
Bagian dalam Ibukota Daifuzen. Serangan dari prajurit militer Kekaisaran Rakuza dan Manusia Hewan Buas makin menjadi. Bahkan Manusia Api melarikan diri karena tidak mampu melawan Shirayuki.
Manusia Api yang tersisa mencari keberadaan Nagato, Iris dan Hanabi. Setelah melihat target mereka sedang berjaga-jaga dan membantu pasukan militer Kekaisaran Kai yang terluka. Semburan serta pukulan mengarah ke arah ketiganya.
Tatara yang melihat serangan mendadak itu menahannya, “Manusia... hangus?” Sekarang Tatara terkejut melihat manusia yang seluruh tubuhnya terbakar oleh api.
Nagato menyadari jika ada yang aneh dengan Manusia Api tersebut. Serangan itu jelas-jelas ditujukan pada dirinya dan dua gadis yang sedang bersamanya.
Tanpa pikir panjang Nagato mengolah pernapasan dan melesat ke depan. Tangannya menarik pedangnya yang tersarung rapi di pinggangnya dan mulai memainkan pedangnya.
Perlahan aura tubuh Nagato memang sudah mulai pulih. Namun sekarang Nagato merasa ada perbedaan di tubuhnya. Aura tubuh yang sekarang membuatnya merasa lebih berenergi. Seluruh inderanya meningkat tajam.
Benturan pukulan dan tebasan terjadi. Nagato mengernyitkan keningnya melihat Manusia Api menahan tebasan pedangnya dengan tangkisan tangan. Serangan kedua mulai dia lancarkan.
Dari samping, Hanabi dan Iris mulai menyerang Manusia Api yang lainnya. Sementara Litha membantu Nagato dari belakang. Kombinasi serangan dari empat arah membuat Manusia Api menyemburkan api dari mulutnya.
Nagato juga menebaskan pedangnya membentuk sebuah pusaran api. Sedangkan Iris, Hanabi dan Litha menyerang menggunakan teknik mereka.
“Api milikku padam...” Nagato menaikan alisnya ketika serangannya dan serangan Manusia Api padam oleh pusaran air serangan Litha.
“Maaf, maaf...” Litha tertawa lirih melihat ekspresi Nagato. Kemudian Litha mengalihkan pandangannya menatap serangan Iris dan Hanabi yang berhasil menghabisi salah satu Manusia Api.
Fenomena di depan mereka semua adalah hal yang baru. Manusia terbakar, seluruh tubuhnya dipenuhi api. Bagi Nagato mereka adalah orang yang memiliki kekuatan Air Suci, namun ini adalah hal yang aneh menurutnya.
“Apa mereka kehilangan akal sehatnya? Dan tidak bisa mengendalikan kekuatan dari Air Suci?” Pikir Nagato sembari melakukan serangan beruntun bersama Litha.
Seluruh pendekar muda dan prajurit militer Kekaisaran Kai memulihkan tenaga mulai menyerang Manusia Hewan Buas. Sementara itu Nagato, Iris, Hanabi dan Litha fokus menghadapi Manusia Api.
Nagato melihat Tatara yang melawan Manusia Hewan Buas bersama yang lainnya. Padahal situasi ini, dia membutuhkan kekuatan Tatara.
Setelah terus bertarung dengan waktu yang cukup lama. Akhirnya Manusia Api tersisa lima orang, dan mereka menjaga jarak dari Nagato dan yang lainnya. Tak lama lima Manusia Api tersebut berlari ke arah kerumunan ratusan Manusia Hewan Buas.
Hanabi mengejarnya bersama Iris. Sementara Nagato dan Litha mengikuti mereka berdua dari belakang. Dengan bantuan pendekar dari kubu timur dan kubu barat yang bersatu. Manusia Hewan Buas yang berjumlah sekitar tiga ratusan lebih itu membuat Nagato, Iris, Hanabi dan Litha mengejar Manusia Api.
Pengejaran itu terhenti. Ketika puluhan Manusia Hewan Buas membentuk formasi untuk melindungi Manusia Api. Nagato memperhatikan lima Manusia Api yang berbeda dari yang dia bunuh. Sepertinya lima Manusia Api tersebut adalah yang unggul dari yang lainnya.
Mengingat bagaimana Manusia Hewan Buas melindungi kelima Manusia Api tersebut. Maka sudah pasti ada yang berbeda dari kelima Manusia Api tersebut.
“Berhenti! Kita hadapi dulu apa yang di depan kita!” Nagato memberi tanda pada Hanabi, Iris dan Litha untuk berhenti.
“Jangan memberi perintah padaku!” Hanabi dengan sinis menjauhi Nagato dan menyerang Manusia Hewan Buas yang dia menjadi incarannya.
__ADS_1
“Apa Hanabi membencimu?” Iris bertanya pada Nagato sambil meremas tangannya membekukan tanah dan kaki Manusia Hewan Buas.
“Ya, dia membenciku.” Nagato menjawab. Tangannya menebaskan pedangnya pada Manusia Hewan Buas yang tidak bergerak. Kaki Manusia Hewan Buas tersebut tidak dapat bergerak karena dibekukan oleh Iris.
Nagato dapat membunuhnya dalam satu kali tebasan pedangnya yang begitu dalam. Nagato menatap Iris dan Litha yang menurutnya berpikir sama seperti dirinya.
“Aku akan membekukan kaki-kaki hewan ini. Kalian berdua hanya urus sisanya...” Iris melepaskan hawa dingin yang menyebar ke arah Manusia Hewan Buas.
“Baiklah. Aku tidak menyangka kita akan bekerja sama...” Litha tertawa lirih dan memanipulasi aura tubuhnya menjadi air yang padat melapisi bilah pedangnya.
“Kalian bertiga jangan lupakan kami!” Tika datang dengan wajah yang semangat. Gadis manis kembar itu datang bersama Hika.
“Hika akan berjuang bersama kalian...” Dengan wajahnya yang terlihat menggemaskan. Hika menghampiri Iris dan mulai memanipulasi aura tubuhnya menjadi es. Kemudian Tika juga melakukan hal yang sama.
“Kalau begitu, aku akan membantu Naga dan Litha menghabisi Hewan Buas ini...” Iris menekan hawa dinginnya seminimal mungkin, “Tika, Hika, kuserahkan pada kalian...”
“Tenang saja. Hika akan menahan kaki-kaki Hewan Buas bersama Tika...” Hika mulai membekukan tanah dan kaki Manusia Hewan Buas bersama Tika.
Nagato mulai melancarkan serangannya diikuti Iris dan Tika. Kelima pendekar muda perwakilan dari Klan Fuyumi ini bekerjasama untuk saling melindungi dan melawan lautan Manusia Hewan Buas yang besar dan tingginya empat bahkan lima kali lipat dari tubuh mereka.
Litha menebaskan pedangnya membentuk ombak air dan membunuh Manusia Hewan Buas dalam satu kali tebasannya yang dialiri tenaga dalam. Serangannya dalam dan memotong tubuh Manusia Hewan Buas yang memiliki wujud Hewan Buas Ayam Kristal.
“Hewan Buas Ayam Kristal? Mereka banyak sekali...” Litha kembali memanipulasi aura tubuhnya dan mengikuti pergerakan Hika dan Tika yang berlarian membekukan kaki-kaki Manusia Hewan Buas.
Sambil membentuk puluhan pedang dengan tenaga dalamnya, Iris menghindari serangan capitan Manusia Hewan Buas yang memiliki wujud Hewan Buas Kepiting Kristal. Setelah puluhan pedang es terbentuk di udara. Iris langsung mengayunkan pedangnya untuk memotong dan menusuk tubuh Manusia Hewan Buas yang memiliki wujud Hewan Buas Kepiting Kristal.
Iris dapat membunuhnya dalam sekali serangannya itu. Kemudian gadis berparas cantik itu berlari mengincar Manusia Hewan Buas yang lainnya.
Bersamaan dengan Iris yang membunuh Manusia Hewan Buas yang memiliki wujud Hewan Buas Kepiting Kristal. Nagato juga berhasil membunuh Manusia Hewan Buas yang memiliki wujud Hewan Buas Gajah Belalai Giok.
Namun untuk membunuh Manusia Hewan Buas yang memiliki wujud Hewan Buas Gajah Belalai Giok. Nagato membutuhkan tenaga yang besar. Amukan dari serangan belalainya yang dilapisi aura membuat Nagato kewalahan karena kaki Manusia Hewan Buas yang memiliki wujud Hewan Buas Gajah Belalai Giok selalu terlepas dari es yang membekukan kakinya.
“Pernapasan Pelangi Surgawi : Bentuk Merah!”
Nagato mengolah pernapasan dan melancarkan puluhan serangan dalam satu kali tarikan napasnya. Tebasan demi tebasan terus dia ayunkan untuk membunuh Manusia Hewan Buas yang terus mengamuk di dalam Ibukota Daifuzen.
Seolah-olah tidak ada habisnya. Manusia Hewan Buas yang berjumlah seribu itu tersisa lima ratus. Seluruh prajurit militer Kekaisaran Rakuza menjadi korban amukan Manusia Hewan Buas. Sekarang prajurit militer Kekaisaran Kai dan pendekar yang dipimpin Mio memancing Manusia Hewan Buas ke luar Ibukota Daifuzen.
Mio terus berlari ke arah ribuan pasukan militer Kekaisaran Rakuza yang sedang bertempur dengan pasukan militer Kekaisaran Kai yang dipimpin Matsuri. Kepungan dari dua arah membuat prajurit militer Kekaisaran Rakuza porak-poranda.
Nagato sendiri tidak menyangka Mio, Namida bersama pendekar perempuan yang lainnya dengan gagah berani membawa Manusia Hewan Buas ke arah ribuan prajurit militer Kekaisaran Rakuza.
__ADS_1
Nagato menekan aura tubuhnya dan mengolah pernapasan. Kemudian dia hendak keluar dari Ibukota Daifuzen bersama pendekar muda yang lainnya. Namun ada tujuh orang yang menghadang mereka. Ketujuh orang ini bukanlah anggota Akuyaku yang mengincar Nagato, Iris dan Hanabi, melainkan orang-orang yang datang dari Kekaisaran Kinai.
“Siapa mereka?!” Kenji merasakan aura tubuh yang mengintimidasinya.
“Apa kau mengetahui identitas mereka Fuyumi Nagato?” Renji menatap Nagato yang sedang menyarungkan pedangnya.
“Aku tidak tahu. Tetapi mereka bukan seperti orang yang kesasar dan numpang lewat. Aura tubuhnya dan tatapan mereka menandakan kekuatan mereka jauh di atas kita...” Nagato menjawab dengan tenang. Pandangannya tidak beralih sedikitpun dari ketujuh orang yang dia tatap.
“Ketua Hana bersama tenaga medis sudah membantu pertarungan di luar kota. Kita benar-benar berada dalam situasi yang kurang menguntungkan...” Yuri menggertakkan giginya dan memegang sarung pedangnya.
“Kita harus bekerjasama dan saling melindungi...” Tatara sebagai salah satu pendekar muda yang paling dewasa mengingatkan.
“Aku akan melindungi Tuan Putri Chiaki dan Tuan Putri Chaika,” batin Takao. Matanya menatap Chiaki dan Chaika yang berdiri disamping Ninjin dan Yuri.
“Aku dapat menahan mereka. Kita gunakan itu untuk berlari ke luar kota.” Perkataan Iris membuat Nagato dan yang lain menatapnya.
“Bagaimana caranya, Iris?” Chaika bertanya. Pandangan matanya menatap Iris sesaat sebelum kembali menatap ketujuh orang yang sedang berdiri di depan mereka.
“Aku akan membekukan mereka sekitar satu menit. Gunakan kesempatan itu untuk keluar dari kota yang telah hancur ini...” Iris berusaha tidak melepaskan hawa dingin karena akan memancing pergerakan ketujuh orang dihadapannya.
“Litha!” Nagato mendorong tubuh Litha ketika salah satu pria berbadan kekar, berambut hitam menghunuskan pedangnya dengan cepat ke arah Litha.
Telapak tangan kanan Nagato terkena tusukan pedang pria tersebut. Raut wajah semua pendekar muda mendadak pucat pasi. Serangan pria itu begitu cepat. Namun Nagato yang dapat bereaksi justru terkena luka yang termasuk fatal. Telapak tangan kanan yang biasa dia gunakan untuk menggenggam pedang terluka.
Nagato menarik tangannya dengan cepat. Darah mengalir deras. Terlihat di telapak tangannya luka tusukan pedang. Kedua mata Nagato menatap pria tersebut ketika merasakan samar-samar nafsu membunuh yang besar dan aura yang cukup besar juga untuk melakukan serangan mendadak.
“Sekarang!” Nagato berteriak membuyarkan lamunan pendekar muda yang lainnya. Pedangnya dia tarik dari sarungnya. Tangan kanan Nagato menggenggam erat pedangnya dan menahan tebasan pedang pria tersebut hingga tanah berlubang.
Iris dan yang lainnya segera berlari. Litha tidak menyangka Nagato akan selalu melindunginya setiap waktu. Saat ini dia mengikuti perkataan Nagato untuk pergi ke luar kota. Ketika enam orang lainnya hendak mengejar. Iris dengan cepat melepaskan hawa dingin yang sangat besar. Seluruh jalanan membeku dan tubuh keenam orang dari Kekaisaran Kinai membeku.
Perlahan akar-akar keluar dari tanah dan mengikat tubuh mereka. Bukan itu saja. Satu pohon dari aura yang begitu mirip dengan Hisui tumbuh disekitar enam orang tersebut dan mengeluarkan akar-akar yang lebih banyak lagi.
Namun satu orang yang menyerang Nagato tidak membeku tubuhnya. Pria itu bisa mengantisipasi serangan mendadak dari Iris dengan sangat baik. Kecepatannya mungkin sama dengan Nagato. Jika Nagato dalam tenaga yang penuh. Tetapi sekarang Nagato sudah bertarung lama dan menghabiskan tenaga yang besar.
Iris tidak percaya melihat pria yang menyerang Nagato telah melancarkan serangan beruntun pada pemuda yang dia cintai itu.
“Naga!” Iris berteriak. Dia berhenti melangkah menatap Nagato yang terus menahan serangan tebasan pedang pria itu.
“Lari!” Nagato berteriak kepada Iris dan yang lainnya. Kepalanya tidak menoleh sedikitpun ke belakang.
Sekarang Nagato menahan pria berambut hitam yang terus melancarkan serangan pada dirinya.
__ADS_1
“Tidak buruk juga pertahananmu...” Pria itu menatap Nagato dengan serius. Kemudian dia mundur dengan cepat ke belakang dan menaruh pedangnya di pundak, “Kau lebih hebat dibandingkan enam orang bodoh ini...”