Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 48 - Jendral Api Dan Jendral Bangsawan


__ADS_3

Di hari yang sama ketika Nagato dan yang lainnya telah sampai di Hutan Cakrawyuha, Jendral Seibu Tsumasaki dan Jendral Seifu Budou berkunjung ke Kota Yasai karena ingin melihat langsung ke tempat kejadian manusia buas yang menyerang kota itu.


Seifu Tsumasaki berasal dari Klan Seifu yang berada di Provinsi Barat, sedangkan Seibu Budou berasal dari keluarga bangsawan yang cukup berpengaruh di Provinsi Barat yaitu Bangsawan Seibu. Keduanya belajar bela diri bersama di Klan Seifu dan Perguruan Api Abadi salah satu dari lima perguruan bela diri terbesar di Kekaisaran Kai.


Perguruan Api Abadi terbentuk ketika Klan Kagutsuchi telah tiada, perguruan ini hanya menerima para bangsawan dan orang - orang kasta atas yang berasal dari Provinsi Barat dan Kekaisaran Kai tentunya.


"Tsumasaki, aku tidak ingin menginjakkan kaki di utara, tempat ini membuatku kesal!" Budou mengeluh karena Provinsi Utara terkenal dengan tempat yang tidak ada diskriminasi, sebagai seorang jendral dan bangsawan, Budou memandang orang yang lebih lemah dari dirinya dengan tatapan merendahkan.


"Jangan banyak mengeluh, aku hanya penasaran dengan makhluk yang terdengar mengerikan itu, aku harus mendengar langsung dari orang yang melihatnya!" Tsumasaki menatap tajam Budou karena merasa kesal mendengar keluhannya selama perjalanan menuju Kota Yasai.


"Lihat bahkan ketika seorang jendral sepertiku lewat tidak ada satupun dari mereka yang menunduk padaku!" ucap Budou, pria yang berumur dua puluh lima tahun itu terlihat kesal melihat para penduduk Kota Yasai yang mengabaikan dirinya.


"Bodoh, jangan pikir tempat ini sama dengan di barat, kau itu seorang jendral, Hah?!" sahut pria yang berumur dua puluh enam tahun itu karena merasa kesal dengan Budou yang selalu mengeluh disampingnya.


"Tsumasaki, sebaiknya kita mampir ke kedai makan itu! Aku merasa lapar!" Budou menghiraukan perkataan temannya dan beranjak pergi ke kedai makan yang sedang dilihatnya. Ketika sampai di kedia makan itu Budou melihat beberapa orang pendekar dan para pedagang yang sedang makan, dengan dipenuhi rasa kekesalan Budou menendang pintu dan menatap tajam puluhan orang yang sedang makan.


"Apa lihat - lihat! Apa kalian tidak terima, jika tidak terima maka maju kalian satu - satu!" Budou memegang pedang dipinggangnya kemudian menyuruh semua orang yang berada di kedai makan untuk segera mengangkat kaki. Pemilik kedai makan menghampiri Budou karena tempat dirinya mencari nafkah dirusak oleh pria itu.


"Ini ambil!" Budou melemparkan kantong kecil yang berisi puluhan keping emas suci kepada pemilik kedai makan.


"Siapkan makanan terbaik disini! Hari ini aku sedang sangat kesal! Cepat!" bentak Budou kepada pemilik kedai makan.


"I-Iya, Tuan!" pemilik kedai makan langsung bergegas menyuruh pelayan untuk menyiapkan makanan terbaik yang dimiliki kedai makan miliknya.


Sementara itu Tsumasaki sudah berada di kediaman Moyashi, pria itu ingin mendengar langsung dari orang yang paling berpengaruh di Kota Yasai.


"Silahkan masuk Tuan Tsumasaki!" Moyashi mempersilahkan Tsumasaki untuk masuk kerumahnya dan mengantarnya ke sebuah ruang tamu.


"Tidak kusangka, Jendral Api berkunjung ke Kota Yasai?!" Moyashi duduk dikursi sambil menatap Tsumasaki.


"Aku hanya ingin mendengar langsung dari Tuan Moyashi tentang kabar Sekte Pemuja Iblis yang telah melakukan pergerakan!" balas Tsumasaki sambil melihat lukisan yang ada dirumah Moyashi.


'Apa orang ini terlalu menyukai sayuran, lukisan itu bukannya semuanya hanya gambar sayuran!' Tsumasaki menghela nafas panjang ketika melihat lukisan yang ada dirumah Moyashi.

__ADS_1


Kemudian Moyashi menceritakan apa yang dia lihat dan dia tahu kepada Tsumasaki bahkan dirinya menceritakan tentang Nagato dan yang lainnya.


Reaksi pertama ketika Tsumasaki mendengar cerita dari Moyashi, dirinya terdiam selama beberapa menit karena mendengar seorang anak muda berumur lima tahun mengalahkan makhluk yang besar dan setinggi enam meter hanya dengan batu kerikil.


'Menarik! Seorang anak muda yang ditemani oleh empat orang pendekar, aku harus melaporkan hal ini kepada Guru!' Tsumasaki tersenyum dan merasa puas karena telah mendengar langsung hal yang ingin dia ketahui dari Moyashi.


Setelah berpamitan dengan Moyashi, dirinya beranjak pergi mencari Budou sambil melihat kerusakan kota yang menurutnya cukup parah tetapi perlahan sudah mulai kembali karena para penduduk Kota Yasai saling bergotong - royong untuk memperbaiki gerbang kota bahkan membantu kembali rumah dan bangunan para penduduk yang telah rusak.


Tsumasaki melihat kedai makan yang seharusnya cukup ramai karena berada ditengah kota namun entah kenapa terlihat sepi, ketika dirinya semakin dekat dengan pintu masuk kedai makan tersebut. Tsumasaki terkejut melihat sikap Budou yang memarahi pemilik kedai makan bahkan mengusir pengunjung yang hendak makan.


***


Malam yang panjang di Hutan Cakrawyuha, Kakek Hyogoro sedang melatih ketiga murid Pandu yaitu Azai, Kuina dan Serlin. Sedangkan Nagato sedang berusaha memulihkan diri yang ditemani Litha yang sedang melihat mereka bertiga berlatih.


"Kuda - kuda tengah!" perintah Kakek Hyogoro kepada mereka bertiga. Azai, Kuina dan Serlin langsung mengikuti perintah Kakek Hyogoro.


"Tahan, Kakek pergi sebentar!" Kakek Hyogoro menyuruh mereka bertiga untuk menahan kuda - kudanya setelah itu dirinya duduk bersama Nagato dan Litha sambil meminum teh menikmati angin malam. Nagato yang melihat raut wajah Azai dan yang lainnya hanya tersenyum tipis karena sudah lama bagi Nagato melihat hal ini.


Tiga jam telah berlalu namun Azai, Kuina dan Serlin masih menahan kuda - kuda tengah mereka, Serlin mencoba melemaskan kakinya karena pahanya terasa begitu nyeri, keram dan lelah menahan kuda - kuda tengah bahkan kedua kakinya bergemetar hebat.


Satu hari setelahnya, Kakek Hyogoro menyuruh mereka bertiga melatih pernafasan. Mereka bertiga tidur terlentang diatas tanah sambil memejamkan mata.


Nagato yang sedang melihat mereka juga mengolah pernafasan halus, karena dirinya juga merasa gerah melihat mereka bertiga latihan.


Setelah melakukan latihan pernafasan, Kakek Hyogoro mengajak mereka pergi kesebuah tempat di lapisan hutan ke dua puluh.


"Banyak batu besar disini!" ucap Azai yang terlihat begitu bersemangat.


"Aku ingin mencobanya." sahut Kuina yang berjalan disamping Azai.


Bebatuan besar terlihat begitu banyak dilapisan ke dua puluh ini, Kakek Hyogoro menyuruh mereka bertiga untuk mencoba memecahkan batu besar yang ada dihadapan mereka.


"Bayangkan saja batu besar dihadapan kalian itu hanyalah benda yang rapuh dan mudah patah!" ucap Kakek Hyogoro sambil tersenyum tipis melihat mereka bertiga.

__ADS_1


"Aku yang pertama." Azai berjalan menghampiri batu besar dan mengolah pernafasannya. Telapak tangannya berada dipermukaan batu selama beberapa detik setelah itu Azai menatap tajam batu besar dihadapannya.


"Sirih." Azai mengolah pernafasannya, udara disekitar Azai berubah. Ketika Azai memukul batu besar dihadapannya, batu besar itu terbelah menjadi dua bagian. Kemudian Azai menghembuskan nafasnya dengan pelan - pelan.


Melihat Azai berhasil melakukannya, kini Kuina maju untuk mencoba pernafasannya.


"Sirih." Kuina mengolah pernafasan, gadis itu terlihat begitu cantik ketika memejamkan matanya selama beberapa detik. Kuina membuka matanya dengan pelan - pelan setelah itu dia memukul batu besar dihadapannya hingga hancur berkeping - keping.


'Kuina menakutkan.' Azai menelan ludah melihat gadis teman seperjuangannya itu.


"Sepertinya aku berlebihan." ucap Kuina sambil menghampiri Kakek Hyogoro.


Serlin yang sejak tadi hanya diam kini gadis itu tersenyum penuh percaya diri.


"Sirih." Serlin mengolah pernafasan sambil menyalurkan udara dan tenaga dalam ke telapak tangan kanannya. Setelah terisi Serlin memukul pelan batu besar dihadapannya bahkan gadis itu hanya terlihat seperti menyentuh batu besar dihadapannya, namun batu besar itu terbelah menjadi dua.


"Bagaimana? Aku hebat bukan, Kuina?" Serlin memeluk Kuina yang melihatnya mematahkan batu besar.


"Iya kamu hebat!" Kuina mencoba melepaskan diri dari pelukan Serlin.


"Perempuan memang menakutkan." gumam Azai pelan sambil menatap Kuina dan Serlin.


Setelah melihat latihan mereka bertiga, Kakek Hyogoro menyuruh mereka untuk berlatih membuka aura didalam tubuh sambil belajar menggunakan Tenkai.


"Besok kita akan sparring, kita berempat akan bertarung secara bergantian, bagaimana apa kalian takut?" Kakek Hyogoro tersenyum tipis sambil menatap tajam mereka bertiga.


"Baiklah, aku ingin mencoba kekuatanku ini!" Kuina terlihat bersemangat.


"Aku hanyalah penyihir, tugasku membantu bukannya bertarung!" Serlin mencoba mencari alasan.


"Kuina, kamu jangan memaksakan diri, karena kamu butuh waktu untuk pulih!" Kakek Hyogoro mencemaskan kondisi Kuina.


"Aku sudah semakin membaik, ini belum seberapa!" Kuina mencoba meyakinkan Kakek Hyogoro yang cemas dengan keadannya.

__ADS_1


"Hahaha, seperti biasa kalian bertiga selalu terlihat akrab, aku bersyukur bisa melihat murid Pandu?!" Kakek Hyogoro tertawa karena melihat mereka bertiga tetap seperti biasanya.


"Baiklah sambil menunggu kedatangan Hawk, aku akan berbagi ilmu dan membantu kalian sebisa mungkin!" Kakek Hyogoro kembali kerumahnya dan diikuti mereka bertiga dari belakang.


__ADS_2