
Di sebuah ruangan yang kecil Nenek Beo sedang membeberkan sebuah informasi yang mengejutkan kepada Kakek Hyogoro.
"Hmmm ... jadi ini adalah masalah internal Bangsawan Kochi?" Kakek Hyogoro mengelus dagunya sambil memikirkan sesuatu sejenak.
"Ya ... bayaran kali ini cukup besar, apa kau akan menggunakan uang itu untuk seperti biasany." Nenek beo mengipas wajahnya yang sedang gerah.
"Bagi uang itu menjadi tiga bagian, bayaranku bisa kau berikan kepada orang miskin dikota ini dan yang dua lainnya untuk kedua murid kesayanganku itu." Kakek Hyogoro tersenyum sambil beranjak meninggalkan ruangan kecil tersebut.
"Hyogoro bawa semua yang kau butuhkan untuk diperjalanan nanti khusus kali ini kuberi gratis untukmu." Nenek beo tersenyum melihat sikap Kakek Hyogoro yang bersikap seperti biasanya.
Kakek Hyogoro mengambil beberapa pil obat untuk menguatkan daya tahan tubuh seperti obat agar tidak mudah mengantuk, memperlambat efek racun dan sebagainya karena menurut dirinya akan ada hal yang tidak terduga ketika mereka sampai di Kediaman Bangsawan Kochi.
"Nagato, pedangmu tidak bisa dicabut? Sepertinya kau harus membeli pedang yang baru." Kakek Hyogoro sedang menatap senjata yang ada dihadapannya.
"Kakek akan belikan untuk kalian berdua jadi kalian bebas memilihnya." Kakek Hyogoro menyuruh Nagato dan Litha memilih satu pedang yang cocok dengan mereka.
"Aku menyukai pedang yang tipis dan tajam, dengan bilah yang unik akan mendukung kekuatanku ketika bertarung dan aku sama sekali tidak tertarik dengan pedang yang besar."
Nagato bergumam pelan sambil memandang puluhan pedang didepannya. Memang pedang peninggalan ayahnya memiliki bilah yang unik dan tipis yang terlihat sangat mematikan ketika ayahnya mengayunkan pedang tersebut dan Nagato sangat menyukai pedang berbentuk seperti itu.
"Disini tidak ada pedang yang sesuai seleraku." Nagato sudah melihat dengan teliti tetapi tidak ada satupun pedang yang dirinya suka.
Litha sudah memilih pedang yang dimana dari gagang pedang tersebut terdapat ukiran bunga. Disisi lain Kakek Hyogoro sudah memasukkan apa saja yang dibutuhkan kedalam tas punggungnya.
"Ini." Nagato mengambil pedang tipis dengan bilah yang bergerigi dan seluruh pedangnya berwarna hitam pekat.
Kakek Hyogoro tersenyum ketika melihat Nagato dan Litha sudah memilih pedang barunya. Tanpa menunggu lebih lama dirinya mengucapkan terimakasih kepada Nenek Beo dan beranjak pergi meninggalkan kediaman Nenek Beo.
Sebelum pergi Kakek Hyogoro memberitahu sebuah misi yang diberikan untuknya dan menjelaskan kepada Nagato dan Litha tentang sikap sopan santun ketika sampai ditempat klien maupun tentang rencana mereka ketika sampai disana. Nagato dan Litha memahami garis besarnya kemudian mereka berangkat menuju kediaman Bangsawan Kochi.
Di Kota Reruntuhan Kuno berkumpul banyak orang ketika Kakek Hyogoro membagikan ratusan keping emas kepada penduduk miskin dan menyuruh mereka untuk membeli persediaan makanan dan membaginya sama rata. Sedangkan mantan anak buahnya disuruh untunk menjaga Kota Reruntuhan Kuno dari bandit dan penjahat luar kota walaupun mereka sendiri bisa dibilang seperti bandit karena mencuri uang orang kaya yang korupsi dan membagikannya kepada warga yang kurang mampu.
Ketika Kakek Hyogoro, Litha dan Nagato pergi meninggalkan Kota Reruntuhan Kuno semua penduduk mengantar mereka dan mengucapkan terimakasih.
"Kakek Hyo, kupikir banyak penduduk Kai yang bahagia seperti di Kota Yasai dan Kota Mikawa masih banyak dunia yang belum kulihat!" Nagato merasa sedikit tersentuh walau dirinya sangat merasa kesal karena ternyata tempat yang dilindungi ayahnya adalah tempat yang jauh dari pikirannya.
"Kenapa mereka tak masuk ke Provinsi Utara saja bukankah disana ada Paman Shugo dan orang - orang dari utara pasti akan menerima penduduk kota ini!" Nagato menatap Kakek Hyogoro.
"Tidak semudah itu Nagato ... Kekaisaran Kai sudah tidak mengakui wilayah ini menjadi bagian wilayahnya ... semua ini karena ulah pejabat korup yang menuduh dan berbuat seenaknya." Kakek Hyogoro dengan wajah tenang mencoba menjelaskan tentang kondisi Kekaisaran Kai yang sebenarnya kepada Nagato dan Litha.
"Kalian saat itu hanya mengenal orang - orang dari provinsi utara tetapi kalian akan mengerti ketika berkunjung ke wilayah lain .... tempat yang sangat berbeda itu membuat banyak rakyat yang menderita." Kakek Hyogoro ingin menjelaskan kepada mereka tentang sistem kasta yang diperlakukan di Provinsi Barat dan provinsi lainnya hanya saja dirinya lebih memilih diam karena raut wajah Nagato yang menatap tajam dirinya.
Nagato dan Litha hanya mengangguk pelan mendengarkan certia Kakek Hyogoro sambil terus berjalan mereka melewati hutan dan pegunungan sambil sesakali berhenti untuk beristirahat kini mereka telah sampai di wilayah kediaman Bangsawan Kochi melewati jalan terobosan yang diketahui Kakek Hyogoro.
Waktu terus berlalu dan saat matahari hampir terbenam, di salah satu bukit dekat dengan permukiman desa yang termasuk dalam wilayah Kochi ada markas bandit yang terlihat sangat terkoordinisir. Kakek Hyogoro menyuruh Litha dan Nagato berhenti untuk mengamati rombongan bandit yang tak jauh dari pandangan mereka.
Mereka bertiga sembunyi disemak - semak belukar yang tak jauh dari rombongan bandit dan menghilangkan hawa keberadaan mereka.
"Jadi informasi dari Nenek Beo benar!" batin Kakek Hyogoro tersenyum tipis melihat rombongan bandit dihadapannya.
Nagato dan Litha hanya meningkatkan waspada sambil belajar mengamati situasi dari Kakek Hyogoro.
__ADS_1
Tidak lama ada seorang pria yang terlihat berumur tiga puluhan tahun memakai jubah berwarna hitam dengan wajah yang ditutupi kain hitam sehingga tidak jelas bagaimana bentuk wajah dari pria misterius itu.
"Litha, suruh meongmu itu untuk mengintai orang tersebut." bisik Kakek Hyogoro pelan menatap tajam pria misterius tersebut.
"Eh meong? Nama kucingku Chibi kek!" Litha sedikit kesal karena Kakek Hyogoro memanggil hewan peliharaannya dengan sebutan sesuka hatinya.
"Chibi, ikuti orang itu ..." Litha mengeluarkan Chibi dari tas punggungnya. Kucing manis tersebut tidak bersuara dan hanya mengikuti perkataan Litha.
"Kakek Hyo, sepertinya orang itu akan pergi!" Nagato menyipitkan matanya menatap pria misterius.
"Jangan terburu - buru Nagato, kita serang ketika mereka lengah!" Kakek Hyogoro menatap Nagato dan memberi saran pada pemuda itu.
"Kelompok penjahat seperti ini tidak lama lagi mereka akan mengadakan perjamuan pesta dan saat itu kita akan menyerangnya!" Kakek Hyogoro mengingatkan kepada Litha dan Nagato untuk tetap bersikap tenang dan fokus dalam mengamati situasi.
"Biar kakek yang membunuh mereka dan kalian cukup melihat saja!" perintah Kakek Hyogoro kepada Litha dan Nagato.
Baik Nagato maupun Litha hanya bisa mengikuti perintah Kakek Hyogoro tetapi bagaimanapun harus ada seseorang yang mengotori tangan mereka untuk membasmi penjahat didepan mereka ini.
Puluhan bandit yang sedang diamati oleh mereka bertiga kini sedang berpesta meminum arak. Bahkan beberapa bandit ada yang menculik gadis desa. Kakek Hyogoro yang melihat hal tersebut menjadi geram dan mengagalkan rencana yang telah dibuat olehnya bahkan dia menyuruh Nagato dan Litha agar tetap tenang.
Nagato mengerutkan dahinya melihat Kakek Hyogoro yang keluar dari semak - semak menyerang para bandit yang memegang bagian intim gadis desa.
"Litha! Kita incar organ vitalnya dan buat mereka pingsan!" Nagato juga maju menyerang rombongan bandit dari arah kiri sedangkan Litha menyerang dari arah kanan.
Rombongan bandit yang sedang mabuk arak menggelengkan kepalanya ketika beberapa dari mereka telah mati terkapar ditanah karena tebasan pedang Kakek Hyogoro yang membunuh mereka dalam satu tebasan. Disisi lain Litha hanya memukul ulu hati lawannya dimana pukulan tangannya telah dirinya aliri tenaga dalam.
Nagato menggunakan langkah yang tenang seperti pembunuh bayaran ketika sudah dekat dengan rombongan bandit. Nagato memukul tengkuk leher musuhnya bahkan pemuda itu mematahkan tangan dan kaki beberapa bandit.
Kakek Hyogoro mendekat pada Nagato dan menegur pemuda tersebut agar tidak perlu mengotori tangannya walaupun Kakek Hyogoro membunuh puluhan bandit tetapi dirinya tidak ingin dua murid kesayangannya mengikuti jalannya.
Nagato mengangguk pelan dan menuruti perkataan Kakek Hyogoro kemudian dia mengincar bandit yang lainnya.
Kakek Hyogoro menghampiri gadis desa yang diculik oleh kelompok bandit.
"Kalian sudah aman." Kakek Hyogoro menenangkan beberapa gadis desa yang terlihat ketakutan melihat puluhan bandit yang sudah tidak bernyawa dan bersimbah darah dihadapan mereka.
Kakek Hyogoro menghabisi kelompok bandit yang tersisa dan sejuta pertanyaan muncul dibenaknya.
'Ada sesuatu yang tidak beres disini ... mengapa banyak bandit di wilayah bangsawan ... aku berharap tidak ada sesuatu yang lebih merepotkan kedepannya.' Kakek Hyogoro merasa ada musuh yang lebih kuat dari yang dirinya perkirakan.
Kakek Hyogoro juga menghabisi bandit yang sedang pingsan karena diserang Nagato dan Litha.
'Mencuci ingatan ... mendidik manusia dari lahir dengan pikiran iblisnya ... musuh yang harus kuhabisi memiliki kekuatan yang sangat besar ... ' Kakek Hyogoro mengibaskan pedangnya kemudian mneyarungkannya kembali.
Nagato melirik Litha didalam benaknya ada banyak pertanyaan yang ingin dia katakan kepada Litha hanya saja dirinya tidak ingin terlihat seperti anak yang sangat penasaran ketika bertanya kepada anak seusianya lain halnya ketika Nagato bertanya kepada Kakek Hyogoro dirinya bisa bertanya tentang segala hal yang muncul didalam pikirannya dan mengganjal pikirannya tanpa rasa malu.
"Aku sudah menduganya sejak kejadian dimalam itu aku merasa Litha mempunyai kekuatan yang sama sepertiku ... kekuatan yang tidak dapat ditiru dan bahkan kekuatan ini sama seperti air suci." batin Nagato yang tersenyum tipis melihat Litha sedang bersandar pada pohon.
"Masih banyak hal yang disembunyikan oleh Kakek Hyo ..., aku juga terkejut jika guruku yang selalu tertawa itu adalah mantan pemimpin para orang buangan ... apapun itu alasannya pasti Kakek Hyo tidak ingin aku mengetahuinya karena demi kebaikanku... itu yang kuharapkan." batin Nagato kemudian menghampiri Litha yang sedang bersandar pada pohon.
"Apa masih belum terbiasa?" Nagato ikut bersandar sambil melihat gadis desa yang ternyata baru diculik oleh rombongan bandit beberapa jam yang lalu.
__ADS_1
"Nagato sendiri?" Litha tidak menjawab pertanyaan Nagato dan balik bertanya pada pemuda yang sedang dibelakang pohon tempat bersandarnya.
"Kalau boleh jujur aku belum terbiasa dengan semua ini hanya saja ketika aku sudah melihat raut wajah orang yang meremehkanku ..., tubuhku bergerak sendiri untuk ... " kata - kata Nagato terhenti ketika melihat Chibi kembali.
"Chibi?" ucap Nagato yang melihat anak kucing manis berada didekatnya sedangkan disisi lain Litha yang masih penasaran dengan jawaban Nagato mendekati pemuda itu untuk melihat Chibi.
"Nagato, kenapa kau tidak memilih tinggal di istana kekaisaran bersama kakekmu atau pamanmu itu .... hmph." Litha terlihat kesal karena Nagato selalu terlihat sengaja membuat orang yang berada didekatnya penasaran dengannya.
"Aku tidak pernah bertemu dengan mereka dan sejak aku dilahirkan aku hanya hidup di hutan yang penuh dengan energi sihir." Nagato memalingkan wajahnya kesamping dan menjauh dari Litha karena dirinya tidak ingin gadis kecil itu melihat wajahnya yang malu.
"Eh ... jadi Nagato seperti ini ketika malu - malu Chibi ... " Litha memegang anak kucing manis yang sedang berlari memutari pohon.
Dari arah permukiman penduduk Kakak Hyogoro datang bersama puluhan penduduk desa dan mereka menguburkan mayat rombongam bandit. Gadis desa yang diculik oleh rombongan bandit menangis karena bisa bertemu kembali dengan orang tua mereka.
"Kalau begitu aku permisi dulu ... " Kakek Hyogoro melambaikan tangannya pada penduduk desa.
"Terimakasih kakek ... " gadis desa mengucapkan terimakasih kepada Kakek Hyogoro sambil melambaikan tangannya.
Kakek Hyogoro menghampiri Litha dan menatap anak kucing manis tersebut.
"Bagaimana, apa Chibi berhasil mengikuti pria misterius itu?" Kakek Hyogoro jongkok dan menyentuh bulu badan Chibi.
"Chibi mengikutinya jadi kita lihat saja siapa orang itu sebenarnya?!" balas Litha kemudian gadis kecil itu menyuruh Chibi menuntun jalan menuju kediaman pria misterius tersebut.
"Nagato." ajak Litha yang melambaikan tangan pada pemuda yang sedang duduk menikmati angin.
Nagato berdiri kemudian menyusul mereka, dalam perjalanan Chibi menuntun mereka bertiga melewati jalan yang terlihat seperti jalan rahasia.
"Ini sangat mencurigakan." gumam Kakek Hyogoro ketika mengikuti Chibi yang menuntun mereka bertiga.
Mereka terus melewati jalan rahasia dengan banyaknya semak - semak belukar sedangkan Chibi terus menuntun mereka sampai dibelakang rumah yang terlihat megah dengan pagar besi yang mengelilinginya.
Kakek Hyogoro menyadari jika bangunan yang ada dihadapan mereka adalah kediaman Bangsawan Kochi karena dirinya merasa ada yang aneh ketika mendengar penjelasan Nenek Beo dan menurutnya memang ada orang didalam kediaman Bangsawan Kochi yang terlibat dengan Sekte Pemuja Iblis.
"Chibi ..., sudah cukup ini masih sesuai perkiraanku." Kakek Hyogoro mengambil anak kucing manis yang hendak masuk kedalam pagar tersebut.
Kakek Hyogoro memberikan Chibi kepada Litha dan menyuruh gadis kecil itu untuk menyuruh Chibi mengendus bau pria misterius yang memakai jubah hitam ketika sampai dikediaman Bangsawan Kochi.
"Kalian berdua ikuti kakek!" Kakek Hyogoro mengajak Litha dan Nagato untuk kembali kemudian mereka bertiga bertemu kembali dengan penduduk desa. Beberapa penduduk desa mengajak Kakek Hyogoro, Litha dan Nagato untuk mampir kedalam rumah mereka.
"Sebaiknya aku mencari informasi dari penduduk ini." batin Kakek Hyogoro kemudian dia bertanya kepada penduduk desa tentang kejadian akhir - akhir ini yang menimpa desa mereka. Kebanyakan penduduk desa menjawab dengan jawaban yang sama bahwa akhir - akhir banyak kelompok bandit yang membuat markas di bukit - bukit atau pegunungan disekitar kediaman Bangsawan Kochi.
Kakek Hyogoro mengelus dagunya dan terlihat seperti memikirkan sesuatu disepanjang jalan menuju kediaman Bangsawan Kochi.
"Akhirnya sampai." gumam Kakek Hyogoro ketika berada tepat didepan gerbang kediaman Bangsawan Kochi kemudian beberapa penjaga dengan badan yang kekar menghampiri Kakek Hyogoro.
"Kakek, ada perlu apa kemari?!" salah satu penjaga terlihat seperti ingin mengusir Kakek Hyogoro dengan tatapan matanya yang tajam melirik Nagato dan Litha.
"Aku kemari karena ingin bertemu klienku yang bernama Amaga tidak maksudku Tuan Amaga." Kakek Hyogoro menjelaskan kepada penjaga gerbang kediaman Bangsawan Kochi.
Para penjaga saling menatap satu sama lain sebelum mengangguk pelan kemudian mereka menyuruh Kakek Hyogoro masuk kedalam.
__ADS_1
Nagato dan Litha berpikir bahwa kediaman Bangsawan Kochi termasuk besar tetapi ketika mengingat mereka berdua yang pernah memasuki kediaman Bangsawan Kitakaze melihat pekarangan yang luas dihadapan mereka masih terlihat kecil.