
Hati melara. Duka menghampiri jiwanya. Perih memang. Tetapi Nagato telat menyadari perubahan Kakek Hyogoro dan itu menjadi penyesalannya.
Gagal memahami gerak-geriknya. Gagal memahami bentuk bahasanya. Tak sempat menyadari kata pamit dari seseorang yang berjasa dalam hidupnya.
Kini Nagato terjaga sepenuhnya dua hari dua malam dia tidak tertidur dan tetap terjaga. Masa lalu terus terngiang di dalam kepalanya. Berputar, menari-nari tidak bisa diam. Dahulu mungkin dia hanya sosok anak manja yang sering tertidur di pangkuan ibunya. Namun sekarang dia sulit untuk memejamkan mata. Bahkan jika dia tertidur, mungkin hanya dua sampai tiga jam lamanya.
Dalam keheningan malam dia tersenyum. Dalam senyumannya dia menangis. Tatapannya menatap daun-daun sakura yang terjatuh di sampingnya. Matanya menatap Hanabi yang berlatih dan tidak mempedulikan kehadirannya.
Tak lama gadis yang kecewa padanya, duduk di sampingnya dan menyapa.
“Aku tidak bisa memberimu kata-kata penyemangat karena aku masih belum memaafkanmu.” Hanabi menyeka keringatnya dan menatap wajah Nagato yang terus menatap rembulan dengan tatapan kosong.
“Apa yang kau lihat?” Hanabi bertanya dan menatap kedua mata tajam yang menyiratkan kesenduan malam yang tertahan.
“Malam yang gelap. Hanya gelap, hitam dan tidak ada warna lainnya. Apa masa depanku juga seperti itu... gelap dan hanya ada noda-noda hitam yang terus menghampiriku...” Nagato menjawab dengan suara lirih. Sangat jarang dia menunjukkan kelemahannya pada orang lain. Namun sungguh beruntung Hanabi dapat melihat sisi lemah Nagato yang membuat gadis pendiam itu kini menatap mata Nagato lama sebelum menanggapi perkataannya.
“Aku juga hanya melihat malam yang tak berwarna. Malam yang seperti biasanya. Tidak ada yang berarti dan tidak ada yang istimewa.” Hanabi menanggapi jawaban Nagato sambil memejamkan matanya.
“Kau tidurlah malam ini. Aku hanya tidak suka dengan orang yang mengalahkanku justru terlihat lebih lemah dariku.” Lalu Hanabi beranjak pergi dan kembali ke penginapan tempat Klan Misuzawa.
Nagato hanya tersenyum tipis sesaat, setelahnya dia duduk tanpa ekspresi dan menatap rembulan dengan tatapan kosong hingga pagi.
Pagi ini dia mencari suasana yang baru. Ketika embun pagi mendekap dedaunan. Nagato menapaki jalan di depan penginapan menuju Danau Sakura untuk menyejukkan hatinya yang gundah.
Dalam perjalanan dia bertemu dengan gadis bermata sayu yang tak lain adalah Hisui. Senyuman hangat itu menyambutnya. Namun Nagato dengan wajah yang sedikit pucat hanya diam dan terus melangkah.
“Kakak Tampan mau kemana?” Seperti biasa Hisui tampak ceria. Nagato berharap bisa ceria seperti kakak sepupunya yang umurnya lebih muda darinya setahun.
“Danau Sakura...” Nagato menjawab dengan lirih nyaris tak terdengar.
Hisui memegang tangan Nagato dan menggandengnya, “Aku ikut...”
Nagato hanya menyambut dan membalas genggaman hangat itu. Lagipula mereka adalah sepupu.
Sesampainya di Danau Sakura. Nagato duduk di bangku taman bersama Hisui. Burung-burung terbang dan berkicau di sekitar mereka berdua. Embun pagi masih mendekap daun-daun sakura yang indah berjatuhan di tanah dengan begitu erat.
Sejuk semilir angin membawa kedamaian yang bercampur dengan hembusan kesedihan di hatinya. Untaian udara pagi dan angin bercampur menyatu menjadi satu dalam hirupan napasnya.
Saat Nagato sedang menatap perairan Danau Sakura yang sedikit berwarna merah muda, Hisui tiba-tiba memeluknya.
“Kakak Tampan, apa kau mencintaiku?” Pertanyaan polos dari gadis bermata sayu itu membuat Nagato memejamkan matanya.
“Aku menyukai kalian bertiga, tetapi aku hanya mencintai Iris.” Tanpa sadar Nagato menjawab dengan tenang. Namun membuat mata sayu dari sang pemilik yang mendekap tubuhnya terlihat sedih.
“Sudah kuduga, Kakak Tampan dan Kakak Iris telah bertunangan...” Hisui menanggapi dengan suaranya yang bergetar.
__ADS_1
Seumur hidup Hisui hanya bersikap manja kepada Yuki dan Hiragi, namun setelah bertemu Nagato. Gadis muda bermata sayu itu juga memperlihatkan sisi manjanya pada Nagato berkali-kali melebihi sikap manjanya pada Hiragi, kakak kandungnya sendiri.
“Hisui, panggil aku Nagato. Mulai saat ini dan seterusnya...” Nagato menatap mata sayu Hisui yang berkaca-kaca.
“Na...” Hisui menelan ludah karena tenggorakannya terasa penuh. Wajahnya merah merona memperlihatkan kemanisannya pada pemuda yang dia cinta.
Saat ini Hisui terlihat lebih cantik dari biasanya dengan merah merona di kulit pipinya yang putih. Keimutan dari sifatnya yang malu-malu sekarang menambah sisi kemanisannya.
Hanya sekarang Nagato sedang terluka. Hatinya melara. Yang berkabung dalam suasana duka. Hilang selera untuk menikmati kehidupan seperti biasa, bahkan melihat Hisui, debaran jantungnya tidak dapat berpacu mengikuti kesedihannya.
“Nagato,” ucap Hisui dengan malu-malu.
Nagato menoleh namun mendapati Hisui yang mengecup bibirnya sesaat, sebelum gadis bermata sayu itu berdiri.
“Aku pulang.” Dengan wajah yang merah meron. Hisui membalikkan badannya dan mendapati Iris yang melebar matanya melihat dirinya mencium Nagato.
“Kakak Iris...” Terlihat sedikit kekecewaan dan keterkejutan di kedua bola mata Iris.
Hisui berlari menuju Istana Hizen. Kembali ke kediamannya, meninggalkan Iris yang berdiri dan terdiam lama menatap punggung Nagato yang bersandar pada bangku taman.
Ketika Nagato menoleh, dia melihat Iris menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Terlihat pancaran mata cemburu, kecewa, terkejut dan bingung bercampur menjadi satu.
Mulut Nagato terbuka namun tidak ada suara yang keluar. Tak lama dia melihat Iris membalikkan badannya dan meninggalkannya.
Detik itu Nagato menyadari. Ketampanan ayahnya dan tatapan tajam penuh kasih sayang ibunya menurun padanya. Dia tidak menganggap ketampanannya menjadi kelebihannya, melainkan kekurangannya.
***
Istana Hizen, ruangan kamar yang ada di lantai lima belas. Sebuah istana yang dibangun menggantikan Kastil Lama Furigiri semenjak Hizen naik tahta menjadi Kaisar Kai adalah tempat yang megah dan tertinggi di Ibu Kota Daifuzen.
“Pemilik tubuh Jelmaan Dewa-Dewi hanyalah pemuas nafsuku. Aku menikahinya karena ingin menyembuhkan Kutukan Kuno Iblis Hati di dalam tubuhku. Berkali-kali menyetubuhi mata sayu itu, berkali-kali itu juga aku dapat mengontrol kekuatan dahsyat ini...” Kaisar Hizen tanpa malu mengatakan semua tujuan yang dia pendam dari kecil di depan Satha.
“Surat cerai ini telah disetujui dua pihak, bukan begitu, Yuki?” Satha melirik Yuki yang terikat tubuhnya dan meronta kesakitan.
Pagi ini Yuki tidak menyangka akan melihat kenyataan yang memilukan. Ternyata pernikahan, maupun saat Hizen melamarnya hanya karena ingin memanfaatkan tubuhnya. Kekuatan yang bersemayam di dalam tubuhnya. Kekuatan dari Dewi Kesuburan.
“Hiragi akan ku didik menjadi orang yang hebat sepertiku. Dia harus bisa menjadi seperti diriku ini. Melamar Iris dan memanfaatkan kekuatan terpendam pada tubuh anak Shirayuki itu.” Kaisar Hizen memegang dagu Yuki, “Kalian dari Fuyumi hanya hidup untuk seperti itu...”
Hati Yuki teriris. Air mata terus mengalir membasahi wajahnya yang keluar dari matanya yang sayu.
“Hisui mewarisi kekuatanmu, jadi aku akan menjodohkan dia dengan Satha, anak dari Satra. Kami dari Yamata akan mengambil alih apa yang telah kalian ambil!” Kaisar Hizen menampar pipi Yuki.
Pipi putih Yuki berubah menjadi merah. Satra menahan tangan Kaisar Hizen yang hendak menamparnya kembali.
“Yang Mulia Yamata Hizen. Mantan istri anda akan menjadi koleksi terindah. Dia akan menjadi permaisuri pengganti istriku yang telah meninggal. Jangan kau sakiti dia.” Satra terkekeh sambil menatap Yuki yang terlihat menyedihkan. Iba Satra melihat wanita pujaannya menangis dan harus menerima kenyataan pahit.
__ADS_1
“Lakukan sesukamu. Dia bukan siapa-siapaku lagi.” Kaisar Hizen kembali duduk di kursi sambil menikmati teh hangat.
Satra melepaskan ikatan tali di tangan dan kaki Yuki. Kemudian pria itu memegang kedua tangan Yuki dan menariknya menuju ruang kamar yang di ruangan itu.
Yuki dapat melepaskan pegangan tangan Satra dan berlari ke arah jendela. Pikirannya sudah tidak jernih. Dia menyesal karena mengira Hizen sama seperti Pandu. Menyesal memberikan cinta dan kasih sayangnya pada pria yang tidak punya hati dan menutupi wujud aslinya.
Penyesalan Yuki semakin mengguncang mengingat kesuciannya dia berikan pada Hizen dan memberikan dua anak yang dia didik dengan baik pada suaminya yang hanya memanfaatkannya.
“Yuki! Jangan bunuh diri! Aku janji tidak akan menyakitimu!” Perkataan Satha terdengar seperti cambuk bagi Yuki. Pria yang buka siapa-siapanya itu hanya tertarik dengan tubuhnya.
“Hizen! Aku bersumpah akan mengutukmu walau aku telah mati sekalipun!” Teriakan Yuki membuat Kaisar Hizen yang sedang menikmati teh hangat murka.
“Dasar bedebah sialan!” Yuki berteriak sejadi-jadinya ingin mencaci Hizen sebisanya.
Tak lama Kaisar Hizen berlari ke arah Yuki dan berniat mencekik leher perempuan yang sudah menjalin hubungan dengannya selama puluhan tahun itu.
“Wanita sial!” Kaisar Hizen melepaskan aura tubuhnya yang berwarna hitam. Namun terlambat, Yuki sudah terjun ke bawah dari lantai lima belas.
“Yuki!” Satra melebar matanya dan terlihat gila. Sedangkan Kaisar Hizen hanya menatap Yuki dengan tatapan merendahkan.
“Anak perempuanku untukmu, Satra. Sebagai pengganti wanita sial itu.” Darah di dalam tubuhnya yang mengalir membawa kebencian. Hizen membuat Satra diam dan kembali tersenyum sesaat.
“Lihat, mantan istrimu jatuh tanpa menggunakan aura dan tenaga dalam. Mungkin dia sudah putus asa dan lebih memilih mati...” Satra tersenyum sambil meneteskan air mata, “Yuki, setidaknya Hisui mempunyai wajah sepertimu. Jika umurnya telah 18 tahun, maka dia akan menjadi milikku seutuhnya.”
Ketika Kaisar Hizen dan Satra meratapi Yuki yang terjatuh dari lantai lima belas dengan senyum dan gelak tawa. Suara dari seorang pemuda menggema dan membuat Kaisar Hizen beserta Satra terkejut.
“Bunda!” Di bawah Istana Hizen terlihat Hiragi menangis, namun tatapan matanya menatap ke atas.
“Apa Hiragi mendengarnya?” Kaisar Hizen panik karena dia pikir Hiragi mendengar perkataannya yang merendahkan Yuki.
Satra tersenyum dan menatap Hiragi sinis, “Tidak, mungkin Tuan Muda Hiragi tidak mendengarnya.”
“Aku harap seperti itu...” Kaisar Hizen tersenyum lebar hanya sesaat sebelum teriakan Hiragi membuat Kaisar Hizen dan Satra berkeringat dingin.
“Hizen! Satra! Aku bersumpah akan membunuh kalian berdua! Seumur hidupku, aku akan menghabisi keturunan Yamata! Tidak akan kubiarkan kau bertindak seenaknya! Ayah bedebah!” Teriakan Hiragi membuat Kaisar Hizen menjentikkan jarinya.
“Satra bunuh dia!” Tidak ada jalan untuk kembali. Keluarga yang sudah hancur sejak awal tidak akan bisa kembali menyatu seperti dulu lagi.
“Baik, Yang Mulia Yamata Hizen!” Satra mengeluarkan suar berwarna biru untuk memberi tanda pada Sepuluh Tetua Kai.
“Saatnya membunuh tua bangka menyusahkan itu!” Kaisar Hizen menuju kediaman Kaisar Genki yang tinggal di sebelah Kastil Lama Furigiri.
Satra terkejut melihat sifat Kaisar Hizen yang sadis dan tak berperasaan. Namun dia sendiri juga memiliki sifat yang kurang lebih sama dengan Kaisar Hizen.
“Menarik, hari ini Kekaisaran Rakuza juga akan musnah. Kuharap orang asing itu tidak datang ke Kekaisaran Kai. Aku tidak bisa membayangkan jika Naga Merah itu menghanguskan seisi Ibu Kota Daifuzen yang indah ini seperti yang terjadi pada Klan Kagutsuchi...”
__ADS_1
Satra mengikuti Kaisar Hizen yang berencana untuk membunuh Kaisar Genki karena ayah kandungnya itu terus-menerus menangisi Pandu.