Kagutsuchi Nagato : The Dawn

Kagutsuchi Nagato : The Dawn
Ch. 57 - Bukit Angin


__ADS_3

Hari ini Litha dan Nagato kembali mengikuti Kakek Hyogoro berlari menuju Bukit Angin setelah sampai disana seperti biasa mereka berdua duduk bersila dan mengolah pernapasan diatas bukit yang menjadi tempat berhembusnya angin malam.


Litha dan Nagato berlatih keras agar dapat menguasai seluruh teknik pernapasan, setiap hari mereka mendaki dan menuruni Bukit Angin, mereka berdua menjadi terbiasa dengan iklim yang berbeda di malam hari, apalagi ketika tumbuhan dan pepohonan yang beraktivitas dimalam hari bergerak untuk menyesatkan mereka berdua ketika ingin kembali ke tengah hutan kini tidak terulang lagi karena Litha dan Nagato sudah hafal arah jalan pulang dan mulai menguasai dalam membedakan hawa keberadaan disekitar mereka.


Fisik Litha dan Nagato bertambah kuat, dan tak terasa enam bulan telah berlalu, pagi hari sebelum mereka pergi ke Air Terjun Tujuh Mata Air Berbeda, Kakek Hyogoro memotong rambut Nagato hingga rambut panjangnya itu menjadi begitu pendek.


"Na ... Naga ... to!" Litha tertawa kecil melihat penampilan Nagato yang menggemaskan dengan rambut yang pendek yang tidak bisa jambak.


"Hahaha ..., seorang pendekar harus melewati fase ini?!" Kakek Hyogoro tertawa ketika melihat raut wajah Nagato yang kesal.


Pagi hari Litha dan Nagato pergi ke Air Terjun Tujuh Mata Air Berbeda untuk berlatih pernapasan agar tubuh mereka menyatu dengan air dan ketika malam hari tiba mereka berdua berlatih pernapasan di Bukit Angin agar tubuh mereka menyatu dengan angin.


Litha semakin menguasai teknik pernapasan dan menghafal jurus pedang, belati dan gerakan bela diri tangan kosong yang diajarkan Kakek Hyogoro sedangkan Nagato juga sudah menguasai teknik pernapasan hingga tubuhnya benar - benar menyatu dengan air dan angin tetapi Nagato masih belum menghafal jurus pedang dan yang lainnya yang telah diajarkan Kakek Hyogoro.


Setiap harinya mereka semakin bertambah kuat tetapi Hutan Cakrawyuha juga semakin menjadi tempat yang berbahaya bagi mereka karena Hewan Buas yang kalah bersaing di zona berbahaya mulai masuk kedalam zona aman dan bertarung dengan tumbuhan pemakan daging, seolah - olah jika mereka berdua lengah maka mereka berdua akan terbunuh saat itu juga.


Pedang peninggalan ayahnya sampai saat ini belum Nagato gunakan dan sama sekali belum dirinya keluarkan dari sarungnya.


"Hari ini kalian berlatih mengayunkan pedang kayu itu dari siang sampai sore hari!" Kakek Hyogoro sedang mengajari Litha dan Nagato cara menjadi pendekar pedang, Kakek Hyogoro menyuruh mereka berdua mengayunkan pedangnya dari atas kebawah atau secara vertikal sampai matahari terbenam.


"Seribu dua ratus satu, seribu dua ratus dua ... " batin Nagato yang sedang mengayunkan pedangnya dengan sekuat tenaganya.

__ADS_1


"Seribu seratus tujuh puluh, seribu seratus tujuh puluh satu ... " batin Litha yang tubuhnya sudah sempoyongan namun gadis kecil itu mampu bertahan dan menyaingi Nagato karena dirinya terus mengolah pernapasan sepanjang gerakan dirinya mengayunkan pedangnya.


Setelah matahari terbenam Litha dan Nagato istirahat meminum jamu pahitan dari daun kates yang direbus dan manisan dari jahe yang telah dibuat oleh Litha sebelum mereka berdua latihan.


Ketika malan tiba, Litha dan Nagato berlari mengikuti Kakek Hyogoro ke Bukit Angin, sampai saat ini Litha dan Nagato belum bisa mengikuti langkah kaki yang cepat dan tanpa suara itu.


Hari demi hari Litha dan Nagato terus mengulangi latihan seperti itu hingga akhirnya dapat mengolah pernapasan sesuka hati mereka walau belum menguasai sepenuhnya.


Kebetulan malam ini bulan purnama, ketika Kakek Hyogoro bersama Litha dan Nagato sampai diatas Bukit Angin, kabut putih tebal mengelilingi Hutan Cakrawyuha yang sedang mereka lihat dari atas.


"Ketika bulan purnama, hutan ini akan terlihat seperti menghilang?!" Kakek Hyogoro mengerutkan dahinya melihat kabut yang menghalangi pandangannya.


Litha dan Nagato menelan ludah karena merasakan hawa keberadaan Hewan Buas disekitar mereka.


"Saatnya kalian turun ke pertarungan yang sebenarnya, Kakek akan menemani kalian berdua!" Kakek Hyogoro kemudian memejamkan matanya merasakan hawa keberadaan Hewan Buas disekitarnya.


"Kalian berdua gunakan pedang yang kakek beri itu!" perintah Kakek Hyogoro kepada Litha dan Nagato.


"Iya kek!" Litha dan Nagato juga mencoba mendeteksi keberadaan Hewan Buas dengan cara mendengar angin yang berhembus disekitar mereka.


"Dibawah bukit ini mereka sudah menunggu kita!" Kakek Hyogoro membuka matanya kemudian menuruni Bukita Angin diikuti Litha dan Nagato dari belakang.

__ADS_1


Mereka terus menuruni Bukit Angin hingga akhirnya mereka sampai di kaki bukit tersebut dan disana terlihat puluhan Hewan Buas **** bertanduk api menunggu kedatangan mereka bertiga.


"Tanduknya mengeluarkan api? Hewan ini meremehkanku!" gumam Nagato yang sudah memegang pedang yang diberikan Kakek Hyogoro.


"Sepertinya kau salah memilih lawan karena aku nemiliki unsur elemen air yang menjadi bawaan sejak aku lahir!" gumam Litha yang sedang menatap puluhan **** bertanduk api itu.


Litha telah berubah drastis, gadis kecil itu kini telah menjadi seorang gadis yang pemberani dan tidak seperti dulu lagi.


"Ngok - Ngok .... Ngok - Ngok."


Suara puluhan **** bertanduk api terdengar begitu bising, ketika mereka telah berada dihadapan Hewan Buas tersebut.


Kakek Hyogoro memberikan aba - aba sebelum mereka berdua menyerang, ketika **** bertanduk api itu lari lurus kedepan, Kakek Hyogoro menyuruh mereka menghindar dan menyerang **** bertanduk api yang menabrak batu besar.


"Sirih." Nagato dan Litha mengolah pernapasan secara bersamaan walau udara sangat tipis disekitar mereka karena keberadaan kabut yang kian tebal.


Tetapi Litha dan Nagato tidak menjadikan itu sebagai alasan mereka untuk mundur.


"Tarian Peri Air."


"Lintasan Jingga."

__ADS_1


__ADS_2