perkataan Litha dan balas menatap tajam perempuan itu.
"Oh itu, aku hanya bercanda..." jawab Litha sambil memainkan bibirnya. Dia sengaja ingin membuat Nagato kesal dengannya.
'Aku tidak akan bercanda Litha, jika aku ingin melindungimu maka aku akan melakukannya.' hati Nagato menghiraukan jawaban Litha. Nagato sudsh menganggap Litha sebagai keluarganya sendiri, karena Litha telah menemani masa kecilnya.
Litha cemberut melihat Nagato yang cuek terhadapnya.
"Hmph... aku bisa melindungi diriku sendiri." kata Litha sambil menjauh dari Nagato.
Nagato menggelengkan kepalanya melihat Litha, kemudian dia memastikan jarak antara dirinya dengan Litha tidak terlalu jauh, karena bagaiamanapun juga Nagato tetap ingin melindungi Litha.
__ADS_1
Beberapa Kera Hitam sengaja memprovokasi Nagato agar bertarung dengan tangan kosong, melihat pukulan tangan Kera Hitam ke udara, setiap semua tindakan Kera Hitam tersebut, membuat Nagato tertarik untuk bertarung dengan tangan kosong melawan Kera Hitam.
"Uuk - aak... uuk - aak... "
Nagato berdecak kesal mendengar suara dari Kera Hitam, dengan langkah yang pelan tapi pasti. Nagato maju secara perlahan dan beradu pukulan dengan Kera Hitam.
Nagato menangkis beberapa pukulan Kera Hitam dan sesekali juga dia menendang mengincar dada dan kepala Kera Hitam. Tendangannya yang cepat dan gesit membuat Kera Hitam mundur beberapa langkah ke belakang.
Nagato kembali menyerang Kera Hitam dan tidak membiarkan puluhan Kera Hitam tersebut untuk memulihkan tubuh mereka.
Pukulan tangan Nagato tepat mengenai perut Kera Hitam, hingga membuat Kera Hitam tersebut pingsan.
Kera Hitam yang lain tampak murka ketika melihat salah satu kawanannya terbaring di atas tanah.
Beberapa Kera Hitam memukul dada mereka dan melompat ke arah Nagato dengan seluruh tenaganya.
Nagato mengolah pernafasannya dan memejamkan matanya sambil menghindari puluhan pukulan dari Kera Hitam yang menghujam dirinya.
Litha yang melihat Nagato menikmati pertarungan tersebut sambil terus melatih konsentrasinya itu, membuatnya semakin kagum pada Nagato dan dibenaknya dia juga begitu mengagumi sosok Nagato.
Karena bagi Litha, Nagato adalah sosok yang sangat penting dihatinya, karena dia sudah kehilangan segalanya tetapi pertemuan tak terduga dengan Nagato di saat itu, membuatnya sedikit demi sedikit untuk tetap tegar dan kembali menjalani kehidupan.
"Kiri... kanan... dia akan mengincar kepalaku..." hati Nagato mencoba mempredikisi gerakan pukulan tangan Kera Hitam yang mengarah padanya. Dia terlihat begitu percaya dengan kemampuan instingnya
Nagato menundukkan kepalanya tetapi perkirannya kali ini salah, dan perutnya terkena telak pukulan Kera Hitam. Dirinya menjadi sasaran empuk Kera Hitam yang lain.
"Ugh!" Nagato meringis kesakitan dan mulutnya memuntahkan darah segar.
Tubuh Nagato dihujani pukulan tangan Kera Hitam, dengan sekuat tenaganya dia mundur beberapa langkah kebelakang dan menjaga jarak dengan Kera Hitam.
__ADS_1
"Lumayan juga pukulanmu... kera sialan ini sangat cocok menjadi teman latihanku... " gumam Nagato menyentuh perutnya yang terasa sakit karena terkena pukulan telak Kera Hitam.