
Nagato terus berjalan melangkahkan kakinya menapaki Hutan Cakrawyuha. Dia semakin masuk ke dalam dan terus melangkahkan kakinya lebih jauh masuk ke dalam Hutan Cakrawyuha yang meninggalkan sejuta kenangan dihatinya.
Matanya tertutup secara perlahan, melodi suara canda tawa Kakek Hyogoro dan Litha terngiang jelas ditelinganya. Serpihan ingatan satu demi satu membuat hatinya teriris sekaligus merasa kehilangan.
Kematian. Nagato pernah berpikir mati adalah cara untuk mengakhiri penderitaannya. Tetapi akhirnya dia sadar jika dirinya melakukan kesalahan besar. Setelah mati, dia tidak akan mengingat Kakek Hyogoro ataupun Litha bahkan orang tuanya sendiri.
Sosok Hound yang menolong hidupnya maupun Sura yang meninggalkan sejuta misteri mengajarkan ilmu padanya. Nagato kembali bangkit dan menapaki hidup yang memilukan.
Sekarang Nagato kembali dihadapkan dengan masa lalu. Masa lalu kenangannya dengan sosok Serlin. Tidak pernah terbayangkan sekalipun dibenak Nagato jika Serlin berkhianat dan penyebab kematian orang tuanya ataupun Azai dan Kuina.
Dunia memang tempat yang kejam. Tapi sekejam apapun dunia padanya, Nagato percaya jika dirinya dapat bertahan dan menemukan kebahagiaan. Namun takdir berkata lain, Nagato diseret dan dipaksa masuk ke dalam putaran lingkaran kegelapan akan kenyataan menyakitkan.
Sosok perempuan yang sedang duduk memegang pedang milik Azai dan Kuina menatap Nagato yang berjalan mendekatinya.
__ADS_1
Daun-daun berjatuhan, angin bertiup pelan saat jarak antara Nagato dan Serlin semakin singkat. Tidak ada suara bahkan angin sekalipun memilih diam seribu bahasa menatap kedua insan yang saling menatap tajam.
“Nagato. Bagaimana kabarmu? Aku bersyukur karena kau masih hidup.” Serlin menyapa Nagato. Perempuan yang membocorkan rahasia tentang Hutan Suci ataupun Hutan Cakrawyuha ini tersenyum seperti biasa sambil berjalan mendekati Nagato.
“Berhenti...” Walau Nagato merasakan kemarahan yang teramat dahsyat, tetapi sebagian hatinya tetap tidak bisa mengayunkan tangannya apalagi pedang pada perempuan yang tak lain adalah Serlin, murid dari ayahnya.
“Apa kau tidak merindukan Kakak Serlin, Nagato?” Tanya Serlih memasang wajah khas yang dihiasi senyuman. Nagato yang melihat itu menggigit bibir bawahnya dan mengepalkan tangannya.
Serlin berhenti memasang senyum khasnya, bahkan perempuan ini menunjukkan raut wajah yang baru dilihat Nagato.
“Hidup ini sangat indah sekaligus menyakitkan karena selama ini aku merasa kehidupan indah setelah mengenal Guru Pandu, Tuan Putri Sara, Paman Tatsugoro, Uzui, Azai, Kuina dan kamu, Nagato...” Serlin memasang wajah seduh dan tersenyum kecut. Tidak ada kebahagiaan yang terukir diwajahnya, “Tetapi keindahan itu tidak berlangsung lama karena aku sendiri yang menghancurkannya.”
“Nagato, aku bukanlah Serlin. Sejak awal Serlin tidak ada, dia telah mati ditangan Gore. Dan aku hanyalah seorang bocah yang menjadi bidak mereka. Saat itu aku merasa kehidupan yang sangat saat menjadi Serlin. Aku tidak menyesalinya sama sekali...” Serlin berkata dengan tenang dan meneteskan air matanya.
__ADS_1
Nagato memegang lengan Serlin dan mendorongnya pelan, dia sama sekali tidak bisa bersikap kasar pada seorang perempuan. Nagato menghela napas dengan kasar karena tidak menyangka apa yang dia takutkan ternyata berujung pada kebenaran.
“Kenapa kau membunuh mereka?! Kenapa kau mengkhianati ayahku yang telah menjadi gurumu itu?! Katakan padaku Kak Serlin! Apa salah mereka sampai kau tega membocorkan keberadaan Hutan Suci bahkan kau membunuh Azai dan Kuina. Kenapa?!” Nagato berteriak dan menahan air matanya.
Perasaannya saat ini begitu pekat, sepekat langit mendung diatas sana. Saat hujan turun rintik-rintik, Nagato menundukkan kepalanya dan meneteskan air matanya. Perlahan Nagato kembali menatap Serlin yang mengatakan hal mengejutkan. Kenyataan jika dunia dan kehidupan yang Nagato jalani Sam sekali tidak indah. Dan Nagato tidak mengindahkan kehidupannya.
”Aku diberi dua pilihan oleh Gore. Membunuhmu dan membiarkan yang lainnya selamat atau memberitahu informasi Hutan Suci ataupun membunuh pengikut Guru Pandu dan membiarkanmu hidup...” Serlin menangis sejadi-jadinya, “Diantara dua pilihan itu, aku membunuh mereka semua. Karena aku tidak sanggup membunuhmu Nagato.”
Mata Nagato melebar mendengar penjelasan Serlin.
“Roh-ku hidup didalam tubuh Serlin karena kemampuan seseorang. Maaf, karena aku telah membuatmu menderita, Nagato...”
Mata Nagato semakin melebar saat Serlin menambahkan perkataannya.
__ADS_1